
Beyza celingak-celinguk mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang dinanti-nantikannya. Bahkan tadi malam ia tidak bisa tidur nyenyak karena menunggu hari ini.
"kau gugup kak?" tanya Hazel menatap Beyza yang tampak gelisah. Beyza melirik kearah Hazel mengangguk pelan.
"tenang,semuanya akan baik-baik saja kok." ucap Hazel seraya menenangkan kakak iparnya itu. Beyza juga mencemaskan hal lain,bagaimana jika Pria itu tau kalau mereka tengah membawa bunda menemuinya.
Sementara dua lelaki yang seharusnya kini tengah bermusuhan,sekarang terpaksa harus bekerja sama demi orang yang mereka sayangi. Mereka melaksanakan rencana yang sudah disusun matang dua hari yang lalu.
"kau jangan mengacaukan rencana!" peringatan Iram pada Muaz.
"seharusnya aku yang bilang itu,karena sepenuhnya aku yang membuat rencana ini." ucap Muaz tak terima.
"heh,kau hanya 90 persen sedangkan aku 10 persen dari rencana itu. Memang iya kau yang banyak dalam rencananya itu,cuman kalau rencananya dari kau semua. Bakalan gagal." ucap Iram menatap remeh kearah Muaz. Ingin rasanya Muaz memukul kepala Iram,jika saja ia tidak mengingat janji yang dibuatnya dengan istrinya itu.
Hazel sudah mengantisipasi agar tidak terjadi hal yang diinginkan. Ia tahu karakter suaminya yang mudah terbawa emosi,jadi demi keselamatan bersama. Hazel mengancam Muaz untuk janji tidak melakukan hal apapun diluar rencana yang mereka buat bersama. Jika Muaz melanggar,Hazel dengan enggan tidur satu ranjang dengan Muaz.
Mendengar hal itu membuat Muaz merinding,ia sudah nyaman dan tidak bisa tidur tanpa Hazel,bagaimana jika pisah ranjang. Itu semakin membuatnya frustasi.
"oi sadar." ucap Iram memukul lengan Muaz. Muaz menatap tajam menepis tangan Iram.
"cih,kita harus nunggu berapa lama lagi disini?!" kesalnya tak kunjung mereka bergerak. Iram melirik jam tangannya, "belum,tunggu sebentar lagi." ucapnya.
"berapa lama lagi?" tanya Muaz lagi. Iram berdecak kesal karena Muaz terus menganggunya, "bisa sabar sebentar tidak? kau mau rencana ini gagal?" kesal Iram.
Muaz menghela napas pelan,mengamati area mereka sekitar. Tak berapa lama kemudian, sekelompok Liam berjalan menuju mobil mereka.
"itu Liam?" tanya Muaz masih fokus menatap Liam yang kini tengah menerima telepon dari seseorang. Iram mengangguk pelan,ikut mengamati keadaan disekitar mereka. Setelah merasa aman,mereka berdua berjalan pelan masuk kedalam rumah. Karena Iram tau,kapan saja waktu rumahnya itu dijaga oleh pengawalnya.
Mereka berdua berjalan mengendap-endap melewati para pembantu yang bekerja dirumah. Setelah itu mereka masuk secara bersamaan ke kamar Bahar.
Inilah pertama kalinya setelah lima tahun Muaz menemui Bundanya,ia pun langsung memeluk bundanya sesekali mengeluarkan air mata.
"bunda." lirihnya tidak percaya jika ini bukanlah mimpi. Mengingat kejadian lima tahun yang mengerikan itu.
"kamu baik-baik saja kan nak?" tanya Bunda dalam sela tangisannya. Sedangkan Iram tengah berusaha menidurkan adik kecilnya yang hampir terbangun karena tangisan haru mereka berdua.
"sttt,tolong diam. Ara bisa bangun karna kalian." ucap Iram pelan membuat mereka berdua menoleh kearah Iram. Bahar langsung menghampiri anak bungsunya yang digendong Iram,setelah itu ia pun menidurkan bayi kecil itu.
"dia siapa Bun?" bisik Muaz menatap bayi kecil itu yang hampir mirip dengan bundanya.
"adikku dan juga mungkin adikmu." ucap Iram membuat Muaz sedikit terkejut menatap Iram.
"kenapa?kau baru tau jika dia adikmu?" tanya Iram lagi.
Muaz hanya menghela napas pelan,mungkin ia harus mencoba menerima takdir jika dirinya harus mendengar fakta yang mengejutkan dari bundanya.
"ayo,kita nggak bisa lama-lama disini,sebentar lagi pengasuh akan datang." ucap Bahar langsung meletakkan bayi kecil itu dikasurnya,lalu ia menyambar tas kecil dari dalam lemari.
"apa aman Bun,ninggalin dia?" tanya Muaz,Bahar sedikit menoleh kearah Ara lalu mengangguk.
"dia akan baik-baik saja nak," ucap Bahar sambil tersenyum.
"ya sudah ayo." ajak Iram lagi. Mereka pun bertiga mengendap-endap keluar dari kamar itu. Hampir saja mereka ketahuan oleh pengasuh yang baru saja masuk kedalam kamar Bahar,Iram pun mengambil alih dari sana.
"pergilah dulu,aku akan menyusul." ucapnya berbisik lalu berjalan melenggang santai menuju para pembantunya. Mereka berdua mengangguk,lalu mengendap-endap keluar menuju mobil yang sudah siap terparkir dibalik semak-semak.
"huft,hampir saja," ucap Muaz saat mereka sudah berada didalam mobil. Ia pun menoleh kebelakang, "bunda,bagaimana kabar bunda selama ini?" tanya Muaz menatap sendu kearah Bundanya.
"Hm,seperti yang kamu lihat,bunda baik-baik saja. Kamu tau sendiri kan,kalau bunda juga sudah berkeluarga dengan pria itu." jelas Bahar sesekali menatap keluar menunggu Iram.
"benar,jadi Ara itu anak bunda dan pria itu?" tanya Muaz lagi,Bahar mengangguk.
"tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan pria itu,tapi bunda tidak menyesal telah melahirkan Ara. Ara tidak bersalah dalam semua ini." lirih Bunda.
"aku tau,tapi aku sedikit terkejut mendengar fakta itu langsung darimu Bun." ucap Muaz.
"ini pertama kali setelah lima tahun bunda keluar dari tempat itu, ternyata baru selangkah saja keluar dari tempat itu bunda baru bisa bernapas dengan lega." ucap Bahar senang.
"terimakasih nak." ucap Bahar tulus,lalu tak berapa lama Iram langsung mendekati mobil mereka dan masuk duduk dikursi kemudi.
"sudah aku amankan Ara ma." ucap Iram sambil memasang seltbeltnya.
"terimakasih." ucap Bahar lagi.
Mereka pun langsung menancap gas menuju tempat lokasi pertemuan yang sudah direncanakan mereka semua.
Sesampai mereka disana,Bahar,Iram,dan Muaz turun menemui Beyza dan Hazel yang menunggu mereka di apartemen milik Beyza. Karena untuk saat ini apartemen Beyzalah yang paling aman untuk sebagai tempat bertemu.
"bundaaa." seru Beyza berlari kecil memeluk sang bunda. Bahar pun langsung memeluk erat putri sambungnya itu.
"kamu baik-baik saja kan nak?" tanya Bahar menatap putri imutnya itu.
"aku baik-baik saja Bun,ayo kita masuk." ajak Beyza sambil menggenggam tangan Bahar.
Bahar pun melirik kearah Hazel, "kamu cantik sekali nak,siapa namamu?" tanya Bahar menatap kearah Hazel.
"nama saya Hazel nyonya." ucap Hazel sedikit gugup. Ini juga pertama kalinya Hazel bertemu dengan mertuanya itu.
"nama yang cantik persis seperti orangnya." ucap Bahar sambil tersenyum.
"bunda itu istrinya Muaz." ucap Beyza disela-sela mereka. Bahar sedikit terkejut lalu menoleh kearah putranya, "benarkah?" tanya Bahar langsung dianggukan Muaz.
"benar Bun,dia istriku." jawab Muaz.
" ya ampun,bunda tidak menyangka kamu sudah menikah nak." seloroh Bahar,ia pun langsung menggenggam tangan Hazel.
"nyonya." ucap Hazel sopan
"kenapa kamu memanggilku nyonya,panggil saja aku bunda seperti Muaz dan Beyza memanggilku." ucap Bahar,lalu dianggukan Hazel.
"hehehe,baiklah nyo.., maksudku bunda."
"waktu kita terbatas,ayo masuk." ajak Iran masuk kedalam apartemen Beyza.
Mereka berbincang-bincang tentang mereka selama lima tahun belakangan ini,keadaan mereka,sampai kasus Muaz. Tetapi, disela-sela mereka asyik berbagi cerita itu tiba-tiba ada suara keributan dibalik pintu Apartemen Beyza.
Tanpa basa-basi pintu itu didobrak lalu memunculkan seorang pria yang menahan amarahnya melihat mereka tengah berkumpul. Iram yang baru saja keluar dari toilet terkejut mendengar suara Liam,ia pun langsung bersembunyi didalam toilet. Keberadaannya tidak boleh diketahui saat ini oleh Papanya itu.
Deg.
Mereka semua terkejut dengan kedatangan Liam yang tiba-tiba tau tempat mereka.
"berani sekali kalian membawa istriku kabur dari rumahku!!!!" sarkasnya sambil menendang meja. Muaz langsung berdiri didepan Bahar dari Liam.
"minggir!" bentaknya menatap nyalang kearah Muaz.
"jangan sentuh bundaku!" ucapnya tak kalah dingin,mereka sama-sama memandang tajam satu sama lain.
"dia istriku!,kalau kau tidak menghindar aku tidak bisa pastikan tubuhmu akan hancur ku remukkan." ancam Liam sambil mengerangkan otot-ototnya.
"cih,kau bukan siapa-siapa bunda kami." seru Beyza yang juga menghalang Bahar. Gadis itu juga sudah siap ancang-ancang mau melawan Liam beserta pasukannya. Sedangkan Hazel dibelakang Beyza dan Muaz yang juga melindungi Bahar dibelakang punggungnya.
"menyingkirkan kalian!" ucap Liam,tanpa basa-basi lagi,ia pun langsung menyuruh anak buahnya menghajar Muaz dan Beyza. Bahar tidak bisa diam melihat keadaan itu.
"stooop!!!" teriak Bahar membuat semuanya menghentikan perkelahian mereka.
"aku akan ikut denganmu pulang,puas kan?" ucap Bahar membuat Liam langsung menyuruh pengawalnya mundur dan tersenyum kearah Bahar.
"itu barulah istriku,ayo pulang sayang." ucapnya lembut hendak menggandeng tangan istrinya.
"jangan bunda." cegah Muaz,Bahar menoleh kearah Muaz dan Beyza. "jaga diri kalian baik-baik,bunda senang kita sudah bertemu,sampai jumpa sayang." ucap Bahar langsung ditarik Liam keluar.
Muaz hendak mengejar mereka,namun Hazel menahan lengannya, "hentikan,biarkan bunda ikut bersama pria itu." ucap Hazel pelan menatap suaminya yang masih menunjukkan aura kemarahannya.