Shattered

Shattered
Bab 37



Hazel begitu gugup saat menyadari ia akan tidur dikamar suaminya. Sebelumnya tidak pernah terpikir oleh akan satu kamar dengan suaminya. Tidak terpikir olehnya ia akan menyatakan perasaannya begitu juga suaminya.


"huft tarik napas, tenanglah Hazel. Dia suamimu bukan orang lain." Hazel bermonolog menenangkan dirinya. Ia berjalan membuka pintu kamar mandi.


Hazel melirik seluruh ruangan kamar,tetapi tidak ada siapa pun disana. Ia pun berjalan menuju kasur lalu membaringkan tubuhnya disana.


aroma mint. Hazel menghirup dalam aroma suaminya yang tertinggal dibantal itu.


"wah tidak ku sangka kamar ini baru ditempatinya dua bulan,sudah mengenal siapa pemiliknya." gumam Hazel menatap langit kamar. Lama ia menatap langit kamar itu akhirnya ia terlelap masuk kedalam mimpinya.


***


Berkat kegaduhan yang dibuat Muaz membuat Tresya terbangun dari tidurnya. Wanita paruh baya itu menyerngit menatap Muaz dan wanita yang sedang berlulut kearah Muaz. Muaz sesaat menyadari ada suara,ia pun menoleh kearah ibu mertuanya. Cukup menyesal ia membuat kegaduhan membuat sang mertua terbangun dari istirahatnya.


Muaz langsung membebaskan wanita yang hampir membunuh ibu mertuanya itu dengan syarat. Wanita tadi mengangguk cepat dan berlari keluar dari kamar inap Tresya. Muaz perlahan mendekati ibu mertuanya itu.


"maaf Mi,aku membangunkanmu." ucapnya pelan sambil menyalami tangan Tresya.


Tresya hanya diam menatap lekat kearah menantunya, lalu perlahan ia mengelus kepala Muaz. Muaz sempat tertegun dengan apa yang barusan Tresya lakukan.


"terimakasih." lirihnya pelan namun masih terdengar oleh Muaz. Muaz mengangguk pelan sambil tersenyum tipis padanya.


"sebaiknya Mami istirahat dulu,besok aku dan Hazel akan kesini menjenguk Mami." serunya pelan sambil merapikan selimut mertuanya.


"Hazel dimana?" tanya Tresya melirik pelan sekitar ruangan. Ada raut sedih tercetak diwajah cantiknya yang mulai keriput itu.


"Hazel dirumah,dia sangat lelah hari ini. Aku akan membawanya besok pada Mami." jawab Muaz.


Muaz tau kisah pelik kehidupan istrinya,keharmonisan yang jarang muncul didalam keluarga itu. Tetapi,Muaz menyadari jika mereka saling menyayangi namun tidak bisa mengungkapkan rasa sayang mereka sehingga membuat mereka saling salah paham. Untuk Papi Hazel,Muaz tidak tau menahu alasan pria itu menelantarkan keluarganya seperti ini.


"tolong jaga Hazel." pinta Tresya menatap sendu kearah menantunya.


"pasti,aku akan menjaganya Mi." jawab Muaz dengan yakin. Tresya tersenyum mendengarnya,


"syukurlah,aku ingin dia bahagia. Selama ini aku mengabaikannya,penderitaan,tumbuh kembangnya tidak ada aku melihatnya. Aku ibu yang buruk kan?" lirihnya kembali mengeluarkan air matanya. Muaz menatap sendu sambil menyeka air mata mertuanya.


"...." Muaz hanya diam,ia tidak ingin menjawab apa-apa,lebih baik diam daripada perkataannya nanti malah membuat mertuanya tambah sedih.


"Mami sekarang istirahat,jangan terlalu dipikirkan." ucapnya lagi lalu berdiri dari tempat duduknya.


"maaf,tolong sampaikan maafku pada Hazel." lirihnya lagi penuh harap.


"baiklah,akan aku sampaikan padanya. Mami jaga diri Mami sendiri,Mami tadi sudah liat wanita tadi mau membunuh Mami. Aku akan meminta perawat khusus untuk Mami,aku pulang dulu Mi,Assalammualaikum." jelasnya sambil mencium punggung tangan Tresya lagi.


"wa'alaikumsalam." jawabnya sambil menatap kepergian menantunya. Tresya tersenyum tipis,putrinya mendapatkan suami yang baik, "semoga pernikahan kalian harmonis nak,jangan seperti Mami dan Papi." gumamnya lagi.


Muaz langsung menyewa perawat terbaik dan pengawal untuk mertuanya. Setelah merasa mertuanya aman,ia berjalan menuju parkiran.


"seharusnya kau membiarkan dia mati." ucap seseorang dibalik mobilnya,Muaz hanya menatap datar kearah orang itu.


"untuk apa kau kesini?" tanyanya dingin kearah Iram. Ia masih belum mempercayai pria itu.


"wanita tua itu sudah membuat istrimu menderita,kenapa kau membiarkannya hidup dengan tenang. Itu tidak adil bagi istri mu,kalau aku jadi kau aku nggak akan membiarkan istriku menderita." ucapnya santai sambil bersandar dipintu mobil Muaz.


"terserah aku memutuskan hal itu,kau tidak usah ikut campur urusanku. Urus saja dirimu dengan ayah brengsek mu itu,harusnya kau bercermin sudah membuat keluargaku menderita." ketusnya.


"op,itu bukan salahku,tapi Papaku. Salahkan saja dia." ucapnya lagi tidak terima dirinya disalahkan.


"kenapa kau bisa tau aku disini?" tanyanya lagi. Ia heran akhir-akhir ini pria itu ada dimana-mana.


"apa tujuanmu mendekati istri dan kakakku hah?,kau pikir kau bisa membuat rencanamu dengan mudah?" tanya Muaz menyelidik tajam kearah Iram.


Iram tersenyum miring, "hmm biar ku perjelas. Pertama aku nggak ingin mendekati Hazel lagi karena aku tidak tertarik padanya lagi,"


"baguslah,akhirnya kau sadar." ketus Muaz


"dan yang kedua aku mendekati kakakmu memang atas dasar suka sama suka. Lagian kakakmu sendiri yang meminta menikah denganku." jelasnya lagi terkekeh melihat raut tidak bersahabat calon adik iparnya itu.


"suka darimana? kakakku tidak sebodoh itu jatuh cinta padamu sialan." kesalnya menatap Iram,lain hal dalam hatinya,jika memang benar yang dibilang Iram. Ia mungkin akan mencap kakaknya sebagai manusia yang paling bodoh yang pernah ia temui,bagaimana mungkin kakaknya menyukai orang yang telah membantu ayahnya menutupi skandal pembunuhan?


"jangan bilang kau sedang mengumpat kakakmu." seru Iram tepat sasaran,Muaz berdecak kesal melihat pria itu. Lama-lama ia terus naik darah berhadapan dengan pria seperti Iram.


"cih,menyingkirkan dari mobilku." usir Muaz sambil menggeser Iram dari mobilnya,ia pun langsung masuk kedalam mobil.


"ngomong-ngomong calon adik ipar,kau ingin membersihkan namamu kan?" tanya Iram lewat kaca jendela mobil membuat Muaz curiga menatapnya.


"jangan memandangku seperti Az,aku akan membantumu membersihkan nama baikmu asalkan kau membantuku memasukkan Papaku kedalam penjara." seru Iram.


"tanpa bantuan mu juga memang itu tujuanku. Setelah tau siapa pria brengsek yang membunuh ayahku disaat itu juga aku bertekad membuatnya masuk kedalam penjara." ketus sambil menyalakan mesin mobilnya.


"ckckckck kau memang keras kepala. Padahal aku berniat baik lho."


"pers****n dengan semua itu,menyingkirkan dari sini dan jangan coba-coba mendekati kakakku." ancamnya sambil melajukan mobilnya meninggalkan Iram yang masih berdiri ditempatnya.


"aku yakin kau pasti membutuhkan bantuan ku Az." ucap sambil bersenandung riang masuk kedalam mobilnya.


"benar juga apa yang dibilangnya,kalau memang ingin mendapatkan Beyza,kau harus dapat kepercayaannya Ram," serunya sambil bermonolog sendiri,setelah itu ia tertawa pelan merutuki dirinya melakukan hal yang bukan biasa ia lakukan selama ini. Sepertinya pepatah bilang jika sudah jatuh cinta seseorang itu akan melakukan apapun demi pujaan hatinya. Termasuk hal konyol sekalipun.


"kenapa aku bisa suka dengannya? padahal dilihat dari segi manapun Beyza bukanlah wanita yang menarik seperti wanita yang pernah aku lihat selama ini. Aku semakin penasaran dengan pesonanya." gumamnya sambil melajukan mobilnya keluar dari parkiran.


Iram menyusuri jalanan kota,ia sengaja menurunkan kacanya sambil menikmati udara malam di kota itu. Banyak ditepi jalan itu ia melihat wanita berpakaian kurang bahan berjalan lenggak-lenggok demi seonggok uang pada pria bermata keranjang disekitarnya. Melihat hal itu membuatnya teringat dengan kakaknya yang gila dengan wanita.


"aku baru ingat kalau kakak menghilang,hahahaha sekarang dia ada dimana ya?" gumamnya.


Sementara pria yang disebut Iram itu berhasil mengambil map kuning itu dengan kakinya. Usahanya tiga hari tiga malam akhirnya membuahkan hasil,sedangkan anak buah disebelahnya hanya bisa menghela napas pelan melihat kelakuan tuannya itu. Tentu saja ia tau,jika map yang berhasil diraih itu tidak ada yang penting. Ia hanya diam mengamati aja tanpa melakukan apapun.


Daren dengan senang ia membuka map itu dengan satu kakinya,namun saat ia membuka itu rautnya yang senang langsung seketika memudar. Amarahnya meluap-luap sambil mengabsen satu kebun binatang dari mulutnya. Eddy hanya menggeleng pelan tawanan bosnya,sambil merekam adegan itu diponselnya. Ia akan menunjukkan pada bosnya besok.


"kurang ajar berani sekali dia mempermainkan ku!!!" kesal Daren sambil menendang map kuning yang susah payah ia ambil.


"akan ku buat dia menyesal telah mempermainku!" geramnya sambil mengepal tangannya yang masih terikat itu,ia menatap tajam kearah Eddy yang merupakan ketua dari pengawal wanita sialan itu.


"kau ingin membuatnya menyesal? jangan harap tuan. Kau sendiri saja tidak berdaya melawan


kami,apalagi kau melawan bos. ckckck menyerah sajalah,dan beritahu kami jawaban dari pertanyaan bos." seloroh Eddy duduk menyilang dihadapan Daren.


"Eddy!" teriak seseorang berlari tergesa-gesa. Eddy menoleh kebelakang menaikkan satu alisnya menatap anggotanya yang begitu panik berlari kearahnya.


"kita kedatangan penyusup!" serunya membuat semuanya terkejut.


"semuanya bersiaplah!!" titah Eddy lalu ia melirik kearah kedua tawanannya itu,


"aku yakin penyusup itu ada hubungannya dengan kalian. semuanya perketat penjagaan diluar,dan jangan biarkan satu pun orang masuk. Jika ada penyusup disini langsung bawa kehadapanku!!" titahnya lagi pada pengawalnya.


Ia pun langsung menghubungi Beyza untuk memberitahu situasinya sekarang. Namun bos nya itu tidak mengangkat teleponnya. Ia melirik jam tangannya langsung menepuk jidatnya pelan. Tentu saja bosnya tidak mengangkat karena sekarang tengah malam,jadi kemungkinan bosnya tengah tertidur lelap.


"ya sudahlah,akan aku atasi sendiri sekarang." ucapnya berjalan keluar ruangan.