Shattered

Shattered
Bab 48



Muaz tertegun setelah mendengar pernyataan itu dari Hazel. Dirinya hanya diam membeku menatap wajah istrinya.


"ha-hamil? anak kembar?" tanya Muaz tidak percaya,Hazel pun mengangguk semangat, "benar sayang,bukan satu tapi dua...hehehe kamu memang hebat!" puji Hazel langsung dijitak pelan oleh Muaz. Bisa-bisanya Hazel berpikir m*sum disaat keadaan mengharukan ini.


"aiih sakit!" ringisnya sambil memegang kening hasil jitakan Muaz. Ia pun langsung mengelus perutnya dan menatap tajam kearah Muaz.


"nak,lihat Papamu. Sudah KDRT sama Mamamu yang cantik ini. Besok kalau kamu dah lahir buat Papamu kewalahan ya nak." ucap Hazel melirik kearah perutnya seolah-olah ia tengah berbicara dengan anak dalam kandungannya.


Muaz menggeleng heran melihat tingkah Hazel," jangan dengarkan Mama,kalau kamu mau duit jajan dari Papa!" ancam Muaz balik sambil mengelus perut Hazel,Hazel pun berdigik ngeri menatap Muaz.


"www,bapak sultan mulai nih!" serunya menatap suaminya. Muaz tiba-tiba langsung mencium bibirnya dengan lembut. Hazel langsung membalas ciuman dari suaminya itu.


"terimakasih." ucap Muaz setelah melepas pangutan mereka. Muaz menyatukan keningnya dengan Hazel.


"eh,salah waktu." ucap seseorang diambang pintu,membuat mereka berdua menoleh kearah orang itu.


"Delia." panggil Hazel saat sahabatnya itu hendak pergi,Delia langsung melihat kearah keduanya.


"maaf banget ngganggu waktu berdua ya,aku tidak sengaja datang disaat waktu yang tepat." sesal Delia sambil mengatup tangannya.


"ya ampun Del,biasa aja lho,sini...sini." ajak Hazel pada sahabatnya,Muaz pun mengangguk kearah Delia seolah mengizinkannya masuk. Muaz membiarkan keduanya saling bercengkerama,sedangkan dirinya tengah mengecek sesuatu dalam ponselnya.


"Hazel,aku ada urusan sebentar. Kamu disini saja dulu sama Delia yaa,Del aku titip Hazel yaa." pamit Muaz pada keduanya.


"aku bukan barang Muaz yang dititipkan." gerutu Hazel menatap suaminya. Muaz terkekeh pelan," yaa maksudnya supaya kamu ada yang jagain sayang."


Hazel membuang muka layaknya merajuk,Muaz hanya menghela napas pelan. "hmm apa sembilan bulan kedepannya akan seperti ini jugaa???,hei nak Papa mohon jangan menyusahkan yaa." gumamnya pelan menatap perut istrinya. Muaz melangkah mendekati Hazel sambil mencium kepala istrinya itu.


"jangan merajuk dong,nanti mukanya jelek." ucap Muaz membuat Hazel menoleh kearahnya dengan wajah cemberutnya.


"nggak mau dimaafkan." elak Hazel menatap Muaz.


"astaga." ucap Muaz menggeleng-geleng melihat tingkah Hazel yang hormonnya naik-turun. Sepertinya ia memang harus banyak bersabar menghadapi bumil yang satu ini. Apalagi Hazel kini tengah mengandung kedua anaknya sekaligus.


"Yang kamu jangan marah dong,oke kamu mau dibelikan apa?" tawar Muaz membuat Hazel langsung sumringah menatap suaminya.


"aku mau martabak coklat." seru Hazel menggebu-gebu,Muaz langsung mengangguk," okee nanti aku belikan,kamu disini dulu sama Delia yaa." pamit Muaz berjalan keluar dari ruangan Hazel.


Setelah Muaz pergi,Hazel tampak cekikikan melihat kearah pintu,Delia tampak heran melihat sahabatnya yang satu itu. Jarang sekali,Hazel cekikikan sendiri.


"dasar kamu ini." ucap Delia menggelengkan-geleng melihat tingkah Hazel.


"ya ampun,aku bakalan ngerjain dia nih. Sepertinya seru. Nak,bantu mama ngerjain Papa kamu yaaa. Kita harus saling kerja sama!" seru Hazel sambil mengelus perutnya.


"wah,selamat Hazel sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu,udah berapa bulan?" tanya Delia.


"kata dokter tadi ini udah 6 Minggu." ucap Hazel mengingat apa yang disampaikan dokter sebelum Muaz datang.


"yang penting kalian harus sehat-sehat,jangan terlalu banyak pikiran Hazel,kasian anakmu nanti." ujar Delia sambil mengambil minum diatas nakas.


"oh ya ngomong-ngomong bagaimana perkembangan kasus suamimu? Kamu kan sering bolak-balik kantor akhir-akhir ini." tanya Delia menatap sahabatnya itu.


Hazel tampak berpikir sejenak, "kasus suamiku akan ku usaha kan cepat selesai,bukti yang ku kumpulkan juga sudah mulai cukup. Tapi,aku harus mencari bukti yang lain lagi." jelas Hazel menatap kedepan.


"kamu harus ekstra hati-hati Zel,pria yang bernama Liam tidak akan segan-segan menyakitimu."


"iya aku tau,bahkan tadi aku bertemu dengannya. Saat Bunda diseret ikut dengan pria itu." jelas Hazel,Delia tampak mengangkat alisnya tidak mengerti dengan apa yang dibilang Hazel.


"maksud kamu?"


"aku yakin kamu bisa memenangkan kasus ini Zel." dukung Delia menepuk pelan pundak Hazel seraya menyemangati sahabatnya itu.


"terimakasih." ucap Hazel tulus. Dalam hatinya ia bertekad akan membebaskan nama baik Muaz segera.


***


Lain halnya dengan Hazel dan Muaz. Pria yang sedang menghisap batang rokok itu berdiri di balkon sambil melihat pemandangan didepannya itu. Ia tampak memikirkan sesuatu.


"Tuan." panggil pelayannya membuat dirinya menoleh kebelakang.


"katakan." ucapnya sambil duduk dikursi dekat sana.


"Tuan,semuanya sudah siap." ucapnya,langsung dianggukan oleh pria yang tak lain adalah Liam.


"usahakan ini berhasil,jangan sampai gagal atau nyawa kalian taruhannya." ucapnya dingin membuat pelayan itu berdigik ngeri sekaligus berkeringat dingin.


"ba-baik tuan." ucapnya sambil pamit mengundurkan diri dari hadapan tuannya.


Liam kembali menatap pemandangan alam didekat villa yang ia bangun ditengah hutan untuk keluarga kecil impiannya itu. Semenjak ia menikahi Bahar,dirinya bertekad akan menyingkirkan siapapun yang menganggu keluarga kecil yang sangat mengharukan itu. Tidak peduli baginya,jika dirinya berdosa telah melakukan itu semua,yang penting ia mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini.


"aku akan menyingkirkan semua yang menganggu keluarga kecil kita. Akan ku pastikan hidup mereka tidak akan tentram." ucap Liam bermonolog sendiri,tanpa ia sadari jika ada seseorang dibalik pintu yang mendengarkan ucapannya itu.


"ya Tuhan,jangan sampai terjadi sesuatu pada anak dan menantuku. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada mereka." gumam Bahar pelan,lalu berjalan pelan mengendap-endap masuk kedalam kamarnya. Ia harus berhati-hati agar Liam tidak semakin marah padanya.


Bahar mendengar suara langkah kaki menuju ke kamarnya,ia pun segera masuk kedalam selimut memejamkan mata seolah-olah dirinya tidur. Tak lama kemudian,Liam datang dan langsung menghampiri Bahar.


Liam mengecup pelan kening Bahar sambil menyisingkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya itu.


"kau sangat cantik sekali sayang,aku bangga mendapatkanmu." ucapnya pelan sambil tersenyum melihat Bahar tidur. Ia pun melirik anaknya yang juga tidur disamping istrinya,dikecupnya pelan anak kesayangannya itu.


"putriku sangat mirip sekali dengan ibunya,ya ampun nak kamu lucu sekali." ucap Liam sambil memainkan alis Ara. Ara sedikit menggeliat saat ada yang mengganggu tidurnya,ia pun membuka matanya pelan dan melihat kearah Liam.


"papa." serunya pelan sambil mengucek matanya. Anak usia dua tahun itu tersenyum sambil menguap beberapa kali.


"tidur lagi nak,maaf Papa membangunkanmu sayang." ucapnya sambil menepuk paha anaknya agar Ara kembali tertidur dan benar saja tak lama kemudian Ara akhirnya tertidur pulas.


Baru saja Liam ingin tidur disamping anaknya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan anak buahnya yang menggedor pintunya.


Cih,awas kalau dia menyampaikan berita yang tidak penting,aku akan memenggal kepalanya itu. Gumam Liam dalam hati,ia pun berjalan gontai kearah pintu.


"Maaf mengganggu waktu istirahatnya tuan." tunduk salah satu anak buah Liam.


"katakan." titah Liam sambil melipat tangannya didada menunggu anak buahnya itu menyampaikan sesuatu yang penting padanya.


"tuan,tuan Muda Iram besok akan menikah." ucapnya pelan.


"lalu?" tanya Liam. Ia tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan anak-anaknya.


"dan kabarnya calon istrinya adalah nona Beyza Aysun Bark." ucapnya lagi.


Liam mengangkat alisnya satu saat mendengar nama calon istri yang akan menjadi menantunya kelak. Ia terkekeh pelan saat mendengarkannya.


"biarkan saja mereka menikah,pastikan pernikahan mereka lancar." ucap Liam langsung segera masuk kedalam kamar.


Iram anak kesayanganku itu,akan membawa jauh istrinya. Itu sangat membantuku untuk mengurangi orang yang akan mengusik istriku. Kali ini keputusanmu benar nak,Papa bangga padamu. Gumam Liam sambil menatap jendela kamarnya.