Shattered

Shattered
Bab 47



Hazel memakai jaket hitam kesayangannya mengajak sang kakak ipar menuju keluar apartemen. Memang saat ini suasana hati Beyza tampak tidak semangat,Hazel harus berputar otak agar kakaknya kembali seperti semula.


"kita mau kemana Zel?" tanya Beyza sambil memasang seltbeltnya. Hazel tersenyum pelan kearah Beyza,"nanti kakak tau sendiri." ucapnya sambil menyalakan mobilnya. Beyza hanya menghela napas dan membiarkan adik iparnya itu membawanya pergi.


Sesampai ditempat tujuan,Beyza menyerngit bingung tempat mereka berhenti saat ini. Ia pun menoleh kearah Hazel, "tempat apa ini?"


"Lapangan basket,kuy turun." ucap Hazel girang langsung keluar dari mobil. Beyza pun mengikuti Hazel dari belakang.


"jangan bilang kau mau mengajakku main basket?" tebak Beyza langsung dianggukan Hazel,entah darimana Hazel mendapatkan bola basket itu ditangannya.


"kau sangat benar sekali kak,karena keliatannya hobi kita sama. Aku rasa kita bakalan cocok main ini." ujar Hazel lalu melempar bola basket kearah Beyza,Beyza spontan langsung menangkap bola itu.


"yuk satu lawan satu,yang menang traktir makan yang kalah." ucap Hazel melepaskan jaket hitamnya.


"bukannya yang kalah mentraktir yang menang,kenapa terbalik?" tanya Beyza heran,ia pun melepaskan Hoodie yang ia pakai tadi.


"harus beda dari yang lain dong kak. Nah,skor yang harus dicapai 20 set,kakak siap?" tantang Hazel langsung dianggukan Beyza.


Mereka langsung mengambil posisi,Hazel mendribble bolanya dihadapan Beyza. Beyza ancang-ancang mengambil bola. Setelah mendapat celah,Beyza langsung merampas bola yang dipegang Hazel dan mendribble masuk kedalam keranjang.


"wow,kau sangat lihai kak." puji Hazel sambil mengacungkan jempol kearah Beyza.


"terimakasih." ucap Beyza sambil mengambil bolanya lagi,kini Hazel tampak ancang-ancang mengambil bola dari Beyza. Namun,tidak selihai Beyza,Hazel kewalahan mengambil bola dari Beyza. Beyza lagi-lagi mencetak skornya.


Gila,kemampuan kak Bey sangat cepat. Aku aja kewalahan menyimbanginya. Gumam Hazel menatap kakak iparnya itu. Setelah mereka puas bermain,mereka pun istirahat sejenak.


"terimakasih." ucap Beyza setelah meneguk air mineralnya menatap kedepannya.


"untuk apa kak?" tanya Hazel menatap kakaknya.


"kau sengaja mengajakku bermain untuk menghiburku kan?" tebak Beyza.


"hehehehe,kakak memang cepat tau yaa." kekeh Hazel sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal.


"Aku hanya terpikir keadaan Bunda,kau tadi lihat kan gimana Bunda dibawa paksa sama pria brengsek itu. Aku takut Bunda kenapa-kenapa." gusar Beyza menatap kosong.


"tenanglah kak,Bunda kuat. Kalau aku jadi Bunda,mungkin aku tidak sekuat Bunda kak. Kakak tau kan,Bunda udah bertahan selama 5 tahun tinggal dengan pria itu. Kak,kita harus percaya dengan Bunda. Kita harus dukung Bunda untuk bertahan,sekarang kita akan selesaikan masalah ini perlahan-lahan." jelas Hazel menyemangatkan Beyza. Beyza tersenyum kearah Hazel.


"huft,kau benar Zel. Mungkin aku terlalu overthingking. Huft abis ini kita kemana?" tanya Beyza.


Hazel berdiri sambil mengibas bajunya dan saat berbalik menatap Beyza,tiba-tiba ia kehilangan kesadaran. Beyza terkejut langsung memegang Hazel.


"Hazel,Hazel bangun!!" seru Beyza sambil menepuk pipi Hazel. Tak kunjung bangun,Beyza langsung menelpon Muaz cepat.


"Az,istrimu pingsan!!"


***


Muaz langsung berlari kencang saat mendengar kabar dari Beyza tentang Hazel pingsan. Dengan langkah tergesa-gesa ia menanyai resepsionis untuk mencari keberadaan istrinya dirawat. Setelah mendapat info,ia pun bergegas menuju ruangan Hazel.


Braak. Muaz mendorong pintu itu kuat sampai-sampai orang yang berada didalamnya terkejut dengan kedatangan Muaz.


"Az,santai lah!" gerutu Beyza tengah mengupas apel,ia menatap tajam kearah Muaz yang membuatnya terkejut.


Muaz mengacuhkan Beyza dan berjalan kearah Hazel yang tengah tertidur diranjang.


"kak,ada apa dengannya? kenapa bisa begini?" tanya Muaz menatap Beyza,ia pun menggenggam tangan Hazel.


"tolong jaga mereka ya Az." ucap Beyza penuh makna. Muaz menyerngit bingung saat mendengar ucapan Beyza. Baru saja ia ingin bertanya,kakak laknatnya itu sudah menghilang dari pandangannya. Muaz menghela napas pelan dan duduk disamping Hazel,mengecup pelan kening Hazel.


Muaz terus memandang wajah Hazel yang terlihat damai.


"kau sangat cantik Zel." kekehnya pelan terus memandang wajah Hazel.


"kau membuatku malu Az,trus menatapku seperti itu." ucap Hazel tiba-tiba masih memejamkan matanya.


"kau sudah sadar?" tanya Muaz terkejut.


"iya,daritadi malah." ujar Hazel sambil duduk. Ia pun tersenyum kearah suaminya.


"kenapa kau bisa pingsan tadi?" tanya Muaz khawatir.


"hmm kasih tau nggak yaa..." goda Hazel tersenyum jahil kearah Muaz. Muaz menggerutu pelan, "aku serius Hazel,tidak sedang bercanda sekarang." ucap Muaz.


"ish,kau ini nggak bisa diajak bercanda dulu. Oke...oke aku kasih tau,tapi coba tebak kenapa aku tadi pingsan." ucap Hazel sambil menggenggam tangan Muaz.


"apa? kenapa kau bertanya padaku? kau kan yang pingsan tadi,seharusnya kau tau sendiri kondisimu Hazel."


"ya tebaklah dulu sayang,ayolah." bujuk Hazel agar Muaz mau menebak kondisinya. Hazel menatao penuh harap kearah Muaz,Muaz hanya bisa menghela napas.


"baiklah...baiklah,hmm kau kecapean?" tebak Muaz. Hazel langsung menggeleng pelan, "kurang tepat."


"kau ada sakit bawaan?" tebak Muaz lagi,Hazel juga menggeleng pelan.


"hmm,kau anemia?" tebak Muaz lagi dan Hazel lagi-lagi menggeleng pelan, "tidak tepat."


"cih,kasih tau sajalah. Tidak usah berbelit-belit kayak gini. Lebih baik aku tanyakan langsung sama dokternya." ucap Muaz hendak berdiri,langsung ditahan Hazel.


"eits,nanti dulu sayang. Dengarin aku dulu." ucap Hazel mencegah Muaz berdiri,Muaz kembali ke ke tempat duduknya semula.


"kenapa kau tadi pingsan?"


"karna ada mereka didalam perutku Az,mereka yang sangat lucu akan hadir dalam kehidupan kita." ucap Hazel penuh misteri. Muaz menggaruk tengkuknya tidak gatal,tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya itu.


"apa maksudmu?" tanya Muaz. Hazel menepuk pelan keningnya,melihat keluguan suaminya seketika tawanya pecah menggema seluruh ruangannya.


Muaz hanya diam menggerutu menatap istrinya meledek dirinya.


"Hazel." ucap Muaz kesal,tak habis pikir olehnya akan diledek oleh istrinya sendiri.


"hahahaha ya ampun,maaf...maaf sayang." ucap Hazel sambil menenangkan dirinya. Ia pun langsung menuntun tangan Muaz kearah perutnya.


"perutmu yang sakit yang,bentar aku panggil dokternya." ucap Muaz resah,Hazel langsung menahan suaminya lagi. Jika nanti Muaz keluar bisa-bisa menghebohkan semuanya.


"tunggu sebentar,aku ini tidak sakit sayang." ucap Hazel sambil memberengutkan diri.


"kalau kamu sakit,untuk apa kamu diinfus sayang??" Hazel tertegun saat Muaz memanggilnya 'kamu' tiba-tiba. Ia terkekeh pelan, "karna aku butuh cairan sayang,malah sebentar lagi aku sudah boleh keluar." jelas Hazel,Muaz hanya berooria setelah mengetahui hal itu.


"lalu kenapa kamu tadi menuntun tanganku ke perut mu?" tanya Muaz,Hazel tersenyum sumringah lalu memeluk Muaz erat.


"aku hamil sayang,dan anak kita kembar!!" seru Hazel.