Shattered

Shattered
Bab 27



Hazel menatap tajam kearah pria didepannya ini. Walaupun dalam hatinya takut berhadapan dengan pria itu,tapi ia tidak bisa menerima orangtuanya diperlakukan semena-mena. Bagaimanapun juga Papinya adalah ayah kandungnya sendiri.


"kau ingin bicara disini atau ditempat lain?" tawarnya dengan senyuman manis diwajah tampannya. Hazel melirik kearah Papinya yang masih diam ditempat.


"disini aja." jawab Hazel pelan,ia pun berjalan melewati Papinya, "nanti kita bicarakan ini Pi." ucapnya pelan lalu duduk disofa ruangan Evran. Iram pun mengikuti Hazel duduk di depannya.


"apa bisa pengawalmu keluar dulu?,aku ingin bicara secara pribadi." pinta Hazel langsung dianggukan Iram. Iram pun langsung menyuruh semua pengawalnya keluar dari ruangan itu. Hazel langsung menyuruh Papinya duduk disampingnya.


aku harus hati-hati dalam mengambil tindakan. gumam Hazel menatap Iram.


"senang bertemu denganmu nona Hazel" girang Iram menampilkan gigi gimsulnya.


"maaf,kita tidak bisa bicara terlalu lama,langsung saja ke intinya. Apakah Papiku melakukan kesalahan sesuatu?" tanya Hazel pelan.


"wah,anda memang wanita yang tidak suka basa-basi yaa...kau tau kan nona,Papimu itu melakukan kesalahan fatal." jelas Iram melirik kearah pria baya disamping Hazel.


"aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun tuan Iram." ucap Evran tidak terima.


"tenang dulu Pi,tidak ada gunanya marah-marah. kita selesaikan ini baik-baik." ucap Hazel lagi.


"kau benar sekali nona,wah tidak ku sangka kau sangat bijak" puji Iram,Hazel hanya menunjukkan wajah datarnya.


"kesalahan fatal apa yang membuatmu menyuruh Papiku berlutut?"


"kau," jawab Iran menatap serius kearah Hazel.


"aku? kenapa?" tanya Hazel tak mengerti.


"tuan Iram tolong jangan katakan apapun!" cegah Evran membuat Hazel menoleh kearahnya.


"apa yang Papi sembunyikan dariku?" tanya Hazel menyelidik.


"kamu tidak perlu tau nak,ini urusan Papi sama tuan Iram. Nanti kita bicara,sekarang kamu pergi!" titah Evran langsung menarik tangan Hazel.


"Papi,ada apa ini!?" Hazel menepis pelan tangan Evran yang mencengkram tangannya.


"nanti Papi jelaskan,sekarang kamu keluar dulu!"


"apa kau takut anakmu tau sesuatu tuan Evran yang terhormat?" seru Iram duduk santai sambil melonggarkan dasinya..


"apa yang Papi sembunyikan dariku?" tanya Hazel lagi.


Evran tidak menjawab,ia justru menarik keras tangan Hazel agar mau ikut dengannya. Hazel terus memberontak melepaskan tangan Evran.


"bisa diam tidak?!" bentak Evran kehabisan sabar menghadapi putrinya yang keras kepala. Hazel hanya tersenyum kecut menatap Papinya, sedangkan Iram hanya duduk menikmati perseteruan ayah dan anak itu.


Hazel langsung melepaskan tangan Evran,lalu berjalan mendahului Evran.


"terserah kau saja Pi" ucapnya lalu menutup pintu ruangan itu. Tinggallah dua pria yang berbeda umur dalam ruangan itu. Evran menatap tajam kearah Iram.


"kau tidak usah membuat anakku tambah membenciku!" kesalnya membanting dokumen diatas meja kerjanya.


"bukan aku,tapi kau sendiri tuan Evran. sudahlah aku tidak suka berbasa-basi denganmu,kau sudah gagal melaksanakan misimu. Lihatlah nanti apa yang akan ku lakukan padamu." ucapnya sambil berjalan mendahului Evran. Iram menepuk pelan bahu Evran lalu berjalan pelan keluar ruangan.


Evran yang masih dilanda emosi langsung melampiaskan pada benda-benda yang berada disekitarnya.


"sial" umpatnya sambil memijat keningnya.


***


Muaz menatap pria yang masih setia membungkam. Ia sudah menyuruh anak buahnya tidak memberikan makanan pada tahanannya ,tapi pria itu tetap setia dalam diamnya. Muaz tidak mengerti jalan pikir Daffa. Sudah beberapa kali ia bolak-balik melihat mantan sahabatnya itu.


"huft,apa yang harus aku lakukan supaya kau mau membuka mulutmu itu?" tanya Muaz kesal.


Daffa hanya tersenyum tipis menatap Muaz. Sudah lebih seminggu ia terikat di ruangan gelap itu. Sungguh diluar dugaannya ia bisa bertahan sampai detik ini. Ini ia lakukan demi wanita yang ia cintai,Daffa ingin menertawakan dirinya yang begitu bodoh melakukan semuanya,padahal ia sampai saat ini masih belum tau perasaan wanita itu apa sama dengan dirinya.


"apa yang kau lakukan Az?!" tanya Beyza berjalan cepat kearah mereka. matanya terkejut melihat seseorang yang terikat adalah seseorang yang ia kenal dan dia juga sahabat adiknya. Muaz melirik sekilas kearah kakaknya,ia sudah menduga kakaknya akan mengikutinya sampai sini.


"kau sudah gila Az,dia ini sahabatmu!!" sarkas Beyza menatap tajam kearah Muaz. Ia pun langsung berjalan mendekati Daffa.


"berani kau selangkah mendekati dia kak,aku tidak akan menganggap mu kakak lagi" ucapnya dingin membuat Beyza berhenti melangkah.


dia sudah gila atau apa sih? kemana pikirannya???. gerutu Beyza melirik kearah Daffa yang tersenyum mengangguk pelan untuk menuruti Muaz. Beyza berdecak kesal, "kenapa kau mengikatnya Az?" tanya Beyza.


"aku ingin tau apa yang terjadi malam itu"


Beyza menghela napas, "itu bukan salahnya,tapi aku yang melarangnya berbicara tentang itu" ungkap Beyza membuat Muaz menaikkan satu alisnya keatas.


"kau kak? kenapa kau melakukan itu?" tanya Muaz


"dia menelponku waktu itu,dia tidak sengaja mendengar seseorang menelpon tapi ada menyebut nama keluarga kita. Setelah itu aku menyuruhnya pulang cepat,karena waktu itu firasatku tidak enak. tapi semuanya terlambat, kejadian itu berjalan begitu cepat," jelas Beyza


"kau juga waktu itu dilanda emosi,kau tidak berpikir jernih waktu itu." lanjutnya menatap datar kearah Muaz.


Muaz diam,benar yang dikatakan kakaknya. Memang waktu itu dia tidak bisa berpikir jernih setelah melihat semua itu didepan matanya. Entah sudah berapa kali ia membuang napas,memandang kearah langit ruangan.


"kau benar kak sepertinya tindakanku kali ini gegabah,dan kau Fa kenapa kau tidak bilang apa-apa waktu itu padaku??"


"kalau aku kasih tau,kau tidak akan percaya padaku Az." ucap Daffa pelan.


"seandainya kalau kau menโ€”" ucapan


"dia tidak salah Az,wajar dia bilang kayak gitu...karna mana mungkin orang akan percaya hal itu tiba-tiba tanpa bukti." Beyza berjalan mendekati Daffa dan melepaskan ikatan pergelangan tangan Daffa.


"ini kekanak-anakkan kali Az,mengancam orang dengan mengikatnya seperti ini," ucapnya pelan lalu berjalan kearah Muaz.


"tenangkan pikiranmu dulu,nanti kita bicara lagi,"Beyza lalu membantu Daffa berdiri.


"ayo Fa,kita obatin dulu luka kakimu tuh." tunjuk Beyza menatap kaki Daffa yang cukup parah. Muaz hanya diam saja memperhatikan mereka berjalan keluar dari ruangan miliknya. Ia pun melirik kearah ponselnya yang tergeletak diatas meja.


Hazel


apa kita bisa bertemu sekarang Az?


Tanpa ia sadari jika ada seseorang tengah membututinya. orang itu segera melapor kepada atasannya tentang kejadian yang ia lihat daritadi.


***


Hazel sesekali menyeka air matanya,memang nggak heran lagi jika Papinya membentaknya,Jika orang lain yang membentaknya ia tidak begitu peduli dan acuh tak acuh tapi entah mengapa setiap orang tuanya membentak ia selalu merasa sedih.


"ya ampun aku terlalu baper sekali...sudah biasa itu mah." ucapnya seraya menyemangati dirinya sendiri. Mudah memang mengucapkan kata-kata itu,tapi suara keras Papinya masih terngiang dan ngilu di ulu hatinya.


Duduk sambil menikmati secangkir coklat panas favoritnya adalah pilihan terbaik untuk menenangkan diri. Apalagi suasananya mendukung dengan keadaannya sekarang. Proses menjadi orang dewasa tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Hazel sesekali berharap menjadi anak kecil yang tidak tau apa-apa tentang beratnya hidup. Walaupun hidupnya serba berkecukupan,tapi batinnya tidaklah begitu.


Cukup jangan merasa aku yang paling menyedihkan disini. Lihatlah kebawah Hazel,hidup mereka tidak seberuntung kamu. huft...ayoo bersyukur. serunya dalam hati.


"apa kau suka menghela napas setiap saat?" tanya seseorang didepannya membuat Hazel mendongak kearah orang itu.


"Muaz? kapan kau datang??" tanya Hazel terkejut suaminya tiba-tiba sudah berada didepannya.


Apa mungkin aku terlalu melamun yaa,sampai tidka menyadari dia datang. gumam Hazel.


"kau itu sangat aneh." Muaz menatap aneh kearah Hazel.


"terserah kau saja mau bilang aku apa." ucap Hazel menyeruput coklat panasnya.


"apa kau masih sanggup mencari kebenaran kasus itu?" tanya Muaz tiba-tiba.


Hazel menatap Muaz sebentar, "iyaa,memangnya kenapa?"


"tidak ada." ucapnya sambil mengelap ujung bibir Hazel dengan ibu jarinya. Hazel tertegun dengan tindakan Muaz tiba-tiba.


"buahahaha seorang Muaz romastis seperti ini??" ledek Beyza dibelakang Muaz. Muaz terkejut namun sedetik kemudian ia mengubah ekspresinya menjadi datar kembali,ia pun menoleh kearah kakaknya dan juga orang yang seminggu ini ia sekap.


"mau apa kalian disini??" tanya Muaz dengan nada tidak suka dengan kedatangan mereka.


Beyza tidak menjawab ia pun langsung duduk disamping Hazel.


"aku ingin bertemu dengan adik iparku." serunya sambil tersenyum manis. Lain halnya dengan pria yang ikut bersama Beyza,ia hanya berdiri diam menatap kearah mereka semua.


"Daffa ayo duduk disamping Muaz!" titah Beyza menarik tangan Daffa duduk disamping Muaz. Muaz sedikit memberi jarak pada Daffa.


Daffa? apa dia yang mereka bicarakan kemarin?. gumam Hazel menatap Daffa. Daffa merasa tidak nyaman dilihat lekat oleh Hazel apalagi mata tajam Muaz kini menyorot kearahnya.


"perkenalkan aku Hazel kak." sapa Hazel sambil mengulurkan tangannya pada Daffa. Daffa hanya diam mengangguk tanpa membalas jabatan tangan Hazel.


"Daffa" ucapnya singkat. atmosfir di cafe itu berubah menjadi suram. Terutama aura gelap dari sampingnya.


"kenapa kau terlihat kaku kak,santai saja." seloroh Hazel tersenyum manis. Muaz menoleh kearah Hazel pelan, "kenapa kau memanggilnya kakak?"


"kan dia lebih tua dariku Az,umurnya saja sama denganmu." jelas Hazel santai.


"lalu kenapa kau memanggilku dengan nama doang?"


"hehehehe soalnya dah terbiasa,aku merasa kita seumuran." cengir Hazel.


Beyza menahan tawa,setidaknya mereka baik-baik saja. Beyza sempat melirik sekilas kearah pojokan,pria yang memakai kacamata hitam yang terlihat mencurigakan. Ya,pria itu daritadi mengikuti Muaz kemana pun adiknya pergi dan adiknya itu tidak menyadari jika ada seseorang yang mengikutinya.


"Muaz" panggil Beyza pelan,membuat Muaz menoleh. Kakaknya menatap serius kearahnya berarti ada sesuatu yang penting yang ingin ia katakan.


"apa?"


"lihat arah jam dua" ucap Beyza melirik sekilas,Muaz mengikuti arah pandangan Beyza. Muaz mengangguk paham,orang itu memang terlihat mencurigakan. Muaz menatap kearah istrinya yang sedang menikmati coklat panasnya.


"kalau sudah selesai,ikut aku." titah Muaz membuat Hazel menatap Muaz.


"tidak perlu banyak tanya." jawab Muaz sambil mengetik sesuatu dalam ponselnya.


"ikuti saja dia." ucap Beyza tersenyum lebar. Hazel mengangguk lalu dengan cepat menghabiskan minumannya, "ayo Az." serunya sambil berdiri,Muaz pun langsung menggenggam tangan Hazel keluar dari cafe.


Daffa baru kali ini melihat Muaz seperti itu,sepertinya Muaz bertemu dengan wanita yang tepat. Daffa menoleh kearah Beyza yang juga tengah memandang kedua pasutri itu. Daffa sendiri sebenarnya juga kaget dengan kedatangan Beyza yang tiba-tiba. Ia tidak menyangka lima tahun tidak bertemu,sekarang wanita yang selalu ada dalam pikirannya kini ada dihadapannya sekarang.


"kau sedang melihat apa Fa?" tanya Beyza menatap Daffa. Daffa tersadar dari lamunannya,ia pun menoleh kearah Beyza.


"ti-tidak ada" jawab Daffa gugup. Beyza hanya mengangguk pelan, "apa kakimu masih terasa sakit?" tanya Beyza menatap kaki Daffa yang sudah terbalut perban.


"sudah membaik, terimakasih kak." ucap Daffa tulus.


"hei Fa,maaf yaa Muaz sudah keterlaluan denganmu,padahal aku sendiri yang melarangmu mengatakan apapun padanya." lirih Beyza menatap sendu.


"tidak apa kak,lagian ini pilihanku juga tidak mengatakan padanya." jawab Daffa pelan


"terimakasih Fa,aku tau kamu orang yang baik...ya sudah aku ada urusan sebentar,aku pergi dulu yaa" pamitnya langsung berjalan keluar,Daffa hanya diam menatap punggung Beyza yang kian mulai memghilang dari pandangannya.


Sebenarnya Beyza menyadari tatapan Daffa padanya,bagaimanapun juga Beyza harus menjaga jarak dengan Daffa agar perasaan pria itu tidak terlalu dalam padanya. Beyza sendiri tidak bisa memaksa menyukai Daffa,ia bahkan belum tau ke depannya akan seperti apa nantinya.


maafkan aku Fa,aku tidak bisa menyukaimu. gumam Beyza. Beyza dengan cepat berjalan menuju mobil Muaz. Setelah mobil Muaz pergi,ia langsung berjalan mendekati pria yang sedang bersembunyi dibalik mobil lain.


"kau sepertinya senang sekali menguping." serunya sambil memasukkan tangan kesaku. Pria baya itu terkejut menoleh cepat kearah Beyza.


"kenapa tuan,apa ucapanku salah?" tanya Beyza lagu membuat kesal pria itu. Dengan cepat pria itu mengeluarkan pisau saku dari balik jaketnya. Beyza bergerak cepat memutar lengan pria baya itu dan menghajar keras bagian vital tubuh pria itu.


"aaarrgh" gerutunya sambil memegang perutnya sakit. Beyza lalu merampas pisau saku dari pria itu dengan cepat.


"maaf,kau sangat meresahkan jika dibiarkan terus." ucap Beyza.


Beyza menatap tajam kearah pria itu sembari memberi kode pada anak buahnya untuk membawa pria baya itu ke dalam markasnya. Bertambah lah satu tahanan miliknya.


~


~


~


kuy like,Komen,dan favoritnya yaaa ๐Ÿ˜Š