Shattered

Shattered
Bab 34



"kak Bey?!" pekik Hazel tanpa sengaja ia menginjak pedal gas,untung saja rem tangannya naik. Muaz menatap tajam kearah kakaknya yang mengganggu waktunya berdua dengan istrinya.


"kapan kau disini?" tanya Muaz dingin.


sial berarti dia melihat semuanya dari awal. gerutu Muaz melirik kearah kakaknya lagi yang tengah menampilkan senyum evilnya.


"sepertinya yang kau pikirkan Az,hohoho ya ampun aku nggak nyangka kau bisa romantis juga." goda Beyza tepat sasaran.


Hazel hanya tertunduk malu,rasanya ingin mengubur dirinya sekarang sangking malunya menatap Beyza.


"haiis,kalian nggak usah malu-malu meong gitu...tenang saja Zel,aku sudah merekamnya kau bisa mengulang video itu terus diponselmu." ucap Beyza santai,ia pun langsung mengirim video yang direkam tadi ke ponsel Hazel.


Hazel hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal.


"kak,sejak kapan kau disini hah?" tanya Muaz jengah melihat kakaknya,rasanya ingin sekali menendang kakaknya keluar.


"sejak tadi dirumah sakit." jawab Beyza lalu sekilas menatap kearah belakang.


"darimana kakak tau kami disana?" tanya Hazel.


"tadi diantar sama Iram,tapi kita nggak bisa banyak bicara disini." jelas Beyza membuat mereka berdua menaikkan alisnya.


"apa kalian lihat ada mobil yang mengikuti kita daritadi,itu suruhan Iram."


"cih,kak kau malah bawa kami masuk perangkap juga?!" Muaz menatap mobil hitam dibelakang mereka.


"yah mau gimana lagi,sudah takdir." jawab Beyza santai.


"Hazel, kau bisa balap kan?" tanya Beyza menatap adik ipar kesayangan nya itu.


Hazel mengangguk,tetapi Muaz menatapnya tidak bersahabat. Hazel menoleh kearah Muaz.


"nggak boleh." tegasnya singkat,padat,dan jelas.


"kau ini nggak asyik banget." gerutu Beyza menendang pelan kursi Muaz.


"hei kau udahlah numpang,bawa kami masuk perangkap malah nyuruh istriku balapan!" gerutu Muaz menatap kakaknya.


"bla...bla...bla,rempong kali pun,istrimu aja nggak masalah ya kan Zel?" lirik Beyza kearah Hazel.


"jangan mau sayang." seru Muaz seketika mereka semua terdiam. Terutama Hazel yang mukanya sudah seperti kepiting rebus.


"buahahaha sayang?? dimana Muaz yang dulu??" ledek Beyza sambil tertawa terbahak-bahak. Hazel mulai memanas,ia melirik kearah luar tanpa sengaja ia melihat mobil dibelakang mereka itu semakin mendekat.


"kak,dia semakin mendekat." ucap Hazel sambil menurunkan rem tangannya. Beyza melirik kebelakang, "jalan santai saja,jangan membuatnya curiga dulu." ucap Beyza langsung dianggukan Hazel.


Hazel melajukan mobilnya tidak terlalu cepat,ia pun masuk ke daerah jalan raya.


***


Iram terus mengamati pergerakan anak buah Papanya. Ia tersenyum licik melihat rencananya yang dibuat Papanya. Tanpa sepengetahuan Liam,Iram masuk kedalam kamarnya.


Bahar terkejut dengan kedatangan Iram tiba-tiba mengendap masuk kedalam kamarnya,hampir saja Bahar teriak saat mulutnya dibekap Iram.


"diamlah." ucapnya pelan,lalu menatap pintu. Ia pun menoleh kearah Bahar. Iram langsung berjalan kearah nakas dan meletakkan sesuatu dibalik nakas itu.


Ia pun melirik sekilas kearah adiknya yang sedang tertidur lelap dikasur,dan menatap kearah Bahar.


"jangan bilang Papa,kalau aku meletakkan itu disana." pinta Iram setengah berbisik langsung dianggukan oleh Bahar.


"oh ya,kau tadi pasti tau putrimu datang kan?" tanya Iram menatap Bahar. Bahar terkejut karena tertangkap basah tengah mengamati mereka waktu itu.


"bagaimana kau tau?" tanya Bahar.


"tidak usah cemas,putrimu itu bisa menjaga dirinya sendiri. Harusnya kau yang mencemaskan dirimu,cepatlah keluar dari kehidupan kami. Aku sudah muak dengan ini semua." serunya dingin lalu berjalan keluar dari kamar.


"memang sudah lama aku ingin keluar dari kehidupan kalian,tapi aku selalu tidak bisa keluar dari sini." lirihnya pelan sambil menghapus air matanya.


Iram berjalan menuju mobilnya dan melajukan ketempat Beyza berada.


kau pasti menyadap ponselku kan?,aku ingin tau apa yang akan kalian lakukan nanti?. gumam Iram.


Sementara yang mendengar percakapan Iram itu terkejut saat mengetahui suara wanita yang sudah lima tahun ini tidak terdengar.


"kak Bey,apa kau baik-baik saja?" tanya Hazel khawatir melihat raut murung Beyza,mereka kini berada di apartemen milik Hazel.


Sedangkan Muaz ia sibuk mengawasi mobil yang mengikuti mereka dari jendela apartemen. Sesekali pria itu menoleh kearah dua gadis yang tak jauh duduk dari tempatnya. Bukan hanya Beyza tetapi Muaz juga terkejut saat tau keberadaan bundanya. Ia ingin rasanya mencabik pria brengsek itu yang membuat bundanya terkurung ditempat terkutuk itu.


"aku tidak apa-apa,tenanglah." sekilas Beyza menyeka air matanya,ia pun melacak keberadaan Iram saat ini.


kenapa Iram semakin dekat kesini? jangan-jangan?!. gumam Beyza langsung berjalan kearah balkon. Persis yang seperti dugaannya pria yang akan menjadi calon suaminya itu melirik kearahnya sambil menampakkan senyum tipisnya.


Hazel berdigik ngeri melihat senyuman Iram,ia pun menoleh kearah suaminya yang masih menatap tajam kearah pria itu.


"tapi aneh,kenapa dia tidak terlihat berbicara dengan orang berada dimobil hitam itu? apa benar itu memang suruhan Iram?" tanya Hazel pelan namun masih terdengar oleh Beyza.


"entahlah, sepertinya dia bakalan kesini." ucap Beyza langsung masuk kedalam ruangan,Hazel pun langsung mengikuti Beyza.


tok...tok...


suara gedoran pintu membuat ketiganya menoleh kearah pintu,mereka yakin orang yang menggedor itu adalah Iram.


"Biar aku saja yang buka." ucap Beyza langsung menuju pintu.


Muaz mengikuti Beyza dari belakang, berjaga-jaga agar sesuatu hal yang tak diinginkan tidak terjadi.


"hallo." sapa Iram ramah.


"hallo juga." jawab Beyza sedangkan Muaz hanya diam menatap tidak suka dengan kedatangan Iram.


"boleh aku masuk?" tanya Iram sopan,langsung dipersilahkan Beyza masuk.


"untuk apa kau kesini?" tanya Muaz ketus,ia pun langsung duduk disamping Hazel.


"hallo nona cantik." sapa Iram pada Hazel,Hazel hanya mengangguk pelan.


"cepat katakan apa yang mau kau bicarakan?!" gertak Muaz membuat Iram hanya menggeleng kepalanya pelan.


"apa ini caramu menyambut tamu? apa tidak bisa kita berbasa-basi dulu?" tanya Iram santai sambil melepaskan jaket miliknya.


"oh maaf,akan aku buatkan minuman dulu." Hazel langsung berjalan kearah dapur.


"apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Beyza menatap Iram.


Iram tersenyum tipis lalu mengangguk, "kau memang wanita yang cerdas." puji Iram


"apa kau yang ingin kau bicarakan?" tanya Beyza lagi bersamaan dengan Hazel datang membawa minuman untuk mereka,lalu duduk kembali disamping Muaz.


Awalnya niat Iram mendekati Hazel karena ia suka dengan gadis itu,tetapi setelah bertemu dengan Beyza. Ia lebih sering memikirkan gadis itu entah apa aura yang membuat ia selalu memikirkan Beyza.


Sebenarnya ia juga tau,jika wanita didepannya ini menikah bukan semata-mata menyukainya melainkan ada rencana terselubung dibalik itu. Ini juga menguntungkannya,terlebih ia akan menikahi gadis yang baik-baik bukan yang murahan.


"aku ingin menikah denganmu minggu depan." ucap Iram menatap Beyza.


byuur.


Mereka semua tak sengaja memuncratkan minuman yang baru saja mereka minum,terkejut dengan ungkapan Iram.


"apa?!"