
Beyza mengikat kepang satu rambutnya yang panjang,setelah itu ia pun langsung bersiap menuju tempat penyekapan Daren.
"selamat pagi nyonya" hormat salah satu anak buahnya. Beyza mengangguk lalu melenggang masuk kedalam ruangan yang gelap dan kotor.
"hallo!!" serunya berhenti didepan Daren yang tengah terikat dikursi.
Daren menatap tajam ke arah wanita yang semalaman menyekapnya.
"pagi baru bro,matanya dah melotot gitu..ntar keluar pula matanya" seloroh Beyza sambil mengambil kursi dibelakangnya.
"buka lakban mulutnya,kasihan pula aku liatnya" titah Beyza langsung dikerjakan oleh anak buah disamping Daren.
"sialan kau!!!" umpatnya keras menatap tajam kearah Beyza. Beyza hanya tersenyum tipis menatap Daren.
"ckckck kau ini..bukannya pertama kali dibuka lakban ngucap Alhamdulillah,malah mengumpat pula" ejek Beyza lalu mengambil minuman kaleng disamping lalu ia teguk.
"minum bang?" tawar Beyza pada Daren,Daren langsung membuang muka.
"nanti kalau nggak dikasih jangan nangis yaa" ejeknya kembali meneguk minuman kalengnya.
"apa maumu?!" sarkas Daren
"cih,kau nggak suka basa basi,ya sudah kita ke intinya" Beyza merapikan tempat duduknya lalu menatap serius kearah Daren.
"katakan apa yang terjadi malam itu sebenarnya?"
"apa maksudmu? malam yang mana?!" tanya Daren. yang tak mengerti maksud Beyza.
"huft..itu lhoo malam dimana pembunuhan dirumahku" jelas Beyza lagi
"pembunuhan? dirumah kau?? apa kau sudah gila yaa?? aku tidak tau apa yang kau maksud?!"
"astaga patutlah kau nggak paham,aku belum memperkenalkan diri" kekehnya
"perkenalkan aku Beyza Aysun Bark,setelah tau namaku,kau pasti tau maksudku" seru Beyza
Daren terkejut mendengar nama Bark,itu artinya wanita yang ada didepannya ini salah satu anggota keluarga Bark. Beyza tersenyum miring saat melihat raut terkejut Daren.
"kau?! anaknya??" tanya Daren tak percaya
Beyza mengangguk "kau sudah mengenalku bukan?,sekarang cepat katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya!"
Daren tetap diam dan enggan membuka mulutnya,ia hanya menatap datar kearah wanita didepannya itu.
Beyza langsung melempar bekas minuman kalengnya asal menatap tajam kearah Daren.
"jawab aku!!" sarkasnya. anak buah Beyza terlihat ketakutan saat Beyza menunjukkan aura kemarahannya.
"untuk apa aku jawab pertanyaan yang nggak penting itu!" jawab Daren
Beyza menatap horor kearah Daren,menghela napas pelan. Beyza langsung memberi kode pada anak buahnya untuk melepaskan Daren. Daren merasa curiga dengan tindakan Beyza.
"aku akan membiarmu pergi asal kau menjawab pertanyaanku dulu..kalau kau tidak bisa siap siaplah kau jadi ayam geprek" ujarnya langsung berjalan keluar.
"beri dia pelajaran sampai dia mau buka mulut cantiknya itu,jangan berhenti sedikitpun atau kalian yang akan menggantikan posisinya sekarang!!" titahnya dingin lalu menutup pintu keras. Daren mengumpat keras saat Beyza sudah keluar dari ruangan itu.
Setelah keluar dari ruangan sana,beyza langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"astaga bukan aku kali yang kek gitu hahaha" serunya lalu masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya. Beyza membiarkan Daren disiksa oleh anak buahnya sampai pria itu membuka mulutnya tentang malam itu yang sebenarnya.
"hmm bagusnya kemana yaaa sekarang??" gumamnya melihat sekeliling jalan,lalu ia teringat adik iparnya yang menggemaskan itu. Beyza langsung menepikan mobilnya.
"pergi kemana dia?" tanyanya saat melihat GPS di ponselnya yang sempat ia masukkan ke dalam ponsel Hazel saat bertemu dengan Hazel waktu itu.
pasti ada yang nggak beres disini,coba aku susul lah. gumamnya langsung melajukan mobilnya menuju tempat adik iparnya saat itu.
***
Lain hal dengan sepasang suami istri saat ini terjebak dalam situasi yang sulit. Mereka telah masuk kedalam perangkap seseorang. Muaz tidak bisa bertindak gegabah saat ini karena Hazel dalam genggaman pria laknat didepannya ini.
#flashback on
mereka langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. tetapi,ada yang aneh Evran mengemudi mobilnya kearah jalan yang jauh dari jalanan kota. Muaz merasa aneh tetapi ia tidak bisa berburuk sangka dulu dengan ayah mertuanya. ia menggenggam tangan Hazel erat,gadis itu masih menangis tersedu-sedu setelah mendengar keadaan maminya.
hatinya sungguh mulia walaupun perlakuan orangtuanya kurang baik padanya. gumam Muaz kagum dengan kemuliaan hati Hazel.
Perasaan Muaz semakin tidak enak,saat mobil itu memasuki daerah pedalaman. ia melirik kearah ayah mertuanya. Evran hanya fokus diam sambil melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Hazel yang baru saja menyadari jalanan tidak menunjukkan kerumah sakit langsung menoleh kearah papinya.
"papi kita kemana? ini bukan kearah rumah sakit" tanya Hazel
"memang bukan" ucap Evran santai
sudah kuduga ada yang tidak beres disini. gumam Muaz berjaga-jaga jika ada sesuatu yang mengejutkan mereka nantinya. Hazel menoleh kearah Muaz,Muaz hanya mengangguk menyakinkan jika mereka baik-baik saja.
Deg. mata Hazel membulat sempurna saat sampai rumah besar ditengah hutan. Evran langsung turun saat ada beberapa penjaga keluar. Hazel menelan saliva saat melihat penjaga yang besar dan sangat menakutkan. Muaz menyadari jika istrinya mulai ketakutan.
"tenang ada aku disini" serunya menenangkan istrinya.
"Az,kenapa papi membawa kita kesini??" bisiknya melihat papinya tengah berbincang pada salah satu penjaga tadi.
"entahlah,tapi yang pasti kita harus berhati hati" jawab Muaz pelan seraya melirik kearah luar
sial,papi macam apa dia yang membawa anaknya ketempat ini?!. umpatnya pelan,Muaz melirik sekeliling jok mobil mencari barang yang dapat berguna nantinya. akhirnya ia mendapatkan pisau cutter dibalik jok mobil depan,lalu ia berikan dengan Hazel.
"untuk apa?" bisiknya terkejut saat Muaz tiba-tiba memberikannya pisau cutter.
"jaga-jaga jika terjadi sesuatu,kau bisa bela diri kan?" tanyanya pelan
Hazel mengangguk pelan "kenapa memangnya?"
"itu untuk melindungi dirimu sendiri,sekarang sembunyikan pisau cutter itu" seru Muaz saat melihat salah satu penjaga berjalan kearah mobil mereka. Hazel langsung memasukkan pisau itu kedalam sakunya.
"keluar!!" sarkasnya membuat Hazel sedikit terkejut,lalu digenggamnya tangan Muaz erat. Muaz mengangguk pelan lalu keluar dari mobil bersama Hazel.
"cepat!!" teriaknya langsung mendorong mereka untuk berjalan cepat. Hazel kesal lalu menatap tajam kearah papinya yang hanya diam memperhatikan mereka.
"papi kau sudah gila!!" geramnya lalu dipaksa masuk kedalam rumah itu. sedangkan Evran hanya menatap sendu kearah putrinya,lalu menatap kearah ketua penjaga itu. "aku sudah membawa mereka,puas??! suruh bosmu jangan menganggu perusahaanku!!" geram Evran mencengkram baju ketua itu.
ketua itu langsung menepis kuat cengkraman Evran. "kita lihat saja nanti,apakah bos kami akan menyetujui hal itu" serunya langsung menyuruh anak buahnya mengusir Evran.
#flashback off
"kau tidak ingin istrimu ini mati kan?" tanya pria yang tak lain adalah ketua dari kelompok itu sambil menodongkan pisau kearah leher Hazel. Muaz berdecak kesal sambil berpikir cara menyelamatkan Hazel tanpa melukai istrinya itu.
huft..berpikir cepat Muaz!. gerutunya menatap tajam kearah pria yang menyekap istrinya. sedangkan dirinya tengah dikelilingi orang-orang itu.
"waah ramai sekali disini,butuh bantuan bro?" tanya seseorang dibelakang menatap kearah Muaz, membuat semuanya menoleh kearah wanita yang tengah memegang tongkat bisbol sambil mengemut permen dalam mulutnya.
Muaz menatap tajam saat melihat wanita yang sudah lama tidak terlihat sedangkan Hazel terkejut melihat kakak iparnya berada disini.
"kak Beyza!!" seru Hazel,Beyza tersenyum lebar melambaikan tangan kearah adik iparnya,lalu menatap tajam kearah pria-pria yang menghalangi jalannya menuju adiknya. Beyza tersenyum miring lalu menatap Muaz yang masih menatapnya tajam.