
Hazel dan Muaz berjalan melewati lorong rumah sakit. Hazel sudah mendengar semua dari Muaz Tetang apa yang terjadi kemarin pada Maminya. Sampai didepan pintu,ia hanya diam tanpa berniat masuk kedalam. Muaz melihat istrinya,ia pun menggenggam tangan istrinya itu,
"tenanglah." ucap Muaz lalu dianggukan dengan Hazel. Mereka berdua masuk ke ruang Tresya. Saat itu Tresya tengah disuapi oleh perawat yang dikhususkan oleh Muaz.
"Mami." panggilnya pelan berjalan menghampiri Tresya. Tresya tersenyum menatap putrinya tanpa terasa air matanya jatuh ke pipinya.
Hazel menyeka air mata Tresya lalu tersenyum menatap wanita yang melahirkannya itu, "tenanglah aku sudah ada disini Mi." serunya,ia pun meminta pada perawat menggantikan menyuap makanan untuk Tresya.
"ini nona." ucap perawat itu sambil menyodorkan piringnya pada Hazel.
"terimakasih sudah menjaga Mamiku." ucapnya tulus dianggukan perawat itu. Perawat itu pamit undurkan diri keluar dari ruangan Tresya.
"Apa Mami masih terasa sakit?" tanya Hazel melihat wajah Tresya yang sudah terlihat keriput itu.
Tresya mengelus kepala Hazel dengan penuh kasih sayang, "maaf,Mami bukanlah ibu yang terbaik untukmu." lirihnya.
"Mami," Hazel menggenggam tangan Mami menatap wajah Maminya.
"aku tidak menyesal memiliki ibu seperti Mami,memang Mami ada melakukan kesalahan. Tapi kan kita semua manusia,tentu tidak akan selalu benar." Hazel sesekali menyeka air matanya,memalingkan wajahnya dari Tresya.
"Mami gagal menjadi ibu untukmu,Mami tidak pernah memperhatikan tumbuh kembangmu selama ini." lirih Tresya tidak tahan menahan tangisannya,melihat Tresya menangis membuat Hazel ikut menangis pilu. Ia pun langsung memeluk Maminya sambil menangis sesenggukan.
Hazel semakin mengeratkan pelukannya pada Tresya, "maafkan aku Mi," ucapnya lirih.
"harusnya Mami yang minta maaf padamu nak."
Cukup lama mereka berpelukan,akhirnya mereka melepaskan pelukan itu. Keduanya saling bertatapan sambil tersenyum sesekali tertawa renyah, "matamu sangat merah nak."
"Mami juga." ucap Hazel menyeka sisa air matanya.
Baru sadar jika mereka tidak hanya berdua saja yang didalam ruangan itu,Tresya menoleh kearah menantunya. "kemarilah nak." panggil Tresya,Muaz menurut langsung menghampiri mertuanya.
Tresya langsung menyatukan tangan Muaz dan Hazel, "Mami harap kalian bahagia sampai maut memisahkan. Jika kalian ada masalah selesaikan baik-baik,jangan seperti Mami dan Papi yang gagal mendidikmu nak."
"Mami sama Papi tidak gagal mendidikku kok,lihatlah aku sekarang Mi aku pengacara handal. Do'akan aku Mi agar kasus suamiku berjalan lancar."
"apa sudah dapat titik terangnya? Mami yakin bukan kamu pembunuh ayahmu nak." ucap Tresya menatap Muaz. Muaz tersentuh dengan perkataan Tresya yang mudah mempercayainya.
"Mami berdoa semoga dengan cepat namamu dibersihkan. Jangan patah semangat." Tresya tersenyum menatap mereka berdua. Kini kesalahpahaman diantara mereka sudah berakhir. Tresya pun segera tidur untuk istirahat.
Hazel bersyukur atas hal semua itu,masalahnya kini satu persatu dapat diselesaikannya dengan baik,berbarengan dengan kasus yang ditanganinya saat ini. Kasus yang cukup lama diselesaikan membuatnya harus ekstra mencari bukti kebenaran dibalik kejadian malam itu.
Aku berharap masalah kasusmu selesai Az,kau bebas dari segala tuntutan apapun. lirihnya dalam hati memandang suaminya itu. Ia melihat bayangan seseorang dibalik pintu,dengan cepat Hazel berjalan kearah pintu dan langsung membukanya.
"Papi?" Hazel terkejut dengan kedatangan Papinya,namun sepertinya ia tidak sendiri melainkan dengan seorang wanita muda. Hazel merasa curiga dengan gelagat keduanya,ia pun langsung menarik Papinya keluar. Ia tidak ingin Maminya berpikir macam-macam.
"siapa dia?" tanya Hazel menyelidik,tidak suka dengan kedatangan wanita yang menggandeng tangan Papinya.
"aku istrinya." ucapnya sambil tersenyum manis menunjukkan cincin emas yang melingkar dijari manisnya.
Deg. Apa-apaan ini??
"tentu saja dia Papimu,tenanglah aku akan jadi ibu sambungmu yang baik." ucapnya tanpa tau malu,Hazel langsung menampar keras pipi wanita kurang ajar itu.
"Hazel!!" teriak Evran menatap nyalang kearah putrinya.
"wah,kenapa Pi? mau marah? gila ya Pi,Mami lagi sakit malah gini kelakuan Papi?!" sarkasnya tak percaya dengan kelakuan Papinya. Padahal tadi dia berharap akan ada perubahan Papinya namun nyatanya tidak,malah dengan seenaknya Papi menikah dengan wanita lain.
Muaz yang mendengar keributan diluar,ia pun menghampiri Hazel. Ia melihat kedatangan mertuanya dengan raut yang datar,lalu ia melirik kearah wanita disamping mertuanya itu.
"siapa dia?" tanya Muaz pada Hazel.
"dia istri kedua Papi." ucap Hazel menatap nanar kedua pasutri yang baru saja menikah itu.
"oh,selamat." ucap Muaz santai tetapi membuat Hazel menatap tajam kearahnya, "kenapa kau memberinya selamat? dia sudah menduakan Mami!" sarkasnya tidak suka.
"Lalu aku harus apa? menyuruh Papimu cerai padahal dia baru saja menikah beberapa jam yang lalu." jelas Muaz lagi. Hazel menatap Muaz tak percaya,bagaimana bisa suaminya malah mendukung Papinya menikah lagi?
"cih kau sama saja dengan Papiku Az." kesalnya langsung berjalan mendahului mereka. Tetapi,langkah Hazel berhenti dikala perkataan Muaz yang membuatnya mengepal tangannya.
"kenapa harus diam-diam Pi nikahnya? kan bisa disini?" tanya Muaz pada Papi tetapi matanya melirik kearah istrinya.
Hazel menoleh kearah Muaz dengan tatapan marah, ia masih belum percaya pria yang sudah memiliki tubuh Hazel seutuhnya ternyata ini sifat aslinya.
"apa kau punya hati mengatakan hal itu Az? serius kali ini aku kecewa padamu." lirihnya pelan sambil menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya.
Muaz hanya diam menatap datar kearah Hazel,tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut pria itu. Melihat hal itu Hazel berlari keluar tak tentu arah.
Tanpa sadar Hazel malah berlari kearah roof top. Ia pun berteriak sekencang-kencangnya sambil menangis kuat. Kecewa,sedih bercampur bersamaan. Padahal tadi saat sebelum Papinya datang semuanya baik-baik saja,tetapi sekarang dua fakta yang mengejutkan datang bertubi-tubi menghampirinya.
"Apa memang aku boleh bahagia?" lirihnya menatap langit yang sedikit mendung,ia pun duduk dikursi yang ada disana sambil menelungkup kan wajahnya.
"kenapa disetiap aku baru saja merasakan bahagia kenapa masalah baru datang?" tanyanya lagi pelan.
"kau memang harus bahagia Zel." ucap seseorang disamping Hazel,membuat gadis itu mendongak kearahnya.
"kenapa kau disini?! bukannya kau senang Papiku menikah lagi hah?!" bentak Hazel menatap nyalang kearah Muaz. Entah sejak kapan suaminya itu berada disana,mungkin karena Hazel tidak terlalu memperhatikan sekitar.
"kau marah?" tanya Muaz tersenyum tipis,Hazel langsung menarik kerah baju Muaz, "jangan memancing amarahku." sarkasnya menatap tajam. Muaz hanya diam saja tetapi senyumnya tidak pudar disaat itu juga.
"kenapa kau tersenyum? apa kau bahagia diatas penderitaan orang lain hah?!"
Muaz membiarkan Hazel meluapkan apa yang dirasakan istrinya itu.
"aku membencimu Az!" serunya hendak berdiri dari tempatnya,namun Muaz langsung memeluknya dari belakang.
"selamat ulang tahun sayang." ucap Muaz dengan lembut,ia pun semakin mempererat pelukannya.
"hah?"