
Entah kesalahan apa yang dilakukan Muaz membuat Hazel enggan membuka pintu kamarnya. Kini Muaz terpaksa tidur dikamar sebelah,tetapi dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Semenjak ia tidur dengan istrinya, dirinya baru nyaman memeluk istrinya itu. Hal itu membuat Muaz gusar dan tidak tau harus membujuk Hazel bagaimana. Ia harus mencari cara agar Hazel mau memaafkannya walapun dirinya tidak tau kesalahan yang dilakukannya.
Muaz langsung keluar dari apartemen,mencari ide untuk bisa membujuk Hazel. Baru saja dirinya keluar sebentar,tanpa ia sadari jika ada suruhan Liam tengah mengawasi Muaz dan Hazel. Liam tersenyum seringai dibalik layar komputernya melihat Muaz keluar dari apartemen pria itu.
"tangkap gadis itu!!" ucapnya menelpon suruhan yang sudah berada didekat sana,ia pun tertawa pelan dan penasaran ekspresi yang akan ditunjukkan Muaz nantinya saat mengetahui istri tercintanya diculik.
Suruhan Liam dengan cepat berjalan kearah apartemen Hazel,Wanita yang menabrak Hazel tadi ikut andil dalam rencana Liam. Ia pun sempat melihat Hazel tengah memencet password pintu apartemen gadis itu,dengan cekatan wanita tadi berhasil membuka apartemen Hazel.
"cari semua sisi,jangan sampai ada yang terlewatkan!!" perintah wanita tadi memerintah kearah pengawalnya.
"masuk perangkap!" ucap Hazel duduk dikursi sambil tersenyum seringai menatap segerombolan didepannya. Semuanya tampak terkejut dan menoleh kearah Hazel yang sudah ada duduk disana. Padahal saat masuk tadi,tidak terlihat satupun orang disekitar itu.
Hazel tidak sendirian,ia bersama pihak kepolisian yang tengah bersembunyi disemua sisi apartemennya,dirinya hanya duduk santai menikmati coklat yang sempat ia perebutkan dengan suami tampannya itu. Sebenarnya Hazel sedikit malu pada tim yang melakukan rencananya,ia sempat berciuman mesra dengan Muaz dihadapan mereka. Kini dirinya harus bermuka tebal dihadapan mereka, seolah-olah tidak merasa bersalah telah melakukan itu didepan mereka semua.
"angkat tangan kalian semua!!!" seru ketua tim sambil menodongkan pistol kearah mereka semua,begitu juga dengan anggota timnya. Semua suruhan Liam tampak mengangkat tangannya dan menunduk kebawah.
Hazel sedikit curiga menatap salah satu dari mereka,ia pun memanggil salah satu anggota timnya menuju tempatnya.
"awasi pria berbaju hitam itu,dia tampak mencurigakan." bisik Hazel pada anggotanya,anggotanya pun mengangguk dan berjalan kearah pria yang dimaksud Hazel tadi. Benar saja,dirinya hampir saja celaka jika tidak cepat menyadari karena pria yang mencurigakan itu bersiap-siap memegang pistol.
Dengan cekatan anggota tim Hazel langsung membekap pria mencurigakan itu lalu diborgol dan diamankan. Sedangkan yang lainnya ikut diborgol dan dibawa ketempat pihak keamanan untuk diintrogasi.
Hazel hendak berdiri,namun ia dikejutkan dengan wanita yang diborgol polisi itu memberontak dan mengambil pistol yang ada disaku polisi didekatnya,wanita itu menodongkan pistol kearah Hazel. Membuat semua terdiam ditempat tanpa berani bertindak gegabah karena nyawa Hazel kini dalam bahaya.
"jauhkan senjata kalian semua atau wanita didepanku ini mati!!!" sarkasnya pada seluruh anggota tim Hazel. Hazel mengangguk pelan seraya mengisyaratkan menuruti perintah wanita itu.
Dengan perlahan-lahan semuanya menjauhkan pistol dari mereka. Wanita tadi meminta salah satu anggota Hazel membuka borgol tangannya,dengan terpaksa ia membuka borgol wanita itu. Wanita tadi langsung berjalan kearah Hazel sambil menodongkan pistol kearah Hazel. Hazel berusaha untuk tetap tenang.
"duduk kau!!" ucapnya sambil mendorong Hazel untuk duduk. Hazel berdecak pelan hanya mengikuti kemauan wanita itu. wanita tadi langsung membelakangi Hazel sambil menodong pistolnya kearah kepala Hazel.
"katakan padaku,bagaimana kau tau kami datang?" tanya wanita itu sambil menarik rambut Hazel.
Sialan,rambutku seenaknya ditarik. Sabar Hazel...sabar jangan bertindak gegabah. gumamnya pelan dalam hati. Ia harus tenang demi keselamatan sepuluh orang yang ada di apartemen nya saat ini.
"akan ku katakan." ucap Hazel pelan menepis tangan wanita yang menarik kuat rambutnya. Ia menatap tajam kearah wanita itu.
Untung saja Muaz tidak ada disini,kalau tidak sudah habis dia dicincang Muaz. Az,tolong jangan kembali dulu sebelum semuanya aman. Aku tidak ingin kamu dalam bahaya. gumam Hazel khawatir suaminya tiba-tiba datang disaat yang tidak tepat.
Hazel menceritakan setengah kebenaran kepada wanita itu,tentang dirinya yang tau akan rencana mereka. Hazel melirik semuanya mengkode untuk ancang-ancang bersiap. Semuanya mengangguk dan mengambil posisi,sedangkan sebagiannya lagi menahan segerombolan wanita yang mau menculiknya itu.
"untuk apa kau melakukan semua ini nyonya?kau tau bukannya kau hanya sia-sia melakukan hal ini??" tanya Hazel pada wanita itu.
"cih bukan urusanmu!! aku hanya ingin mendapatkan uang dari tuan Li—"
dor!!. peluruh itu tepat menancap di kepala wanita tadi,dan tewas ditempat. Banyak cucuran darah menciprat wajah Hazel. Hazel hanya diam dan syok melihat apa yang terjadi barusan. Ia pun melihat sekeliling dan sekilas melihat kearah jendelanya yang terbuka.
Sial,dia ditembak sniper. gumam Hazel masih syok,ia pun terduduk dilantai menatap wanita itu tergeletak tidak bernyawa.
***
Deg.
Muaz terdiam saat mendengar suara tembakan yang terdengar nyaring dari belakang,lebih tepatnya apartemennya. Menjatuhkan semua makanan yang sempat ia beli untuk membujuk istrinya,dengan langkah tergesa-gesa ia berlari menuju apartemen. Betapa terkejut dirinya saat melihat banyak orang-orang berkumpulan ketakutan dilapangan. Muaz melirik sekeliling orang-orang itu mencari istrinya. Namun,Muaz tidak melihat Hazel diantara mereka.
"dimana kamu sayang???" gumam Muaz kalang kabut menoleh sana-sini mencari Hazel. Ia pun langsung memutuskan pergi ke apartemennya.
"permisi,apa anda tau apa yang terjadi disini?" tanya Muaz sopan pada pria tua yang tampak duduk disekitar sana.
"tadi saya dengar ada suara tembakan dari apartemen 203,semua yang mendengar itu berlari berhamburan. Saya dengar ada wanita yang tewas tertembak disana nak." jelas pria tua itu membuat Muaz terdiam ditempat. nomor apartemen yang disebutkan pria itu adalah apartemennya.
Dengan cepat ia berlari menuju apartemennya,ia tidak percaya jika Hazel tertembak.
"tidak mungkin... tidak mungkin Hazel itu,aku yakin!!!" ucapnya seraya memberi harapan jika memang bukan Hazel wanita yang tertembak itu. Tanpa terasa air matanya mulai turun membasahi pipinya.
Akhirnya ia sampai diapartemennya,tetapi dirinya tidak bisa masuk karena polisi banyak berjaga didepan apartemennya,bahkan garis polisipun dipasang melarang orang-orang masuk kedalam tempat kejadian.
"tuan,anda dilarang masuk!" ucap salah satu polisi yang berjaga didepan pintu apartemen Hazel.
"biarkan saya masuk! istri saya didalam!!!" sarkas Muaz kesal,polisi ini tidak membiarkannya masuk. Ia pun memaksa menerobos garis polisi dan berhasil masuk kedalam apartemennya. Dapat ia lihat saat ini banyak genangan darah disekitar meja makan.
Muaz sedikit pusing melihat darah itu,ia pun berpegangan dengan kursi didekatnya agar ia tidak tumbang. Melihat darah itu kembali mengingatkannya tentang kejadian yang menghantuinya selama ini. Tetapi,ia tidak punya waktu untuk takut hal itu. Muaz pun memaksakan dirinya melihat kantong mayat yang tergeletak dilantai. Dengan langkah gontai ia menghampiri kantong itu.
Ia kini ketakutan,tubuhnya gemetaran hebat. Bayangan-bayangan ayahnya dibunuh didepan matanya itu sekarang berkeliling dikepalanya. Muaz terduduk tak berdaya menatap kantong mayat didepannya.
Muaz tertegun saat tangan putih itu melingkar ditubuhnya. Harum madu yang sangat ia kenal dan sukai itu yang juga membuatnya saat ini tenang.
"aku disini Az." ucap Hazel memeluk erat suaminya dari belakang.