
Dengan bantuan anak buahnya,akhirnya pasutri itu berhasil diangkat ke kamar apartemen Beyza. Beyza berdecak kesal dengan kedua pasutri didepannya ini susah dibangunkan dari mimpinya. Dengan langkah kesal Beyza menutup pintu kamar itu dan berjalan kearah dapur.
"huft." Beyza menghempaskan badannya ke sofa. ia merasa bosan hanya duduk diam seperti ini dalam dua jam. Beyza berdecak kesal lalu dengan iseng ia mengecek kamar adiknya.
"kembalilah ke dunia nyata tuan." ejeknya menatap Muaz yang tengah memandangi Hazel tidur. Beyza tidak menyangka seorang Muaz bisa tersenyum seperti itu hanya melihat seorang wanita tertidur pulas.
Muaz yang merasa tersindir melirik kakak tirinya yang tengah berdiri diambang pintu. lalu matanya melirik sekeliling ruangan.
"kalian berada di apartemenku." ucap Beyza menyadari raut wajah Muaz. Muaz menatap tajam kearah kakaknya, "ikut aku." Muaz turun perlahan dari kasur,lalu berjalan mendahului kakaknya.
Beyza mengangguk lalu menutup pintu dan menyusul Muaz yang sudah duduk disofa.
"ada apa?" tanya Beyza
"kenapa kau baru muncul kak?" tanya Muaz dingin.
"cih,masih bagus aku kembali Az." jawab Beyza santai sambil mengambil cemilan di meja.
"apa kau tau apa yang terjadi malam itu hah?,kau taโ"
"tak perlu kau sebut pun aku tau Az." ucap Beyza lalu menatap lurus kearah adik tirinya itu.
"maaf,memang malam itu berat bagimu Az,walaupun aku tau tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa...tapi dengan adanya kejadian ini kau tidak plin-plan dalam mengambil keputusan,benar kan?" jelasnya lagi.
Muaz hanya menatap diam kearah kakaknya,memang kejadian itu banyak pelajaran buatnya.
"sudahlah tidak usah dipikirkan yang sudah berlalu Az,sekarang kita harus cari keberadaan bunda." jelas Beyza sontak Muaz mendongak kearah Beyza.
"apa maksudmu kak? bunda masih hidup??" tanya Muaz tak percaya.
"iyaa."
"bagaimana bisa? jelas waktu itu..."
"awalnya aku memang nggak percaya Az,tapi setelah anak buahku mengotopsi mayat bunda,ternyata itu bukan bunda. itu orang lain Az." jelas Beyza.
Muaz sedikit lega,tidak menyangka jika bundanya masih hidup. Hal itu yang pertama kali ia syukuri.
"kita tidak tau bunda ada dimana,yang jelas pasti ada kaitannya dengan pria tua itu." gerutu Beyza.
"kenapa kau baru muncul sekarang kak? kenapa kau tidak melakukan apa-apa selama lima tahun ini?" tanya Muaz masih kesal melihat kakaknya.
"berpikirlah seperti musuh Az,kalau kau masih mencari selama lima tahun itu kau akan sulit mendapatkan sesuatu yang ingin kau cari. musuh tidak akan lengah mengawasi kita,tapi kalau kita terlihat pasrah didepan mereka...mereka pasti tidak fokus kali menyembunyikan semuanya." jelas Beyza.
"kak,kalau kau tau apa yang terjadi malam itu...apa Daffa terlibat juga?"
Beyza sedikit terkejut saat Muaz menyebut nama Daffa, "kenapa kau menanyakan itu Az?"
"aku ingin tau kenapa dia hanya diam memperhatikan kejadian itu kak,apa kau ada mengancamnya?" Muaz curiga menatap gelagapan kakaknya saat mendengar nama Daffa.
"wah...buah mangga ini terlihat segar,sebaiknya aku mengupasnya." seru Beyza secepat kilat berlari ke dapur.
Muaz langsung berjalan menuju pintu kamarnya. lalu menunduk pelan kearah meja, "kau menguping." ucapnya pelan membuat seseorang yang bersembunyi dibalik meja terkejut melirik kearah Muaz.
"hehehe,bagaimana kau tau aku ada disini Az?" tanya Hazel langsung berdiri didepan Muaz.
"insting." ucapnya lagi lalu berjalan kearah kamar mandi. Hazel melirik kearah Muaz yang sudah menghilang dari pandangannya.
siapa Daffa?apa dia juga terlibat dalam kasusnya?? kalau nggak salah kak Beyza pernah menanyakan tentang Daffa itu,aku harus cari tau dimana dia. gumam Hazel. ia teringat kejadian tadi pagi yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. ia geram dan kesal sekali dengan Papinya yang begitu tega melakukan itu pada darah dagingnya sendiri.
kenapa Papi melakukan hal itu? aku harus tanyakan langsung pada Papi! . gerutunya dalam hati.
***
Evran kini gemetaran didepan pemuda yang merupakan direktur perusahaan lain yang bekerja sama dengan perusahaannya. Sungguh takjub dengan prestasi yang dimiliki direktur muda itu,tetapi dibalik itu semua ia memiliki kepribadian yang kejam.
"kau tau bukan kenapa aku ada disini tuan Evran." ucapnya sambil duduk menyilang kaki disofa.
"mohon maaf jika kami ada kesalahan kata tuan Iram,saya akโ"
"bukan itu yang aku minta. putrimu Hazel lolos dari rumah itu bersama suaminya,seharusnya kau lebih tegas lagi dengan putrimu dan juga buat mereka bercerai!" titahnya membuat Evran terkejut bukan main.
"tu-tuan apa maksud anda?" tanya Evran memastikan lagi apa yang dibilang Iram. Iram menghela napas seraya berusaha sabar pada calon mertuanya. Benar,tujuan sebenarnya adalah membuat Hazel menjadi istrinya,dengan begitu Hazel dalam genggaman tangannya.
"aku tidak suka mengulang perkataan ku." ucapnya dingin.
"maaf saya benaran tidak paham dengan ucapan anda." lirih Evran menatap sendu kearah Iram.
"suruh dia berlutut di hadapanku!" titahnya pada pengawalnya dibelakang. pengawalnya pun langsung membuat Evran berlutut dihadapan Iram.
"jangan berlutut Papi!" seru seseorang diambang pintu menatap nyalang pada seluruh orang yang berada dalam ruangan. Iram menoleh kebelakang dan tersenyum tipis menatap gadis yang merupakan anak Evran.Begitu juga Evran terkejut dengan kedatangan Hazel yang begitu tiba-tiba mengunjungi kantornya.
"senang bertemu denganmu nona Hazel." sapa Iram berjalan mendekati Hazel.
"huft,apa maumu?" tanya Hazel,ia jengah dengan keberadaan orang yang munafik padanya.
"jangan galak-galak nona." seloroh Iram sembari mencium punggung tangan Hazel.
"cih." ucap Hazel mundur perlahan saat Iram mulai maju mendekatinya.
semoga tidak terjadi apa-apa denganku. gumam Hazel dalam hati. menatap sedikit takut kearah Iram yang berjalan pelan kearahnya.
~
~
~
๐ฅฉSelamat Hari Raya Idul Adha 1442๐
'๐๐๐๐ช'