Shattered

Shattered
Bab 59



Hazel mengerjap pelan membuka mata dan tersenyum lega saat dirinya terbangun menampakkan suaminya. Ia ingat waktu sebelumnya dibekap oleh segerombolan orang. Bahkan dirinya begitu panik tidak menemukan Muaz disekitarnya.


"ka-kau ada dimana waktu itu?" tanya Hazel sesekali sesenggukan. Ia begitu syok dengan kejadian yang baru saja ia alami.


"tenang sayang,tenang aku ada disini. Sekarang kita harus cepat-cepat keluar." ucap Muaz yang terlihat banyak bercucuran keringat sesekali menatap sekeliling ruangan yang ditempati mereka. Hazel menyadari ada bau asap dibalik pintu tersebut,


"astaga Az,rumah ini kebakaran?!" pekiknya saat menyadari situasinya sekarang. Muaz mengangguk pelan,lalu mencoba mencari jalan keluar dari rumah itu. Sialnya,rumah dan jendela sudah terkunci rapat sehingga mereka tidak bisa keluar.


"huft,berpikirlah Az." ucap Muaz tidak sengaja menyenggol vas bunga disekitarnya,vas bunga itu menggelinding dibawah kasur. Muaz hendak mengambil vas bunga itu agar saat mereka berlari nanti tidak tersandung vas itu,untuk antisipasi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkannya.


Saat Muaz mengambil vas bunga itu,ia terkejut melihat ada pintu kecil dibawah kasur,membuatnya kembali berdiri.


"Hazel,turun dari kasur." pintanya langsung dianggukan Hazel,Hazel sendiri sudah mulai batuk-batuk karena mencium asap yang mulai menyengat.


Muaz dengan sekuat tenaga mendorong kasur itu bergeser kesamping dan menampakkan pintu yang sempat ia lihat tadi.


"Az,ada ruang ternyata dibawah ini." ucap Hazel saat melihat ada pintu kecil itu,Muaz mengangguk dan membuka pintu itu cepat, ia pun masuk kedalam memastikan tidak ada yang berbahaya didalamnya sebelum memasukkan Hazel kedalam sana. Setelah merasa aman,Muaz naik lagi dan menyuruh Hazel untuk turun duluan.


"kamu turun dulu cepat." ucapnya sambil membimbing Hazel turun melewati pintu itu. Tidak mudah menyeimbangkan posisi badannya agar bisa masuk kedalam. Dengan perasaan campur aduk tidak karuan,akhirnya Hazel berhasil masuk kedalam sana. Baru Muaz menyusul masuk kedalam sambil menutup pintu. Tidaklah mudah hanya berlindung diruang bawah tanah ini. Asap mulai muncul menembus pintu kayu kecil yang baru saja mereka lewati tadi. Muaz mencari cara agar mereka segera keluar dari rumah itu.


Sedangkan Hazel,ia duduk pelan di sebuah kursi sambil meringis pelan menahan rasa sakit perutnya. Hazel berusaha terus mengelus perutnya agar meredahkan rasa sakitnya.


"Az." rintih Hazel memanggil Muaz, rasa sakit diperutnya semakin menjadi-jadi. Muaz langsung menghampiri Hazel, "sayang ada apa? kenapa perutmu? sakit?" tanya Muaz khawatir. Keberuntungan berpihak padanya,ia melihat celah kecil dibalik lemari tua itu.


"Hazel tunggu bentar disini." ucap Muaz lalu berjalan pelan menuju lemari tua itu. Ia pun menggeser pelan lemari tua itu dan mendapati ada lubang yang lumayan besar. Muaz lega langsung mengambil palu yang ada ia dapatkan disana lalu meretakkan dinding yang berlubang itu cepat.


Hanya menumbuk kuat retakan dinding itu agar membuat lubang besar, berkali-kali ia menumbuk kuat hingga tangannya bercucuran darah.


Bugh...bugh


Hazel yang melihat itu merinding dan ingin menghentikan tindakan brutal suaminya,namun rasa sakit perutnya mengalahkan segalanya.


"ya ampun nak,jangan bilang kalian mau keluar sekarang??" lirih Hazel sambil menyangga berjalan pelan menuju Muaz.


Usaha tidak mengkhianati hasil,Muaz berhasil membuat lubang lebih besar agar Hazel bisa keluar.


"Hazel!" serunya saat Muaz melihat cairan mengalir disela-sela kaki Hazel. Hazel menahan nyeri sambil memegang perut besar.


"astaga Hazel,kau mau melahirkan?!" paniknya langsung membawa Hazel segera keluar dari rumah kebakaran itu. Ia terkejut,dinding yang ia hancurkan itu,ternyata ada ruangan lain didalamnya. Artinya mereka masih berada diruang bawah tanah. Muaz berjalan perlahan menuju ruang yang tertutup itu,ia pun membuka pintu perlahan mendapati ada sebuah kamar yang terlihat masih bersih dan rapi. Muaz memapah Hazel untuk duduk dikasur,ia pun bergegas membuka lemari dan lega mendapati beberapa kain bertumpuk didalamnya.


"Azz...sakiiiit!!!!" lirih Hazel merasa perutnya semakin menjadi nyerinya. Ia terlihat sesak napas sambil memegang perutnya.


Muaz begitu panik dan bingung harus melakukan apa,dirinya belum pernah masuk kedalam situasi seperti ini. Apalagi kini tidak ada tenaga medis disekitar mereka,membuat Muaz yang notabenenya tidak ada ilmu di kedokteran mau tak mau harus bisa melakukan sesuatu untuk istrinya. Untungnya ia sedikit tau tentang hal seputar persalinan yang sempat ia baca waktu itu.


Az,kau pasti bisa!!. Seru Muaz menyakinkan dirinya bisa membantu istrinya melahirkan. Muaz tidak menyangka anaknya akan segera keluar,padahal usia kandungan Hazel masih menginjak delapan bulan.


"Hazel,aku yakin kamu bisa sayang. A-aku mohon yaa kamu ba-bantu aku okee." ucap Muaz gugup,ia pun membantu Hazel membaringkan badannya,menggunakan alat seadanya,Muaz mengambil ember untuk menampung air. Muaz langsung membentangkan kain untuk menaruh anaknya setelah lahir nanti.


"fyuuuh,bismillah." ucap Muaz menenangkan dirinya. Hazel juga ikut mengatur napasnya pelan,agar dapat membantu suaminya bersalin. Dirinya tidak menyangka akan melahirkan saat ini juga.


Muaz mendadak termor,saat hendak melihat bagian inti istrinya. Muaz menghela napas pelan,sambil bersiap menyambut anaknya.


"oke,sayang kamu siap?" tanya Muaz melirik Hazel menggigit bantal untuk menahan rasa sakitnya.


"Hazel mulai!"


Hazel terus mengejan sesekali mengatur napasnya,dengan sigap Muaz melihat anaknya mulai keluar, "Hazel terus,kepala anak kita sudah muali terlihat!!" seru Muaz sesekali mengeluarkan air matanya tidak tega melihat istrinya kesakitan.


"Ooeek...ooeeek."


Akhirnya anak pertama mereka berhasil keluar,Muaz langsung menggendongnya dan berkaca-kaca menatap putra pertamanya sudah lahir. Ia tidak menyangka sekarang sudah menjadi Ayah. Ia pun memutus tali pusar anaknya,dan meletakkan di kain yang sudah ia siapkan tadi.


"Azz masih sakiit!!" lirih Hazel lagi,Muaz pun bersiap menyambut anak keduanya. Tak lama kemudian,anak keduanya keluar. Muaz menggendong pelan putra keduanya,ia pun melakukan hal yang sama seperti putra pertamanya.


Kelahiran anak mereka,membuat Muaz bahkan Hazel begitu terharu. Mereka tidka menyangka ditempat seperti ini akan melahirkan anak-anaknya. Muaz langsung membersihkan anak-anaknya dan mengazankan mereka berdua,setelah itu ia pun langsung membawanya ke tempat Hazel.


"Az." panggil Hazel,wanita itu kini terlihat pucat dan lemah.


"ada apa? kamu istirahat aja dulu,mereka berdua biar aku yang urus." ucap Muaz menatap istrinya,ia begitu kagum dengan perjuangan istrinya untuk melahirkan anak-anaknya.


Dengan mata kepalanya sendiri melihat proses melahirkan itu tidaklah gampang,butuh nyawa yang dipertaruhkan didalamnya,Muaz menangis pelan menatap kedua putranya kini sudah tertidur lelap.


"Az,kamu hebat sayang." puji Hazel lirih sambil sekilas menatap kedua putranya yang sudah tertidur pulas disampingnya.


"a-aku takut kehilanganmu Zel,serius aku tidak tau apa-apa tentang persalinan ini,gimana nanti kalau misalnya yang aku lakukan salah? gimana jika nanti kedua anak kita tida—" ucapan Muaz terhenti dikala Hazel memeluknya erat, terdengar isakan wanita itu.


"aku sangat mencintaimu Az,sungguh. Kamu pria yang hebat,aku salut dan bangga punya suami kayak kamu Az." isakan Hazel didalam pelukan Muaz. Muaz mengeratkan pelukan istrinya itu, "terimakasih sudah mau melahirkan anak-anak ku, terimakasih sudah mau menerimaku,terimakasih sudah mencintaiku dengan tulus Hazel. Aku juga sangat mencintaimu." lirih Muaz memejamkan matanya memeluk lebih erat istrinya.