Shattered

Shattered
Bab 46



Muaz berdecak kesal,hanya bisa menatap kepergian bundanya yang dibawa oleh pria brengsek itu. Hazel berupaya menenangkan suaminya dari belakang.


"tenang,kalau kamu emosian begini. Itumalah membuat rumit keadaan." ucap Hazel pelan,Muaz menghela napas pelan, "aku cari udara segar bentar." ucap Muaz lalu melenggang langsung keluar apartemen. Hazel hanya diam lalu menoleh kearah Beyza yang sama dengan dirinya hanya diam ditempat.


"kak,tenanglah bunda akan baik-baik saja kok." ucap Hazel seraya menenangkan sang kakak iparnya.


"aku takut dia menyakiti bunda Zel." lirihnya menatap kosong didepan.


"itu tidak akan terjadi kak,walaupun berat aku akui tapi pria itu memang sangat mencintai bunda. Jadi,kemungkinan kecil dia menyakiti bunda kak." jelas Hazel,memang tadi ia sempat melihat sekilas raut wajah pria yang bernama Liam itu.


"ya walaupun begitu,tetap saja aku cemas Zel."


"selama ini bunda bersamanya kak,jadi tidak mungkin terjadi apa-apa,karena mereka juga punya anak kan. Nah sekarang—" Hazel berjalan menuju meja makan mengambil sesuatu dibalik meja makan tersebut. Beyza tampak bingung dengan benda yang dipegang Hazel.


"kita sudah punya bukti,jika pria itu telahenculik bunda dan menyebabkan insiden malam itu terjadi." ucap Hazel sambil memegang chip ditangannya.


Beyza sekarang mengerti situasinya saat ini. Tidak menyangka,jika adik iparnya bisa berbuat sejauh ini dari yang ia pikirkan. Ia salut dan bangga memiliki adik ipar seperti Hazel.


Pantas saja Muaz sangat mencintaimu Hazel,kau memang sangat baik hati. gumam Beyza dalam hati.


"lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Beyza penasaran dengan rencana yang akan dilakukan Hazel.


"kakak akan tau sendiri nantinya."


***


Bahar begitu ketakutan melihat aura yang ditunjukkan suaminya itu. Bohong jika dirinya baik-baik saja saat ini,tapi Bahar harus tetap tegar demi anak-anaknya.


"apa yang kau lakukan diluar sana hah?!" bentak Liam sambil melempar barang disekitarnya asal. Bahar hanya tertunduk ketakutan,tidak berani menatap wajah suaminya.


Liam mencengkram kuat bahu Bahar, membuat istrinya itu mendongak kearahnya, "mentang-mentang aku memberimu kebebasan,sekarang kau melunjak. Besok kita akan pindah keluar negeri,agar anak-anak mu yang sialan itu tidak menganggu kita." ucap Liam penuh tekanan,lalu melenggang keluar dari kamar sambil membanting pintu.


Braak. Bahar mengusap dadanya pelan,sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Bahar berusaha mencari nebulizer didalam lacinya. Setelah ketemu,ia pun langsung memakai nebulizer tersebut.


"huft,tenanglah." ucap Bahar menenangkan dirinya. Ia pun bersandar di dinding menatap kosong langit kamarnya. Sesekali menyeka air mata,melirik sekeliling kamar yang tampak berantakan karena kelakuan Liam tadi.


Bahar teringat perkataan Liam tadi yang akan membawanya tambah jauh dari anaknya. Ia harus mencari cara untuk masalah itu.


"hmm apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya melirik sekitar,ia tidak boleh menyerah dengan keadaan. Sudah cukup lima tahun,dirinya tersekap didalam rumah neraka itu. Sudah saatnya ia keluar.


Bahar melirik kasur,baru menyadari jika Ara tidak ada disana. Dengan segera ia keluar dan langsung menanyai pengasuhnya.


"Eli,dimana Ara?" tanyanya kebetulan pengasuhnya barusan melewatinya. Eli tampak gugup menjawab pertanyaan Bahar,Bahar sedikit curiga dengan gelagat Eli.


"ada apa? katakan!" tanyanya penasaran. Ia berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada anaknya itu.


"ma-maaf nyonya,nona Ara dibawa oleh tuan Li-liam tadi keluar." ucapnya sambil tertunduk. Bahar menghela napas pelan,lalu membiarkan Eli melanjutkan tugasnya.


***


"kau tampak menyedihkan." ucap Iram dari belakang,Muaz tidak memperdulikan keberadaan pria itu. Iram pun menyamakan posisinya dengan Muaz.


"kenapa kau kesini?, pergilah sana." usir Muaz tidak suka dengan kehadiran Iram.


"wah,wah adik iparku sangat pemarah sekali. Aku kesini juga tidak ingin berlama-lama denganmu,ntar dikira belok pula kita." selorohnya langsung mendapat pukulan lengan dari Muaz.


"ngomong jangan asal ngawur." ketus Muaz masih fokus menatap didepannya.


"kalau aku ada tadi,masalah akan tambah runyam."


"pengecut."


"hei! ada saatnya kita bersembunyi untuk menyelamatkan yang lain,kau saja yang selalu ceroboh dalam setiap tindakan." cibir Iram,Muaz menatap tajam kearah Iram.


"ceroboh? aku ceroboh?"


"iya kau!,apa kau tau kenapa Papaku tau lokasi kita,itu karena topi sialanmu itu tinggal di rumah." gerutu Iram,Muaz hanya diam ditempat.


"kenapa diam? merasa bersalah hah?"


"bagaimana kau tau topiku tinggal?"


"gampang aja aku menebaknya,pertama pas kita datang kau memakai topimu,nah setelah kita keluar aku tidak melihatmu memakai topi lagi,dari situ aku bisa simpulkan kau meninggalkan topimu itu dirumahku." jelas Iram panjang lebar.


"kalau hanya topi yang tinggal,tidak mungkinkan Papamu itu tau lokasi kita?" tanya Muaz penasaran. Iram tampak menghela napas pelan,


"topi itu petunjuk pertama, kedua karna waktu yang tidak tepat."


"apa hubungannya semua itu?"


"ada,cih apa kau tidak bisa menganalisis dulu sebelum bicara,kau daritadi bicara omong kosong."


"Ck,aku dengarkan." ucap Muaz kesal,ia harus mendengarkan semua penjelasan dari Iram.


"kau menjatuhkan topimu didekat teras,disitu ada pembantuku lalu-lalang disana. Otomatis,topi itu bakalan terlihat oleh mereka. Nah,karena merasa curiga,pembantuku itu langsung memberitahu Papaku tentang topi ini."


"bagaimana dia tau?"


"mudah saja,saat papaku pulang,ia pun menganalisis topi itu. Sudah ada yang menjanggal,pasti Papaku langsung lari ke kamarnya untuk memastikan sesuatu." jelas Iram.


"jadi,dia bakalan tau topi ini ada hubungannya dengan bunda?"


Iran mengangguk, "benar. Setelah melihat hal itu,Papaku langsung menyuruh pengawalnya untuk melacak semuanya. Makanya sampailah Papaku menemui kalian semua di Apartemen." ucap Iram pelan.


"Kalau Papamu melacak kita semua,seharusnya kau yang terlibat juga bakalan ketahuan lah."


"nggak,kau tidak tau karakter Papaku seperti apa,aku yang lebih tau karakternya mudah saja aku mengelabuinya."


"sialan,kenapa tidak memberitahu diawal-awal?!"


"kalau aku kasih tau,kau enggan melepaskan bunda dan trus menahannya disini. Hei,anak bunda bukan cuma kau dan Beyza. Masih ada adek kecilku menangis mencari ibunya. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." jelas Iram sambil mengambil batu kerikil didekat sana,lalu melemparnya kedalam danau.


Muaz sekarang mengerti,memang benar dirinya ingin menahan bunda lebih lama lagi,tanpa ia sadari ia malah memisahkan ibu dengan anak yang masih kecil. Walaupun Muaz sangat membenci ayah dari adiknya,tidak membuatnya ia membenci adiknya sendiri. Ia pun yakin Bahar berpikir seperti itu juga demi melindungi anaknya.


"huft,ternyata masih cerdas dan tenang Hazel daripada kau." ejek Iram,Muaz menatap tajam kearah Iram.


"aku restui pernikahan kalian." ucap Muaz tiba-tiba tidak nyambung dengan pembicaraan mereka yang sepanjang tali beruk. Beberapa detik kemudian Iram baru menyadari maksud Muaz. Sambil tersenyum miring pada calon adik iparnya, "kau membuat keputusan yang tepat."


"jangan pernah kau sakiti dia,atau kau harus berhadapan denganku Ram!" ancam Muaz.


"baiklah."