
Hazel dan Muaz menatap Beyza seolah meminta penjelasan apa yang diucapkan Iram barusan. Beyza hanya diam sembari mengelap mulutnya menatap Iram.
"sungguh? wah ternyata kau cepat juga memutuskannya." Beyza tersenyum tipis.
"kak apa kau bodoh? apa kakak tau apa yang dibilangnya tadi?!" sentak Muaz tidak terima kakaknya begitu santai menjawab hal itu.
"kau kenapa ikut campur,ini kan keputusanku dengan kakakmu." seru Iram tak terima Muaz ikut campur urusannya.
"hei kau! tentu saja aku ikut campur,dia kakakku dan kalian bisa nikah kalau aku setuju menjadi walinya." cerca Muaz menatap nyalang musuhnya.
"hmm benar juga,kau ikut andil dalam pernikahanku nanti. Kau juga harus siap-siap juga," seru Iram santai menikmati teh panas buatan Hazel.
"teh buatanmu sangat enak Hazel, kapan-kapan kau bisa membuatkan lagi untukku." puji Iram.
"dia bukan pembantumu sialan. Lebih baik kau pergi dari sini." usir Muaz sedikit menaikkan nada suaranya.
"tenang Az,aku memang ada kesepakatan dengannya," ucap Beyza menengahkan pertikaian diantara keduanya.
"bicarala lebih detail lagi." suruh Beyza pada Iram.
Iram pun menjelaskan secara singkat apa-apa saja yang akan dipersiapkan pada pernikahan nantinya. Muaz masih belum menerima keputusan yang dibuat Beyza dadakan itu. Berbeda dengan Hazel,ia terus mengamati interaksi keduanya tanpa memperdulikan raut kusut suaminya. Setelah semuanya selesai didiskusikan,Iram langsung berdiri dan berjalan keluar apartemen milik Hazel.
"oh yaa,kalian nggak penasaran kenapa aku bisa tau tempat ini?" tanya Iram menatap ketiga manusia didepannya.
"kau memasukkan ini kedalam saku celananya." lirik Hazel kearah Beyza sambil memegang chip kecil ditangannya. Iram tersenyum miring menunggu gadis itu menjelaskan semuanya.
"ba-bagaimana kau bisa tau Zel?" tanya Beyza terkejut adik iparnya mengetahui hal itu.
"ini hanya asumsiku saja kak,aku merasa Dejavu dengan kejadian ini. Ini mirip seperti difilm action yang sering aku tonton. Awalnya aku tidak percaya,tapi karena penasaran aku coba mengambil dari saku kakak. Ternyata memang ada chip itu didalamnya," jelas Hazel lalu berjalan menuju Iram.
"ini aku kembalikan lagi." ucapnya sambil memberikan chip kecil itu pada Iram,lalu melirik kearah Beyza.
"kak,maaf kalau aku mengambilnya tanpa seizin kakak." ucapnya pelan.
"kau gadis yang pintar,tidak ku sangka kau bisa berpikir sejauh itu." puji Iram menatap kagum kearah Hazel.
"kapan kau memasukkan itu kedalam sakuku?" tanya beyza penasaran.
"saat aku menolongmu tadi,kau tidak mengatakan satu kata pun Az?" tanya Iram menatap Muaz yang hanya diam dan tenang memperhatikan mereka.
"tidak usah sok akrab denganku,sudahlah lebih baik kau pulang sana dan juga suruh bawahanmu pergi dari sini!" seru Muaz menoleh kearah jendela apartemen.
Iram mengangkat bahu, "itu bukan suruhanku,tapi Papaku. Kalau kalian ingin menangkapnya silahkan,aku tidak akan menghalangi lagi." Iram menatap jam tangannya.
"apa maksudmu? kenapa Papamu yang terlibat disini?" tanya Hazel menatap Iran dengan curiga.
"Liam dia adalah Papaku. cukup aku beritahu itu aja, selebihnya cari sendiri. Dah aku pergi dulu." pamit Iram berjalan semakin menjauh dari pandangan mereka.
Mereka semua terdiam ditempat,hanya mendengar nama Liam sudah pasti pria itu pelaku dibalik semua ini.
"ternyata pria brengsek itu bersembunyi disarangnya!" sentak Muaz melempar vas bunga asal.
"Az tenanglah,kita harus berpikir dengan tenang. Kita tidak tau motif apa yang digunakan pria itu untuk menjebak kita. Apapun yang dikatakannya jangan percaya dulu." ucap Hazel sembari menenangkan Muaz.
"Hazel benar,dia cukup berbahaya untuk dipercaya," Beyza langsung mengambil puing-puing vas bunga yang pecah tadi.
"gadis yang mana?" tanya Bezya tak tau menahu tentang kejadian yang menimpa mereka tadi.
"gadis yang mau membunuhku tadi kak,tapi tadi udah ditangkap polisi. Kita bisa cari info dari dia." ucap Hazel menunggu dering teleponnya diangkat.
Beyza baru menyadari perban ditangan adiknya," kau terluka?"
Muaz mengangguk, "gadis tadi mau menusuk mata Hazel,untungnya aku cepat menahannya."
"oh kukira kalian menjenguk Maminya Hazel kerumah sakit. Ternyata kau yang terluka." gumam Beyza mengangguk paham.
"kak,daritadi aku penasaran. Kenapa kau bisa tau kami dirumah sakit dan kenapa kau turun dirumah sakit?"
Beyza tersenyum tipis,"alasanku pertama agar dia tidak tau tempat tinggal kalian,dan yang kedua aku kepikiran saja menjenguk nyonya Tresya." jelas Beyza.
"ujung-ujungnya dia itu tau,dan terang-terangan memintamu menikah minggu depan." kesal Muaz sedangkan Beyza hanya terkekeh.
"tenanglah aku akan baik-baik saja,kau tidak perlu mencemaskanku. Kau harus menjaga Hazel baik-baik,sekarang kemungkinan besar dia jadi target pria itu." Beyza melirik kearah Hazel yang tengah menelpon dengan seseorang.
"huft,terserah kau sajalah." ucap Muaz pelan.
"apa?! bagaimana bisa tidak ada laporan tentang penangkapan tadi?!" gusar Hazel membuat Beyza dan Muaz mendekatinya.
"kenapa?" tanya Beyza melihat raut Hazel tidak baik-baik saja.
"tadi saat aku menelpon polisi,mereka tidak ada menerima laporan tentang penangkapan tadi kak." jelas Hazel.
"cih,ternyata mereka tadi polisi gadungan." gerutu Muaz saat menyadari situasinya sekarang.
"tadi aku juga sempat heran,bagaimana mereka bsia begitu cepat datang ketempat. Sedangkan aku saja belum ada menelpon mereka,mungkin karena aku panik melihat tangan Muaz berdarah,aku tidak sempat melihat wajah mereka." ungkap Hazel
"gadis itu pasti sudah mati sekarang." ucap Beyza sambil mengambil minuman kaleng dikulkas.
"kenapa kau bisa berpikir kesana?" tanya Muaz sambil menangkap minuman kaleng yang dilempar kakaknya.
"karena musuh tidak akan meninggalkan jejaknya sedikitpun. Kalau aku jadi dia mungkin aku akan membunuh gadis itu."
***
Pria tadi memandang dingin gadis yang sudah tewas bersimbah darah tergeletak di tanah. Ia pun melemparkan jas miliknya asal yang terkena cipratan darah dari gadis yang baru saja ia bunuh tadi. Pria tadi langsung berjalan mendekati anak buah suruhannya yang bersama dengan gadis itu.
"kau tidak becus!" pria yang tak lain adalah Liam langsung menumbuk kuat anak bawahannya.
Pria tadi hanya bisa meringis menahan rasa sakitnya,baru saja ia mendapatkan bogem dari Muaz kini ia harus kembali menahan sakitnya habis dihajar bosnya.
"hanya menjebak gadis itu kau bisa kalah seperti ini,cuih." sarkasnya sambil meludah anak bawahannya.
"katakan!" sentaknya menatap tajam kearah anak bawahannya.
"ta-tadi dia bilang gini 'katakan padanya untuk menemui ku langsung,kalau dia nggak mau datang berarti dia hanyalah pecundang' be-begitu tadi bos." ungkap pria tadi.
"cih,ternyata anak dari istri yang aku cintai itu ada nyali juga dia melawanku." serunya sambil tersenyum seringai.
Sementara orang yang dibicarakan hanya tersenyum miring, "lakukanlah sesukamu tuan." ucap Muaz sambil mendengar percakapan antara pria yang dia hajar tadi dengan pria brengsek itu lewat headsetnya. Ia sengaja tidak memberitahu Hazel maupun Beyza. Ia tidak ingin kedua gadis itu dalam bahaya.