Shattered

Shattered
Bab 29



Muaz hanya mengedik bahu,ia hanya diam menunggu istrinya tengah berpikir keras. Tampak raut kusut dari wajahnya,masih dalam mode loading Hazel menyusun satu persatu masalah yang dihadapinya sekarang.


"kenapa kau tau kalau ini ada hubungannya dengan Iram?" tanya Hazel melirik kearah Muaz.


"itu menurut firasatku,kalau kau ingin tau tanyakan saja dengan Papimu langsung." ucap Muaz


"haiss aku tadi udah kesana,tapi..."


"tapi apa?"


"Iram tadi ada disana,dia bahkan menyuruh Papi berlutut." lirihnya mengingat kejadian diruangan kerja Papinya tadi.


"kapan kau bertemu Iram pertama kali?" tanya Muaz menatap kearah Hazel. Hazel menyerngit bingung tiba-tiba Muaz menanyakan hal itu.


"hah? kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?"


"jawab saja pertanyaan ku Hazel." seru Muaz


"hm waktu itu pas aku duduk ditepi sungai dekat rumah,aku nggak tau kenapa tiba-tiba bertemu dengannya disana."


dia sudah mengincar Hazel dari awal. gumam Muaz sejenak berpikir. Muaz menyadari kedatangan pria brengsek itu berawal dari kasusnya dibuka,Hazel dan keluarga gadis itu ikut terseret kedalam masalah ini.


Muaz menatap serius kearah Hazel, "Hazel,cukup sampai sini saja kau membuka kasusku,jangan menggali lebih dalam lagi." tegas Muaz. Ia menyadari jika Hazel semakin terlibat jauh membuka kasusnya,semakin dekat pula gadis itu dalam bahaya. Lebih baik hentikan disini daripada dirinya kembali menyesal tidak bisa melindungi orang yang ia sayangi.


Ya,jujur dalam lubuk hatinya ia sadar jika ia sekarang mencintai Hazel. Tapi ia masih belum bisa mengungkapkan perasaannya saat ini.


"kenapa kau bilang kayak gitu?"


"kasusmu kan nggak ada kaitannya dengan ini semua Az,ini hanya kebetulan saja."


"ini bukan kebetulan,ini semua sudah direncanakan. kau saja yang tidak menyadari jika kita masuk kedalam perangkap. Untuk itu lebih baik kita tutup saja kasusku."


"nggak bisa,namamu belum bersih. Aku harus menuntaskan apa yang aku kerjakan."


Muaz memegang kedua bahu Hazel erat, "dengar kan aku,ini sudah cukup. kau tidak perlu membuka kasusku lagi. Semua yang kau alami ada kaitannya dengan kasusku,Iram berusaha mendekatimu agar bisa membunuhmu."


Hazel tampak berpikir,ia mendongak melihat raut khawatir Muaz. Ia tersenyum akan hal itu.


"tapi kalau kasusmu ditutup,namamu akan dipandang jelek sampai kau mati sekalipun."


"biarkan saja,aku nggak peduli. Itu urusan mereka," seru Muaz berjalan mendahului Hazel.


"tutup saja kasus itu." serunya lagi lalu menghilang dari pandangan Hazel. Hazel hanya menatap sendu ,lalu berbalik memandang pemandangan didepannya ini.


aku akan tetap membuka kasus itu Az. gumamnya dalam hati. sedetik kemudian ia teringat dengan Papinya yang tidak bertanggung jawab itu. Ia pun langsung menghubungi Papinya agar segera pulang. Awalnya Papinya menolak,tetapi karena ancaman Hazel. Papinya segera pulang.


Hazel langsung berjalan masuk kedalam kamar Maminya. Dapat ia lihat wanita paruh baya itu sekarang terbaring lemah diatas kasur tanpa mengatakan satu katapun.


"Mami ini aku." ujarnya pelan sambil mengusap punggung tangan Maminya. Ia mendongak menatap wajah tirus Tresya yang terlihat pucat seperti mayat hidup.


"Mami terlihat tirus,Mami harus makan banyak yaa."


Sama seperti saat ia baru datang ke rumah,tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Tresya. Tresya hanya diam menatap kosong kedepan.


"Mami,lihat aku." Hazel memegang pipi Tresya lembut. Air matanya lolos membasahi pipinya.


"Mami katakan padaku,kenapa bisa jadi seperti ini?" lirihnya menatap sendu kearah Maminya.


suara Hazel membuat Tresya menoleh kearahnya. Ia hanya menatap diam sambil memegang pipi putrinya. Hazel tertegun menoleh kearah Maminya.


"Mami." panggilnya lagi,lalu dianggukan Tresya.


"Mami,bisa Mami dengar aku?" tanya Hazel menatap wajah Maminya. Tresya mengangguk pelan.


braak. Evran langsung masuk dengan aura yang tidak bersahabat.


"anak kurang ajar! kenapa kau mengancam ku hah?!" bentak Evran membuat Hazel terkejut. Ia pun segera menetralkan dirinya dan berjalan mendekati Papinya.


"ikut aku Pi." ajaknya mendahului kamar, Evran langsung keluar mengikuti Hazel tanpa melirik kearah istrinya yang terbaring lemah.


Hazel menatap tajam kearah Papinya, "Papi seumur hidupku,aku belum pernah bertemu dengan pria yang kurang ajar seperti Papi." ketusnya. Walau terdengar tidak sopan,namun Hazel tidak punya pilihan lain.


"dimana sopan santunmu Zel? berani kau mengataiku seperti itu hah?!" bentak Evran lagi.


"aku akan sopan jika Papi tidak membentak ku!" sarkasnya. Ia menghela napas kasar mengusap wajahnya pelan, "Papi,bagaimana Papi bisa Setega itu hah? lihat Mami Pi! lihat! gimana keadaannya sekarang??. Tega yaa Pi menelantarkan Mami kayak gitu. aku udah menuruti kemauan kalian,lalu ini balasannya??. Papi malah berurusan dengan pria brengsek itu!!" emosinya menggebu-gebu menatap nyalang pria didepannya ini seolah lupa jika pria itu adalah ayah kandungnya sendiri.


"jaga bicaramu Hazel Blaire!! dia itu kerjasama bisnis dengan Papi,jangan menyalahkannya!!"


Hazel menepuk tangan sambil tertawa renyah, "wah hebat! Papiku sangat hebat!!" serunya. Hazel rasanya ingin menangis,tapi ia harus tahan. Ia tidak boleh lemah didepan Papinya.


"Papi masih membela dia? walau saham Papi udah diambang kehancuran? wah Papi harusnya aku nobatkan Papi menjadi pria pebisnis tak kenal musuh." seru Hazel


plaak. Evran menampar keras pipi putrinya. Hazel menatap sendu kearah Papinya. Walau sering dibentak tapi baru kali ini ia mendapat serangan fisik dari Papinya.


"ini bisnis bukan main-main. Ini semua demi kalian!!"


Percecokan kedua terus berlanjut,tanpa mereka sadari jika ada seseorang yang tengah bersembunyi sambil menguping pembicaraan mereka berdua.


"ini sudah cukup membuatnya menderita." lirihnya lalu berjalan dari tempatnya bersembunyi tadi.


***


Muaz berjalan gontai menuju apartemennya,ralat sebenarnya Apartemen milik Hazel. Setelah berdebat dengan istrinya dan mendengar hal yang tidak mengenakan ditelinganya, Ia pun langsung pergi menuju Apartemennya. Sempat ia terdiam hanya menatap pintu tanpa memencet tombol password apartemennya.


Cukup lama berdiri disitu,akhirnya ia menekan password itu lalu membuka pintu. Dilihatnya Apartemennya tampak bersih dan rapi. Ia pun berjalan kearah kamar Hazel. Aroma madu kamar istrinya itu membuatnya terasa nyaman. Tanpa permisi dari sang pemilik kamar,Muaz langsung masuk kedalam kamar minimalis itu. Ia menghirup dalam aroma madu favoritnya.


Muaz tanpa sengaja melirik kearah dinding yang penuh dengan foto-foto tentang kasusnya. Banyak sticky note yang terpampang didekat foto-foto itu. Harusnya ia bangga dan terharu melihat gigihnya Hazel dalam memecahkan kasus yang sebenarnya. Namun ia teringat lagi,jika itu semua sama saja membuat gadis itu terjun dalam lubang kematian.


Muaz menelusuri setiap ruangan,ia pun melihat album yang sempat waktu itu dia lihat. Ia pun membuka album itu lagi,namun hal yang mengejutkan ada foto dibagian paling belakang. Foto pernikahan nya. Hanya satu foto itu,Muaz tertegun. Hanya diam melihat tulisan dibawah foto itu.


Aku sudah bahagia dengan kehidupanku,karena Aku mencintai suamiku.


Muaz tersenyum tipis memandang tulisan rapi itu. Hingga lamunannya sadar saat ponselnya terus berdering.


"ini nomor siapa?" tanya Muaz heran dengan nomor ini yang berulang kali menelponnya. Satu pesan yang masuk dari nomor itu membuatnya berooria.


Kak Beyza


sialan,kenapa tidak akan teleponku hah??!


kata 'sialan' ini mengingatnya dengan sesuatu,terasa familiar. Seketika ia ingat istrinya juga sama mengirim pesan padanya dengan kata 'sialan' itu.


"apa?" ketusnya saat teleponnya tersambung dengan Beyza.


"kau mau tau sesuatu?"


"cepat katakan kak!" kesalnya mendengar kekehan kakaknya.


"ini ada hubungannya dengan istrimu Az." ucap Beyza diseberang sana.


deg. hal ini yang paling ia tidak suka,sesuatu yang buruk akan terjadi pada istrinya. Ia harus cepat mencegah hal buruk itu.


"datanglah ke tempatku Az,alamatnya udah aku kirim lewat sms." ucap Beyza memutuskan teleponnya sepihak. Muaz menghela napas kasar.


huft,kapan masalah ini akan selesai??