Shattered

Shattered
Bab 54



Daren merasa kesal dan begitu sangat membenci Iram. Adiknya itu tidak menepati janjinya agar dirinya tidak terjerumus ke meja hijau. Tapi nyatanya kini dirinya sudah duduk dihadapan para hakim yang akan mengintrogasinya secara mencekam. Apalagi wanita yang tengah duduk di sisi sebelah kanan ruangan menatap Daren dengan tersenyum meremehkan.


Cih,akan ku cabik dia!!. gumam Daren dalam hatinya. Ia ingin rasanya meminta bantuan Papanya itu,namun harapan hanyalah ekspetasi. Papanya pun tidak peduli terhadapnya,bahkan Papanya yang brengsek itu hanya menatapnya dari kejauhan tanpa melakukan apapun. Daren hanya menghela napas pelan,berusaha memberontak tidak akan membuahkan hasil,apalagi diruangan yang penuh banyak orang dan para aparat keamanan yang lengkap dengan senjata. Sudah pasti jika berbuat macam-macam Daren bakalan jadi mayat disini.


"Tuan Daren Alfred,anda digugat oleh saudari Edrea Zeline. Diduga telah melakukan hak susila tidak bermoral." ucap ketua Hakim yang membaca berkas kasus Daren.


"cih,sejak kapan aku melakukan hal itu?! dasar wanita ja***ng kau sendiri yang mau melakukan hal itu padaku!!!" ucap Daren tidak terima dirinya dituduh.


"tidak! kau membohongiku!! jangan percaya padanya ketua,saya korban disini!!" teriak Rea menatap tajam kearah Daren.


"tenanglah dulu Rea,kita bicarakan ini baik-baik dulu." ucap Delia menenangkan kliennya,ia pun langsung berdiri dan menatap hakim. "izinkan saya berbicara yang mulia." ucap Delia langsung mendapat persetujuan dari para hakim. Delia langsung mengambil berkas lalu membaca satu persatu berkas kasus Daren.


"itu tidak benar!!! dasar ja***ng!!!" sarkas Daren hendak berdiri dan mengejar Delia,tetapi dirinya lansgung ditahan oleh para keamanan.


"maaf tuan Daren,anda tidak berhak berbicara kasar seperti itu pada saya. Saya disini ingin mendapatkan keadilan yang pantas untuk para korban. Anda yang sebagai pelaku jangan suka mengeles pembicaraan orang." ucap Delia dengan nada tegasnya. Ia pun menatap tajam kearah Daren.


"Anda sudah terbukti telah melakukan hal sekeji ini. Jadi yang mulia tolong berikan hukuman yang setimpal untuknya." ucap Delia menyudahi pembicaraannya,ia pun langsung duduk disamping Rea.


tok.tok.tok.. Para hakim langsung berbincang mengenai bukti yang baru saja disebut Delia,setelah memutuskan sesuatu ketua hakim langsung membuka suaranya.


"ehem. Bukti yang ditunjukkan sudah kuat mengarah bahwa anda pelakunya. Dan untuk nona Edrea Zeline apa ada yang ingin Anda sampaikan?" tanya ketua hakim itu pada Rea.


"ada yang mulia,beri saya waktu dua menit untuk berbicara pada bajingan ini!!!" Rea pun berjalan mendekati Daren,ia pun langsung menampar keras pipi Daren.


"aku telah bodoh mencintai senyuman palsumu itu. Kalau saja aku tau dari awal,mungkin aku tidak akan sehancur ini. Kau membuat hidupku menderita,dan sekarang nikmati hidupmu didalam penjara sana." ucap Rea dengan angkuh kembali duduk ketempatnya. Daren langsung memberontak dan marah menatap benci pada sosok wanita yang pernah ia tiduri.


"oh ya aku hampir melupakan satu hal,aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kau berlutut dan mencium kakiku didepan semua orang." ucap Rea dengan tegas,sesekali ia menyeka air matanya yang sempat jatuh membasahi pipinya itu. Delia mencoba menenangkan perempuan malang disebelahnya itu.


Daren terus saja mengumpat satu kebun binatang saat dirinya dinyatakan masuk kedalam penjara seumur hidup. Membuat dirinya ingin kabur dari tempat terkutuk itu.


"lihat saja aku akan menghancurkan kau!!!" teriaknya keras saat dibawa paksa oleh para keamanan. Rea bernapas lega dan berterimakasih pada Delia.


"kita sudah memenangkan kasus ini nona Rea,anda tidak perlu khawatir lagi. Lagian sudah banyak awak media yang menyorot sidang tadi,saya yakin keluarga anda akan menerima anda kembali." ucap Delia.


"terimakasih,aku pergi dulu. Sekali lagi terimakasih bantuannya." ucap Rea meninggalkan ruangan sidang. Delia membereskan berkas-berkas yang sempat berserakan tadi,ia pun terkejut mendapati Hazel ada dibelakangnya.


"selamat Del,kamu memenangkan kasusnya." ucap Hazel senang sambil memegang cemilan ditangannya. Delia berdecak kesal melihat bumil satu itu tidak henti-hentinya makan.


"astaga Zel,kamu ini terus-terusan makan. Dulu kamu paling nggak semangat lho kalau soal cemilan." celoteh Delia sambil membawa berkas ditangannya.


"entahlah,sejak aku hamil,aku bawaannya ngemil trus,Muaz tidak marah denganku bahkan dia ngestok trus dikulkas." ucap Hazel santai,mereka pun duduk dikursi taman yang tak jauh dari kantor mereka.


"kamu sekarang nyaman tinggal dirumah baru?" tanya Delia. Ia tahu saat Hazel menceritakan semua yang terjadi diapartemen wanita itu. Kalau jadi Hazel mungkin dirinya begitu syok melihat orang mati tepat didepan matanya.


"nyaman kok,Muaz pandai nyari rumah yang cocok untuk gayaku." jawab Hazel lagi,tak lupa tangannya terus memasukkan cemilan kedalam mulutnya.


"akhirnya kalian jadi saling mencintaikan?? dulu kamu berniat nikah cuman agar terhindar dari perjodohan yang dibuat orang tuamu. Sekarang lihat,orang yang sempat mau jadi jodohmu sekarang sudah berada dijeruji besi beberapa menit yang lalu." jelas Delia sambil tertawa pelan.


"hahahaha iya juga yaa,aku tidak menyangka akan v


bisa mencintai Muaz begitupun Muaz,kau tau kan Muaz gimana dulu dingin kaliiii." celoteh Hazel.


"iya yaa,sekarang dia jadi suamihamble hahahaha." kekeh Delia lagi membuat Hazel juga ikut tertawa.


"ehem." suara seseorang membuat mereka yang tengah tertawa tadi menoleh kebelakang. Mereka berdua langsung terkejut mendapati Muaz menatap mereka.


"sudah puas ghibahin orang?" tanya Muaz menatap tajam kearah istrinya. Hazel menggaruk tengkuknya tidak gatal sambil cengengesan menatap suaminya. "sayang,ayo kita jalan-jalan!" ajak Hazel mengalihkan topik,ia pun bergelayut manja dilengan suaminya. Muaz hanya bisa menghela napas pelan, ia heran mengapa dirinya tidak bisa memarahi istrinya yang terlihat imut itu. Padahal dirinya dulu enggan berdekatan dengan wanita manapun yang menurutnya sangat merepotkan. perkataannya kini bagai menelan ludah sendiri,Muaz sudah terjebak dalam pernikahan yang sakral dan ia pun sudah meletakkan benih didalam perut istrinya,bukan hanya satu melainkan dua.


"ayah kau bangga padaku.Dulu kau pernah bilang padaku,akan bertemu dengan wanita yang baik dan ceria yang mengubah hidupku tidak suram lagi,sekarang aku sudah menemukannya yah,orang yang persis seperti yang pernah ayah bilang. wanita itu tidak memandang buruk padaku,aku tidak menyangka akan mendapatkan dirinya." gumam Muaz pelan saat melihat Hazel berjalan cepat menuju tempat eskrim yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"aku janji ayah,akan menjaga istri dan anakku sampai aku mengembuskan napas terakhir,begitu juga dengan bunda. Aku akan menyelamatkannya dari sana,aku janji itu!!!" gumam Muaz pelan menatap Hazel dari kejauhan.