
Muaz begitu lega tidak terjadi apa-apa pada Hazel,hanya saja Hazel terlalu lelah sehingga perutnya mengalami kram. Dokter menyarankan agar Hazel banyak istirahat agar dirinya tidak kelelahan.
"kamu dengar kata dokter Zel,jangan terlalu banyak mikir." ucap Muaz sambil menunggu resep obat Hazel. Mereka tengah duduk disalah satu kursi dekat sana.
"iyaa,maaf." cicit Hazel sambil menunduk. Sesekali ia mengelus perutnya, "maafkan mama ya nak,malah hampir membuat kalian tiada." lirihnya menatap perutnya itu.
Setelah mengambil obat Hazel, mereka pun segera pulang, saat dijalan Hazel melirik jajanan yang terliaht menggiurkan. Ia pun memelas menatap Muaz yang tengah menyetir mobil.
"mau itu." tunjuk Hazel menatap es krim goreng yang berada ditepi jalan itu. Muaz menoleh kearah Hazel lalu mengangguk menyetujui permintaan istrinya itu.
"yey." pekik Hazel setelah mendapat persetujuan Muaz. Hazel langsung keluar duluan tanpa menunggu Muaz dan mengambil dua kursi untuknya dan suaminya itu. Muaz menggeleng pelan dengan kelakuan Hazel yang sangat antusias menunggu pesanannya.
"kamu tadi memesan rasa apa?"
"oh tadi aku pesan empat rasa,kamu kan suka vanila kan Az jadi aku memesan punyamu itu, trus kalau aku coklat,tiramisu,sama vanila." ucapnya senang.
"empat kamu pesan? dan kamu makan tigaa?? yakin??" tanya Muaz tidak percaya,Hazel mengangguk yakin.
"aku tiga karena ada dua didalamnya Az,maklumlah." ucap Hazel menunjuk perutnya pada suaminya itu.
"ckckck terserah kamu aja,kalau nanti nggak habis jangan minta aku yang habiskan." ucap Muaz lalu dianggukan Hazel.
"okee bos."
Sambil menunggu pesanan datang,Muaz melirik kearah Hazel yang masih setia menatap cara masak eskrim goreng pesanan mereka. Memang penjualnya membuatnya tepat didepan pembelinya sehingga pembeli bisa melihat proses pembuatannya.
"Hazel." panggil Muaz pelan,membuat siempunya nama menoleh kearah Muaz, "ada apa?"
"terimakasih." ucap Muaz terlihat tulus,ia menatap intens mata istrinya.
"untuk?"
"telah membersihkan namaku dan menangkap Liam. Aku tidak menyangka aku sudah bebas dari masalah itu semua." lirih Muaz membuat Hazel langsung menggenggam tangannya, "ini semua juga berkat Liam."
Muaz menyerngit bingung dengan perkataan Hazel, "maksudnya? kenapa pria brengsek itu yang kamu puji?" tanya Muaz tidak suka.
"hei tenang dulu sayang,bukan itu maksudku. Maksudku kalau bukan karena kasus ini kita mungkin tidak akan pernah bertemu. Atau mungkin kau sudah menikah dengan wanita yang lain." ucap Hazel pelan menatap suaminya.
"kamu benar juga." ucap Muaz membenarkan perkataan istrinya itu. Ia sendiri juga tidak menyangka akan menikah dengan Hazel. Padahal dirinya dulu tidak memperdulikan keberadaan Hazel yang sempat ia benci waktu itu. Dulu ia sangat tidak suka dengan Hazel yang mencampuri hidupnya,memang takdir itu terlihat konyol.
"yey datang." pekik Hazel senang membuat Muaz menoleh kearah penjual yang membawa empat eskrim pesanan mereka. Muaz menganga menatap Hazel dengan semangat menikmati eskrim miliknya itu. Tetapi,Muaz hanya membiarkan wanita yang dicintainya itu makan dengan puas.
***
Muaz menikmati harinya bersama istrinya itu. Kini sudah delapan bulan berlalu setelah Iram dan Beyza menikah juga Liam ditahan. Kabarnya kini Beyza tengah mengandung satu bulan. Walaupun Muaz dan Hazel tidak tau kronologi ceritanya seperti apa,yang jelas mereka lega jika kakak kesayangan mereka itu bahagia bersama Iram. Karena hal itu membuat Muaz sedikit mengikis rasa bencinya pada Iram.
"Az,lihat danau itu indah sekali." seru Hazel melihat pemandangan danau didepan matanya. Sesekali ia mengelus perutnya yang membuncit seperti hamil sepuluh bulan,padahal dirinya kini baru memasuki delapan bulan.
"aku kan bisa mengajakmu ke tempat yang lain,kenapa kita disini hanya menatap danau yang tenang itu?" gerutu Muaz karena Hazel meminta untuk mengajaknya ke Danau.
"kan kamu udah janji,bakalan bawa aku kemana aku suka. Aku sangat suka danau ini,terlihat tenang dan bagus untuk merilekskan otak." jelas Hazel lalu duduk disalah satu bangku yang ada disana.
"hati-hati Zel, kamu bisa jatuh kalau jalan-jalan cepat gitu." cegah Muaz lalu membimbing Hazel duduk perlahan diatas bangku.
"hehehe,terimakasih sayang." cengir Hazel menatap suaminya,Muaz hanya menghela napas pelan.
"abis ini kita kemana?" tanya Muaz tampak bosan hanya melirik danau yang tenang dan daerah mereka yang hening ini. Muaz harus mencari cara agar Hazel mau berpindah tempat dari tempat yang sangat membosankan menurutnya.
"sayang,apa kamu mau lihat kebun teh?" tawar Muaz menatap penuh harap kearah Hazel.
Hazel tampak semangat,namun ia kembali murung. "kebun teh sangat tinggi,sangat berbahaya untukku Az." lirih Hazel mengingat dirinya tengah hamil. Sangat tidak cocok untuk pergi ke kebun teh.
"lalu selain ini kamu mau kemana sayang?" tanya Muaz dengan sabar dan penuh perhatian pada istrinya itu.
"hmm bagusnya kemana yaa?? apa kamu bosan disini?" tanya Hazel melihat raut kusut Muaz.
"hmm sebenarnya iyaa,tapi kalau kamu suka melihat danaunya aku pun nggak masalah disini."
Hazel memandang haru suaminya,dikecup pelan bibir suaminya itu sekilas,"ayo kita pergi ketempat lain." ajak Hazel sambil menarik Muaz menuju mobil mereka.
"tapi kamu suka disini? sebentar aja nih?" tanya Muaz heran tiba-tiba Hazel meminta pindah.
"aku udah mulai bosan juga,kita ketempat lain saja." ucap Hazel sambil bersenandung riang,saat dirinya mau masuk kedalam mobil ia terkejut melihat seseorang dibalik rumah gubuk tengah mengamati dirinya dengan suaminya.
Tidak ingin membuat suaminya khawatir,Hazel langsung menyuruh Muaz untuk cepat pergi dari sini dengan alasan ingin menikmati angin kencang.
"nanti kamu masuk angin Zel." gusar Muaz menimbang setuju dengan kemauan Hazel.
"ayolah sayang,aku ingin menikmati udara segar disini. Masa kita jauh-jauh dari kota,tidak bisa menikmati udara segar disini." gumam Hazel sedikit cemberut menghadap Muaz.
"iya yalah, terserah kamu aja Zel." ucap Muaz pasrah. Ia pun fokus mengemudikan mobilnya.
Mereka akhirnya tiba di perbukitan dekat kebun teh. Memang mereka tidak bisa masuk kedalam kebun tehnya,tetapi setidaknya mereka dapat melihat kebun teh walaupun dari jauh. Mereka pun langsung memesan vila kayu yang berada didekat sana.
Setelah selesai memesan Villa,Hazel langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan dirinya dikasur.
"capeknya." ucap Hazel menatap langit kamar dalam vila itu. Muaz datang sambil membawa dua cangkir teh panas.
"minum dulu nih." ucapnya sambil menyodorkan teh panas itu pada Hazel.
Hazel langsung bangun perlahan dan mengambil teh panas yang disodorkan Muaz. Sedikit susah menyeimbangkan posisinya karna perutnya yang tampak besar itu. Hazel memandang lekat suaminya,yang kini bebas dari segala tuntutan dan namanya kini bersih.
Sementara disisi lain,tempat yang seharusnya menjadi tempat penahanan para penjara untuk orang seperti Liam. Sekarang kalang kabut tidak menemukan pria itu,dan lebih mengerikannya lagi ada dua orang tahanan lain tewas dibunuh oleh pria itu. Semua aparat mencari diseluruh ruangan mencari keberadaan Liam.
"tik.tok.tik.tok waktunya beraksi. Tunggu aku sayangku Bahar. Sebelum bertemu denganmu akan ku bereskan lalat penganggu itu. Pasti saat ini mereka lengah." ucap Liam sambil bersembunyi dibalik lorong sempit didekat sana.