Shattered

Shattered
Bab 39



Beyza hampir saja menggelinding tangan Iram dengan mobilnya,untungnya dengan cepat ia mengerem mendadak.


"ya ampun,hampir saja aku jadi psikopat." gerutunya langsung turun dari mobil dan membuka pintu belakang. Beyza menyeret Iram masuk kedalam mobilnya. Dengan susah payah,akhirnya Iram masuk ke dalam mobilnya.


"cih,kau menyusahkan saja. Kenapa bisa pula kau pingsan hah?!" geramnya langsung menutup pintu mobil dengan keras,ia pun mengemudikan mobilnya melaju ke rumah sakit.


Beyza membawanya kerumah sakit, disitu Iram langsung ditangani oleh pihak rumah sakit. Beyza ingin pergi dari sana,namun hari nuraninya tidak tega meninggalkan pria itu sendiri.


"huft... ternyata hatiku lembut seperti sutra juga yaa." gumamnya bangga pada dirinya sendiri dan langsung duduk disekitaran lorong rumah sakit. Beyza melirik seseorang yang tampak tidak asing baginya,


Nenek?. gumamnya terkejut saat mengetahui neneknya berada dirumah sakit,ia pun dengan diam-diam mengikuti nenek dan pelayannya itu.


"nyonya besar,harus banyak istirahat. Kadar gula nyonya tinggi,jadi usahakan jangan banyak makan yang mengandung gula." ucap dokter yang menangani Neneknya.


"huft,baiklah." ucap pasrah sang nenek. Melihat kondisi neneknya,Beyza terlihat iba. Ingin sekali ia langsung menemui neneknya,namun waktunya saat ini tidaklah tepat. Ia tahu adiknya masih dianggap pembunuh oleh neneknya sendiri.


Jika nenek tau kalau Muaz bukan pembunuhnya,apa nenek akan memaafkannya?. Lirihnya menatap sendu. Tidak ingin larut dalam kesedihan,Beyza pergi dari tempat itu.


"nona." panggil seseorang saat Beyza melewatinya,Beyza menoleh menyerngit kepada perawat yang memanggilnya barusan.


"tuan sudah siuman,silahkan nona temui dia." ucap perawat itu lagi.


"baiklah,hmm apa aku boleh tau sesuatu,sebenarnya kenapa dia bisa pingsan tiba-tiba seperti itu?" tanya Beyza penasaran.


"setelah dicek kondisi tuan,tuan memiliki penyakit anemia,hal itu bisa terjadi yang membuatnya pingsan tiba-tiba seperti itu." jelas perawat mengenai kondisi Iram.


astaga,pria misterius itu memiliki penyakit yang parah?. gumamnya,ia pun langsung berterimakasih pada perawat itu lalu berjalan keruang inap Iram.


"akhirnya kau sadar juga." ucap Beyza saat sampai diruangan Iram. Iram melirik kearah Beyza menatap dengan tatapan yang susah diartikan.


"kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Beyza,ia pun langsung duduk disamping kasur Iram.


"kau yang membawaku kesini?" tanya Iram menatap Beyza.


"iyalah,Ndak mungkin hewan kan yang membopongmu kesini." ketus Beyza langsung membuat Iran terkekeh pelan.


"terimakasih." ucapnya tulus.


"oh bisa juga kau mengucapkan terimakasih yaa." ledek Beyza.


"terserah kau saja nona,aku tidak mengerti dengan pemikiranmu yang abstrud itu."


"hmm mungkin efek pingsanmu membuatmu bisa berbicara sopan dan lembut padaku,bagus...bagus,sering-seringlah kau pingsan bro." seru Beyza mengambil setangkai permen miliknya,seperti biasa ia langsung mengemut permen itu.


"kalau aku pingsan terus,kau juga yang akan mengurusku." goda Iram menatap genit kearah Beyza.


"astagfirullah,jangan membuatku ilfeel melihatmu." Beyza menatap horor padanya.


"apa kau tidak menawarkanku permenmu?"


"untuk apa?"


Iram menghela napas, "ya untuk dimakanlah,ndak mungkin kan untuk cuci muka." Iram menahan kesalnya.


"oo,tidak boleh." tegas Beyza membuat Iram menyerngit bingung.


"kenapa?"


"karna kau sakit,makan permen membuatmu tambah sakit." jelas Beyza.


"ya ampun kau sangat perhati—"


"itu bukan aku, tapi papaku." lagi-lagi Iram membenarkan faktanya meskipun nama Papanya ikut terseret juga.


"sama saja,kau dan papamu sudah membuat keluargaku seperti ini. Aku ingin menikahimu karena aku ingin mengungkapkan bahwa Papamu itu bersalah dan harusnya bukan Muaz yang berada dipenjara tapi Papamu." Beyza berdecak kesal.


"wah,baru kali ini ada wanita yang mengungkapkan niatnya saat menikahimu. Biasanya mereka tidak pernah menunjukkan apa yang mereka mau demi hartaku." ungkap Iram.


"jangan samakan aku dengan wanita lain. Aku ya aku,dia ya dia. Tidak ada untungnya juga aku menyembunyikan semuanya,toh bakalan ketahuan juga ujung-ujungnya."


"kau memang wanita yang berbeda dari wanita yang lain." puji Iram sambil menepuk tangannya.


"keliatannya kau sudah sehat,kalau gitu aku pergi. Oh ya jangan lupa nanti pas mau pulang,bayar tagihanmu." ucapnya sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas.


"tega sekali kau meninggalkanku seorang diri disini."


"ada terlihat diwajahku peduli dengan kata-katamu? nggak kan. Kau kan laki-laki tentu saja bisa menjaga dirimu sendiri,ya sudah aku pulang." seru Beyza berjalan menuju pintu.


"jangan pulang." cegah Iram,entah kenapa ia ingin lebih lama mengobrol dengan calon istrinya itu. Walaupun terlihat ketus,tetapi di mata Iram,Beyza sangatlah imut apalagi saat mengemut permen yang membuat pipi cubby gadis itu semakin menggemaskan.


"kenapa?apa kau takut?" ledek Beyza menatap remeh kearah Iram.


"nggak,untuk apa aku takut. Aku kan laki-laki yang hebat,tidak mungkin aku takut." bangga Iram.


"nah itu berani,ya sudah aku pulang yaa." Beyza sambil menahan tawa, perkataan Beyza membuat Iran merutuki dirinya terjebak dalam permainan kata gadis itu.


"sialan." umpatnya membuat Beyza menoleh kearahnya, "oh ya ngomong-ngomong tentang pernikahan kita,aku punya satu permintaan." ungkap Beyza membuat Iram menunggu pemintaan dari gadis itu.


Beyza menarik napas dalam,menatap Iram serius, "kau tau kan bundaku ada dimana, pertemukan aku dengannya tanpa sepengetahuan Papamu." ucap Beyza membuat Iram sedikit terkejut.


"bagaimana kau tau kalau bundamu masih hidup?" tanya Iram menatap Beyza.


"aku tidak bodoh hanya untuk urusan ini. Pria brengsek itu menyembunyikan bundaku. Aku tau ini tindakan yang gegabah,tapi untuk pertama kalinya aku meminta tolong padamu. Izinkan aku bertemu dengannya sekali saja." pinta Beyza menatap sendu kearah Iram,terbesit dalam hatinya tidak tega menatap Beyza yang juga memiliki sisi rapuhnya. Bagaimanapun juga sekuat apapun gadis itu tegak ia sangat menantikan kabar tentang bundanya.


"tidak mudah membawanya ikut bersamaku dan sebenarnya bundamu ada dirumahku. Kau tau bunda sudah menikah dengan Papa." ungkapnya membuat raut wajah Beyza berubah.


"apa menikah?! kurang ajar pria itu. Berani sekali dia membuat bunda tidak bisa keluar dari zonanya!!" geram Beyza.


"aku pun juga sama sepertimu,dan fakta yang kedua. Mereka mempunyai anak." jelas Iram lagi.


deg. Beyza tertunduk diam,takut mempercayai semua yang ia dengar. Dalam hatinya terbesit apa benar ibu sambung yang ia sayangi itu berkhianat? apa rencana pembunuhan ayahnya,bunda ikut terlibat?


"ckckckck jangan bilang kau berburuk sangka pada bundamu." tebak Iram membuat Beyza mendongak kearahnya.


"huft,dengarkan baik-baik. Jangan membuat ini semakin rumit Bey,bundamu tidak salah apa-apa dalam hal ini. Sepenuhnya salah Papaku yang terobsesi dengan bundamu itu." jelas Iram. Kali ini ia bertekad memperbaiki apa yang sudah salah.


Gadis didepannya ini sudah membukakan hatinya,Iram merasa berdosa telah membuat keluarga gadis itu menderita. Ia juga kesal dengan Papanya yang terlalu obsesi hanya demi seorang wanita yang sudah memiliki keluarga sendiri. Sialnya,Mamanya harus menjadi korban karena Papanya yang tidak tahu malu itu.


ck,aku semakin merasa bersalah karena bersikap kurang ajar pada bundanya. sesalnya dalam hati mengingat sikapnya selama ini buruk pada Bahar.


"ada apa denganmu? kenapa kau sebijak ini?" tanya Beyza heran menatap Iram. Padahal selama mereka bertemu,pria itu tidak peduli dengan sekitarnya. Tapi lihatlah sekarang, seakan-akan pria itu peduli.


"kau meragukanku? setiap orang bisa berubah lho." ucapnya sambil mengambil apel diatas nakas lalu memakannya.


"cih,tidak secepat itu bodoh," elak Beyza langsung menghampiri Iram.


Beyza menghela napas pelan, "hubungi aku jika kau bisa mempertemukan ku dengan bunda." ucapnya meletakkan secarik kertas lalu berjalan keluar dari ruangan Iram.


Iram hanya tersenyum pelan,menatap secarik kertas yang baru saja diberikan Beyza.


"kau memang berbeda Beyza."