
Muaz bersembunyi dibalik semak mengamati rumah kosong yang menjadi tempat penyekapan istrinya saat ini. Memang Liam sendiri yang memberitahukan tempat mereka pada Muaz.
"huft,ada tujuh orang yang berjaga." gumam Muaz pelan, Muaz mendengar ada suara jeritan dari dalam rumah itu membuat Muaz mengeraskan rahangnya.
"sialan kau Liam,apa yang kau lakukan pada istriku?!" geramnya,mau tak mau ia harus keluar dari tempat persembunyiannya untuk langsung menyelamatkan Hazel.
Muaz berjalan pelan menuju mereka secara terang-terangan,membuat ketujuh penjaga tadi spontan menoleh sambil menodongkan pistol kearah Muaz. Muaz mengangkat tangan seolah-olah menyerahkan dirinya langsung kepada Liam. Salah satu penjaga tadi,langsung membekap Muaz dan bahkan juga memukul perut Muaz dengan keras hingga Muaz memuntahkan darah dari mulutnya.
Muaz diseret paksa masuk menghadap Liam,disana ia dapat melihat Liam tengah duduk santai mengamati dirinya yang muali mendekatinya.
"wah...wah siapa yang datang nih." selorohnya langsung berdiri didepan Muaz,tanpa segan-segan ia menampar kuat berkali-kali pipi Muaz hingga Muaz tersungkur dilantai.
"dasar lemah. Inilah akibatnya menganggu keharmonisan keluarga ku." ucap Liam lalu menyuruh anak buahnya membawa Muaz kedalam kurungan, "kenapa kau tidak membunuhku langsung hah??" teriak Muaz menatap tajam kearah Liam.
"tidak semudah itu,aku ingin melihat kau menderita. Dan juga istrimu itu bisa secara langsung melihat adegan suaminya tengah dihajar habis-habisan. Aku tidak sabar menunggu besok." ucapnya sambil tersenyum seperti iblis.
"brengsek kau Liam!!!" sarkas Muaz memberontak melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya,namun sayang belum sempat Muaz membuka tali itu ia sudah dibawa paksa kedalam kurungan.
"lepaskan aku brengsek!!!" teriaknya lagi didalam kurungan itu. Muaz sedikit pusing saat melihat jejeran besi yang mengurungnya ditempat kecil seperti ini. Ini malah membuat Muaz mengingat kembali kejadian yang pernah ia alami selama lima tahun itu.
Muaz duduk sambil menenangkan dirinya,ia memejamkan matanya pelan. Setelah merasa dirinya sudah sedikit membaik,Muaz memandang keseluruh ruangan diluar kurungan itu.
"fyuuh,ayo kau pasti bisa Az,demi Hazel!" ucapnya sambil menyemangati dirinya sendiri,Muaz mengamati lubang kunci kurungan itu,ternyata sama persis seperti yang ada didalam penjara. Pernah sekali Muaz melihat tahanan lain membuka pintu tahanan itu dengan memakai peniti atau benda tajam lainnya. Muaz terkejut ternyata pintu bisa terbuka waktu itu,namun sayang tahanan yang berhasil keluar itu langsung ditembak mati oleh polisi yang bertugas pada malam itu.
Muaz langsung menggunakan peniti milik Hazel yang sempat ia bawa,dengan cepat ia mengutak-atik lubang pintu itu hingga terbuka. Dengan langkah perlahan Muaz bersembunyi dibalik kardus tinggi itu. Setelah merasa sudah aman,Muaz kembali maju pelan satu langkah. Muaz langsung berjalan pelan menuju tempat Hazel berada.
Muaz sebenarnya masih bingung dimana mereka menyembunyikan istrinya. Muaz membuka pintu pelan mengamati sekeliling ruangan tidak ada orang. Muaz merasa inilah kesempatannya untuk kabur bersama Hazel.
Muaz lagi-lagi dibuat kebingungan,ia pun langsung mencari kamar dimana istrinya disekap. Dengan perlahan-lahan Muaz membuat orang-orang yang ada disana dibuat pingsan,Muaz satu-persatu memeriksa ruangan itu.
Baru saja Muaz memegang handle pintu ruangan disudut itu,ia dikejutkan dengan suara seseorang yang akan menuju tempatnya berdiri. Dengan cepat Muaz berlari bersembunyi ditempat yang tidak terlihat oleh pria itu.
Liam berjalan pelan menuju ruangannya,tapi dirinya terkejut dengan tergeletaknya dua anak buahnya dilantai.
"aku yakin kau mencari Hazel kan? ahahaha tidak akan semudah itu bro." ucap Liam dengan keras. Ia yakin Muaz yang tengah bersembunyi itu dapat mendengar suaranya dengan jelas. Muaz mengepalkan tangan menunggu waktu yang tepat untuk keluar,kalau saja ia tetap memaksa memukul Liam alhasil nyawa Hazel taruhannya.
Apa yang harus kulakukan sekarang,berpikirlah Az!!!. Gumam Muaz pelan,ia terus mengawasi setiap sudut ruangan. Setelah merasa aman,Muaz berjalan pelan membuka pintu yang belum ia cek tadi. Muaz menutup pintunya pelan agar Liam tidak curiga, Muaz berjalan pelan menuju kasur. Ia tertegun melihat orang itu yang tak lain adalah istrinya sendiri. Istrinya tampak tertidur pulas dikasur itu,Muaz lega pakaian Hazel masih lengkap seperti pakaian kemarin.
"tenang sayang,aku akan membawamu keluar dari tempat ini." ucap Muaz sambil mencium kening istrinya. Ia melirik jendela kamar dan menampakkan kasur bekas berada tepat dibawah jendela kamar yang dipakai Hazel saat ini.
"aku harus mengeluarkan Hazel dulu dari sini." gumamnya lagi,pelan-pelan membuka jendela. Tetapi,ia menyadari sesuatu yang janggal,lalu dengan cepat ia menutup jendelanya lagi dan menutup pintu. Tak lupa ia mengunci pintu itu.
"sial,hampir saja." gerutu Muaz pelan saat menyadari ada sniper yang tengah mengamati mereka. Bahkan dapat ia dengar suara tembakan menuju tempatnya.
"hahahah gimana Muaz Edmon Bark,kau dan istrimu kini terjebak disini." ucap Liam dari kejauhan melambaikan tangan kearah mereka.
"apa yang kau mau?!"
"jauhi Bahar dan Ara jangan pernah menampakkan wajah kalian lagi!!" ucap Liam dengan lantang. Kini pria itu berada diluar tepat berdiri delapan meter dari jendela kamar yang ditempati Hazel.
"sedang apa dia disana? kenapa tidak dari dalam?" tanya Muaz mulai sedikit curiga menatap seisi rumah,bahkan ia dapat melihat senyum seringai dari Liam.
"brengsek,dia mau membakar kami dalam rumah ini???! kurang ajar kau Liam!!" ucapnya pelan sambil memikirkan cara agar bisa keluar dari rumah yang hendak mau dibakar Liam.
"ops maaf,aku tidak punya hati untuk memaafkan orang yang mengganggu keluargaku. Akan kupastikan kalian terbakar hangus didalam seperti sapi panggang hahahaha." gelaknya menatap Muaz dari jendela.
Pria itu sudah mengunci rumah itu dengan rapat bahkan jendela sudah tertutup dengan kayu yang ia paku. Sudah dapat dipastikan dua orang itu tidak akan bisa keluar dengan selamat. Liam menatap remeh kedua orang itu dan menyuruh para anak buahnya langsung membakar rumah tua itu. Ia pun langsung menaiki mobil yang sudah dipersiapkan oleh anak buahnya.
"selamat tinggal mantan anak tiriku." ucapnya sambil mengenakan kacamatanya dan menyuruh anak buah segera meninggalkan tempat itu. Ia pun tersenyum puas menatap rumah kini sudah mulai dilalap si jago merah.
Muaz menghela napas pelan,ia berusaha tenang mencari cara agar bisa keluar dari tempat itu. Dengan sangat terpaksa ia berusaha membangunkan Hazel dari pingsannya,ia tidak bisa mengangkat Hazel karena risikonya sangat tinggi.
"Hazel ku mohon buka matamu sayang!!" seru Muaz berusaha membangunkan Hazel.