
Hazel melirik kearah kedua orangtuanya,kini dirinya dan kedua orang tuanya yang berada diruangan itu. Sedangkan Muaz dan Beyza pergi keluar mengurus sesuatu.
"katakan padaku Pi,Mi sebenarnya kalian bertengkar?" tanya Hazel duduk disisi kasur Maminya.
"hmm sebenarnya,Mami memang kemarin sempat bertengkar dengan Papi,tapi karna terpeleset Mami jatuh. Papimu begitu syok melihat Mami dan langsung membawa kerumah sakit." jelas Tresya sekilas menatap suaminya.
"lalu,kenapa Papi mengirimku dengan Muaz ketempat pria sialan itu?" tanya Hazel mengingat dirinya pernah dikelabui Papinya.
Seketika Evran memasang tampang serius,melirik sekilas kearah Tresya lalu menatap Hazel. "maaf,itu adalah kesalahan terbesar yang pernah Papi lakukan,Papi tidak akan pernah melakukan kesalahan itu. Kamu tau kan pria yang bertemu denganmu waktu dikantor Papi?" tanya Papi menatap Hazel,Hazel mengangguk.
"nah,dia yang membuat rencana itu agar kamu tetap selamat begitupun Muaz." ucap Evran membuat Hazel menyerngit bingung.
"maksud Papi? untuk apa dia melakukan hal itu?" tanya Hazel tidak paham.
"Papi tidak tau,dia hanya bilang itu alasannya. Mau tak mau Papi harus percaya padanya sebelum kejadian buruk terjadi. ah iya,Papi ingat sebelum dia pergi dia ada mengatakan kalau ini semua ada kaitannya kasus Muaz. Nak,apa kau yakin tetap melanjutkan kasus itu? itu sangat berbahaya jika kau terus mengorek kebenarannya." cemas Evran menatap putrinya.
"huft,maaf Pi,aku tetap akan melanjutkan kasus itu demi nama baik suamiku. Aku tidak ingin melihatnya terus dibelakang layar,sedangkan dia tidak salah apa-apa." ucapku dengan yakin.
Evran hendak membantah namun dicegah oleh Tresya, "lakukanlah jika menurutmu itu benar. Tapi,kau harus menjaga dirimu baik-baik Hazel. Mami percaya padamu kalau kau bisa menemukan pelaku aslinya." ucap Tresya mendukung keputusan Hazel. Hazel terharu mendengar dukungan dari Tresya,dukungan ini lebih dari cukup untuknya. Setidaknya orang tuanya percaya padanya,jika ia bisa menyelesaikan masalah ini.
Evran menghela napas pelan,tetapi raut cemas masih tercetak jelas diwajahnya. "terimakasih Papi,Mami aku akan mengusahakan yang terbaik." semangatnya menatap kedua orangtuanya.
Kini masalahnya berangsur selesai,dan tinggal masalah kasus suaminya. Hazel masih memikirkan apa yang dibilang Evran tadi tentang alasan membawa dirinya dan Muaz ketempat itu.
Untuk apa Iram melakukan hal itu?apa tujuan dibalik rencananya?.
***
Muaz dari tadi terus memandang aneh pada kakaknya. Tidak biasanya seorang Beyza cemas akan hal itu. Biasanya,jika ada masalah ia tetap terlihat santai dan tidak gelisah seperti sekarang ini.
"kau kenapa tadi lari tergesa-gesa?" tanya Muaz melihat Beyza mondar-mandir dari tempatnya.
"huft,hampir saja aku bertemu dengan Daren." ucap Beyza.
"ck,kenapa kau takut? bukannya kau yang menahannya sebelum lepas?"
Iya juga ya,kenapa aku lari? padahalkan bisa saja aku menghadang jalannya. Ya ampun Bey,kenapa kau seperti itu sih? .Dalam batin Beyza sambil merutuki dirinya yang aneh.
"huft,sudahlah lupakan saja. Ada yang harus aku bilang padamu Az." ucap Beyza serius menatap Muaz.
"apa?"
"aku akan bertemu dengan bunda."
Muaz terkejut menoleh kearah kakaknya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
"apa maksudmu kak? bertemu bunda? dimana?" cercanya dengan banyak pertanyaan.
"saat ini aku belum tau dimana,Iram akan mengatur pertemuan kami." ucapnya lagi.
"kau percaya dengan laki-laki brengsek itu?!" geram Muaz tak terima kakaknya begitu mempercayai Iram.
"iya,tenanglah dia tidak akan membohongi kita. Lagian,kami juga bakalan menikah. Tidak ada gunanya dia melakukan hal aneh-aneh padaku." jelas Beyza namun masih belum bisa diterima oleh Muaz.
"aku tidak setuju kalian menikah." tegas Muaz menatap tajam kearah kakaknya.
"Az,percaya padaku. Aku akan baik-baik saja,biarkan aku menikah dengannya." bujuk Beyza.
"cih,apa alasanmu menikah dengannya kak? jangan bilang kau mengorbankan dirimu hanya untuk mengetahui info tentang kasusku?" selidik Muaz.
Benar,aku menikahinya karna kasusmu Az,tapi kalau tidak dengan cara ini,aku tidak bisa masuk kedalam rumah itu.
"kau tidak perlu tau alasanku untuk apa menikah dengannya,cukup kau menjadi waliku saja. Aku mohon Az," bujuk Beyza lagi menatap melas kearah Muaz.
"baiklah, tapi kalau terjadi sesuatu padamu. Hubungi aku secepatnya." jawab Muaz pasrah menatap kakaknya. Jika kakaknya sekeras kepala begini sampai besok-besok pun,Muaz bakalan dihantui kakaknya.
"okee,terimakasih adikku." seru Beyza langsung memeluk Muaz.
***
Iram yang baru saja tersenyum mengingat obrolannya dengan Beyza seketika rautnya berubah saat melihat bayangan seseorang dibalik pintu ruangannya,ketika pintu itu terbuka terlihatlah orang yang paling mengesalkan baginya.
"oh sudah keluar kau kak?" tanya Iram enteng seolah kakaknya baru saja liburan dari suatu tempat ,padahal sebenarnya ia selama seminggu itu dikurung tempat markas Beyza.
"cih,enteng sekali kau bicara,kau tau aku ditangkap tapi kau diam saja melihatku kemarin." sarkas Daren
"tidak ada gunanya juga kau diselamatkan, ngomong-ngomong kak,siapa yang menyelamatkanmu?" tanya Iram sambil memakan buah yang ada dinakas.
"dasar adek laknat,untung saja Papa yang menyelamatkanku." seru Daren berjalan kearah jendela.
Iram hanya menatap datar kearah punggung kakaknya,setelah mendengar Papanya yang menolong kakaknya itu,artinya Papanya sudah mulai bergerak.
"aku akan membuat dia menyesal telah mempermainkan ku." ucap Daren dengan tatapan kesalnya.
"apa maksudmu kak?" penasaran dengan ucapan Daren.
"si Beyza itu! dia mengerjai ku dengan menyuruhku mengambil map pakai kaki, sedangkan tanganku diikatnya. Susah payah aku ambil ternyata map itu kosong." jelasnya kesal mengingat kejadian itu.
Sontak Iram langsung tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu dari kakaknya,bagaimana bisa seorang pria dibodohi oleh seorang wanita.
ckckck,Beyza memang beda. Gumamnya kagum dengan calon istrinya itu.
"tidak akan ku maafkan dia,akan ku buat masa depannya suram." tekadnya.
Mendengar hal itu Iram tidak suka jika Daren ada berniat mau mencelakai Beyza. Ia pun langsung melempar buah jeruk kearah kepala Daren.
"aw,apa-apaan ini Ram?!" sarkasnya langsung berjalan dan mencengkram kerah baju Iram. Iram santai saja menatap kakaknya.
"jangan berani kau menyentuhnya." ucap Iram. Ditengah-tengah kerah bajunya masih dicengkram,ia masih asyik memasukkan anggur kedalam mulutnya.
"kenapa aku tidak boleh menyentuhnya? kau suka padanya hah?" tanya Daren mengeratkan cengkramannya.
Iram hanya menatap dingin kearah kakaknya, "lepas." ucapnya sontak membuat Daren langsung melepaskan cengkramannya. Entah kenapa melihat tatapan dingin Iram membuat dirinya takut pada sang adik.
"dia membuat harga diriku jatuh,aku aka membalasnya!" ucapnya lagi menatap tajam kearah Iram. Walaupun ada rasa takut dalam dirinya,ia mencoba menepis rasa takut itu.
Iran merapikan kerah bajunya dan menatap tajam kearah Daren. "jangan pernah kau menyentuhnya,atau ku patahkan tanganmu!" ancam Iram.
"kau suka padanya? cih wanita licik itu?" remeh Daren,Iram langsung melempar baki kearah Daren membuat pelipis pria itu terlihat bengkak.
"dia calon istriku,jangan pernah sesekali kau menyakitinya." ucapnya dingin.
Daren memegang pelipisnya yang terlihat memar itu dan terkejut mendengar pernyataan dari adiknya.
"apa?!"