Shattered

Shattered
Bab 55



Muaz berjalan pelan menuju supermarket dekat rumah barunya. Membeli cemilan untuk sang istri yang akhir-akhir ini suka makan cemilan. Muaz berdecak heran melihat Hazel terus mengunyah sesuatu dimulutnya,tetapi tidak membuat wanita itugemuk. Hazel setelah makan ia suka berjalan tidak karuan hanya untuk membuatnya senang.


"hmm cemilan mana yang harus ku beli?" gumam Muaz menatap sejejeran makanan yang tersedia disana. Baru saja Muaz hendak mengambil salah satu cemilan itu ia mendengar samar-samar seseorang dibalik rak makanan itu tengah menelpon seseorang. Muaz perlahan mendekati tempat itu,dan terkejut mendapati Liam memandangnya dengan sinis.


"kau?! apa yang kau lakukan disini hah?!" sarkas Muaz langsung mencengkram kerah kemeja Liam. Liam terkekeh pelan,lalu menepis tangan Muaz yang mencengkram bajunya.


"kita harus bicara,kau mau disini atau ditempat lain?" tanya Liam tanpa basa basi. Tidak ada sahutan atau jawaban dari Muaz,Ia pun sambil mengambil asal minuman kaleng dikulkas lalu membayarnya. Muaz berdecak kesal mengikuti pria itu dari belakang. Mereka berdua berjalan masuk kedalam gang sempit yang kecil. Liam berbalik menatap tajam kearah Muaz.


"tinggalkan istriku,dan jangan pernah menampakkan wajahmu disini lagi."


"kau sudah gila?? dia itu bundaku!!. aku tidak akan pernah meninggalkannya sedikit pun!" bentak Muaz lagi,ia menatap nyalang dengan penuh kebencian pada pria yang tak lain adalah papa tirinya sendiri. Bagaimanapun juga status pria didepan Muaz ini sudah menikah dengan Bundanya,otomatis status pria ini adalah ayah tirinya sekarang.


"dia memang bundamu,tapi karna kedatangan kau membuat dia sekarang lebih banyak diam dan tidak menampakkan senyum manisnya yang selalu dia perlihatkan padaku. Kau itu hanyalah pengganggu."


"penganggu? katamu aku pengganggu?? apa kau sudah gila mengatakan hal itu semua. Kau tidak sadar jika kau itu pebinor!!"


"cih,kau anak muda yang tidak tau sopan santun. Aku dan Bahar dulu saling mencintai sebelum Edmon datang melamar Bahar. Aku sangat marah waktu itu,dan berjanji akan menghancurkan keluarga kalian."


"dan semua itu sudah terkabulkan tuan Liam." ucap seseorang meninbrung perdebatan mereka. Muaz terkejut lalu menoleh kebelakang dan mendapati Hazel bersama rekan-rekannya mengunci gang itu agar Liam tidak kabur.


"Hazel?" Muaz langsung menghampiri Hazel. Sedangkan Liam hanya berdiri santai sambil memainkan ponselnya.


"terimakasih Az,sudah membawanya kesini." ucap Hazel. Muaz menyerngit bingung, "untuk?"


"nanti akan aku jelaskan Az,yang penting sekarang aku ingin berbicara pada pria itu." tunjuk Hazel perlahan-lahan berjalan mendekati Liam,Muaz langsung mencegah langkah Hazel mendekati pria itu.


"jangan mendekat. Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti padamu." ucap Muaz memperingati membuat Hazel mundur satu langkah. Dengan jarak dua meter membuatnya cukup unt berbicara pada pria itu.


"tuan Liam Alfred anda ditahan karena mengubah bukti atas pembunuhan Edmon Bark pada lima tahun yang lalu,yang membuat Muaz Edmon Bark menjadi pelaku saat itu." ucap Hazel sambil menunjukkan surat penangkapan yang baru saja keluar. Kini dirinya berhasil menemukan bukti,dan itu semua berkat bunda. Selama dua minggu itu Hazel menerima telepon dari Bunda untuk cepat menangkap Liam. Hazel sangat berterimakasih pada Bunda yang telah membantunya menyelesaikan kasus ini. Tetapi,bundanya berkata jangan memberitahu Muaz semuanya,Hazel pun langsung menyanggupi permintaan sang mertua kesayangannya itu.


Liam tampak tenang setelah melihat surat penangkapannya itu,ia terlihat tidak merasa ada beban besar yang ia pikul. Bahkan dua orang yang memborgol tangannya ia pun tidak terlihat sedang ditahan,dengan santainya ia menyerahkan dirinya pada pihak keamanan.


Apa yang direncanakan pria brengsek ini??. gumam Muaz dalam hati masih curiga dengan tindakan Liam. Liam dengan santai berjalan masuk kedalam mobil polisi,sebelum itu ia berbicara pelan saat melewati Hazel. "tunggu saja tanggal mainnya." ucapnya setelah itu ia masuk kedalam mobil. Muaz menyerngit heran melihat raut ekspresi Hazel yang terlihat tegang itu,ia pun langsung menghampiri istrinya.


Mungkin akan aku tanyakan nanti setelah Hazel tenang. gumam Muaz langsung membawa Hazel pulang kerumah setelah berbincang sebentar dengan rekan yang ikut bersama Hazel tadi.


Sesampai dirumah Muaz menyalakan lampu lalu mendudukkan Hazel disofa,ia pun membuat secangkir teh hangat untuk Hazel.


Hazel hanya diam memikirkan maksud yang dibilang Liam tadi,kata-kata itu terlihat seperti jebakan atau hal yang buruk bis menimpanya suatu saat nanti. Tetapi,kini ia tidak bisa mengungkapkan apapun untuk sekarang maksud pria itu.


"minum." ucap Muaz menyodorkan teh hangat untuk Hazel,Hazel langsung menerima teh buatan suaminya itu dan meneguknya pelan. Muaz langsung duduk diatas meja berhadapan dengan Hazel dengan tatapan lekat, "jangan takut,aku disini. Kau tidak perlu cemas apapun yang dibilang pria itu. Kau cukup pikirkan dirimu dan anak kita. Jangan sampai kau stres malah menganggu kesehatan anak kita didalam perutmu." ucap Muaz sambil mengelus perut Hazel yang mulai terlihat buncit.


"tapi aku masih cemas Az,bagaimana nanti kalau dia benaran melakukan hal yang tidak-tidak??" cemas Hazel memandang suaminya.


"memangnya apa yang dibilangnya padamu tadi?" tanya Muaz memancing agar Hazel mau bilang padanya tentang apa yang dibicarakan pria tadi.


"dia bilang tunggu saja tanggal mainnya. Aku yakin itu bukanlah hal yang baik Az,bagai—" ucapan Hazel terputus saat Muaz memeluknya erat.


"jangan terlalu dipikirkan,dia sengaja mengatakan hal itu yang membuatmu cemas. Kita jangan terpancing perkataannya. Liam itu sangat licik,jadi ikuta harus hati-hati."


Hazel tampak sedikit tenang lalu mengangguk pelan menyetujui usulan suaminya, "baiklah."


***


Sidang dimulai,Hazel mengeluarkan bukti sebenarnya pada para hakim,bukti yang Hazel bawa diperkuat dengan adanya saksi Ibu Ratih yang sempat melihat sekilas kejadian pada malam itu. Tetapi,selama sidang berlangsung Liam tidak menunjukkan ekspresi rasa bersalah bahkan setelah ditelusuri lagi dengan fakta lain yang mengejutkan dari pria itu,pria itu tampak tenang.


Hazel berdigik ngeri menatap Liam yang hanya duduk manis mendengar para hakim dan dirinya berbincang,pria itu tidak memakai pengacara. Hazel sangat terkejut saat mengetahui bahwa Liam bukan hanya membunuh satu orang melainkan berpuluh-puluhan sudah dibantai oleh pria bengis itu.


Setelah berbincang akhirnya Liam diputuskan masuk kedalam penjara selamanya masa hidupnya. Dan Muaz namanya kini sudah bersih dari jeratan kasus pembunuhan itu. Orang-orang yang menyaksikan sidang itu langsung mengumpat dan mencibir Liam. Tetapi,pria itu tampak tenang mengikuti para aparat kepolisian yang menjaganya. Orang-orang itu merasa bersalah pada Muaz tidak mempercayai pria itu. Satu persatu kehadiran Muaz disambut baik oleh mereka.


Hazel merasa perutnya tiba-tiba sakit,ia tidak sengaja mencengkram bahu suaminya yang kebetulan tengah berbicara pada Papinya. Muaz terkejut lalu menoleh kearah Hazel yang meringis memegang perutnya.


"Ha-hazel ada apa?" tanya Muaz panik menatap Hazel kesakitan. Tanpa basa-basi Muaz langsung menggendong Hazel masuk kedalam mobil dan membawanya kerumah sakit.