
Beyza menatap nyalang kedua manusia laknat didepannya ini. Kedua pria ini ternyata ada keterhubungan. Pria baya yang baru saja datang terkejut melihat salah satu tuannya diikat tak berdaya disana. Ini sangat mengejutkan baginya yang belum pernah ada satu orang pun yang berani melawan pria itu,kecuali perempuan disampingnya ini.
"kenapa liat-liat paman?!" tanya Beyza ketus pada pria yang menatap lekat kearahnya.
Pria tadi gelagapan, "ng-ngak ada" ucapnya gugup karena ia takut wanita bar-bar itu akan memukulnya lagi.
"sepertinya kalian saling kenal." ucap Beyza melirik Daren yang tengah menatap pria baya yang tak asing baginya.
"wah kalau gitu bagus dong,tuan Daren nggak kesepian lagi." serunya menatap Daren,lalu menyuruh anak buahnya memindahkan tempat duduk pria baya tadi disamping Daren.
"nah,kayak gini kan enak dilihat. yang satu bodoh,yang satu ceroboh." seru Beyza sambil menunjuk mereka berdua bergantian.
"kurang ajar kau!!" umpatnya tak terima dikatakan bodoh.
"ya kalau nggak mau dibilang kayak gitu,sekarang jawab!!"
Daren melirik kearah pria baya tadi seraya meminta pertolongan,pria baya itu juga menatap kearah Daren tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.
cih,percuma saja aku menggaji mu idiot!. kesalnya lalu ia menatap wanita yang sudah tiga hari menyekapnya disini.
seharusnya sekarang aku sudah bermain dengan wanita-wanita ku. gumamnya.
"cih pikiranmu kotor sekali." ucap Beyza membuat Daren terkejut menoleh kearahnya yang seolah-olah mengetahui apa yang dipikirkannya saat ini.
"ckckck dasar buaya,bayangin yang bening-bening kau udah menghayal kemana-mana." seloroh Beyza lalu melempar map kuning kearah Daren.
emosi Daren hampir naik saat map itu terlempar tepat diwajahnya. Ia sekarang ini ingin sekali mencabik wanita sialan itu.
"oops,maaf salah sasaran." Beyza memasang wajah tak bersalah.
"apa lagi yang kau tunggu,bacalah."
Daren lagi-lagi menatap kesal kearah Beyza,bagaimana dia bisa mengambil map yang jatuh itu sedangkan tangannya tengah terikat dikursi.
"ya ampun aku lupa kalau tanganmu diikat. Eddy cepat lepaskan ikatan kakinya!" serunya pada pengawal bernama Eddy itu.
Daren menatap heran,hanya tatapan bengong yang bisa ia tunjukkan sekarang saat si pengawal yang bernama Eddy itu melepaskan ikatan kakinya.
"nah udah lepas tuh,ambillah map tuh!" titah Beyza sambil tersenyum seringai. Daren mendongak kearah Beyza. Banyak umpatan kasar yang terucap dimulutnya itu.
"tidak usah nambah dosa tuan. ayoo ambil cepat map itu,kalau kau berhasil mengambilnya. kau boleh keluar dari sini." ucap Beyza membuat Daren tanpa berpikir dua kali berusaha mengambil map kuning itu dengan kedua kakinya.
Beyza menggeleng pelan melihat tingkah laku pria itu,lalu ia melirik kearah pria baya disamping Daren yang hanya diam menatap tuannya berusaha mengambil map itu.
"dan kau paman," ucap Beyza berjalan kearah pria baya itu.
"siapa yang mengutusmu mengintai adikku?"
"tu-tuan Ir-Iram." ucapnya gugup membuat Beyza menaikkan alisnya bingung.
"nyonya,pria yang disebutnya adalah pria yang waktu malam itu mengikutimu ke apartemen." jelas Eddy lalu dianggukan Beyza.
dia sudah melangkah lebih jauh dariku ternyata,orang ini sangat berbahaya dibandingkan pria idiot didepanku ini. gumam Beyza melirik kearah Daren.
Daren berhenti,lalu menatap Eddy, "Iram? apa dia yang melakukan itu?" tanya Daren tak percaya jika adiknya ada ikut andil didalamnya.
"kau siapanya dia?"
"dia adikku,tolong lepaskan aku sekarang! aku harus mencegahnya!" seru Daren menatap serius kearah Beyza.
"kenapa kau mau mencegahnya,apa alasanmu?"
"kau akan berterimakasih padaku nantinya,sekarang lepaskan aku! aku janji nggak akan kabur begitu saja."
"kau kan buaya,aku tak percaya dengan omong kosong mu itu,"
"Eddy! cari info tentang Iram dan juga keluarganya sekarang!!" titah Beyza dingin.
"baik nyonya." ucapnya langsung bergegas keluar dari ruangan itu.
sial,kenapa ini susah sekali diambil. umpat Daren.
***
Hazel melirik kearah Muaz yang tengah fokus mengemudi. Muaz yang menyadari jika daritadi Hazel memperhatikannya terus.
"ada apa?" tanyanya tanpa melihat istrinya.
"hmm..boleh minta tolong?" Ragu Hazel menatap Muaz.
"apa?"
"antarkan aku kerumah." ucap Hazel pelan.
"kita kan memang kerumah sekarang."
"bukan apartemen tapi rumah orangtuaku,aku ingin memastikan sesuatu disana." jelas Hazel lagi.
"kau ingin memastikan apa?"
"nanti kau tau sendiri." jawabnya melirik jam tangannya. Muaz diam tanpa membalas omongan istrinya,ia pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Hazel.
Setelah sampai Hazel langsung keluar berlari kecil menuju teras. Muaz hanya mengikuti dari belakang.
"nona?!" seru Hana terkejut dengan kedatangan nonanya yang tiba-tiba. Hana menyamai langkahnya dengan Hazel.
"dimana Mami?" tanya Hazel cemas. Hana langsung menunjukkan kamar tengah yang memang sudah lama tak berpenghuni,namun tetap dijaga dengan baik.
Hazel langsung membuka pintu,alangkah terkejutnya ia melihat Maminya duduk diam di kasur menatap kosong kearah depan.
bukankah Mami koma?,apa yang sebenarnya terjadi disini?!. Hazel langsung mendekati Maminya.
"Mami,ini aku." lirihnya pelan sambil menangkup pipi Tresya yang terlihat tirus itu. Hatinya terenyuh melihat keadaan Maminya saat ini.
"katakan padaku Hana,apa yang terjadi disini selama dua bulan ini?" tanya Hazel menoleh ke belakang melirik Hana yang hanya berdiri diambang pintu.
"sebenarnya nyonya jatuh dari tangga setelah bertengkar hebat dengan tuan. saya kurang tau apa penyebab mereka bertengkar,tapi waktu itu nyonya terjatuh dan mengenai kepalanya," jelas Hana menoleh kearah Tresya.
"tuan langsung membawa nyonya ke rumah sakit,nyonya sempat koma setelah kejadian itu...tapi setelah bangun nyonya hanya termenung dan tidak mengatakan apapun. saya juga sudah bilang pada tuan,tapi tuan hanya mengacuhkan saja. maafkan saya non,tidak bisa menjaga nyonya dengan baik." lirih Hana menunduk.
Hazel menghela napas setelah mendengar hal itu,ia begitu marah karena Papinya sudah berbohong padanya mengatakan kalau maminya memiliki penyakit kanker.
apa yang membuat mereka bertengkar?. gumam Hazel kembali menoleh kearah Maminya.
"Mami." panggilnya pelan. Sungguh ia tidak tega dengan keadaan Maminya sekarang. Rasa benci pada Mami yang sempat bersemat dihatinya kini hilang begitu saja. Hazel terus menyeka air matanya agar tidak jatuh,ia harus tegar didepan Maminya.
Tresya menoleh kearah Hazel,tidak ada jawaban atau satu katapun yang keluar dari mulutnya. Hanya menunjukkan ekspresi datar pada Hazel.
Muaz yang daritadi hanya diam berjalan kearah Hazel dan menyamakan tingginya dengan Hazel.
"maaf Mami,apa boleh aku membawa Hazel sebentar?" tanya Muaz pada Mami membuat Hazel menoleh kearah suaminya. Muaz mengangguk seraya memberi kode agar Hazel ikut keluar bersamanya.
Walaupun tidak ada jawaban dari Tresya. Mereka berdua tetap berjalan keluar dari kamar.
"aku titip Mami Han." ucapnya pada Hana,langsung dianggukan Hana.
"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hazel saat mereka sudah berada dibalkon.
"kejadian yang menimpa Mamimu ada hubungannya dengan pria yang ditemui Papimu." ucap Muaz.
"maksudnya?"
"pertengkaran mereka karna pria brengsek itu."
Hazel tiba-tiba menyadari sesuatu hal yang tidak masuk diakalnya, "tunggu sejak kapan Papi ada urusan dengan Iram?? kenapa aku baru menyadari hal itu?".