Shattered

Shattered
Bab 49



Hari ini adalah hari pernikahan Iram dan Beyza,yang manahanya dihadiri oleh keluarga-keluarga besar dan kolega bisnis Iram. Hazel dan Muaz tampak ragu dengan pernikahan ini,namun jika Beyza sudah memutuskan pilihannya,apa boleh buat. Mereka berharap semuanya akan baik-baik saja.


"kak Bey." panggil Hazel menatap Beyza yang sedang dirias. Beyza menoleh, Hazel tampak kagum dengan kecantikan Beyza yang dibalut gaun pernikahan yang indah. Sangat cocok dengan tubuhnya yang langsing itu.


"kenapa?" tanya Beyza menatap raut gusar dari Hazel,seketika Hazel langsung mengubah ekspresinya menjadi ceria.


"tidak ada apa-apa kak,hari ini kau terlihat sangat cantik kak." puji Hazel.


Semoga keputusanmu kali ini benar kak,aku akan selalu mendukungmu. Ucap Hazel dalam hati,ia tidak ingin merusak acara pernikahan Beyza,mungkin memang iya Beyza menyukai Iram. Jadi ia tidak boleh mengacaukan acara itu.


"sudah siap kak?" tanya Hazel sambil merapikan sedikit riasan Beyza. Beyza tampak tersenyum tipis menatap Hazel dari cermin.


"aku siap." ucap Beyza dengan yakin,Hazel pun langsung mengiringi Beyza sampai tempat Iram dan penghulu berada. Hazel teringat pernikahannya waktu itu saat ia memaksa Muaz menjadi suaminya padahal dirinya sangat takut waktu itu meminta Muaz menikahinya karena kasus yang menyangkut pria itu. Tapi,sekarang ada dua benih pria itu didalam perutnya saat ini,takdir yang lucu.


Iram tampak kagum memandang Beyza yang begitu cantik mengenakan gaun putih itu,ia hanya tersenyum manis namun senyuman itu sedikit memudar dikala melihat Papanya tengah berdiri dibalik pohon mengamati keadaannya. Bahkan Iram sempat berkontak mata dengan Papanya itu. Iram tidak ingin pernikahannya kacau gara-gara Papa brengseknya itu. Ia pun bersikap tenang agar semua tidak curiga padanya apalagi Beyza.


Beyza tampak gugup berjalan mendekati Iram,hilang sudah jiwa tomboinya saat mengenakan gaun itu. Sebelumnya tidak pernah segugup ini,tetapi ia tidak boleh mundur. Walau pernikahan ini hanya untuk sekedar menyelamatkan Bunda,ia tidak akan menyerah dengan keadaan yang akan mendatanginya nanti.


"fyuuh kau pasti bisa kak." bisik Hazel pelan tau saat kakaknya kini tengah gugup. Pipi tembam kakaknya itu sangat menggemaskan,rasanya ingin Hazel mencubit pipi Beyza yang tembam itu.


"jangan membuatku tambah gugup Zel." gerutu Beyza pelan saat hampir mendekati Iram. Hazel terkekeh pelan,lalu membantu Beyza duduk disamping Iram.


"sudah siap?" tanya penghulu itu pada keduanya,Beyza menoleh kearah Iran begitupun Iram. Mereka mengangguk setuju.


"baiklah kepada wali pengantin wanita bisa kemari." panggil Penghulu itu pada Muaz. Muaz terlihat enggan menuju tempat itu,namun berkat bujukan Hazel ia pun akhirnya mau berjalan kesana.


Muaz duduk didepan Iram dan Beyza. Ia sempat melirik kearah kakaknya yang kini akan segera menikah, "kau yakin dengan keputusanmu kan kak?" tanya Muaz sekali lagi,memastikan kakaknya mengambil keputusan yang tepat.


Beyza mengangguk,"bukannya sudah ku bilang berkali-kali Az,aku yakin dengan keputusanku kok. Tenang saja." ucap Beyza menyakinkan Muaz,kini Muaz melirik kearah Iram.


"jangan sampai kau menyakitinya atau kau harus berurusan denganku!" ketus Muaz menatap tajam kearah Iram. Iram terkekeh pelan, "iya,iya adik ipar." ucapnya santai.


Penghulu itu pun membimbing keduanya untuk berjabat tangan,untuk memulai ijab qabulnya. Muaz menjabat tangan dengan Iram,lalu mulailah ijab qabulnya.


"sah." ucap semua saksi yang melihat pernikahan itu,semuanya tampak haru dan bahagia. Pernikahan itu berjalan dengan lancar dan khidmat.


***


Daren tampak kesal dan tidak suka dengan pernikahan yang baru saja terjadi didepan matanya itu. Pernikahan adiknya dengan wanita yang pernah menyekapnya itu.


"kenapa kau sangat kusut sekali Ren?" tanya Liam menatap anak sulungnya tidak senang dengan pernikahan anak bungsunya itu. Daren terkejut dengan kedatangan Liam yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.


"Papa? sejak kapan Papa disini?" tanya Daren masih terkejut.


"huft,wanita yang dinikahi Iram itu yang menyekap ku kemarin Pa." ucap Daren memandang kedua insan itu tengah menyambut para tamu.


"Kau mau balas dendam padanya?" tanya Liam membuat Daren menoleh kearahnya.


"Maksudnya?"


"Kau bisa membalaskan dendam padanya Ren,dia kan yang menyekapmu kemarin?" kata Liam sambil tersenyum seringai.


Daren tampak berpikir sejenak,lalu menoleh kearah kedua insan itu. Daren terkejut saat berkontak mata langsung dengan Iram yang tengah menatapnya tajam. Seolah-olah Iram tau yang dibicarakannya dengan Papanya itu.


Daren menelan saliva,tidak ingin ikut campur dan berurusan dengan Iram. "tidak Pa,kalau dengan cara seperti itu tidak akan membuatku puas." ucap Daren mengelak.


"oh ya? apa kau snagat takut dengan Iram?" tanya Liam tepat sasaran.


Daren berusaha netral,"tidak. Aku tidak takut dengannya,hanya saja tidak mau berurusan dengannya Pa. Oh ya Pa,bukannya itu istri Papa?" Daren mengalihkan topik smabil menunjuk seorang wanita yang baru saja turun dari mobil. Liam langsung menoleh kearah wanita itu sambil tersenyum.


"tumben sekali Papa membawa wanita itu." ucap Daren sedikit ketus.


"dia itu sekarang Mamamu Ren,tolong jaga ucapanmu itu!" sarkas Liam tidak suka istrinya dianggap orang asing.


"terserahlah." ucap Daren meninggalkan Liam,ia pun tidak peduli dengan kehidupan Papanya dan keluarga yang baru itu. Daren kembali memandang kedua pengantin yang baru saja menikah itu. Sebenarnya terbesit didalam hatinya ingin melakukan hal sama seperti adiknya. Namun,saat ini ia tidak percaya dengan namanya ketulusan wanita. Ia menganggap semua wanita itu sama saja,hanya memandang harta.


Daren melirik tamu yang hadir didalam pernikahan Iram, tampak wanita cantik dan seksi tengah menikmati makanan manis dimejanya. Ia pun tersenyum seringai menatap wanita itu dan ingin menggodanya.


"hai." sapa Daren pada wanita cantik itu,ia pun menoleh kearah Daren dengan tatapan kagum melihat sosok aura tampan yang terpancar dari Daren.


"oh hai." jawabnya. Daren yang melihat lirikan wanita itu tersenyum seringai,akan mendapatkan mangsanya. Ia pun duduk disamping wanita cantik itu.


"aku duduk disini ya." ucap Daren langsung duduk dekat dengan wanita itu. Wanita itu pun mengangguk sambil tersenyum menggoda menatap Daren.


Sudah mendapatkan lampu hijau dari wanita itu,ia pun tanpa ragu-ragu membawa wanita itu pergi dari tempat pesta pernikahan itu. Tanpa Daren sadari jika wanita itu tersenyum seringai dan menyembunyikan wajah kebenciannya pada Daren. Seperti bertekad membalas dendam karena sesuatu hal.


Akan kubuat dirimu menderita Daren. gumam Wanita itu dalam hati,ia pun membiarkan Daren membawanya pergi ke suatu tempat. Terserah ia dibawa kemana yang penting,ia dapat membuat pria ini jera akan perbuatannya.


Ini semua ia rela lakukan demi mengungkapkan kejahatan yang dilakukan pria ini terhadap klien yang melaporkan kasus padanya. Memang tidak mudah membuat pria ini masuk kedalam jeruji besi, tapi tidak ada kata mustahil jika belum mencobanya. Wanita itu tak lain adalah Delia,sahabat Hazel.


Tidak ada yang tau jika Delia adalah salah satu teman sekolah Daren. Bahkan Hazel pun tidak tau tentang hal itu,cukup dirinya saja yang tau. Memang Daren tidak mengingat dirinya,namun Delia sangat mengingat Daren. Ia yang dulu sangat menyukai pria itu sebelum dirinya tau jika pria itu adalah pria mata keranjang.


Cih,bagaimana bisa aku menyukai pria brengsek ini dulu. Astaga mataku dulu buta yaa menyukai dia. Sesal Delia dalam hati.