Shattered

Shattered
Bab 43



Daren terkejut dengan pengakuan Iram,ia mengorek telinganya memastikan apa yang dikatakan adiknya bukanlah benar. Jika benar,makan kehidupannya tidak akan tenang. Iram yang dingin menikah dengan Beyza yang bar-bar itu,sudah pasti akan membuat dirinya semakin terpojok.


"seriuslah? menikah?! omong kosong apa ini?!" geram Daren menatap Iram.


"untuk apa aku menjelaskan padamu kak,atau kau takut jika kami menikah hidupmu dalam bahaya yaa?" tebak Iram tepat sasaran membuat Daren menelan salivanya.


Sial,aku harus mencegah pernikahan itu agar tidak terjadi!. tekad Daren dalam hatinya.


"kalau kau berani menghentikan pernikahanku kak,aku nggak akan segan-segan menyakitimu walaupun kau saudara kandungku!" ucap Iram dingin, seolah-olah tau apa yang dipikirkan kakaknya saat ini.


"cih,untuk apa kau menikah dengannya?"


"tentu saja,membangun rumah tangga. Aku tidak sepertimu yang gonta-ganti wanita." sindir Iram sambil menikmati buah jeruknya.


"kenapa harus Beyza? apa kau lupa dialah yang menculikku."


"apa itu ada hubungannya denganku? nggak kan." jawab Iram santai.


Daren yang begitu kesal tetapi tidak bisa melakukan apa-apa,ia pun keluar sambil membanting pintu.


braak.


Iram hanya tersenyum miring melihat kepergian kakaknya.


"kau begitu bodoh karena mengikuti emosimu kak,kau tidak tau kalau papa hanya manfaatkan kita untuk melindungi wanitanya itu." serunya pelan sambil memandang langit ruangannya.


***


Beyza berjalan cepat masuk kedalam apartemen adiknya. Disaat bersamaan Hazel dan Muaz tengah memasak bersama di dapur.


"hai kak." sapa Hazel mendapati kakaknya duduk disofa. Beyza mengangguk senyum,lalu ia kembali fokus menatap ponselnya.


"ada apa kak?" tanya Hazel saat melihat raut cemas diwajah Beyza.


"aku harus kembali lagi keluar negeri. Perusahaanku membutuhkanku." ucap Beyza pelan.


"kapan kau pergi?" tanya Muaz berjalan mendekati mereka.


"lusa,tepat hari pernikahanku dengan Iram. huft,apsti melelahkan hati itu." gusar Beyza sambil meneguk minuman kalengnya.


"apa Iram juga akan ikut denganmu kak? apa dia mau?" tanya Hazel.


"tentu saja dia akan ikut denganku,lagian dia suamiku." jawab Beyza lagi.


"kau yakin menikah dengannya kak?" tanya Muaz memastikan perasaan kakaknya. Pernikahan ini bukanlah main-main,walau sebenarnya Muaz tau jika Beyza bukan menikah karena rasa suka tapi ada sesuatu dibaliknya.


"iya,aku sangat yakin Az. Jangan mencemaskanku,aku akan baik-baik saja." ucap Beyza menyakinkan Muaz. Muaz menghela napas, "terserah kau saja kak."


Hazel sebenarnya juga ragu akan hal itu,tapi ia tidak bisa berbuat banyak untuk kakak iparnya itu. Selagi kakak iparnya bahagia,ia akan tetap mendukungnya.


"Hazel,jadi orangtuamu sudah baikan?" tanya Beyza menatap Hazel.


Hazel mengangguk," ternyata ini hanya salah paham kak,aku senang semuanya sudah baik-baik saja. Aku berharap tidak ada lagi permasalahan baru." ucap Hazel pelan.


"Aamiin Zel." ucap Beyza tulus. Ia pun melirik kearah adiknya, "Az,aku akan bertemu dengan bunda hari Jum'at,jadi kau mau ikut?" tanya Beyza.


"apa aman kita bertemu dengan bunda? kau tau kan pria Bangka itu bakalan melacak kita terus." Muaz tidak ingin mengambil risiko besar yang bisa mencelakai bundanya. Walau ia sangat ingin bertemu dengan bundanya,ia harus tetap waspada.


Beyza tampak berpikir mencari cara agar mereka dapat bertemu dengan bundanya.


"kau ada ide?" tanya Beyza kearah Muaz. Muaz berpikir sejenak, "ada." ucapnya membuat kedua gadis itu menoleh kearah Muaz.


"apa?" tanya Beyza.


Tepat mereka berbincang,ponsel Beyza berbunyi mendapat pesan dari Iram. Kebetulan yang bagus,mereka pun langsung menyutujui hari yang ditentukan Iram. Selanjutnya tinggal mereka melaksanakan rencana untuk bertemu dengan Bunda tanpa ketahuan oleh ajudan pria tua itu.


semoga rencana ini berjalan lancar. Harap Hazel tersenyum melihat kedua manusia didepannya ini. Ia sangat tau betapa antusiasnya kakak beradik itu untuk menemui bundanya.


***


Iram berjalan sedikit ragu menuju kamar mama tirinya itu. Entah kenapa saat ini ia begitu gugup menemui wanita yang dulu ia benci,karena merusak keharmonisan rumah tangga keluarganya. Saat ini,ia tahu jika dirinya salah. Bukan permintaan Bahar untuk melakukan hal semua ini,melainkan papa brengseknya yang membuat semuanya kacau karena obsesi berlebihannya itu.


tok.tok. Ia menggedor pelan pintu kamar itu. Sebelum ia menemui Mama tirinya itu,ia sudah memastikan jika Papanya sedang berada diluar dan tidak dalam kawasan rumahnya.


ceklek. Pintu itu terbuka dan keluarlah wanita paruh baya yang merupakan mama tirinya saat ini. Bahar terkejut dengan kedatangan Iram.


"ada apa nak?" tanyanya pelan sambil menutup pintu agar suara mereka tidak terdengar oleh anaknya yang sudah tertidur pulas.


"hmm bisa kita bicara sebentar?" tanya Iram pelan,membuat Bahar kembali terkejut dengan sikap lembut Iram tiba-tiba. Ia pun mengangguk pelan lalu mengikuti anak sambungnya dari belakang.


"silahkan duduk Ma." ucap Iram mempersilahkan Mama tirinya duduk. Lagi-lagi Bahar tertegun saat Iram memanggilnya mama. Ia ingin mendengar sekali lagi dari anak sambungnya,namun ia urung saat melihat wajah serius yang ditunjukkan Iram.


"ada apa?" tanya Bahar saat ini mereka duduk diruang kerja Iram. Iram menghela napas,


"maaf,selama ini aku memperlakukan mu buruk." lirih Iram. Sesekali Bahar menyeka air matanya tidak menyangka jika anak sambungnya itu meminta maaf padanya.


Walau pernikahan ini bukan kemauannya,ia menyayangi kedua putra sambungnya itu dengan sepenuh hatinya. Mereka memang kena imbas karena dirinya tiba-tiba masuk kedalam keluarga mereka. Wajar saja mereka membenci dirinya.


Bahar tersenyum, "ini bukan salahmu nak,ini salahku yang tiba-tiba masuk kedalam kehidupan kalian. karena aku juga,mama kalian jadi korban." lirih nya merasa bersalah.


"bukan,semua ini salah papa. Papa yang menyebabkan semua ini Ma," ucap Iram.


"aku menyuruh Mama kesini,karena ada hal yang penting mau aku katakan." ucap Iram menatap serius kearah mama sambungnyam


"apa?" tanya Bahar penasaran.


"Ma,mereka mau bertemu denganmu." ucap Iram.


Bahar menyerngit bingung, "mereka siapa?"


"Beyza dan Muaz." ucapan Iram sontak membuat Bahar terkejut. Bagaimana bisa anak sambungnya mengetahui anak-anaknya. Banyak pertanyaan yang terlontar dikepalanya saat ini.


"ba-bagaimana kamu tau?" tanya Bahar.


"aku bertemu dengan mereka. Ini permintaan anakmu Ma,mereka ingin bertemu denganmu."


Bahar ingin sekali menemui anak-anaknya yang sduah lama ia tidak temui itu. Apalagi Muaz,yang haru ikut terseret dalam penjara karena tuduhan palsu yang dibuat oleh suami barunya itu.


"bagaimana caranya aku bertemu dengan mereka?,kamu tau sendiri Papamu gimana,aku saja belum pernah menginjakkan kaki selama lima tahun ini." ujar Bahar.


"tenang,itu sudah kami atur. Tapi mama harus mengikuti rencana kami." ucap Iram lagi.


"baiklah." jawab Bahar sambil tersenyum senang.


Iram ikut senang melihat mama tirinya tersenyum, "Ma,ada satu hal lagi yang harus mama tau." ucapnya lagi memandang Mama tirinya sekaligus calon mertuanya.


"ada apa?"


"aku akan menikahi Beyza." ucap Iram dengan yakin. Tak lupa senyum lebar diwajah tampannya tercetak jelas.


Pengakuan Iram sukses membuat Bahar terkejut menatap kearahnya.


"a-apa?"