Shattered

Shattered
Bab 32



Iram memutar-mutar kursi yang diduduki sembari memegang kartu nama ditangannya. Terlihat senyum tipis diwajah pria itu saat memegang kartu nama gadis tomboi yang barusan ia temui tadi. Memang bukan gadis itu secara cuma-cuma memberikan kartu itu padanya,namun saat menolong gadis itu,Iram sempat mengambil kartu nama itu dari saku celana gadis itu.


"Beyza Aysun Bark,ckckckck ternyata dia saudaranya Muaz. Pantas aja dia mau membantu pria itu," gumam Iram terus memandang kartu nama milik Beyza.


"cih hampir saja waktu itu data papa dihack,untungnya aku dengan cepat menghacknya lagi." ucap Iram pada seseorang dibelakangnya,Iram langsung memutar kursi kebesarannya menghadap pria yang merupakan Papanya sendiri.


"apa maksudmu?!" tanya pria itu dingin duduk disofa sambil menyalakan rokoknya.


"Pa,data mu hampir dihack waktu itu. Kalau saja Papa tidak terobsesi dengan wanita ja**** itu mungkin Mama tidak akan mengambil jalan yang salah." sindirnya menatap sinis kearah Papanya.


Papanya hanya memandang sekilas kearah putra keduanya, "kau tidak boleh bilang itu pada Mama tirimu Iram!" tegas Liam,Papanya Iram.


"terserahlah,aku juga tidak peduli tentang kalian. Aku membantumu Pa agar kau memberikanku harta warisan padaku semuanya." ucap Iram terang-terangan. Jelas ia tidak suka bertele-tele dalam mengungkapkan sesuatu,toh ujung-ujungnya mereka semua bakalan tau rencananya.


"cih,harta terus yang kau pikirkan. Nggak Daren,nggak kau sama saja tidak bisa diandalkan." remeh Liam menatap anaknya. Ia dengan santai merokok dalam ruangan kerja anaknya.


"terserah Papa,ini terakhir kalinya aku membantumu Pa. Kalau identitasmu ketahuan,aku juga tidak akan peduli mau kau masuk penjara atau nggak nya," jelas Iram berdiri dari tempat dan berjalan kearah Papanya.


"sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Aku yakin tidak berapa lama lagi mereka akan tau pembunuh yang sebenarnya. Kita udah membuat anak dari keluarga itu sebagai pembunuhnya,aku yakin dia tidak akan tinggal diam setelah semua yang terjadi padanya. Berjuang lah Pa menyelamatkan dirimu sendiri." ucap Iram sambil tersenyum miring lalu berjalan santai keluar ruangan.


"oh...iya aku melupakan satu hal," ucapnya berbalik pada Liam.


"aku akan segera menikah,jadi jangan halangi aku." ucap Iram langsung keluar tanpa mendengar dulu jawaban dari Papanya.


Liam menggerakkan giginya geram dengan ucapan putranya,ia juga sebenarnya tidak peduli apa yang dilakukan anaknya selagi tidak merugikannya.


"terserah kau saja." ucapnya pelan sambil memikirkan cara menyelesaikan masalahnya.


#flashback On


Masalah ini semua berawal dari obsesinya pada wanita yang menjadi istrinya yang paling ia dambakan,yang paling ia cintai lebih dari apapun. Daya tarik wanita itu membuatnya melakukan semua ini,walau wanita itu sudah menikah tidak membuat perasaan cintanya pada wanita itu redup. Sangking menginginkan wanita itu ia rela membunuh apapun yang menghalanginya termasuk suami dari wanita itu sendiri.


Setelah mendapatkan Bahar,ia pun mengurung wanita itu selama tiga bulan sampai masa Iddah wanita itu habis,Bahar selalu memberontak dan berusaha kabur dari tempat itu. Namun,Liam terus mengancam akan menghabisi kedua anak Bahar, membuat Bahar menurut dan pasrah padanya. Setelah itu ia langsung menikah siri dengan wanita itu tanpa sepengetahuan istri pertamanya.


Memang Liam tidak membawa langsung Bahar kerumah utamanya. Ia pun membeli rumah yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya agar istri pertamanya tidak mencurigainya. Bahar dikurung dalam rumah itu sambil mengandung anak dari Liam. Liam sedikit memberikan kebebasan pada Bahar beraktivitas tetapi hanya boleh dirumah itu bersama pelayan dan penjaganya. Tidak boleh satu langkahpun Bahar keluar dari tempat itu.


Liam begitu senang dan bahagia,akhirnya keluarga kecil yang didambakannya terwujud untuk sekian lamanya. Liam tidak mencintai Sarah,istri pertamanya karena pernikahan mereka hanyalah sekedar mempererat bisnis perusahaan mereka masing-masing. Lain halnya dengan Liam,Sarah lama kelamaan mencintai suaminya. Bahkan dari pernikahan mereka,mereka dikaruniai dua putra yang tampan.


Namun dua bulan belakangan ini,Sarah mengetahui fakta yang disembunyikan suaminya dari belakang. Sarah murka dan mengumpat pada Bahar dirumah kediaman Bahar. Liam yang mengetahui hal itu,langsung menemui mereka.


"Liam apa-apaan ini!! kau menikah lagi?! dibelakangku?!" teriaknya sambil menunjuk kebencian pada Bahar. Apalagi kemarahannya semakin memuncak dikala Bahar sedang menggendong anak kecil berusia dua tahun. Sarah sakit hati melihat anak itu yang pastinya anak Liam,walau anak itu lebih mirip dengan ibunya tapi anak itu darah daging suaminya.


"sudah berapa lama hah?! sialan dasar ja****!!" umpatnya keras membuat bayi kecil itu menangis keras ketakutan. Bahar menunduk diam sambil memeluk erat anaknya.


"Sarah tenanglah!" seru Liam berusaha menahan Sarah agar tidak mendekati Bahar. Tapi Sarah terus memberontak membuat Liam menampar keras pipi Sarah.


"cukup hentikan!!" sarkasnya menatap tajam kearah Sarah. Sarah tersenyum getir menatap nanar kearah suaminya yang rela menampar dirinya.


"kau membelanya?! bukannya kau mencintaiku Liam?! apa ini,kenapa aku yang ditampar bukan dia?!" bentaknya lagi hampir menangis.


"karna dia yang aku cintai Sarah,aku tidak mencintaimu." ucap Liam santai seolah kata-kata itu tidak menyakiti hati wanita didepannya ini.


"brengsek,dasar be****h!! kurang ajar!!!" umpatnya sekeras-kerasnya pada Liam.


"lebih baik talak aku Liam! aku sudah muak dengan kebohonganmu selama ini. Kau bukanlah pria yang baik,kau munafik,kau sama seperti sampah dijalanan sana!!" umpat Sarah lagi.


" Ya sudah aku talak kau sekarang,hmm apa lebih talak tiga kali kah?" ucap Liam sambil tersenyum seringai menatap calon mantan istrinya.


Sarah tidak menyangka kata-kata itu mudah diucapkan suaminya,apalagi saat ini suaminya merasa tidak bersalah menalaknya.


"bagus,kau mengucapkan kata-kata itu dengan mudah. Aku pergi dari sini," ucap Sarah berjalan keluar rumah,lalu dia berbalik menatap nanar kearah Bahar, "kau wanita lebih rendah dari apapun!" ucapnya keras lalu berjalan cepat keluar rumah itu.


Sarah berlari menangis tersedu-sedu kearah mobilnya,Sarah langsung melajukan mobilnya dengan cepat,tanpa berpikir panjang Sarah dengan sengaja membelokkan mobilnya menabrak truk yang melintas dijalan yang sama,alhasil Sarah meninggal ditempat pada hari itu juga.


Liam bukannya sedih mendengar berita kematian Sarah ,justru ia bernapas lega. Hambatan dalam hidupnya sudah tidak ada lagi,ia dengan senang hati membawa Bahar dan anaknya kerumah utama.


Disaat rumah itu sedang berkabung dengan kematian Sarah,Liam justru mengumumkan status Bahar pada orang-orang dirumah itu. Ada yang menunjukkan ekspresi terkejut,marah,kesal,dan masih banyak lagi. Terutama kedua putranya yang menatap tajam dan seolah-olah membenci pada Papanya. Kedua putranya memang ada ikut andil dalam pembunuhan itu,tapi mereka tidak menyangka jika itu malah membuat Mamanya menjadi korban. Sejak itu Daren maupun Iram tidak peduli dengan apapun yang dilakukan Liam.


Liam terus mencari cara agar identitas tidak diketahui oleh musuhnya,ia pun menjanjikan kepada kedua putranya kalau identitasnya berhasil diamankan maka mereka boleh mewarisi harta warisan miliknya. Namun bukan mudah mendapatkan harta warisan miliknya,ia juga mengantisipasi jika kemungkinan anaknya akan membunuhnya,ia bisa mengancam dengan cara yang lain sampai kedua putranya itu tidak berkutik padanya.


#flashback Off


***


Iram bersenandung pelan menuruni anak tangga,ia sebenarnya masih berharap gadis itu kalah dan langsung menikah dengannya. Wajah gadis tembam itu masih terngiang diingatannya.


"hmm dirumah ini seperti kandang,lebih baik aku keluar ajalah." ucap Iram berjalan keluar,langkahnya terhenti melihat gadis yang sempat dalam pikirannya berada didepannya saat ini. Memang Beyza tidak melihat kehadiran Iram karena Beyza membelakangi Iram.


"kau masih disini?" tanya Iram menatap heran kearah Beyza. Beyza langsung mendongak kearah Iram.


"hei brengsek,pinjam ponselmu!" ucap Beyza menatap tajam kearah Iram,Iram tanpa menjawab langsung memberikan ponselnya pada Beyza.


"aku tidak membawa apapun kesini,kau juga sendiri tadi yang memaksaku ikut denganmu,ckckck kau memang pria yang gak ada hati membiarkan gadis imut didepanmu ini terjebak hujan." oceh Beyza sambil mengetik nomor diponsel Iram.


"kau pede sekali bilang dirimu imut." ledek Iram menatap rintikan hujan deras yang membasahi perkarangan rumahnya.


"terserah aku lah,kan aku yang punya mulut." ketusnya sambil menunggu dering dari seberang sana.


"kenapa kau tidak meminjam ponsel pelayanku atau penjagaku tadi? apa jangan-jangan kau mau menikah denganku cepat yaa?" goda Iram membuat Beyza langsung menginjak kuat kaki pria itu.


"enak saja,aku tadi kan udah menang,aku tidak melihat pelayan atau penjaga mu daritadi."


"kasian sekali gadis malang ini,udah terjebak hujan,tidak membawa apapun, berarti dari tadi kau hanya diam bengong selama dua jam duduk di teras nih?" tanya Iram langsung dianggukan Beyza. Ingin sekali rasanya Iran menertawakan kepolosan Beyza. Dimana sisi gadis tomboinya itu?.


"ayo aku antar kau pulang." ajak Iram tetapi malah membuat Beyza terdiam ditempat menatap kearahnya, "bukannya kau tidak mau mengantarku tadi? kalau tau gitu buat apa aku susah-susah menunggu disini!" gerutunya


Iram menahan tawanya melihat wajah cemberut Beyza, "kau kan bisa memanggilku tadi." seru Iram.


"iya yaa,astaga kenapa aku jadi telmi gini sih,ckck ini haiis dahlah, cepat antar aku pulang!" serunya langsung menarik tangan Iram.


Mereka pun berlari-larian menembus hujan sampai ketempat mobil Iram. Tanpa Iram sadari jika gadis disebelahnya ini sudah membuat perekam suara dirumah pria itu,bahkan ponsel Iram yang dipinjamnya sudah disadap oleh Beyza.


Sisanya aku serahkan padamu Hazel. gumam Beyza dalam hati. Ia berharap semoga rencananya berhasil.


Sementara gadis yang tengah menatap laptopnya, tersenyum tipis saat tahu kakak iparnya sudah berhasil menyadap ponsel Iram. Kini ia akan menyelesaikan masalahnya secara perlahan-lahan namun pasti.


astaga kak Bey,kau sangat berani sekali bertemu dengannya langsung. gumam Hazel takjub dengan kakak iparnya. Sepertinya Beyza akan menjadi idola Hazel.


"kamu udah gila ya?" tanya Delia menatap aneh kearah Hazel yang senyum-senyum sendiri. Hazel mendongak tersenyum kikuk kearah Delia


"oh,lihat sini!" ajak Hazel sambil mengayunkan tangannya kearah Delia.


"ini apa?" tanya Delia bingung dengan apa yang ada dilayar laptop Hazel.


"aku menyadap ponselnya Iram." seru Hazel.


"gila! tapi tunggu gimana cara mu menyadap ponselnya?" tanya Delia lagi.


"bantuan kakak ipar." seru Hazel,Delia langsung mengangguk paham. Ia menggeleng heran juga mendengar cerita kakak iparnya Hazel yang tomboi dan juga berani mengambil resiko. Ingin rasanya Delia menemui kakak ipar yang dipuji-puji terus oleh sahabatnya ini.


"apa kau perlu bantuan ku nggak?" tawar Delia,ia juga ingin cepat menyelesaikan masalah kasus Muaz.


"tentu saja,aku boleh minta bantuan mu nggak?" tanya Hazel langsung dianggukan Delia semangat.


"tolong antar berkas ini pada pak Edzhar." ucapnya membuat semangat Delia yang tadi begitu tinggi pupus sudah saat mendengar nama atasannya.


"hmm sepertinya aku sibuk Zel,oh iyaa aku tiba-tiba teringat ada berkas yang aku selesaikan. Aku pergi dulu!" ucap Delia langsung berlari kecil keluar ruangan.


"eh Delia,woi Del!!" teriak Hazel memanggil nama sahabatnya,namun siempunya nama sudah menghilang dari pandangan nya.


"cih awas nanti." gerutu Hazel lalu ia melirik dokumen didepannya.


"kenapa banyak sekali,apa mungkin karna aku fokus mengerjakan kasus Muaz,yang lain terbengkalai. huhuhuhu ingin rasanya pulang!" oceh Hazel lesu sambil membolak-balik dokumen dipegangnya.


Hazel berdecak pelan saat teringat jika dirinya harus mengantarkan berkas lain pada atasannya itu. Ia pun membenturkan kepalanya ke meja.


bisa-bisa aku gila . gumamnya lemas lalu menutup laptopnya dan berjalan lemas sambil membawa berkas ke tempat atasannya.


Hazel menggedor pintu atasannya lemas,namun seketika moodnya berubah melihat muka atasannya .


"buahahahaha pak,ya Allah pak kenapa muka bapak kayak badut gitu,hahahaha." serunya tertawa keras sambil memegang perutnya. Baru kali ini Hazel melihat atasannya yang berwajah badut. Setidaknya ia tidak sia-sia kesini.


Edzhar menatap tajam kearah karyawan laknatnya yang puas menertawakannya. Ia pun melirik tajam kearah lemari miliknya, seseorang dibalik lemari itu yang menjadi biang keroknya. Edzhar yakin seratus persen istrinya kini juga menertawakannya sekarang didalam lemari tempat persembunyiannya.


"ya Allah pak,hahahaha bapak abis darimana?" celoteh Hazel lalu terdiam saat ada suara berisik dari dalam lemari. Ia pun menoleh kearah Edzhar.


"pak,ada orang disitu?" tanya Hazel tepat sasaran


"ng-nggak ada." jawab Edzhar gelagapan.


Hazel menyerngit curiga, ia pun langsung berjalan kearah lemari itu. Edzhar yang melihat itu gelagapan,berlari kencang menahan lemari itu.


"bapak kenapa? apa jangan-jangan bapak menyembunyikan sesuatu?" tanya Hazel penasaran.


Hazel mencari cara agar Edzhar menghindar dari lemari itu,seketika ia langsung mendapat ide dan mengeluarkan ponselnya.


"Hallo Az." ucapnya membuat Edzhar berjalan kearahnya,dengan gesit pula Hazel berlari kearah lemari itu dan membukanya.


"eh kak Thalia?" terkejut kakak kelasnya berada didalam lemari,wanita itu tersenyum kikuk menatap adik kelasnya.


"halo Hazel." sapanya keluar dari lemari,ia pun kembali menahan tawa melihat wajah suaminya.


"ya ampun kak,ngapain sembunyi disitu?" tanya Hazel heran.


"tadi, pas kamu gedor aku terkejut refleks sembunyi dilemari." jelasnya sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal. Hazel menggeleng heran melihat kelakuan pasutri didepannya ini.