Shattered

Shattered
Bab 33



Muaz menatap layar ponselnya,ia melacak keberadaan kakaknya yang tentunya bersama pria brengsek itu. Ia menggeleng heran,kakaknya terlalu nekat bertemu langsung apalagi menyadap ponsel pria itu. Muaz belum tau jika Beyza malah meminta Iram menikahinya,entah jadi apa reaksinya jika ia mengetahui hal itu.


"bagaimana?" tanya Daffa yang baru saja masuk kedalam ruang kerja Muaz. Yap,setelah kesalahpahaman diselesaikan Beyza akhirnya mereka berdua berdamai walau kadang masih terasa canggung.


"seperti yang kau lihat,kakakku bersama pria itu." ucapnya masih fokus menatap layar ponselnya.


"apa tidak apa-apa jika kak Bey bersama dia?" tanya Daffa khawatir.


"tenang saja,kau tau sendiri kan kakakku orangnya seperti apa,percayakan saja padanya." jawab Muaz sekilas memandang Daffa.


"kau masih menyukai kak Beyza?" tanya Muaz membuat Daffa salah tingkah, Muaz yang melihat kegusaran Daffa menghela napas. Muaz tau jika perasaan Daffa hanya bertepuk sebelah tangan,Beyza pernah mengatakan padanya kalau kakaknya tidak bisa menyukai Daffa. Entah apa alasannya Muaz tidak ingin .


"kau tidak perlu menjawabnya Fa." seru Muaz lalu mengeluarkan dokumen dari lacinya.


"apa anak bawahmu sudah mendapatkan sesuatu Az?" tanya Daffa melirik dokumen yang ada ditangan Muaz.


"iyaap,tapi ini masih kurang." jawab Muaz sekena.


"kurang?" Daffa menyerngit heran melihat dokumen itu yang hanya selembar kertas.


"huft,disitu anak buahku hanya mendapatkan identitas nama pria itu doang,tidak lebih dari itu." Muaz langsung menyerahkan dokumen itu pada Daffa.


"nama pria itu Liam,selebihnya masih rahasia. Aku sedikit kagum dengannya yang pandai merahasiakan identitasnya selama ini. Terakhir dilihat pria itu berada di restoran,tapi setelah itu anak buahku kehilangan jejaknya." jelas Muaz menekuk dagunya.


"kalau kau terjun langsung mencarinya,itu malah akan memperburuk nama baikmu. Lagian sekarang namamu masih buruk dimata masyarakat." ujar Daffa.


"aku sih nggak peduli apa yang mereka bilang, buang waktu saja mengurusi hal yang tidak penting seperti mereka." Muaz berdiri lalu mengambil jaketnya yang tergantung di kursi kebesarannya.


"kau mau kemana?" tanya Daffa melihat Muaz bersiap-siap pergi ke suatu tempat.


"menjemput istriku." ucapnya sekilas lalu melenggang keluar. Daffa hanya melihat sekilas lalu menghela napas pelan.


"cih,dia ternyata sudah banyak berubah." ungkapnya pelan menatap pintu yang sudah tertutup lalu melirik kearah dokumen yang tergeletak diatas meja.


"aku harus membantunya mencari pria ini." tekadnya langsung melenggang keluar.


***


Muaz melirik jam tangannya sambil menunggu istrinya datang ke tempat parkiran. Sudah dua puluh menit ia tunggu,tapi belum melihat istrinya keluar dari kantor itu. Muaz langsung turun dari mobil sambil mengenakan masker berjalan masuk kedalam kantor Hazel.


"permisi pak,apa Hazel sudah keluar?" tanya Muaz pada satpam yang berjaga didepan


"hmm boleh tau anda siapa ya?" tanya satpam menyelidik penampilan Muaz.


"saya suami Hazel." ucap Muaz pelan lalu melirik kearah Delia yang tengah berjalan kearahnya.


"Delia." panggil Muaz membuat siempunya nama terkejut. Delia melirik curiga kearah Muaz.


"kau siapa?" tanya Delia sedikit memberi jarak pada laki-laki didepannya ini.


"Muaz." ucap Muaz pelan,Delia mengangguk namun beberapa detik kemudian ia mendongak kaget.


"eh? kau mencari Hazel disini kan?" tebaknya sambil menghilangkan rasa kagetnya yang berlebihan itu. Memang aura Muaz terlihat seram namun aura tampannya juga ikut mendominasi pria itu. Delia kadang-kadang sering terkejut jika berpapasan dengan Muaz.


"dimana dia?" tanya Muaz


"dia masih diruang kerjanya,kau temui saja dia disana. Aku pulang dulu." pamit Delia melenggang pergi keluar,Muaz kembali melirik kearah satpam yang bertanya tadi padanya.


"apa aku boleh masuk?" tanya Muaz lalu dianggukan oleh satpam itu. Ia pun langsung berjalan menuju ruang kerja istrinya. Sampai disana saat ia mau membuka knop pintu,ia mendengar suara dari tangga darurat yang tak jauh dari ruang kerja istrinya. Rasa penasaran membuat dirinya menuntun kearah sumber suara itu.


"tuan,maafkan saya." lirih gadis itu tertunduk melihat tuannya.


"kau tidak berguna! masa membuat Hazel masuk perangkap tidak bisa?!" bentaknya membuat gadis itu semakin ketakutan.


deg. Apa maksudnya? menjebak Hazel? siapa dia?. geram Muaz saat mendengar nama istrinya disebut-sebut.


"aku yang turun tangan,atau kau yang memperbaiki semua ini?! kau tau jika aku turun tangan kau yang akan kena dampaknya!" ancam pria itu sambil menjambak rambut gadis suruhannya.


"a-akan ku-kulakukan tuan,beri aku kesempatan." ucapnya gugup memohon pada tuannya.


"pergi dari sini!!" usir pria itu. Muaz langsung bersembunyi dibalik pintu saat gadis itu membuka pintu lalu berlari keluar.


"bos,maaf saya gagal menjebak gadis itu." serunya sambil menelpon seseorang.


"baik,tuan saya mengerti." pria itu langsung menutup teleponnya. Ia tidak menyadari kehadiran seseorang dibelakangnya.


Muaz langsung mendorong keras pria itu ke tembok. Pria tadi terkejut dengan kedatangan Muaz.


Muaz menatap tajam sambil menahan badan pria itu agar tidak lepas darinya.


"sialan siapa kau?!" umpatnya keras berusaha lepas dari cengkraman Muaz.


"siapa yang menyuruhmu melakukan ini?!" tanya Muaz tanpa memperdulikan umpatan pria didepannya ini.


"cih tidak akan ku beri tau!" bungkamnya membuat Muaz kesal lalu membenturkan keras kepala pria tadi ke dinding membuat darah segar mengalir dipelipis pria itu.


"arghhh" jeritnya


"aku tidak akan membiarkan mu lepas begitu aja!" Muaz melirik kearah ponsel yang ada disaku belakang pria itu,dengan cepat satu tangannya mengambil ponsel itu sedangkan satu tangannya lagi mencengkram kuat badan pria itu.


Pria tadi tidak sadar jika ponselnya udah diambil oleh Muaz. Muaz dengan cepat menyadap ponsel pria itu lalu mengembalikan ketempat semula.


"aku peringatkan kau jangan sesekali menyakiti Hazel,atau kau yang akan menanggung akibatnya!!" ancamnya lalu melepaskan pria itu. Pria tadi langsung menghajar Muaz tiba-tiba,dengan gesit Muaz menghindari serangan itu lalu mematahkan tangan pria yang menghajarnya tadi.


kreetek


Dengan cepat ia mendorong pria tadi sampai bertekuk lutut dihadapannya, "aku sudah memperingati mu,kau bawahan bos mu bukan? katakan padanya untuk menemui ku langsung,kalau dia nggak mau datang berarti dia hanyalah pecundang. Katakan saja itu padanya!!" titah Muaz menatap tajam,pria tadi yang mengerang kesakitan mengangguk kuat dan berlari ketakutan menuruni anak tangga.


Muaz meregangkan ototnya setelah pemanasan yang dilakukannya tadi,ia pun merapikan bajunya sebelum bertemu Hazel. Tapi sebelum itu,ia harus menemui gadis yang merupakan suruhan pria tadi. Muaz melirik sekeliling lorong,tetapi ia tidak menemukan gadis tadi. Perasaannya mulai tidak enak,ia pun langsung berlari kearah ruang kerja Hazel.


sial,jangan-jangan gadis itu ada didalam?!. gerutu Muaz langsung menggedor pintu kerja Hazel.


tok...tok...tok...


"Hazel kau didalam?" seru Muaz namun tidak ada sahutan dari istrinya. Tanpa aba-aba Muaz langsung menendang berkali-kali pintu ruang kerja Hazel sampai pintunya terbuka. Benar dugaannya jika saat ini gadis suruhan itu ada didalam bersama Hazel. Rasa khawatirnya kini berkurang saat melihat Hazel tengah membekuk gadis itu.


"Muaz,ternyata kau!" seru Hazel senang melihat suaminya datang ke tempatnya.


Muaz menatap tajam kearah gadis itu, tatapannya mengarah pada pisau yang masih dipegangnya.


"lepaskan pisau itu!" ucapnya dingin pada gadis suruhan pria tadi,dengan ketakutan gadis itu melepaskan pisau yang ada di genggamannya.


"siapa yang menyuruhmu?!" tanya Hazel geram ada seseorang ternyata berniat membunuhnya. Ia sebenarnya kasihan, tapi melihat tindakan nekat gadis itu ia tidak akan tinggal diam dan melaporkannya pada pihak polisi.


"tindakanmu hampir saja membunuhku,apa kau ada dendam padaku? atau kau ada masalah denganku? katakan sekarang!!" sarkas Hazel menatap tajam kearah gadis didepannya ini.


"aku akan melaporkan mu pada polisi atas tindakanmu ini!" ucap Hazel membuat gadis itu memberontak kuat. Karena sempoyongan Hazel tidak seimbang ia hampir jatuh jika Muaz tidak menangkapnya. Gadis tadi langsung mengambil pisau hendak mengarahkan kearah mata Hazel. Hazel langsung menutup mata saat pisau itu mengarah padanya.


Hazel merasakan cipratan mengenai wajahnya, perlahan-lahan ia membuka matanya terkejut melihat tangan Muaz berdarah tengah menahan pisau yang dipegang gadis itu. Luka tangan yang baru saja sembuh sebulan yang lalu kini kembali terbuka. Muaz langsung menendang kaki gadis itu cepat,hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh. Muaz melempar pisau itu jauh dari jangkauan mereka.


"sial." umpat Muaz meringis menahan nyeri ditangannya.


Gadis tadi berusaha bangkit dari tempatnya,namun saat ia berhasil keluar. Satpam menahan jalannya.


"lepaskan aku!!" jerit gadis tadi memberontak ketika satpam menahan tangannya.


"pak,tahan dia!!" teriak Hazel menatap tajam kearah gadis itu. Ia pun berjalan kearah gadis itu menatap nyalang.


plaak. Hazel menampar pipi gadis itu kuat, "ini hukuman buatmu agar kau sadar dengan apa yang kau lakukan!" geram Hazel lalu melirik kearah polisi yang berlari kearah mereka.


"pak,gadis ini hampir membunuh saya!" lapornya pada polisi itu,para polisi tadi langsung memborgol gadis itu dan membawanya ke kantor polisi.


Hazel menoleh kearah Muaz,dengan cepat ia langsung mengambil kain dan menekan luka ditangan suaminya.


"Az,lukamu dalam. Ini perlu dijahit ayo kerumah sakit!" paniknya sambil membalut luka itu dengan kain. Muaz hanya diam memperhatikan raut cemas istrinya,ia tersenyum tipis.


"hei! ini bukan saatnya kau tersenyum Az! lihatlah luka mu itu parah! ayo ikut aku!!" gerutunya menuntun Muaz keluar dari ruangan kerjanya. Muaz hanya pasrah mengikuti istrinya. Sebenarnya rasa luka ditangannya tidak terlalu sakit,tapi karena melihat raut cemas Hazel membuatnya urung dan membiarkan gadis itu mencemaskannya.


Entah tenaga Hazel yang kuat atau Muaz yang merasa lemas tanpa terasa mereka udah berada di rumah sakit. Muaz langsung didorong Hazel masuk kedalam ruang UGD agar ditangani cepat oleh dokter. Hazel merinding melihat luka Muaz yang dijahit oleh dokter itu,entah berapa kali jahitan itu keluar masuk dari kulit suaminya.


"selesai,nah pak pastikan lukanya jangan terkena air dulu sampai lukanya mengering. Nanti saya akan berikan salep untuk lukanya." jelas dokter tadi setelah mengobati luka Muaz. Mereka pun membayar dan mengambil obat itu lalu berjalan kearah parkiran.


"Az." panggil Hazel tengah mengendarai mobilnya,sedangkan Muaz duduk disamping kemudi.


"hm?" tanya Muaz sambil memejamkan matanya.


"kenapa kau bisa tau?" tanya Hazel


"tau apa?"


"aku dalam bahaya,tadi aja aku terkejut kau langsung mendobrak pintu kerjaku."


"tadi sebelum aku masuk,aku mendengar ada orang mau mencelakai mu. bukan cuma gadis itu tapi ada satu orang lagi." jelas Muaz melirik kearah luar.


Hazel terkejut,ternyata hidupnya juga dalam bahaya. Namun tiba-tiba ia teringat kakak iparnya yang belum kunjung memberinya kabar sampai saat ini.


"Az,bisa tolong ambilkan ponselku di tas?" seru Hazel,Muaz langsung mengambil ponsel Hazel dari tas istrinya itu. Ia tertegun melihat walpaper ponsel istrinya menampakkan dirinya sedang tidur dan Hazel tersenyum lebar berpose kearah layar.


"ternyata kau paparazi juga." ucapnya terkekeh pelan. Hazel langsung mengerem mendadak mendengar itu.


"a-apa yang kau lihat?" tanyanya panik takut Muaz membuka galeri yang menyimpan banyak fotonya dengan suaminya tanpa sepengetahuan suaminya. Ia sering mengambil diam-diam foto suaminya saat tidur.


"kenapa kau panik?" tanya Muaz menampilkan senyum tipis diwajahnya,ia semakin curiga melihat gelagat istrinya. "Ada yang kau sembunyikannya yaa?" tanyanya lagi membuat Hazel salah tingkah.


"hmm kembalikan ponselku Az." Hazel berusaha meraih ponsel yang ada ditangan Muaz,Muaz langsung mengangkat tinggi-tinggi ponsel itu. Ia semakin gemas apa yang disembunyikan istrinya. Hazel melepaskan seltbeltnya,badannya ia condongkan kedepan mendekati Muaz. Tangannya berusaha mengambil ponselnya.


sial,aku tidak bisa meraihnya,matilah kalau ketahuan mau taruh dimana wajahku nanti. paniknya tanpa sadar wajahnya sangat dekat dengan wajah Muaz. tangan Muaz langsung melingkarkan dibadan Hazel dan ia pun langsung mencium bibir Hazel. Hazel terdiam membelalak menatap Muaz. Muaz semakin memperdalam ciumannya membuat Hazel hampir kehilangan napas. Muaz langsung melepaskan ciumannya dan menatap teduh kearah istrinya.


"aku mencintaimu Hazel." ucap Muaz pelan,Hazel yang mendengar hal itu hanya diam tanpa berkedip.


aku mencintaimu Hazel,aku mencintaimu Hazel,aku mencintaimu Hazel,aku mencintaimu Hazel, aku mencintaimu Hazel. kata-kata Muaz terus berulang diotaknya. Antara percaya atau tidak,Ia pun langsung menatap Muaz.


"Az tampar aku!" suruh ya membuat Muaz menyerngit heran menatapnya.


"untuk apa aku menamparmu?" tanya Muaz


"menyakinkan diriku jika ini bukan mimpi." serunya lagi. Muaz terkekeh pelan sambil mengacak rambut istrinya. "kau mau aku menyakinkan mu kayak mana?"


Hazel langsung mengambil ponsel yang ada ditangan Muaz,lalu menyuruh Muaz mengulangi lagi pernyataannya.


"ulang lagi,biar aku rekam!" serunya sambil menyodorkan ponselnya pada Muaz.


"aku tidak mau mengulanginya lagi." Muaz pelan menatap datar istrinya. Hazel memelas menampilkan wajah imutnya didepan Muaz.


"ayolah." bujuknya sambil menangkupkan tangannya memohon pada suaminya. Muaz menghela napas,ia sebenarnya malu mengatakan kata-kata itu lagi.


"hei Az,ayolah." bujuknya lagi,Muaz hanya menatap diam kearah Hazel.


"kau sendiri belum bilang apa-apa padaku." Muaz mengalihkan topik.


"aku mencintaimu juga." ucap Hazel langsung,Muaz langsung terdiam. Tidak menyangka gadis itu dengan cepat membalas perasaannya.


"aku u-udah mengatakannya, sekarang kau lagi." Hazel sedikit gugup menatap Muaz. Ia berusaha menepis rasa malunya demi mendengar lagi pengakuan suaminya.


"aku mencintaimu." ucap Muaz lagi,entah Hazel tau atau tidak jika saja wajahnya kini terlihat merah malu.


"yes,berhasil kerekam!" seru seseorang dibelakang membuat mereka terkejut menoleh kebelakang.