
Bahar tercengang mendengar pernyataan itu dari mulut anak sambungnya. Ia menatap tidak percaya jika anak sambungnya akan menikahi anak sambungnya yang lain. Hari ini ia dipenuhi dengan fakta-fakta yang mengejutkan baginya.
"kenapa kamu mau menikahi Beyza?" tanya Bahar ingin mendengar alasan Iram menikahi putri trinya itu. Naluri Ibunya keluar,ia merasa ada yang janggal dengan pernikahan kedua anaknya itu. Tidak mungkin secara tiba-tiba,Iram melamar putrinya yang jauh dari kita kelahiran gadis itu disini.
Iran menghela napas,"aku menikahinya karna rasa saling suka. Beyza sendiri yang melamarku duluan." ungkap Iram memandang Bahar.
Beyza? kenapa dia meminta Iram menikahinya?. gumam Bahar. Namun,ia tidak bisa berbuat apa-apa,berusaha berpikir positif dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.
"apapun itu,semoga pernikahan kalian sakinah,mawaddah, warahmah." ucap Bahar tulus langsung diaminkan Iram.
"Akan aku kasih tau nanti kapan Mama bertemu dengan Beyza." ucap Iram langsung melenggang pergi dari ruang kerjanya. Bahar menghela napas,jujur ia sangat merindukan anak-anaknya itu. Bahar langsung keluar menuju kamarnya.
***
Hazel menatap foto-foto kasus yang selama ini ia pajang dikamarnya. Ia memperhatikan satu persatu foto-foto tersebut. Helaan napas terus ia keluar,kasus suaminya masih belum terpecahkan sampai saat ini.
"Pria yang bernama Liam,dia masih misterius dan susah dilacak. Apa yang harus kulakukan yaa agar pria itu keluar dari kandangnya?" gumamnya sambil berpikir. Tiba-tiba ia mendapat telepon dari asistennya,
"nona Hazel,ini gawat." paniknya dari seberang sana
"ada apa?" tanya Hazel sedikit cemas
"rumah tuan Muaz yang besar itu sudah dilalap habis jago merah." ucapnya lagi.
"apa?!"
Dengan cepat Hazel menyambar kunci mobilnya dan melenggang keluar. Ia pun terburu-buru menuruni anak tangga apartemennya. Hazel langsung menancapkan mobilnya menuju rumah Muaz yang kini harusnya tengah diselidikinya. Betapa terkejutnya Hazel mendapati segerombolan orang-orang tengah berusaha memadami api yang melalap habis rumah Muaz.
Hazel segera keluar dari mobil dan bertanya pada salah satu warga disekitar sana.
"permisi pak." tanya Hazel sopan pada pria baya didekatnya,pria itu menoleh " ada apa?"
"mau tanya pak,kenapa rumah ini bisa terbakar?" tanya Hazel.
"itu saya kurang tau mbak gimana bisa terbakarnya. Saat saya datang rumah itu udah kebakar aja." jelasnya langsung dianggukan Hazel. Hazel berterimakasih pada bapak itu dan berjalan mendekati kerumunan yang sibuk memadamkan api.
"hei nona,jangan mendekat kesitu!!" seru seseorang dibelakang Hazel. Hazel memundurkan sedikit langkahnya menjauhi tempat itu.
"huft,apa yang terjadi sebenarnya disini?" gumamnya pelan.
"apa nona kenal pemilik rumah ini?" tanya seorang ibu-ibu disekitar sana.
Hazel mengangguk, "iya,saya tengah menyelidiki kasus yang pernah terjadi disini." jelasnya pada Ibu itu.
"rumah ini udah lama kosong mbak,lima tahun yang lalu itu rumah ada kasus pembunuhan. Kami memang disini nggak terlalu tau kronologinya seperti apa,yang jelas waktu itu saya ada melihat seorang pria baya tergesa-gesa keluar dari rumah itu." jelas Ibu itu.
"tunggu,apa ibu kemarin melihat kejadian waktu itu yaa?" tanya Hazel menoleh kearah Ibu itu. Ibu itu mengangguk, "iyaa mbak. Waktu itu saya abis pulang kerja trus saya liat ada pembantaian disitu,saya gemetaran hebat takut melihat itu,jadi saya sembunyi dibalik pohon." jelas Ibu itu.
"Ibu,perkenalkan saya pengacara Hazel Blaire. Saya disini bertanggung jawab membuka kasus Muaz Edmon Bark. Kasus itu sebelumnya sudah ditutup,namun karna ada kejanggalan dalam kasus itu saya membukanya lagi mencari bukti yang sebenarnya," jelas Hazel memperkenalkan dirinya pada Ibu itu.
"karena Ibu sempat melihat kejadian itu,apa boleh saya meminta ibu menjadi saksi atas kasus tersebut? saya berharap besar ibu mau karena pelaku kasus pembunuhan ini bukan Muaz pelakunya tetapi seseorang lain." jelas Hazel lagi.
Ternyata masih ada orang yang mempercayai mu kalau kau bukan pembunuhnya Az. gumam Hazel senang dalam hati.
"saya akan usahakan jadi saksi. Tapi Mbak,apa boleh saya meminta sesuatu?" tanya Ibu itu langsung dianggukan Hazel.
"katakan apa itu Bu?"
"mohon selama persidangan itu,tolong lindungi saya. Saya takut pria itu mengetahui keberadaan saya kemarin."
"apa ibu lihat gimana ciri-ciri pria itu?"
"hmm tidak terlalu jelas mbak,waktu itu malam hari. Tapi saya ingat dia pakai mobil apa kemarin."
"mobil apa yang dipakainya kemarin Bu?"
"itu mobil mewah warna dongker, kalau nggak salah plat mobilnya 1134." Jelas Ibu mengingat plat mobil itu. Hazel langsung mencatat apa yang dibilang Ibu itu.
"baik Bu,terimakasih atas penjelasannya. Saya tidak menyangka ternyata ada yang melihat kejadian itu. Saya akan pastikan ibu dalam perlindungan kami. Untuk itu Bu,tolong jangan katakan pada siapapun soal ini,demi kebaikan kita bersama." jelas Hazel lagi.
"baiklah,saya harap Muaz segera dibersihkan namanya. Dia pemuda yang baik tidak mungkin dengan tega membunuh kedua orang tuanya sendiri."
"benar Bu,saya juga yakin hal itu.Oh ya saya hampir melupakan sesuatu. Boleh saya tau nama ibu siapa?"
"panggil saya Ibu Ratih nak,"
"baik Bu Ratih terimakasih atas informasinya,semoga dengan kebaikan ibu. Muaz segera dibersihkan namanya. Saya tidak akan melupakan jasa ibu. Baik Bu,saya permisi dulu." pamit Hazel pada Ibu yang bernama Ratih itu. Setelah mendapat nomor Ibu itu,Hazel bergegas menuju mobilnya.
"fyuuh tidak ku sangka ternyata ada saksi juga. Tunggu sebentar,aku mengingat kalau Muaz tidak sendiri datang kesana,aku harus tanya kak Daffa soal ini." gumamnya langsung melajukan mobilnya menuju apartemennya.
Tidak berapa lama,Hazel tiba di apartemen miliknya. Ia tidak menyadari jika ada seseorang tengah mengikutinya diam-diam dari belakang. Beruntung Muaz tengah berada di lorong apartemen itu,sehingga pria yang membututi Hazel tadi bersembunyi.
"kau abis dari mana Zel?" tanya Muaz melihat kearah Hazel. Dapat Hazel lihat air keringat bercucur diwajahnya.
"kau mencariku?" tanya Hazel lembut.
"iyaa,aku panik kau tidak ada dirumah,aku udah cari kemana-mana kau tidak ada,lagian kenapa kau tidak mengangkat teleponku hah?" jelasnya panjang lebar,membuat Hazel menggaruk tengkuknya tidak gatal.
"heheheh maaf sayang,aku pergi keluar sebentar tadi." cengir Hazel lalu berjalan masuk kedalam apartemennya begitu Muaz.
Hazel terkejut Muaz langsung memeluknya dari belakang, "ke-kenapa?"
"coba bilang sekali lagi." ucapnya sambil mengerat pelukan itu.
"yang mana?"
"panggilan sayang. Coba katakan sekali lagi." pinta Muaz sedikit manja. Beruntung hanya mereka berdua didalam apartemen itu.
Hazel begitu gugup,Muaz tersenyum tipis. "ayo ikut aku." ajak Muaz menarik tangan Hazel,sedangkan wanita itu pasrah mengikuti suaminya karena ia tahu apa yang akan dilakukan suaminya nanti.