Shattered

Shattered
Bab 23



Muaz menatap heran kearah istrinya "kenapa kau melihatku seperti itu?"


Hazel tersenyum lebar menatap lekat kearah suaminya "apa artinya kau akan tetap mempertahankan pernikahan ini??"


Muaz hanya mengangkat bahu. Hazel menggerutu kesal,Muaz selalu membuatnya penasaran. tetapi Hazel merasa ada yang janggal,ia pun menoleh kearah Muaz lagi.


"tunggu,bagaimana kau bisa masuk kedalam sana? sedangkan pesta itu hanya yang diundang saja yang datang" Hazel menatap Muaz.


gleek. Muaz menoleh kearah Hazel "apanya?"


"itu lhoo undangan pestanya"


"memangnya kau saja yang punya?,aku punya kenalan" elak Muaz


Hazel diam mengernyit bingung "yang ku tahu kau tidak ada kenalan dengan yang dipesta itu"


Muaz merasa terpojok,ia pun mencari cara lain agar keluar dari situasi itu "kenapa kau sangat penasaran? aku bukannya sudah melarangmu pergi kan?"


Hazel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "hehehe iyaa" cengirnya


"lalu,kenapa kau tetap datang juga??" tanya Muaz sedikit menaikkan nada bicaranya.


fyuuh selamat. seru Muaz dalam hati,ia berhasil mengalihkan topik.


"hmm aku tidak tau harus gimana menolak Marsya" lirih Hazel


"kau tidak harus menuruti kemauan orang setiap saat,jangan memaksa kalau nggak suka..kau itu bukan bawahannya,jangan terlalu baik pada orang" ucap Muaz pelan


"aku tau,tapi hati ku ini sepertinya terlalu baik pada orang,jadi aku segan untuk nolak"


"kau harus bisa nolak apapun yang tidak suka kau lakukan,jangan suka segan kau harus tegas" Muaz menepikan lagi mobilnya dipinggir jalan.


Hazel mengangguk mengerti,menghela napas berat.


"maaf sudah membuatmu khawatir" lirih Hazel pelan.


Muaz mengangguk pertanda memaafkan Hazel,ia pun melirik kearah luar,pemandangan malam yang indah dari tempat mereka berhenti. begitu juga dengan Hazel yang mengikuti Muaz dari belakang.


Angin malam yang menerpa kencang membuat Hazel kedinginan yang hanya memakai gaun panjang itu. Muaz langsung melepaskan jasnya dan memakaikan pada Hazel.


"terimakasih" ucap Hazel tulus,Muaz mengangguk lalu berjalan maju melihat pemandangan dari perbukitan daerah mereka berdiri sekarang.


"woaah sangat indah" kagum Hazel melihat pemandangan didepan matanya. Muaz hanya diam menanggapi istrinya.


***


Beyza menatap rumah yang sudah lama ia tidak lihat,rumah tempatnya suka dan duka kini menjadi rumah yang tak seperti dulu lagi.


"Bunda kau ada dimana?" lirih Beyza menatap sedih kearah rumah itu.


"aku janji bun,akan menemukan mu segera,bertahanlah disana bunda" tekadnya lalu tanpa sengaja ia melirik kearah kaca spion seseorang yang sedang memantaunya saat ini.


"wah ternyata pria itu tidak bodoh yaa" ledeknya lalau melajukan mobilnya menuju apartemen yang ia tinggal saat ini. ia membiarkan pria itu tahu tempat tinggalnya. Beyza langsung masuk kedalam apartemennya,ia pun langsung mengganti gaun meresahkannya itu dengan kaos oblong dan celana longgar panjang. setelah itu ia melirik jendela kearah mobil yang dikenakan pria yang membututinya tadi.


"bagus dia masih stay disitu" ucapnya pelan,ia pun langsung menghubungi bawahannya untuk berjaga jaga sambil menyamar.


"baiklah,kita lihat apa rencana selanjutnya? aku akan ikuti permainanmu tuan muda" serunya menunjuk kearah mobil pria itu. Iram terus mengawasi gerak gerik Beyza yang tersenyum miring padanya. Iram sedikit terkejut,wanita itu tau jika ia mengikutinya tadi. Iram memang penasaran dengan wanita yang tau tentang tragedi malam itu.


siapa dia sebenarnya? apa dia ada hubungannya dengan Muaz?? hmm menarik. gumamnya sambil tersenyum seringai.


"hmm aku akan dekatin dia,tapi pertama-tama aku harus mendekati Hazel dulu" gumamnya lalu melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen Beyza. Iram sendiri tidak peduli kakaknya disiksa atau apa nantinya,yang jelas tidak ada yang menganggu rencananya lagi. Sepertinya ia harus berterima kasih dengan wanita itu yang membantu mengurangi beban masalahnya.


Beyza melirik kearah luar,sudah tidak terlihat lagi mobil pria itu,ia pun langsung menutup tirai dan menghempaskan badannya ke sofa. ia yakin pria tadi akan melakukan sesuatu terhadapnya. Ia tidak peduli apa rencana pria itu akan membahayakan dirinya,yang jelas ia akan tau kalau pria tadi bisa menjadi umpan untuk memancing keluar pelaku pembunuh ayahnya yang sebenarnya.


"yuhuuu saatnya me time" serunya sambil menghidupkan laptopnya menonton film kesukaannya. Melupakan masalahnya sejenak adalah hal yang paling diprioritaskan Beyza. Beyza selalu santai dan tidak mengambil pusing masalahnya,ia lebih suka memecahkan masalahnya dengan kepala dingin.


***


sementara pasutri yang masih berdiam diri duduk menikmati udara malam yang sangat sejuk ditepi perbukitan. Tanpa peduli waktu telah menunjukkan pukul satu malam. Hazel merasa tenang dan damai disana,ia seketika melupakan masalahnya yang selama ini ia tumpuk.


"kau suka tempat seperti ini?" tanya Muaz penasaran menatap istrinya yang begitu menikmati udara malam. Padahal ia sendiri sangat kedinginan sambil mengusap kedua telapak tangannya berulang kali.


Hazel menoleh dan mengangguk pelan "coba pejamkan matamu Az,kau pasti akan merasa tenang" ujarnya


Muaz hanya diam itu hanya menurut istrinya untuk memejamkan matanya. benar,ternyata saat ia memejamkan matanya terasa damai dan tenang. masalah yang terus berputar diotaknya menghilang begitu saja.


"tenang bukan?" seru Hazel sambil menyenggol lengan Muaz. Muaz mengangguk pelan seraya menyetujui maksud Hazel.


"kalau aku tau tempat ini dari dulu,mungkin aku akan sering kesini untuk melupakan masalahku" ucap Hazel


Muaz hanya diam mendengarkan Hazel,ia membiarkan istrinya berbicara.


"kau tau Az,aku ingin sekali rasanya mami sama papi tidak memikirkan kerja aja..lihatlah mereka,sudah dua bulan kita menikah,tapi kedua orangtua ku tidak ada yang menanyakan kabarku" Hazel menarik napas pelan


"seolah olah aku ini beban mereka,kau lihat bukan saat kita ijab qabul dulu..kedua orangtuaku hanya datang setelah ijab qabul selesai,dah abis tuh mereka pergi begitu saja..tanpa melirik kearahku,kayak ucapan selamat kek,ucapan apa gitu setidaknya ada satu kata dari mulut mereka" lirih Hazel matanya mulai berkaca-kaca.


"ingin sekali..hiks..aku membenci mereka,tapi ti..dak bisaaa" pecah tangisan Hazel kuat,memang selama ini ia menahan sesak itu sendirian namun sekarang tidak lagi,ia ingin meluapkan semuanya disini.


Muaz menoleh sekilas kearah Hazel,ia hanya diam memperhatikan istrinya menangis tersedu-sedu.


"ka..kau ta..tau Az,hiks..sebenarnya aku ada niat ingin membu..bunuh..hiks diri" isaknya menatap kosong.


"kenapa kau tidak coba sekarang saja? tuh ada jurang dibawahmu" tunjuk Muaz kearah depan mereka. seketika Hazel berhenti menangis menatap tajam kearah Muaz.


"cih,kau bukannya menghiburku atau memelukku malah kau menyuruhku mati..huwaaa bagaimana bisa aku mempunyai suami kejam seperti ini"


Muaz terkekeh sambil tersenyum tipis melihat wajah sembab istrinya. "nggak jadi nih niatnya?" tanya Muaz lagi,Hazel memukul keras kearah lengan Muaz.


"sialan!! kau membuat moodku makin buruk!!" gerutunya sembari memukul lengan Muaz keras. Muaz meringis kesakitan berusaha menghindar dari serangan Hazel.


sial dia wanita tapi pukulannya kuat juga . umpatnya menghindar,ia pun langsung memegang kedua lengan istrinya tanpa sengaja malah menarik istrinya jatuh diatas badannya.


deg. mereka berdua diam saling melihat satu sama lain. seolah olah dunia milik mereka,mata Muaz membulat sempurna saat bibir Hazel menyentuh bibirnya. mereka berdua hanya diam tanpa ada yang mau bergerak sedikitpun dari posisi mereka.


"anj***r,aku lihat adegan mes*m!!" seru seseorang yang memergoki mereka. Muaz sontak mendorong Hazel membuat Hazel mencium tanah disamping Muaz.


"apa yang kalian lakukan?!" seru pria baya yang datang bersama pemuda yang memergoki mereka berdua.


sial,pupus sudah harapan. umpat Hazel lalu melirik kearah dua warga yang berdiri didepan mereka.


"kenapa kalian diam hah?!" sarkas pria baya tadi menatap tajam kearah mereka.


"pak,mereka mes*m!! segera nikahkan mereka!!" seru pemuda dibelakang pria baya tadi.


"te..tenang dulu pak! saya dengan dia sudah menikah" seru Hazel panik


"sudah menikah tapi tidak tau tempat!!,kalian malah mes*m disini!! mana buktinya jika kalian sudah menikah??" tanya pria baya membuat Hazel menoleh lagi kearah Muaz. memang saat ini mereka tidak ada membawa buku nikah mereka. Muaz menghela napas pelan.


"maaf pak,sepertinya disini salah paham,saya dan dia memang sudah menikah..tadi istri saya tidak sengaja jatuh makanya saya tolong tadi" ucap Muaz berusaha menyakinkan pria baya yang tak lain adalah ketua dari daerah tempat mereka berdiri saat ini.


"kalau begitu,lain kali jangan berbuat itu disini!! kalian bisa merusak pemandangan para jomblo" seloroh pria baya itu membuat Hazel dan Muaz menahan tawa.


"kenapa?! ada yang salah dengan perkataan saya hah?!" pria baya tadi kembali kesal melihat pasutri aneh didepannya ini. jika dilihat dari pakaian pasutri itu bukanlah dari kalangan bawah,sudah pasti mereka dari kalangan orang atas.


"maafkan kami pak" lirih Hazel


"ya sudah,sana pulang!!" usir pria baya tadi langsung membawa pemuda yang ikut bersamanya tadi.


Hazel dan Muaz menghela napas lega,lalu berjalan masuk kedalam mobil. Mereka berdua saling melirik


satu...dua...tiga...tawa mereka langsung pecah. Hazel terbahak-bahak mengingat kejadian konyol yang dialaminya dengan Muaz,begitu juga dengan Muaz. Muaz tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu dalam hidupnya. untuk pertama kalinya ia tertawa lebar setelah lima tahun masalah yang menggerotinya terus.


"sumpah ngakak kali hahahaha" seru Hazel sembari memukul berkali kali kearah dasbor mobil. Muaz cekikikan sambil memegang perutnya.


"sudah sudah fyuuh" Hazel menenangkan dirinya setelah puas tertawa. ia juga bahagia melihat Muaz tertawa seperti ini seolah olah tangisannya tadi tidak terasa lagi olehnya.


syukurlah,ternyata kau bisa tertawa lepas. gumamnya sambil tersenyum lebar pada Muaz. senyuman kembali pudar saat mengingat dirinya lebih dulu mencium bibir Muaz.


sialan,kenapa malah aku duluan yang cium dia sih. gumamnya malu sambil menutup wajahnya.


setelah mereka tenang,barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka pulang. senyum lebar tercetak di wajah keduanya,tidak lagi suram seperti awal mereka berangkat tadi. Malah sekarang mereka saling bertukar cerita tentang diri mereka masing-masing.


ternyata Muaz orangnya bisa juga terbuka seperti ini..aku senang melihatmu bahagia Az. gumamnya sambil mendengar cerita Muaz hingga tak terasa mereka tiba di apartemen mereka.


"astaga Az!" pekik Hazel membuat Muaz langsung menoleh kearah Hazel


"apa?"


"gilaaa!! udah jam empat aja sekarang" serunya menatap jam tangannya. Belum pernah sejarah ia keluar sampai jam segitu.


"lalu kenapa?" tanya Muaz sambil memencet password apartemen mereka. Setelah terbuka mereka langsung masuk kedalam apartemen.


Hazel langsung menyalakan lampu,melihat sekeliling apartemennya. Terkejut ada seseorang sedang duduk disana,ia langsung menghampiri orang itu dan matanya membulat sempurna saat melihat pria yang duduk disana yang tak lain adalah papinya.


"papi?!" pekiknya membuat pria tadi yang tertidur menunggu putrinya datang, terbangun mendengar suara putrinya.


"kamu lama sekali nak" gerutu Evran sambil merenggangkan pinggangnya.


deg. nak? tadi papi menyebutku nak? . gumamnya tak percaya,terbesit dalam hatinya gembira.


Muaz hanya diam saja berdiri didekat pintu melihat dari kejauhan ayah mertuanya. ia pun membiarkan ayah dan anak itu berbincang.


"papi kenapa kesini? ini kan sudah malam" tanya Hazel pelan


"sudah malam kamu bilang?! lihat jam berapa sekarang??" tunjuk Evran kearah jam dinding


Hazel hanya menggaruk tengkuknya tidak gatal,ia bingung harus menjawab apa pada papinya.


"papi,kenapa kesini? bagaimana papi tau apartemenku?" tanya Hazel


Evran hanya diam menatap putrinya yang sudah lama ia tidak lihat. Ia merasa bersalah telah menelantarkan putrinya yang cantik kurang kasih sayang dari mereka.


maafkan kami nak. lirih Evran menatap sendu kearah putrinya.


"papi? kenapa papi diam?" tanya Hazel lagi


"dari pak Emin,bagaimana keadaanmu nak? apa kamu baik-baik saja?" tanya Evran menatap lekat putrinya.


Hazel terkejut dengan tindakan papinya yang tiba-tiba lembut dan menanyakan kabar dirinya. Ada rasa senang terbesit dalam hati Hazel. Namun,ia ingin memastikan sesuatu sebelum rasa senangnya terua berlanjut. Tidak mungkinkan,baik dan lembut secara tiba-tiba.


"kenapa papi menanyakan diriku? bukannya kalian tidak peduli dengan keadaanku?" tanya Hazel dingin


"maafkan kami nak,selama ini kami menelantarkanmu"


Hazel menahan tangis agar air matanya tidak jatuh. "kenapa? apa kalian ada alasan sesuatu dibalik ini semua?"


"bukan nak,papi memang menyesal telah menelantarkan mu seharusnya kamu tidak menderita seperti ini" lirih Evran. Ia mengerti putrinya tidak akan mudah menerima maaf darinya.


"lalu dimana mami? kenapa hanya papi saja yang datang??" tanya Hazel


Evran bingung harus menjelaskan seperti apa ke putrinya. Namun mau tak mau putrinya harus tau kondisi istrinya saat ini.


"Hazel,mami kamu sedang koma" ucap Evran membuat Hazel mendongak kearahnya.


"apa? apa yang terjadi?!" tanya Hazel terkejut mendapat kabar tentang maminya.


"mami kamu ada kanker rahim,jadi bulan kemarin dioperasi..tapi setelah operasi,mami kamu nggak kunjung bangun" jelas Evran menatap Hazel


Mata Hazel sudah berkaca-kaca,ia sedih karena tidak tau maminya mempunyai penyakit ganas itu.


"antarkan aku kerumah sakit sekarang pi!!" serunya sambil menangis. Dengan cepat ia menukar pakaiannya,lalu ikut pergi bersama papinya begitu juga Muaz.


maafkan aku mi. lirihnya sambil menangis sedih.


~


~


~


like,comment,and favourite yaa,thank you🤗