Shattered

Shattered
Bab 36



Muaz memandang ponselnya,ia melihat gerak-gerik pria itu lewat GPS-nya.


"menyelamatkan Daren?" Muaz menautkan alis lalu ia mengetik nama Daren di laptopnya.


"wah ternyata mereka sekeluarga." gumamnya lagi lalu melacak keberadaan Daren.


"wait? kak Beyza sialan,kau menyembunyikan orang yang bernama Daren itu." gerutunya lalu berjalan keluar kamar.


"kak!" panggilnya sambil berjalan kearah sofa. Ia pun menendang kaki kakaknya pelan,


"bangun pemalas!" cercanya membuat Beyza terbangun dari tidurnya.


"ck,apa?!" kesal Beyza menatap Muaz. Dirinya baru saja memasuki mimpi dengan seenaknya Muaz menariknya kembali ke dunia nyata.


"kau menyembunyikan Daren kan?" selidik Muaz menatap kakaknya.


Beyza sedikit terkejut lalu kembali menatap datar kearah Muaz, "iya,sudahlah aku mengantuk." Beyza kembali membaringkan dirinya kesofa.


"hei kak,aku belum selesai bicara."


"apa?! cih kenapa memangnya?" Beyza terpaksa duduk menatap jengah kearah Muaz.


"kenapa kau menyembunyikan nya?" tanya Muaz duduk diseberang Beyza.


"aku menangkapnya waktu pas pesta yang waktu itu. Aku ingin mengorek informasi darinya,memangnya kenapa?"


"aku akan kesana." ucapnya lalu berjalan keluar apartemen. Beyza terlihat tidak peduli dirinya kini sangat mengantuk. Tapi langkah kaki Muaz berhenti saat menyadari seseorang tidak ada berada disana, "kak,dimana Hazel?" tanya Muaz pada Beyza yang baru saja memejamkan mata,tapi harus kembali terbuka melirik kearah adek laknatnya itu.


"entahlah,dia tadi tidak bilang apa-apa padaku,sudahlah jangan menggangguku lagi!" gerutunya langsung memejamkan matanya.


Muaz berdecak kesal,ia pun langsung keluar apartemennya. Ia melirik jam tangannya menunjukkan pukul delapan malam.


dimana dia sekarang??. Muaz celingak-celinguk melihat sekeliling lorong apartemen.


"kau mencari apa Az?" tanya seseorang dibelakang Muaz,Muaz terlonjak kaget langsung menoleh kebelakang.


"kau? darimana?" tanya Muaz lega saat mengetahui orang itu adalah Hazel.


"aku? aku barusan membeli makan malam untuk kita." ucapnya sambil menunjukkan kantong kresek ditangannya.


"kau kan bisa memesan lewat online atau menyuruhku pergi. Kenapa kau sendiri tadi perginya?" tanya Muaz menatap tajam kearah Hazel.


"aku kira kau tadi tidur,aku tidak tega membangunkanmu, tapi aku keluar tadi juga sambil mencari udara segar," jelas Hazel lalu ia melirik sekilas seseorang yang tampak mencurigakan dibelakang Muaz.


"kau sendiri mau kemana?" tanya Hazel.


"aku mau pergi ke suatu tempat,kau disini saja dengan kakak,aku nggak akan lama." ucapnya sembari mengelus kepala istrinya.


"apa penting kali?" tanya Hazel berusaha menutup raut cemasnya. Ia harus memaksa Muaz untuk tidak pergi kemana-mana malam ini,apalagi orang yang dibelakang Muaz membuatnya resah.


"cukup penting,aku ingin memastikan sesuatu."


"apa nggak bisa besok aja,lagian kau belum makan malam kan?" bujuk Hazel menatap harap kearah Muaz.


Muaz merasa aneh melihat Hazel yang terus-terusan membujuknya untuk tidak pergi. Ia menyadari jika istrinya tidak hanya fokus pada dirinya melainkan ada hal yang mengganggu konsentrasi gadis itu dibelakangnya. Tiba-tiba Hazel langsung memeluknya erat.


"Muaz,jangan lihat kebelakang." bisik Hazel didalam dekapan Muaz.


"apa maksudmu?" tanya Muaz sambil berbisik juga.


"ada seseorang yang mencurigakan dibelakangmu,lebih baik kau tidak usah pergi." seru Hazel lagi.


"ya sudah,ayo masuk." Muaz langsung menekan sandi apartemen mereka,ia pun langsung menarik Hazel kedalam apartemen.


"syukurlah." gumamnya pelan tetapi masih terdengar oleh Muaz.


"tidak perlu cemas tenanglah." ucap Muaz lembut sambil mengelus kepala Hazel. Akhir-akhir ini Muaz suka mengelus kepala istrinya,ini akan menjadi hobi barunya.


"dimana kak Bey?" tanya Hazel melihat keadaan apartemennya terlihat sunyi.


"apa kau tidak lihat manusia disitu?" seru Muaz sambil mendongakkan dagunya menunjuk kakaknya tengah tertidur disofa.


Hazel pun mengikuti arah pandang Muaz, "ya ampun kak,jangan tidur disini. Kau bisa sakit pinggang." gemasnya berjalan kearah kakak iparnya itu.


"kak,kak Bey bangun!" Hazel sambil menepuk pelan lengan Beyza.


"hmm?" gumam Beyza masih dalam tidurnya.


"kak,lebih baik kau tidur dikamar." ucap Hazel sambil terus membangunkan kakak iparnya.


"dimana aku harus tidur?" tanyanya sambil mengucek matanya.


"kau bisa tidur dikamarku kak." usul Hazel sambil menunjukkan kamarnya.


"ya sudah aku kesana,jangan bangunkan aku lagi yaa,aku sangat mengantuk." ucap Beyza sambil berjalan sempoyongan kearah kamar Hazel.


"biarkan saja dia,nanti kalau lapar dia bakalan keluar sendiri." ucap Muaz tengah memakan makanan mereka.


"ya ampun." Hazel pun ikut nimbrung makan dengan Muaz.


Setelah mereka selesai makan malam,Hazel membersihkan sampah-sampah yang ada diatas meja,sedangkan Muaz mencuci bekas makan mereka tadi.


Hazel berjalan ke kamarnya untuk mengganti baju,namun saat ia membuka knop pintunya tidak bisa. Hazel berdecak pelan saat mengetahui dirinya terkunci dari kamarnya.


"kenapa?" tanya Muaz dibelakang Hazel.


"huft,kakak mengunci pintunya dari dalam." jawab Hazel lesu.


"pakai saja kamarku." ucapnya berlalu sambil mengambil ponselnya diatas meja makan.


Hazel mengangguk,lalu berjalan kearah kamar Muaz. Saat ia masuk,dapat tercium aroma mint khas suaminya itu. Ia pun langsung berjalan kearah kamar mandi.


Muaz masuk kedalam kamarnya,ia tanpa sengaja melirik ponsel Hazel yang berbunyi diatas nakas. Ia pun langsung mengangkat telepon itu.


"Hazel,besok kau harus tutup kasus suamimu atau Mamimu yang akan ku bunuh." seru orang itu dari sana langsung menutup teleponnya sepihak.


"kurang ajar berani sekali dia mengancam istriku!" geramnya langsung melenggang keluar kamar. Memang sepertinya ia harus keluar malam itu juga walau akan ada bahaya yang mungkin terjadi nantinya.


Ia melirik sekilas disekitar apartemennya. Dengan cepat ia menghubungi anak buahnya untuk menjaga apartemen nya selama ia pergi.


"jika targetnya Mami,artinya dia ada dirumah sakit saat ini." gumamnya langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya ke Rumah sakit.


***


Liam bersenandung riang sambil bermain catur dengan anak buahnya. Didalam sebuah gedung yang sunyi dan gelap adalah tempat markasnya saat ini.


"bos,apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah satu anak buahnya menatap bos dengan ketuanya bermain catur.


Dor!


peluru itu tepat dikepala pria yang bertanya tadi pada Liam. Semua yang ada disana terkejut dan diam tanpa berkata apapun.


"cih,kau mengangguku bermain." gerutunya sambil meletakkan pistol yang baru saja ia gunakan untuk membunuh anak buahnya itu.


"singkirkan dia dari hadapan ku cepat,mengganggu pemandangan aja." titahnya lagi tanpa melirik kearah pengawalnya.


"bagaimana dengan anak sulungku? apa dia sudah ditemukan?" tanya Liam sambil menyalakan rokoknya.


"hmm kami sudah menemukannya tuan." jawabnya sedikit gemetaran.


"dimana?"


"di daerah selatan tuan,"


"lalu apa tunggu lagi?! bawa dia kemari kehadapanku sekarang!!" titahnya geram membuat semuanya langsung melaksanakan tugas yang diperintahkan Liam.


***


Muaz melirik mertuanya yang masih terbaring lemah dikasur.


"permisi tuan." ucap perawat wanita itu,ia membawa beberapa peralatannya kedalam ruang inap Tresya.


"saya ingin memberi obat ini pada nyonya Tresya." jelas perawat itu,Muaz mengangguk pelan dan membiarkan perawat itu melakukan tugasnya.


Namun,saat ia melihat nama obat yang dipegang perawat tadi. Ia merasa janggal,bukan ia bodoh jika tidak mengetahui cairan itu. Dengan cepat ia menahan tangan perawat itu dengan kuat.


"siapa kau?!" tanya Muaz menatap nyalang musuh didepannya. Perawat tadi terkejut ketakutan melihat Muaz. Ia pun mencari cara keluar dari sana tanpa ketahuan pria yang tengah mencengkram tangannya. Demi keluar dengan cepat,ia pun perlahan mendekati Muaz seraya ingin menggoda Muaz.


Muaz tanpa basa-basi melihat gelagat wanita itu didepannya dengan cepat ia membekuk dan menjatuhkan wanita itu ke lantai dengan keras. Ia pun langsung mengambil suntikan yang sudah berisi cairan racun didalamnya, "gimana kalau aku memasukkan cairan ini kedalam tubuhmu?" Muaz sambil menunjukkan muka evilnya.


Wanita tadi terdiam tanpa berkata apa-apa,dirinya sekarang terjebak dalam situasi yang dapat mengantarkan nyawanya. Sungguh ia menyesal telah menuruti kemauan pria brengsek itu hanya karna uang yang ditawarkan pria itu.


"aku tidak akan melakukannya padamu jika kau memberi tahuku semua info yang kau tau,tanpa ada kebohongan. Jika kau berbohong aku akan membunuhmu." ancam Muaz menatap tajam kearah wanita itu.


Wanita tadi menelan saliva takut dengan pilihan yang akan diambilnya, "Ji-jika aku memberitahumu semua yang aku ta-tau. Apa kau akan meli-lindungiku?" tanya wanita tadi seraya meminta perlindungan pada Muaz.


"tergantung dari jawabanmu." jawab Muaz melepaskan cengkramannya,ia pun duduk disofa yang tak jauh dari tempat wanita itu.


"katakan." serunya.


"se-sebenarnya,aku di-disuruh untuk membu-bunuh nyonya Tresya. Pria itu me-menawarkan padaku uang sebanyak li-lima puluh juta jika aku berhasil membunuh wanita ini." jelasnya agak gemetaran.


"bodoh,hanya karena uang lima puluh juta kau mau jadi kriminal." ketus Muaz lalu melirik sekilas kearah mertuanya.


"siapa yang menyuruhmu?" tanya Muaz lagi.


"Li-liam tuan." jawabnya sambil tertunduk. Hanya mendengar nama Liam membuat rahang Muaz mengeras.


"dasar bede**h"