Shattered

Shattered
Bab 51



Hazel terus mencari bukti-bukti itu agar cepat selesai masalah kasus Muaz. Sudah hampir empat jam ia berkutik memecahkan teka-teki didalamnya.


"fyuuh, akhir-akhir ini aku sering kelelahan." ucap Hazel bersandar dikursinya.


"kau baik-baik saja Zel? mukamu terlihat pucat. Kalau kau lelah,jangan dipaksakan." ucap Delia khawatir memandang Hazel yang tampak kelelahan itu. Ia pun dengan cekatan,mengambil air hangat untuk sahabatnya itu.


"nah,minumlah dulu." ucap Delia sambil menyodorkan segelas air hangat padanya.


Hazel tersenyum lalu menerima air hangat itu, "terimakasih." ucap Hazel lalu dianggukan oleh Delia.


Delia melihat betapa gigihnya Hazel untuk mengungkapkan pelaku sebenarnya. Bahkan ia sering melihat Hazel bolak-balik kantor padahal wanita itu sedang berbadan dua.


"Hazel,dua paket yang misterius itu sudah kau buka? kan udah hampir sebulan paket itu tidak kau sentuh." ucap Delia mengingat paket misterius yang pernah dikirim untuk Hazel.


"iya juga yaa,aduh dimana kemarin aku letak yaa." ucap Hazel mencari-cari paket yang disimpan dalam laci kerjanya itu.


"dimana kamu kemarin letaknya Zel?" tanya Delia berjalan kearah meja Hazel.


"aku kemarin simpannya didalam laci,udah la nggak dibuka sekarang udah nggak ada." ucap Hazel lalu ia membuka lemarinya,mungkin saja ia sempat memindahkan paket itu kedalam lemarinya.


"coba kamu teliti lagi Zel,biar aku bantu nyari." Delia pun langsung membuka semua laci kerja Hazel mencari dua paket dari pengirim misterius itu. Sudah dua puluh menit,tak kunjung juga paket itu ketemu membuat Hazel semakin frustasi.


"cih,kemana sih???" gusar Hazel lelah mencari paket yang hilang itu. Ia pun langsung duduk dikursinya.


"nggak mungkin kan,paket itu diambil. Kamu selalu ngunci lacinya." ucap Delia ikut duduk disamping Hazel.


"tulah,aku juga tidak bisa menuduh siapapun dulu kalau belum ada buk—" Hazel merasa ada yang janggal,ia pun kembali membuka lacinya dan mengeluarkan laptopnya yang juga tersimpan dalam satu tempat dengan paket tersebut. Dengan cepat Hazel menghidupkan laptop dan membuka file penting didalamnya.


"sudah kuduga." ucap Hazel mengutak-atik laptopnya.


"kenapa?" tanya Delia bingung,ia pun melirik kearah layar laptop Hazel.


"file kasus Muaz hilang semua. Itu artinya dia yang menghapus semua data Muaz. Supaya tidak jadi terseret kedalam penjara." ucap Hazel mengamati laptopnya. Ia tampak terlihat tenang.


"lah,lalu kasus Muaz tidak bisa dipecahkan dong?" tanya Delia sedikit khawatir,tapi saat melihat wajah Hazel yang tampak tenang saja kembali membuatnya heran.


"Hazel,kamu nggak frustasi gitu kalau paket sama file suami kamu hilang?" tanya Delia menatap Hazel.


"nggak,tenang saja. Dengan dia melakukan hal itu,membuatku jadi bertambah buktinya kalau dia memang pelakunya. Aku juga sudah mempersiapkan dari awal tau akan terjadi hal seperti ini. Makanya aku copy dalam flashdisk untuk jaga-jaga." jelas Hazel sambil tersenyum tipis dan Delia menatap Hazel takjub.


"wah sungguh pintar sahabatku ini!!" puji Delia bangga.


"hahaha,biasa aja pun. Oh ya,aku dengar kamu lagi ngurus kasus pelecahan waktu itu kan?" tanya Hazel sambil meneguk air mineralnya.


"Hm,dan kau tau Zel? pria itu adalah kakaknya kak Iram." ucap Delia membuat Hazel memuncratkan air dari mulutnya.


"a-apa?" tanya Hazel sekali lagi,ia merasa tidak percaya jika mantan calon suaminya itu melakukan hal keji pada wanita. Untung saja dirinya tidak jadi menikah dengan Daren.


"iyaa,kasus ini cukup sulit mengingat status pria brengsek itu, yaa kamu tau sendirilah." ucap Delia pelan,lalu ia mengambil berkas kliennya dimejanya lalu ia perlihatkan pada Hazel.


"wow sudah lima orang jadi korbannya,brengsek juga tuh orang." geram Hazel menatap berkas ditangannya itu.


"aiih mulutnya tolong dikondisikan mbak,anakmu dengar lhoo." ucap Delia memperingati Hazel yang tengah mengandung itu,tidak baik untuk seorang ibu hamil berkata kasar. Ia berdecak pelan melihat ekspresi Hazel.


"tapi itu baru lima orang saja yang melapor,yang lain kayaknya masih ada tapi belum berani melapor." jelas Delia lagi,perkataannya malah membuat dirinya ingat saat nekat pergi ke hotel bersama pria itu.


"yang melapor nih mungkin saja termakan rayuan pria itu. Kalau yang nggak melapor biasanya dia udah terbiasa melakukan hal itu,kamu tau kan yang pekerjaan malam itu lhoo." jelas Hazel.


"keknya iyaa,ya udah lah nanti aku telurusi lagi kasusnya. Oh ya Zel sidang Muaz kan lima hari lagi. Kamu udah cukup bukti?" tanya Delia mengingat jadwal sidang Muaz untuk membersihkan nama baik pria itu dan membuat pelaku sebenarnya masuk kedalam jeruji besi.


"hmm cukup sih,rapi sebenarnya masih ada yang kurang." ucap Hazel. Ia juga sudah mewawancarai Ibu Ratih selaku saksi yang melihat semua kejadian pada malam itu.


"Hm,semoga saja itu cukup."


***


Hazel mengendarai mobil menuju apartemennya,kali ini ia harus lebih cepat pulang mengingat dirinya mudah lelah. Bahkan Edzhar selaku atasannya memaklumi keadaannya.


Baru saja Hazel hendak memencet password apartemennya ia tersenggol seseorang yang melintasi lorong apartemennya tersebut. Untung saja ia tidak jatuh.


"maaf mbak." ucap wanita yang menabrak Hazel tadi,Hazel hanya mengangguk pelan dan masuk kedalam apartemennya. Ia pun langsung berjalan ke dapur mengambil beberapa cemilan dikulkas.


"nyaaam, coklat nya lumer kaliii." girangnya sambil mengunyah coklat ditangannya. Tanpa ia sadari ada seseorang dibelakangnya tengah menatap Hazel,menunggu istrinya itu berbalik badan.


Muaz menghela napas melihat istrinya yang mulai doyan makan itu,setiap hari dirinya harus mengisi stok cemilan. Tak kunjung Hazel menyadari keberadaannya,dengan langkah lebar ia duduk disamping Hazel. Spontan Hazel memukul keras keras lengannya.


"aaaw,sakit!!" gusar Muaz mengelus lengannya yang habis dipukul kuat oleh Hazel.


"ku kira tadi maling lhoo,maaf suamiku." ucap Hazel sambil memegang dadanya,dirinya masih terkejut dnegan kedatangan Muaz yang tiba-tiba duduk disampingnya.


"mana ada maling yang duduk disini,kurang kerjaan kali dia." gerutu Muaz lalu mengambil coklat batang yang tengah dipegang Hazel.


"kembalikan,itu punyaku Az!!" protes Hazel berusaha mengambil coklat ditangan Muaz,Muaz pun meninggikan coklat itu agar susah digapai oleh Hazel. Hazel yang tak mau kalah dan menginginkan coklatnya kembali,ia pun mencondongkan badannya kearah Muaz tanpa ia sadari jika posisinya ini sangat berdekatan dengan suaminya.


"iiih kembalikan Az!!!" gerutu Hazel meraih coklat tersebut,melihat tangan Muaz hanya diam saja otomatis Hazel langsung merampas coklat itu dan duduk kembali seperti semula. "yey akhirnya,kau ingin sangat menyebalkan Az. Inikan coklatku,kalau kamu mau ambil sendiri sana." oceh Hazel kembali menikmati coklatnya.


Muaz yang terpaku tadi,melirik kearah bibir istrinya yang berlepotan dengan coklat,ia pun langsung tersenyum seringai menatap istrinya.


"okee,aku akan ambil sendiri coklatnya." ucap Muaz sambil tersenyum.


Hazel menoleh kearah Muaz, "ya udah ambil disa—" belum sempat Hazel menyelesaikan perkataannya,Muaz langsung menyosor bibir Hazel dengan lembut.


"terimakasih sayang,coklatnya manis." ucap Muaz setelah melepaskan pangutannya,ia pun menatap istrinya intens.


Hazel memberengut melihat kemodusan suaminya hanya bisa menghela napas pelan.


"Az." panggil Hazel lembut,Muaz yang asyik memakan coklat yang dipegang Hazel tadi menoleh kearah Hazel.


"kamu tidak ingin bertemu dengan anak kita??" tanya Hazel penuh harap. Muaz menyerngit bingung menatap Hazel, "dia kan belum lahir,masih ada delapan bulan lagi untuk bertemu dengan anak kita." ucap Muaz santai membuat Hazel memberengut kesal.


"malam ini tidur diluar!" ucap Hazel langsung berjalan kedalam kamar dan menutup pintu keras.


Braak.


Muaz yang melihat Hazel tiba-tiba marah, "kenapa dia marah padaku? apa aku ada ngomong yang salah yaa??" gumam Muaz pelan menatap pintu kamar Hazel yang sudah tertutup itu.