Shattered

Shattered
Bab 30



Hazel berlari tergesa-gesa menuju kamar Maminya. Perdebatan dengan Papinya terhenti saat Hana dengan panik memanggil mereka.


"Mami!" serunya segera menghampiri Tresya. Hazel langsung mendekap Maminya seraya mengelus kepala Maminya.


"tenanglah,aku disini Mi." lirihnya,lalu menatap tajam kearah Papinya yang tengah berdiri diambang pintu. Papinya hanya diam menatap keduanya tengah berpelukan tanpa berkata satu katapun.


"Papi kita bawa Mami kerumah sakit sekarang!" serunya panik saat melihat tangan Tresya gemetaran,Evran dengan ogah-ogahan menghampiri Tresya lalu menggendongnya. Mereka dengan cepat berjalan ke mobil. Hazel baru menyadari jika Muaz tidak ada disekitarnya.


"Hana,suamiku kemana?" tanya Hazel melihat sekeliling.


"Tadi saya liat Tuan Muaz pergi tergesa-gesa keluar,saya tidak tau kemana non."


kenapa dia pergi tanpa memberitahuku? gumamnya.


"ya sudah,tolong jaga rumah ya Han." pintanya lalu ia masuk kedalam mobil.


Beberapa menit kemudian mereka tiba dirumah sakit,Evran langsung membawa Tresya keruangan IGD,Hazel mengikuti dari belakang. Setelah mengantar Tresya,Evran langsung main pergi tanpa melihat atau khawatir tentang kondisi sang istri. Hazel hanya menatap nanar kelakuan Papinya. Papinya kini telah berubah tidak seperti dulu lagi,entah apa yang membuatnya berubah. Hazel menunggu diluar ruangan Maminya sambil menelpon Muaz. Namun,suaminya tak kunjung mengangkat teleponnya.


Az,Kau ada dimana sih?. gumamnya khawatir,ia tiba-tiba perasaannya tidak enak. Hazel terus mondar-mandir didepan ruangan unit darurat itu. Ia terus melirik jam tangannya.


Haiss kenapa perasaanku tidak enak???. Terlihat raut khawatir diwajah cantiknya,ia terus berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan Mami maupun suaminya. Hazel duduk sambil menunggu ruangan Maminya terbuka,ia mulai mengantuk. Matanya serasa lima watt pandangannya mulai redup,kepalanya udah mulai oleng kanan-kiri. Karena sangking mengantuknya,Hazel tanpa sadar menyadarkan kepalanya kebahu seseorang disampingnya. Muaz tersenyum tipis lalu ia mendekatkan istrinya dalam pelukannya sambil mengelus kepala istrinya agar nyenyak dalam mimpinya.


Muaz menatap kosong ke depan hingga pintu ruang darurat itu terbuka,Muaz dengan pelan menyandarkan kepala Hazel dengan kursi yang diduduki gadis itu. Muaz langsung menghampiri dokter yang menangani mertuanya. Dokter itu langsung memberitahu Muaz kondisi mertuanya,setelah mendengar itu semua Muaz berjalan mendekati Hazel. Ia mengembalikan posisi istrinya seperti diawal,menatap sendu kearah gadis yang tengah tertidur pulas dipelukannya.


Walau tadi Beyza memintanya datang,Muaz justru mendapat kabar jika mertuanya masuk rumah sakit. Ia pun tidak jadi ketempat kakaknya,lalu berbelok menuju rumah sakit. Sampai disana,ia hanya melihat dari jauh kegelisahan istrinya sibuk mondar-mandir sambil menghubungi nya terus. Muaz sengaja tidak mengangkat teleponnya,ia hanya diam melihat.


"kau?!" ucap seseorang membuat Muaz menoleh kearahnya. Ia terkejut melihat. seseorang itu didepannya.


nenek?. Nenek dulu sangat menyayangi Muaz,tetapi karena kejadian itu membuat rasa sayang nenek menjadi kebencian. Bahkan nenek enggan menganggap Muaz sebagai cucunya lagi.


Tapi melihatnya hari ini,Muaz bersyukur neneknya masih dalam keadaan sehat walau mungkin raut bencinya masih terlihat diwajah neneknya.


Muaz hanya diam menatap neneknya,lidahnya terasa keluh ingin mengatakan sesuatu.


"ternyata kau sudah keluar,dasar tidak tau malu." ketus nenek lalu melirik gadis disamping Muaz.


"kau tidak akan membunuh gadis ini bukan? kau kan tidak punya hati nurani." ketusnya lagi.


Suara neneknya membuat Hazel terbangun dari tidurnya. Sambil mengucek matanya pelan menatap asing wanita tua didepannya ini. Ia terkejut Muaz kini berada disampingnya saat ini.


"nyonya ayo kita kesana,tidak baik marah-marah." bujuk wanita dibelakang nenek itu. Hazel menyerngit bingung,nenek itu menatap tajam kearah Muaz.


"melihat wajahmu,malah mengingat anakku yang telah kau bunuh. Dasar iblis!" geramnya menatap kebencian pada Muaz lalu berjalan angkuh meninggalkan mereka. Hazel terkejut dengan ucapan nenek itu,menoleh kearah Muaz.


"nenek tadi siapa kau Az?" tanya Hazel. Muaz hanya diam saja tanpa menjawab satu katapun.


"Az." panggil Hazel lagi sambil menggoyang lengan Muaz. Muaz langsung menarik Hazel dalam pelukannya,ia memeluk dengan erat.


Hazel hanya membiarkan Muaz memeluknya,ia pun mengelus punggung suaminya pelan seraya membiarkan pria itu tenang.


***


Beyza menghela napas pelan saat tau adiknya tida jadi datang ketempatnya. Ia melirik kearah Daren yang hampir berhasil meraih map kuning itu. Sepertinya ia harus memberikan prestasi buat Daren atas usahanya. Beyza tidak sabar melihat reaksi Daren saat tau map itu hanyalah selembar kertas kosong. Beyza yakin sumpah serapah akan banyak keluar dari mulut pria itu.


Lain halnya dengan pria baya disamping Daren,diam hening seperti air yang tenang. Ia hanya menatap salah satu tuannya yang kini nasibnya sama dengannya. Ia pun melirik kearah wanita yang duduk santai sambil mengemut permennya itu.


"apa kau bosan paman?" tanya Beyza membuat pria baya tadi terkejut.


"aku berbicara padamu paman." ucapnya lagi saat melihat pria baya celingak-celinguk mencari seseorang yang dipanggil Beyza tadi.


"aku?" tanya pria baya tadi dengan tampang polosnya.


"apa kau tau adikmu dimana?" tanya Beyza dengan tatapan dinginnya. Daren mendongak remeh kearah Beyza, "kau tidak akan pernah menemukannya."


"kalau ketemu gimana?" tantang Beyza menatap Daren. sialan dia meremehkanku. gerutu Beyza dalam hati.


"pfft mustahil,percayalah." Daren tertawa konyol.


"cih tidak ada yang mustahil lho,lihat saja kita bakalan menjadi keluarga nanti." ucapnya dengan penuh makna sambil tersenyum seringai. Beyza berjalan kearah pintu ruangan.


Daren langsung terdiam mencerna maksud Beyza.


apa maksudnya??. gumam Daren dalam hati.


Beyza menghirup udara segar dibawah pohon. Ia diam memandang rumput-rumput yang bergoyang.


"wanita cantik tidak pantas melamun." ucap seseorang membuat Beyza langsung berbalik badan. Beyza terkejut melihat orang itu, "kau?!"


orang itu melangkah maju berdiri tepat didepan Beyza. Sambil menunjukkan senyum lebar diwajah tampannya menatap lekat gadis tembam didepannya ini. Ingin rasanya mencubit pipi tembam yang menggemaskan itu.


"imut." gombalnya tapi tidak membuat Beyza tersipu malu,melainkan menyerngit heran padanya.


bagaimana pria ini bisa masuk kesini?! dimana penjaga lainnya?!. gumam Beyza menatap tajam kearah pria didepannya.


"bagaimana kau bisa masuk kesini?!" tanyanya ketus membuat pria didepannya itu tertawa pelan.


"kau sangat menggemaskan kali...oh mungkin kau masih bingung yaa,kenalkan aku Iram." serunya sambil mengulurkan tangannya pada Beyza.


Beyza memundurkan langkahnya pelan menjauh dari Iram. Ia harus hati-hati pada pria didepannya ini.


astaga pria yang dicari malah nongol disini. sialan dimana penjagaku?!. gerutunya.


"apa kau mencari penjagamu?,tenang saja sudah ku buat mereka tidur dengan nyenyak didepan." jawab Iram seolah tau apa yang dipikirkan Beyza. Iram langsung menarik Beyza mendekat padanya. Beyza yang belum siap terkejut sudah berada dekat dengan Iram. Dengan cepat Beyza menginjak kaki Iram kuat.


"kau tidak punya sopan santun!" geramnya,lalu berjalan mendahului pria itu.


"kau tidak ingin semua didalam mati bukan?" tanyanya membuat langkah Beyza berhenti lalu menoleh kearah Iram.


"apa maksud kau?!"


"orang-orang yang didalam bisa mati kalau kau melangkah lebih jauh dari itu nona. Apalagi yang ada di rumah sakit saat ini," ucap Iram mendekati Beyza lalu berbisik ketelinga gadis itu, "adik-adik kesayanganmu itu dalam pengawasanku."


deg. sialan pria ini licik dan berbahaya. gerutu nya lagi. Beyza menghela napas kasar menatap tajam, "jadi apa maumu?"


"hmm cukup simple nona,bagaimana kalau kita..." sengaja menggantung ucapannya lalu mendekatkan wajahnya pada Beyza, "bermain sebentar?" tawarnya dengan wajah liciknya.


Beyza langsung menampar pipi Iram, "cih dasar pria licik! aku tidak akan sudi!!,lebih baik kau pergi dari sini tuan!" sarkas Beyza,emosinya kini memuncak.


Iram tertawa keras,gadis didepannya ini sangat lucu baginya. "kau sangat menggemaskan nona kalau marah,"


"kau pasti mencariku kan nona." ucapnya tiba-tiba serius menatap Beyza. Beyza merasa aura disekitarnya ini tidak bersahabat,ia harus berpikir panjang dalam menghadapi situasi ini.


"wah tuan kau sangat pengertian yaa," ucap Beyza pelan mendekat kearah Iram. Iram hanya menatap wajah Beyza. Beyza langsung menarik dasi pria itu menyamakan tinggi dengannya, "ayo menikah." ajak Beyza santai tanpa beban. Iram tertegun langsung tersenyum miring menatap gadis didepannya ini.


"baru kali ini,ada wanita yang terang-terangan sepertimu."


"harusnya kau bangga bukan? lalu apa jawabanmu...jangan bilang kau menolak." Beyza menatap remeh kearah Iram.


Iram merasa tertantang, "jangan menyesal setelah ini nona." ucapnya sambil menarik tangan Beyza menuju mobilnya. Beyza melepaskan paksa tangannya, "itu mobilmu kan? aku bisa sendiri kesana!" ucapnya mendahului Iram.


Beyza kau terlalu berani sekali mengajak iblis itu terikat dalam hidupmu,ckckck astaga kenapa bisa aku mengucapkan hal bodoh itu. gerutunya dalam hati.