
Hazel menyerngit bingung dengan semua yang terjadi didepan matanya,ia pun membalikkan badan melihat suaminya.
"apa maksudmu dari semua ini?" tanya Hazel dengan dingin. Saat ini emosinya lebih mendominasi dari akal sehatnya sekarang.
"jangan melihatku seperti ingin membunuhku,ayo ikut aku." ucap Muaz sambil menarik tangan Hazel. Hazel tidak bergeming dari tempatnya membuat Muaz kembali menoleh kearahnya.
"aku tidak mau ikut denganmu." ketus Hazel membuang muka. Saat ini ia sangat kecewa dengan Muaz tentang kejadian tadi.
"kau mau tau apa maksudku tadi kan? kalau kita diam disini mana tau apa yang aku maksud tadi."
"jelaskan aja disini,kalau tidak bisa tinggalkan aku disini sendiri!" tegas Hazel melepaskan tangan Muaz darinya,ia pun berjalan membelakangi Muaz.
Muaz menghela napas,sudah ia duga akan terjadi seperti ini.
huft,kalau saja kau tau siapa yang merencanakan ini semua,apa reaksimu nanti yaa?? gumam Muaz tersenyum tipis melirik Hazel yang membelakanginya. Muaz tidak ada pilihan lain selain menelpon orang yang membuat rencana ini.
"hari ini ulang tahunmu,harusnya kau bahagia." ucap Muaz menepuk pelan pundak Hazel,lalu berjalan menuju tangga.
Tanpa Muaz duga,Hazel berlari kencang memeluknya dari belakang sambil menangis sesenggukan.
"jahat!!" ucapnya sambil memukul pelan punggung Muaz,Muaz terkekeh pelan lalu membalikkan tubuhnya menghadap Hazel.
"iya,iya maaf sudah membuatmu menangis seperti ini." ucap Muaz sambil menyeka air mata istrinya. Hazel terlihat lucu dengan mata sembab,hidung yang merah dimata Muaz. Muaz mencium kening Hazel dan mengelus kepala istrinya pelan.
"akan aku jelaskan diruang Mami,makanya kau harus ikut denganku." ajak Muaz.
"aku masih tidak mengerti dengan semua ini Az,apa maksudnya semua ini?! kau tadi mendukung tindakan Papi sekarang tiba-tiba mengucapkan selama ulang tahun untukku. Apa yang sebenarnya terjadi Az?" tanya Hazel menatap sendu kearah Muaz.
"makanya,sudah ku bilang akan ku jelaskan dibawah nanti." ucap Muaz dengan sabar.
"baiklah,aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak menjelaskan secara detail padaku nanti."
"terserah kau saja sayang." lagi-lagi panggilan Muaz membuat pipi Hazel bersemu merah.
Untung saja aku habis nangis,jadi tidak keliatan kali aku malu. celutuk Hazel langsung mengikuti Muaz dari belakang.
Saat mereka masuk kedalam ruang inap Tresya,Hazel dikejutkan dengan suara balon pecah dan ledakan confetti yang akan mengeluarkan kertas kecil kecil bentuk hati warna merah dan kupu-kupu warna putih. Hazel sempat tercengang melihat semuanya, apalagi kini pandangannya tertuju pada orang tuanya yang saling menggenggam satu sama lain,sedangkan wanita yang bernama Lea tadi kini tengah menikmati teh panas disofa.
Apa maksudnya semua ini?. Hazel bingung menanggapi semuanya.
"happy birthday sayang." ucap semuanya tanpa terkecuali begitupun Muaz. Ada perasaan haru melihat semuanya.
"aku kan bukan anak kecil lagi." ucapnya sambil sesekali menyeka airmatanya. Sepertinya hari ini ia menangis karena dua hal yang pertama kecewa dengan semua yang ia dengar hari ini dan yang kedua bahagia karena keluarganya masih mengingat ulang tahunnya.
"walaupun umurmu dua puluh lima sekarang,kau tetaplah putri kecil kesayangan kami." ucap Evran lalu ia melirik kearah istrinya.
Hazel bingung melihat Papinya,dimana wibawa pria itu saat menggandeng tangan wanita lain dibelakang Maminya. Ingin sekali rasanya Hazel menanyakan itu pada Papinya.
"kau pasti penasaran kan siapa wanita ini?" tanya Evran tepat sasaran,Hazel hanya mendongak meminta penjelasan dari Papinya.
"dia adik Papi yang paling bungsu." ucap Mami membuat Hazel menoleh kearah wanita yang tengah tersenyum padanya.
"aku belum pernah melihatnya." ucap Hazel.
"tentu saja kamu tidak pernah melihatku,karna aku tinggal diluar negeri. Ya ampun tangan keponakanku sangat kuat yaa." ucap Lea memandang keponakan yang cantik itu.
Hazel langsung menghampiri dan meminta maaf telah menampar tantenya,kalau saja ia tau dari awal itu tantenya tidak mungkin ia berani menampar pipi wanita cantik itu.
"tidak apa-apa sayang,namanya juga kamu syok." ucap Lea sembari mengelus kepala Hazel.
"kak,peranku udah habis kan? mana duitnya?" Lea menadakan tangannya kearah Evran. Dengan cemberut Evran mengeluarkan kartu legendnya lalu diberikan pada adik bungsunya itu.
"thank you bro,oh yaa sekali lagi selamat ulang tahun sayang,maaf telah membuatmu kecewa tadi." ucap Lea menatap Hazel.
"tenang saja sayang,ya sudah Tante pergi dulu yaa,bye semua." pamit Lea membuka pintu lalu keluar. Kini tinggallah empat manusia didalam itu. Suasananya kembali canggung, melirik satu sama lain.
"Maaf." ucap Evran memecahkan keheningan diantara mereka. Hazel menoleh kearah Papinya, "aku juga minta maaf Pi telah mengatakan hal yang tidak sopan selama ini."
"kamu tidak salah apa-apa nak,justru kamilah yang salah, seharusnya kami memikirkan perasaanmu selama ini."
"tidak apa-apa,aku sudah terbiasa dengan ini semua. Berkat kalian,aku jadi wanita mandiri yang hebat bukan?" gelaknya membuat semuanya tertawa pelan.
"kamu memang tangguh nak,kami bangga padamu sayang." ucap keduanya menatap sendu kearah Hazel. Hazel yang merasa terharu akhirnya dapat mendengar hal yang ingin ia dengar dari mulut orang tuanya. Perhatian dan kasih sayang mungkin akan ia dapatkan sekarang.
Ini adalah ulang tahun yang terbaik menurutnya,ia tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Hari yang dapat menyatukan keluarganya yang dulu pernah salah paham.
Hazel langsung memeluk kedua orangtuanya erat,merasakan hangat kasih sayang yang selama ini ia inginkan. Tidak menyangka diusianya yang terbilang dewasa ini masih haus dengan perhatian. Tapi,tidak ada yang terbaik dari hari ini pada menyesal dikemudian hari. Hazel sangat bersyukur keluarganya masih bisa dipertahankan. Rintangan sulit yang ia hadapi dulu,kini berbuah manis.
Muaz tersenyum menatap keluarga yang baru saja harmonis itu. Ia tiba-tiba teringat dengan bundanya yang masih dalam wilayah pria brengsek yang merupakan pelaku sebenarnya. Mau tak mau Muaz harus mencari cara agar pria itu segera masuk kedalam jeruji besi. Dengan begitu,namanya tidak akan lagi disebut kriminal.
Hazel menoleh kearah Muaz yang sedang termenung,Ia pun langsung melepaskan pelukan kedua orang tuanya dan menghampiri suaminya itu.
"ada apa?" tanya Hazel sambil menepuk pelan pundak Muaz.
Muaz terperanjat,lalu menoleh kearah Hazel, "aku tiba-tiba teringat bunda." ucapnya pelan. Hazel mengerti perasaan Muaz,sungguh ia ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan kasus Muaz.
"tenanglah, berdoa pada Allah semoga bunda baik-baik saja disana. Kita akan segera cepat menyelesaikan kasus ini." ucap Hazel seraya menyemangati suaminya.
"ya,itu harus." tekad Muaz.
Disaat mereka tengah berbincang, tiba-tiba Beyza masuk dengan tergesa-gesa sambil menutup pintu. Mereka semua menyerngit heran melihat Beyza.
"dia siapa nak?" tanya Mami melirik kearah Beyza. Wajar saja kedua orangtua Hazel tidak tau dengan Beyza karena mereka sebelumnya tidak pernah bertemu Beyza bahkan dipernikahan anaknya sekalipun.
"dia kakak iparku Mi,kakaknya Muaz." jawab Hazel
"ada apa kak?" tanya Muaz memandang aneh wajah Beyza yang terlihat pucat. Belum pernah ia melihat wajah Beyza sepucat ini.
"huft biarkan aku tenang sebentar." pinta Beyza sambil menarik napas dalam-dalam. Hazel langsung memberikan air mineral pada Beyza.
"makasih." ucapnya sambil meneguk habis air mineral itu. Setelah tenang ia pun duduk disofa menatap semuanya.
"maaf jika aku masuk tanpa mengetuk dulu." lirihnya menatap hormat kepada orangtua Hazel.
"kenapa kau lari tergesa-gesa kak?" tanya Hazel penasaran dengan kakak iparnya yang tak biasanya seperti itu.
"hmm,aku tidak bermaksud untuk menakuti kalian,tapi kita harus hati-hati mulai dari sekarang." ucap Beyza yang terlihat penuh makna itu.
"dari siapa?" tanya Muaz.
"huft,aku kehilangan dua tawanan,salah satunya kakak si Iram itu. Tidak kusangka kami hampir ketemu tadi dengan pengawalnya. Aku merasa posisi tadi sulit untuk melawannya karena itulah aku lari kesini." jelas Beyza.
"dia ada disini?!"
Beyza mengangguk, "untung saja dia tidak melihatku,aku rasa kabar Iram masuk rumah sakit sudah sampai ketelinganya. Sepertinya dia menjenguk adiknya." jelasnya lagi.
"Iram masuk rumah sakit?"
"iya,sudah kuduga reaksi kalian sama denganku tadi. Tapi mau gimana lagi, memang itu kenyataannya."
"seharusnya kau tidak perlu lari kak,kenapa kau harus lari-lari kalau tidak ketahuan."
"heheheh maaf refleks." ucap Beyza.
Sebenarnya bukan itu yang membuatku lari tadi,tapi aku tidak ingin merusak suasana yang keliatannya ceria seperti ini. Lebih baik aku yang akan mengurus sendiri masalahnya. Ayo Beyza bertahanlah. gumamnya dalam hati.