
Daren memegang erat gelas yang dipegangnya,marah menatap kedua pasangan yang saling berpelukan itu.
"kurang ajar siapa dia?!" ucapnya pelan menatap tajam. Daren mencari cara agar mendapatkan Hazel. ia pun melirik kearah Marsya yang kini tengah menatap kearahnya. dengan lenggak-lenggok Marsya menghampiri Daren.
"kau datang ke pestaku rupanya" seru Marsya bergelayut manja dilengan Daren.
"siapa kau?!" sarkas Daren melepas paksa tangan Marsya yang bergelayut dilengannya.
"sayang,masa kamu lupa sama aku,aku kan Marysa kekasih mu" manja Marsya memanyunkan bibirnya menatap Daren.
shit,aku ingat siapa wanita ini.ah apa aku harus manfaatkan wanita ini untuk dekat dengan Hazel?. gumamnya sambil tersenyum penuh arti
"kau kan hanya mantanku" ucap Daren datar
"no! aku tidak terima kau waktu itu putus denganku..aku sekarang masih menganggap mu sebagai kekasihku!" seru Marsya
"yasudah..kalau kau ingin aku tetap menjadi kekasihmu,kau harus melakukan sesuatu untukku"
"apa itu sayang?" tanya Marsya penasaran
"kau harus membantuku mendekati Hazel" ucap Daren menunjuk kedua pasangan yang saling berbincang sesuatu itu.
"apa?!" pekik Marsya membuat penghuni pesta menatap kearahnya,begitu juga dengan kedua pasangan yang sempat menjadi perhatian semua orang.
Hazel melirik heran gantian kearah Marsya dan Daren. Daren kesal dengan kehebohan Marsya,lalu berjalan meninggalkan ruangan pesta. Marsya yang tak terima Daren pergi begitu saja langsung mengejar Daren tanpa memperdulikan pesta miliknya yang tengah berlangsung.
"mereka saling kenal yaa?" gumam Hazel tapi masih bisa didengar oleh Muaz.
"kau" ucap Muaz dingin menatap Hazel
gleek. dengan gugup Hazel menoleh kearahnya menatap Muaz dengan ekspresi bersalah.
"maaf" cicitnya sambil menunduk
"ayoo" ajak Muaz menarik tangan Hazel keluar dari acara itu. mereka pun berjalan menuju mobil Muaz.
"Az,ini punya siapa?" tanya Hazel heran saat Muaz membuka pintu mobil itu
"masuk" titah Muaz tidak menjawab pertanyaan Hazel,Hazel yang melihat aura tidak bersahabat dari Muaz ia pun hanya menuruti suaminya masuk kedalam mobil itu. Muaz langsung melajukan mobil menjauhi area perkarangan pesta Marsya.
Hazel hanya diam sambil meremas gaunnya,menatap keluar melihat pemandangan malam dari jalan. Hazel menoleh sekilas kearah Muaz yang hanya diam fokus mengemudi,membuat suasana didalam mobil terasa sunyi.
"kita kemana?" tanya Hazel berusaha memecahkan keheningan
"kau lihat saja" jawab Muaz tanpa menoleh kearah Hazel. Hazel melirik kearah jas Muaz yang basah terkena minumannya.
"Muaz,buka saja jas mu..nanti kau masuk angin" ujar Hazel,tetapi Muaz hanya diam saja.
"astagfirullah,aku lupaa!!" pekik Hazel membuat Muaz langsung mengerem mendadak.
"apa??" tanya Muaz
"Delia masih disana,aku tadi pergi dengan Delia"
"lalu apa hubungannya dengan kita? biar ajalah dia cari sendiri untuk pulang"
"nggak bisa Az,coba aku diposisi dia..pasti cemas bukan??"
"aku mohon Az,kita balik lagi yaaa" sambungnya memohon pada Muaz. Muaz berdecak kesal langsung memutar balik kearah pesta tadi.
Akhirnya mereka sampai diacara itu lagi,terkejut orang banyak berlari larian keluar,Hazel langsung menahan seseorang yang lari dan kebetulan mendahuluinya.
"apa yang terjadi?" tanya Hazel
"a..ada se.. seseorang disana yang menahan wanita memakai gaun merah tadi!" pekiknya lalu berlari menjauh. Hazel teringat jika Delia juga memakai gaun berwarna merah,ia pun cemas berharap jika wanita yang ditahan bukanlah Delia. Hazel bingung dan memberanikan diri masuk kedalam ruangan itu.
"aku harus mencari Delia"
"hubungi dulu kawanmu itu cepat"
"astaga bagaimana aku bisa melupakan itu" gelaknya langsung mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. ia langsung menghubungi sahabatnya itu namun tidak ada respon darisana. Hazel terus menghubunginya namun lagi lagi tak kunjung diangkat.
"dia tidak menjawab teleponku Az" ucap Hazel cemas
"ya sudah,kita cari kedalam" ajak Muaz sambil memegang tangan Hazel. mereka masuk kedalam ruangan pesta yang kini sudah berantakan tak beraturan. alangkah terkejutnya mereka,saat tau wanita yang disekap sekarang adalah Delia sahabatnya.
"sial" umpat mereka bersamaan saat ada dua laki laki besar menghadang jalan mereka tadi masuk. Hazel melirik Delia menunduk sambil terikat tali,lalu melirik ke atas seorang wanita sedang tersenyum miring padanya.
brengsek kau Marsya,apa yang sedang kau rencanakan?!. geram Hazel menatap tajam kearah Marsya.
"hai Hazel,bagaimana seru bukan acara ulang tahunku ini??" ledeknya sambil melipat tangan didada.
"seru nenek moyang kau lah!,apa kau sudah gila menangkap sahabatku hah?!" sarkas Hazel
"hahahaha..aku cukup terharu dengan persahabatan sampah kalian,kau tau jika kau tidak pergi mungkin sahabatmu ini tidak akan seperti ini" jelas Marsya sambil menuruni anak tangga. ia pun menghampiri Delia yang sedang terikat,lalu menamparnya keras.
"aakh" rintih Delia menatap tajam kearah Marsya,Hazel langsung marah saat hendak menghampiri Delia tangannya dicekal oleh laki laki besar dibelakangnya.
"Hazel tenanglah!" ucap Muaz pelan. daritadi ia memang hanya diam menyaksikan itu.
"Az! bagaimana bisa aku tenang,lihat bagaimana dia berani menampar Delia?!..aku tidak bisa biar itu terjadi pada sahabatku!!" bentaknya langsung menoleh kearah Marsya.
"woi perempuan bandit!" serunya pada Marsya,Marsya yang mendengar hal itu jelas marah.
"apa?kau menyebutku bandit?? sialan..hei kau yang dibelakang bawa dia ke kamar sekarang!!" seru Marsya menatap Hazel sambil tersenyum seringai "sudah ada yang menunggunya didalam"
Deg. Hazel memberontak berusaha melepaskan cekakan pria dibelakangnya. dengan cepat ia menendang 'masa depan' pria itu dengan kakinya. pria tadi merasa kesakitan langsung menarik rambut Hazel kuat.
Muaz menghela napas kasar "jauhkan tanganmu dari istriku brengsek" menatap dingin kearah pria tadi.
"apa? istri??" terkejut Marsya menatap pria yang bermasker itu.
"buka paksa maskernya!!" titahnya,ia juga penasaran dengan wajah Muaz. pria besar dibelakang Muaz membuka paksa masker yang dikenakan Muaz. semuanya terkejut saat melihat wajah Muaz,tetapi tidak dengan Marsya yang menatap kagum dengan wajah tampan Muaz.
"tampannya!!" pekiknya berjalan mendekati Muaz
"jangan nyonya!!" cegah salah satu anak buahnya
"kenapa?!" Marsya menatap tajam kearah anak buah yang mencegahnya mendekati Muaz.
"di..dia pembunuh yang terkenal membunuh secara babi buta kedua orang tuanya sendiri!" serunya
"apa?" tanya Marsya menaikkan alisnya
Hazel melirik kearah Muaz yang tidak ada merespon dan hanya menatap datar.
dia tidak ada merespon apapun?? apa mungkin dia selalu seperti ini saat semua orang masih menuduh nya sebagai pembunuh??. gumam Hazel iba melihat Muaz.
"aku tetap tidak peduli,bagaimanapun dia akan tertarik padaku" bangga Marsya berjalan perlahan mendekati Muaz.
"kau benar benar rendah" ucap Muaz dingin,ia pun mendongak menatap dingin kearah Marsya. Marsya yang sebenarnya takut dengan tatapan itu,tapi ia tetap percaya diri berjalan kearah Muaz.
kreetek. Muaz melintirkan tangan pria yang mencekalnya lalu menghempasnya jatuh ke lantai. sontak membuat Marsya melangkah mundur perlahan. semua yang melihat itu langsung bersiap siap menghajar Muaz,
dengan cekatan Muaz menjatuhkan mereka semua hingga tak sadarkan diri. Marysa terkulai lemas melihat semua itu terduduk dilantai,Muaz dengan dingin berjalan kearah Marsya dan langsung menarik rambut panjang Marsya keatas
"aku tidak akan membuat kesalahan kedua kalinya untuk melindungi orang yang aku cintai" ucapnya dingin.
maaf telat up nya🥺