
Daren langsung membawa Delia ke hotel ternama. Delia tampak menelan saliva saat melihat Daren dengan semangat membawanya pergi menuju lift. Delia harus menghentikan tindakan ini,atau dirinya akan menjadi mangsa pria ini. Ia tidak ingin disamakan dengan wanita murahan seperti yang lain,selama ini dirinya menjaga kehormatannya.
Aku harus mencari cara,berpikir Del. Gumamnya mencari ide,berharap ada ide yang muncul diotaknya yang tidak seberapa itu. Tanpa ia sadari kini mereka sudah sampai didepan pintu kamar hotel. Daren langsung membuka pintu itu dan mempersilahkan Delia masuk. Delia meremas gaunnya masuk dengan perlahan kedalam kamar itu. Ia pun terkejut saat tangan kekar itu melingkar ditubuhnya.
"hei!!" teriak Delia memaksa melepaskan tangan Daren yang melingkar ditubuhnya. Ia pun memandang tidak suka kearah Daren.
"kenapa?bukannya kau tadi memberiku kode agar kita bisa bersenang-senang disini." tanya Daren dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Ia pun melangkah maju kearah Delia. Delia pun perlahan-lahan mundur berusaha menjauhi Daren.
"kenapa? kau takut?" tanya Daren dengan senyuman seringai.
Delia tidak ada pilihan lain,ia pun mengeluarkan barang sakti yang dapat membuat Daren ketakutan setengah mati. Berharap pria itu masih takut dengan barang yang dibawa Delia. Ia masih ingat dulu kelemahan pria itu terhadap barang tersebut. Tidak menyia-nyiakan kesempatan,Delia langsung membuka tasnya dan mengeluarkan barang itu.
Daren yang melihat itu langsung terkejut dan menjauh dari Delia.
"huwaah singkirkan barang itu!!!" teriak Daren tampak ketakutan setengah mati. Bahkan dirinya kini sudah berada diatas kasur sambil memeluk bantal erat. Delia terkekeh pelan,lalu dengan tersenyum seringai menunjukkan barang yang ditakuti pria itu.
Buahahaha ternyata dia masih sama seperti dulu. Gumam Delia terkekeh pelan lalu mendekat kearah Daren.
"Singkirkan itu!!!" sarkas Daren tidak suka. Ia pun menatap tajam kearah Delia.
"hahahaha ternyata kau masih takut dengan ini ya." ledek Delia menatap Daren remeh.
"si-siapa kau? bagaimana kau bisa tau itu kelemahan ku hah?!"
Delia semakin mendekat kearah Daren," kau tidak ingat?" tanyanya menarik bantal yang dipeluk Daren,lalu melemparnya asal.
"Aku Delia,dan terimakasih sudah membawaku kesini. Ini akan sebagai bukti untuk sidang nanti. Selamat tinggal." pamit Delia sambil menunjukkan rekaman semua percakapannya dengan Daren,tak lupa juga raut melongo yang ditunjukkan Daren saat ini. Dirinya begitu kesal telah dijebak oleh wanita bernama Delia itu.Dengan langkah cepat Delia keluar dari kamar hotel itu berlari kecil kearah Lift.
Sedangkan Daren berdecak kesal dan mengumpat telah dipermainkan oleh wanita yang tau tentang kelemahannya itu.
"kepa***!!" umpat Daren membanting semua apa yang ada didepan matanya. Ia sangat marah dna benci dengan wanita yang bernama Delia tadi. Ia pun langsung menghubungi anak buahnya.
"cari data wanita yang bernama Delia!!" titahnya dengan nada kesal.
"maaf bos,Delia ada banyak. Yang mana satu?" tanya pengawal itu dari sana.
Daren berdecak kesal,"cih cepat cari semua nama Delia lalu kirim semua data itu ke apartemenku hari ini!" serunya langsung mematikan telepon itu.
"awas kau,jika kita bertemu lagi. Aku tak akan membiarkanmu lari." ucapnya dengan dingin.
***
Setelah pernikahan selesai,Iram dan Beyza langsung bergegas bersiap-siap pergi keluar negeri. Mereka memang sudah berbincang-bincang mengenai hal ini. Ini semua permintaan Beyza yang memaksa Iram ikut dengannya. Beyza harus mengurusi perusahaan yang ia tinggal dua bulan yang lalu.
"apa semua sudah siap?" tanya Iram menatap istrinya. Beyza mengangguk dan menyusun beberapa pakaian kedalam koper.
"fyuuh aku sedikit lelah,aku mau tidur sebentar." ucap Beyza langsung membaringkan dirinya dikasur. Iran hanya tersenyum lalu menyelimuti istrinya pelan tak lupa ia mengecup kening Beyza yang sudah terlelap tidur pulas.
"katakan." ucapnya menunggu kabar dari anak buahnya.
"bos,mereka memang merencanakan sesuatu,tapi saya kurang tau pasti apa yang mereka bicarakan." lapor pengawalnya itu.
"huft,baiklah. Laporkan padaku terus kalau ada yang mencurigakan."
"baik bos."
Iram berjalan mendekati jendela melihat pemandangan indah diluar. Ia pun melirik kearah Beyza, "aku harus tau apa yang mereka rencanakan!!" gumam Iram lagi.
Sorenya,mereka langsung pergi menuju bandara ditemani oleh Hazel dan Muaz. Muaz sedikit mencemaskan kakak tirinya itu pergi bersama Iram keluar negeri. Namun Beyza tetaplah Beyza yang keras kepala dan tomboi itu tidak akan mengubah keputusannya.
"oke,aku pergi dulu ya." pamit Beyza melirik kearah Hazel dan Muaz. Ia pun langsung memeluk keduanya, "kalian jangan khawatir tentangku,aku akan baik-baik saja. Percayakan saja padaku,cukup kalian menjaga diri dan kedua keponakanku ini." bisik Beyza lalu mengelus perut Hazel yang masih terlihat rata.
"baik aunty,aunty jaga diri baik-baik yaa." ucap Hazel layak anak kecil,Beyza tersenyum lebar lalu ia pun melirik kearah Muaz.
"kau jangan menatapku seperti itu Az." gerutu Beyza melihat raut resah Muaz.
"terserah kau saja kak." ucap Muaz pasrah,Beyza pun gemas mihat Muaz. Ia pun mengacak-acak rambut adik tirinya itu.
"jaga diri kalian baik-baik,semoga kasusmu segera selesai Az,Hazel aku yakin kau bisa memenangkan kasus itu dengan cepat." ucap Beyza menyemangati kedua adiknya itu.
"terimakasih kak." ucap Hazel tulus. Beyza langsung melirik kebelakang melihat kearah Iram yang hanya diam menatap mereka. Beyza pun langsung memanggil Iram ketempat mereka.
"Ram,pamitlah dengan mereka." ucap Beyza sedikit tersenyum,dengan kikuk Iram menjabat tangan dengan Muaz dan Hazel.
"kami pergi dulu." ucap Iram singkat,padat,dan jelas. Hazek mengangguk pelan,begitupun Muaz.
"ya sudah,kami kesana lagi yaa,dadah." pamit Beyza langsung membawa kopernya begitupun Iram. Mereka berdua langsung berjalan menyerahkan tiket kepada petugas. Muaz dan Hazel memandang mereka yang sudah mulai hilang dari pandangan mereka.
"pulang kita lagi?" tanya Muaz menatap Hazel masih diam menatap kedepan. Tak ada kunjung respon dari istrinya,ia pun menepuk pelan pundak Hazel.
"sayang,apa kamu mau jalan-jalan?" tanya Muaz lagi. Ia sepertinya harus menghibur bumil ini yang tampak bersedih melihat kepergian Beyza. Hazek menoleh kearah Muaz dengan tatapan cemas.
"apa kamu yakin mereka baik-baik saja?" tanya Hazel sedikit cemas,Muaz mengangguk yakin.
"aku yakin,kamu tau sendiri kan kakak orangnya gimana,lagian sudah ada Iram yang menjaganya disana." ucap Muaz menyakinkan,Hazek pun menghela napas lega lalu menggenggam tangan suaminya.
"yuk kita jalan-jalan ke taman. Aku mau beli eskrim disana." ucap Hazel semangat.
"baiklah,ayo kita kesana." jawab Muaz sambil menggenggam erat tangan Hazel,mereka pun dengan girang menuju mobil mereka. Tanpa mereka sadari jika ada seseorang yang dari tadi tengah menatap keempat manusia yang berpisah tadi. Liam sambil membaca koran mengamati keempat manusia itu.
"baiklah,satu beban sudah pergi. Sekarang tinggal dua lagi." gumamnya pelan sambil tersenyum seringai.
Permainanpun dimulai. serunya tak sabar melaksanakan rencana yang sudah dibuatnya.