Shattered

Shattered
Bab 31



Beyza merutuki dirinya yang mengambil keputusan terlalu gegabah. Memang keputusan tanpa berpikir itu bisa membuatnya terjebak dalam situasi sulit. Melirik pria yang sedang mengemudikan mobilnya sambil bersenandung riang.


"apa kau menyesal?" tanya Iram, lagi-lagi tepat sasaran. Beyza harusnya memberikan penghargaan pada pria itu sebagai manusia yang paling peka.


"kau sendiri?" tanya Beyza balik tanpa menjawab pertanyaan Iram tadi.


"biasa aja."


"nah sama dong,aku pun biasa aja." selorohnya sambil merapikan anak rambutnya.


Iram menatap heran pada wanita disampingnya ini,seumur hidupnya belum pernah ia bertemu dengan wanita yang seberani Beyza. Tapi tingkah laku gadis itu tambah membuatnya penasaran.


"kita lihat saja nanti,siapa yang akan gugup." remehnya lalu fokus mengemudi. Beyza menghela napas pelan tanpa menjawab omongan Iram.


"Oi." panggil Beyza


"aku punya nama."


"aku lupa." jawab Beyza asal tanpa menoleh kearah Iram yang kini tengah menatapnya tajam.


"Iram."


"terserahlah,aku ingin menanyakan sesuatu padamu tuan." serunya menatap Iram.


"apa?"


"untuk apa kau melakukan ini semua? ini kan tidak ada gunanya untukmu kan?" tanya Beyza membuat Iram mengerem mendadak.


"hei bisa tidak mengerem mobil tuh pelan?!" gerutu Beyza sambil memegang keningnya yang terlihat merah karena terbentur dasbor mobil.


Iram menatap tajam, "tentu saja ini semua ada hubungannya denganku,jangan menyimpulkan asal aja,"


"aku tanya kau,kau siapanya Muaz?" tanya Iram


"kenapa? kau penasaran?"


"cih,siapa juga yang penasaran...aku heran aja kenapa orang sepertimu membantu pria malang itu."


"oh yaa?,tentu saja aku orang baik." seru Beyza. Ia ingin mengorek sedikit informasi dari pria disampingnya ini.


"hei kau! apa kau tidak takut denganku?" tanya Iram merasa gadis disebelahnya ini tidak ketakutan sama sekali,malahan saat gadis itu mengajaknya nikah seolah tidak ada beban. Ini memang aneh,patut dicurigai.


"untuk apa aku takut? kita kan sama-sama makan nasi,buat apa takut?" selorohnya sambil mengambil permen bungkus yang ada dimobil pria itu, "bagi permen yaa."


Iram hanya menggeleng pelan melihat tingkah abstrud gadis disebelahnya,ia pun mempercepat mobilnya menuju tempat kediamannya.


"tuan muda?" kejut sang pelayan saat mengetahui majikan mudanya datang tiba-tiba ke rumah utama. Ia pun tanpa sengaja melirik gadis dibelakang tuannya.


siapa gadis ini? jangan-jangan kekasih tuan muda? akhirnya tuan muda membawa gadis kerumah,aku kira tuan tidak normal. seru pelayan itu dalam hati.


"dimana Papa?" tanya Iram pelan


"tuan besar ada dikamar dengan nyonya kedua." ucap Pelayan pelan,lalu dianggukan Iram.


"sampaikan padanya kalau aku ada dirumah,ada yang mau aku bicarakan padanya!" pinta Iram lalu menarik tangan Beyza mengikutinya naik tangga.


Beyza melirik keseluruh dekorasi rumah milik keluarga Iram. Ia cukup tertegun melihat dekorasinya tampak tak asing baginya.


apa jangan-jangan desain dekorasinya dari perusahaanku?. gumam Beyza tanpa sadar sudah berada didepan pintu kamar pria itu. Iram tersenyum miring melirik Beyza yang dengan senang hati mengikutinya.


cih semua perempuan sama aja. gerutu Iram menganggap Beyza sama dengan wanita-wanita ja**** yang diluar sana.


"hei!!" teriak Beyza saat sadar jika berada dalam situasi yang cukup berbahaya bagi dirinya. Ia pun melangkah mundur keluar dari kamar pria brengsek itu.


"kau sendiri yang mengikutiku...tapi katanya kau mau menikah denganku? kamar ini bakalan jadi milikmu juga kok." ucap Iram santai dengan wajah liciknya.


"cih,idih sebelum ada kata 'sah' jangan harap aku masuk dengan mudah kesini. sialan kau membuang waktu ku hanya menunjukkan kamarmu yang gak jelas ini!!" gerutu Beyza menatap tajam kearah pria didepannya. Beyza pun melangkah menuju anak tangga,langsung dicegah Iram.


"kau sudah masuk kedalam rumahku,jangan harap bisa keluar dengan mudah." remehnya menatap Beyza,Beyza langsung menepis tangan Iram yang mencengkram lengannya.


"kau meremehkanku tuan? baiklah kalau gitu kita taruhan!" tantang Beyza semangat.


"kalau aku menang melawan dua penjagamu didepan,kau harus membiarkanku pergi dan sisanya kau yang akan mengurus pernikahan kita. Tapi,jika aku kalah kau boleh melarangku pergi dan yaa mungkin kau langsung menikahkan ku dihari ini juga. bagaimana setuju? lagian keuntungan dalam taruhan ini banyak berpihak padamu??" ajak Beyza dengan semangat. Ia memang cepat berpikir dalam situasi sempit,mungkin ia harus rela mengorbankan masa lajangnya demi menguak rahasia dibalik kejadian yang menimpa keluarganya.


maafkan aku bunda,aku tau kalau pernikahan itu sakral dan bukan permainan,tapi aku tidak ada pilihan lain selain memilih pilihan ini. orang didepanku ini orang gila,jadi untuk menaklukkannya tentu saja orang gila sepertiku. Orang gila harus berhadapan dengan orang gila. lirih Beyza menatap sendu kearah lantai.


"kau tadi semangat mengatakan taruhanmu,tapi lihat wajahmu saja sudah murung duluan," ledek Iram melihat raut wajah gadis imut didepannya. Ia memang gemas melihat pipi tembam gadis itu,walau cukup kaget saat tau usia mereka hanya beda setahun.


ini mencurigakan,daritadi gadis ini tetap tenang aja membahas pernikahan seolah tidak akan terjadi apa-apa kedepannya,apa yang direncanakannya? tapi seperti yang dibilangnya,keuntungan taruhan banyak berpihak padaku,hmm gadis ini semakin menarik. gumam Iram dengan tatapan menyelidik.


"tidak perlu cemas,tenang saja sudah ku bilang keuntungan banyak berpihak padamu kan tuan..." Beyza kadang lupa dengan nama pria ini.


"jangan bilang kau lupa lagi namaku?" tanya Iram tepat sasaran,Beyza hanya menampilkan cengiran nya.


"Iram, lingat itu baik-baik diotakmu!" kesal Iram lalu berjalan menuruni anak tangga diikuti Beyza.


"baiklah,aku terima tantanganmu,kau bisa melawan penjagaku sekarang!" seru Iram lalu memanggil kedua penjaga yang berjaga didepan tadi kehadapannya.


"iya tuan muda?" tanya salah satu dari mereka.


"hajar dia sampai dia menyerah!" titah Iram menunjuk Beyza dibelakangnya. Kedua penjaga tadi kebingungan lalu saling melirik satu sama lain.


"kalian tidak mendengarku?!" geram Iram menatap tajam kearah kedua penjaganya yang masih setia berdiri ditempatnya.


"maaf tuan,hmm yang tuan maksud siapa ya?" tanya penjaga itu,ia berharap jika target yang ditunjuk tuannya bukanlah seorang gadis imut dibelakang tuannya.


"cih,jelaslah aku!" seru Beyza akhirnya mengajukan dirinya melihat kedua penjaga tadi tampak meremehkannya. Ia paling tidak suka diremehkan dengan tatapan itu. Mendengar suara gadis itu membuat mereka terkejut. Iram hanya menggeleng geleng kepala heran dengan gadis disebelahnya ini dengan sukarela mengajukan dirinya.


"apa kalian tidak percaya dengan kemampuan bela diriku?,ayoo kita buktikan sekarang juga!!" tantang Beyza membuat kedua penjaga tadi melirik kearah tuannya.


"seperti yang dibilangnya,ayo hajar dia!" seru Iram.


"satu persatu kan tuan?" tanya penjaga itu lagi.


"dua-duanya!" seru Beyza sambil menaikkan lengan baju keatas,sambil mengikat kepang satu ulang rambutnya.


Kedua penjaga tadi langsung maju dan mulai menyerang Beyza. Beyza dengan sigap langsung melintir tangan dan menendang 'masa depan' pria itu.


Pria tadi tertunduk kesakitan sambil memegang 'masa depan' miliknya. Pria yang satunya lagi menatap iba kearah kawannya,lalu dengan gerakan kuda-kuda ia serius melawan lawannya. Walaupun perempuan,tapi jika sudah membuat kawannya jatuh artinya perempuan didepannya ini tidak bisa diremehkan.


Pria tadi mengerang kesakitan memegang lengannya yang berdarah akibat keganasan gigitan Beyza. Pria tadi langsung mencekal tangan Beyza,tetapi tangan Beyza yang satunya lagi langsung memukul kepala pria tadi keras hingga tergeletak tak berdaya ditempat. Melihat hal itu,pria yang pertama tadi mengerang kesakitan 'masa depan' nya berdiri lalu menarik rambut Beyza dengan kasar.


"sialan!" gerutu Beyza lalu mencubit keras perut pria yang menjambak rambutnya. Namun karna tidak keseimbangan berdiri Beyza hampir terjatuh. Beyza memejam mata mengira dirinya bakalan mencium lantai,namun ia merasa ada yang menahan beban dirinya. Dibuka matanya perlahan,terkejut melihat sosok Iram sedang menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mata mereka saling bertatapan diam tanpa memperdulikan jika kedua penjaga tadi hendak melanjutkan perkelahian mereka.


Iran langsung mengkode kedua penjaga nya untuk berhenti. Ia merasa sudah cukup melihat kondisi memprihatikan kedua penjaganya.


"sudah cukup,kalian boleh pergi! obati luka kalian!"


titah Iram langsung dianggukan keduanya,mereka pun langsung pergi meninggalkan sepasang manusia berbeda jenis masih dalam posisi yang sama.


Beyza yang sadar langsung berdiri lurus sambil merapikan baju yang dikenakannya, "terimakasih." ucapnya tulus menatap Iram. Iram seketika tertegun melihat wajah Beyza.


"kau menang," ucap Iram lalu berjalan menaiki anak tangga, "aku akan menghubungi mu tentang pernikahan kita nanti,kau boleh pulang."


"nenek moyang mu boleh pulang!! hei aku pulang pakai apa?!" teriak Beyza kesal membuat Iram berbalik melirik gadis itu dari atas.


"ya pikirkanlah sendiri,kau tadi juga kan yang masuk kedalam mobilku sendiri. Nah kau cari saja tumpangan atau apalah gitu." ucap Iram berjalan santai kedalam kamarnya.


"brengsek sialan!" umpatnya lalu berjalan keluar dari rumah besar itu.


Tanpa ia sadari,jika wanita paruh baya melirik kearahnya sambil meneteskan air mata, "aku senang kau baik-baik saja nak." lirihnya lalu kembali masuk kedalam kamar suaminya.


Memang ia melihat semuanya,awalnya tadi ia sangat terkejut dengan kedatangan putrinya,dan ia pun ingin mencegah taruhan yang dibuat putri tomboinya itu. Tapi,saat melihat semuanya ia lega. Anaknya baik-baik saja,dan juga ia cukup tertegun melihat anak sambungnya menatap dalam kearah Beyza yang tengah bertarung tadi. Ia pun sadar jika anak sambung nya ternyata juga memiliki hati nurani yang baik.


***


Hazel dan Muaz kini berada direstoran tak jauh dari rumah sakit tempat Tresya dirawat.


"kau mau mesan apa?" tanya Muaz sambil melihat daftar menu ditangannya.


"aku ngikut aja."


"kau yakin?"


Hazel menggangguk pelan,lalu Muaz memesan dua steak daging dan jus jeruk.


"ternyata selera kalian sama," ucap Hazel membuat Muaz menyerngit bingung.


"kau dan kakakmu." ucap Hazel lagi.


"darimana kau tau? apa kalian pernah makan bareng?" tanya Muaz lagi.


"iya,waktu itu pertemuan pertama kak Bey denganku. aku tak menyangka awalnya kalau kak Bey adalah kakakmu Az,awalnya aku nggak mau datang tapi kakakmu tau soal kas—" Hazel langsung menutup mulutnya merutuki mulutnya yang cepat ceplos itu. Ia teringat kalau Beyza pernah bilang padanya untuk tidak memberitahu pada Muaz pertemuan pertama mereka.


sial mulut ini nggak filter dulu. gerutunya.


"kasus maksudmu?" tanya Muaz menyelidik,Hazel hanya diam tertunduk takut menatap mata tajam Muaz.


"sudah lupakan aja,aku tidak peduli juga dengan itu. Mau dia tau atau nggak kasusku,lagian tidak akan mengubah semua yang sudah terjadi kan."


Hazel mendongak mengangguk membenarkan apa yang dibilang Muaz.


"Muaz,please biarkan aku menyelesaikan kasusmu." bujuk Hazel sambil menunjukkan puppy eyes pada Muaz.


"tidak,kau bisa dalam bahaya." Muaz memalingkan wajahnya takut goyah dengan keimutan wajah istrinya.


"ayolah,please...aku janji akan menjaga diriku sendiri kok." bujuknya lagi sambil menggenggam tangan Muaz.


"aku nggak percaya dengan janjimu."


"lalu harus aku buktikan dengan apa?"


"buktikan pada ku kalau kau tidak akan menemui pria brengsek itu."


"haiss,gimana caranya menyelesaikan masalah kalau tidak mendekati Iram? kau kan tau sendiri dia ada sangkut pautnya dengan kasusmu itu."


"bisa dengan cara lain,tidak perlu harus menemuinya!" geram Muaz kesal saat mendengar nama Iram terucap dari bibir istrinya.


"cara lain? gimana?" tanya Hazel


"kau bisa minta bantuan pada atasanmu itu." jawab Muaz asal.


Hazel menatap datar, "dia sama sekali tidak membantu,haiis ayolah beri aku kesempatan." bujuk Hazel lagi menyakinkan Muaz.


Muaz menghela napas, "hanya kali ini saja Hazel,kalau kau dalam bahaya aku tidak akan mengizinkanmu kerja lagi." ucap Muaz tidak bisa dibantah lagi.


Hazel tersenyum lebar, "terimakasih sayang." ucapnya tanpa sadar membuat orang yang dibilang sayang membeku ditempat.


"apa? kenapa wajahmu jadi merah begitu?" tanya Hazel menatap wajah Muaz. Muaz langsung memalingkan wajahnya.


"maaf pesanan anda." ucap pelayan yang tiba-tiba datang menghampiri meja mereka,Muaz bernapas lega tidak dilirik lagi oleh Hazel. Mereka pun menikmati makanan mereka masing-masing.


Biasanya kalau difilm-film steak itu dipotong oleh pria baru dikasih dengan wanitanya,hmm apakah Muaz juga kayak gitu?? gumam Hazel melirik Muaz yang tengah memotong kecil-kecil steak milik pria itu.


"kenapa kau melirikku?" tanya Muaz menangkap basah Hazel.


"hah? tidak ada." jawab Hazel gelagapan. Ia pun terbengong melihat Muaz memasukkan potongan daging steak yang dipotongnya kedalam mulutnya sendiri.


huft,aku sepertinya terlalu berharap banyak padanya. lirih Hazel dalam hati,ia pun langsung memotong daging steak miliknya sendiri.


Saat Hazel memotong dagingnya, tiba-tiba piringnya direbut oleh Muaz. Lalu digantikan dengan piring milik pria itu. Tanpa ada percakapan,Muaz dengan santai memotong daging steak milik Hazel tadi. Hazel hanya diam menatap bengong kearah suaminya.


"kenapa?" tanya Muaz menatap Hazel


"ti-tidak apa-apa,terimakasih." ucap Hazel pelan sambil memasukkan potongan daging kedalam mulutnya.


Muaz langsung mengelap sisa saos di sudut bibir Hazel dengan jemarinya,lalu diemutnya dalam mulutnya sendiri. Hazel ternganga melihat kelakuan Muaz barusan.


"manis." ucap Muaz sambil tersenyum tipis


uhuk...uhuk. Hazel tersedak mendengar kata-kata ambigu itu dari mulut Muaz,dengan cepat ia menyambar jus jeruknya.


"kau meminum jus milikku." ucap Muaz sambil tersenyum manis membuat Hazel kembali tersedak lagi.


astaga,lama-lama aku bisa jantungan karna dia. gemas Hazel menatap senyuman manis Muaz padanya.