Shattered

Shattered
Bab 53



Muaz memegang tangan istrinya yang kini memeluknya dari belakang. dalam hatinya ia sangat bersyukur jika istrinya baik-baik saja. Namun,ada yang janggal dipikirannya saat melihat kantong mayat yang tergeletak didepannya,ia pun menoleh kearah Hazel.


"katakan padaku,apa yang terjadi sebenarnya disini??" tanya Muaz menatap lekat kearah Istrinya,ia bersyukur Hazel baik-baik saja begitu juga dengan kedua calon anaknya.


"maafkan aku membuatmu cemas Az, aku janji tidak akan mengulangi ini lagi. Akan aku jelaskan semuanya,tapi tidak disini. Ayo ikut aku!" ajak Hazel menarik tangan Muaz keluar dari apartemen mereka. Kini mereka tengah duduk dimobil Hazel,keduanya masih diam dengan pikiran mereka masing-masing. Hazel langsung menoleh kearah Muaz,menggenggam tangan suaminya itu.


"kita sudah diincar Az,Liam mulai mengganggu kita." ucap Hazel membuka topik membuat Muaz yang mendengar nama Liam mengepalkan tangannya kuat. Hazel menceritakan semua kejadian yang terjadi padanya hari ini dimulai dari paket hitamnya sampai kejadian didalam apartemennya. Entah berapa kali Muaz menghela napas kasar saat mendengar hal itu semua dari Hazel.


"Ada sniper maksudmu?" tanya Muaz menyerngit kearah Hazel. Hazel mengangguk pelan, "aku tadi juga terkejut,apalagi darah wanita itu menciprat diwajahku." jelas Hazel.


"yang penting kamu baik-baik saja,dan kita tidak bisa tinggal disini lagi. Untuk sementara kita nginap di hotel dulu." ucap Muaz memandang Hazel,Hazel pun mengangguk setuju. Mereka langsung menancapkan gas meninggalkan area parkiran apartemen.


***


Sementara disisi lain pria yang baru saja menembak dari jarak jauh menghempas snipernya asal,dan menatap tajam kearah pengawal didepannya.


"tidak becus!!!" sarkasnya membanting semua apa yang didekatnya,membuat semua yang melihat tuannya marah hanya diam dan tidak berani berkutik.


Liam kesal dengan anak buahnya yang tidak berhasil menangkap Hazel,ia pun mencegah wanita bayaran sialannya itu mengatakan bahwa dirinya yang memberikan uang itu padanya. Jika tidak dicegah,dirinya akan terseret dalam pidana. Liam berputar otak agar para lalat itu menghilang dari hidupnya dan juga hidup istrinya. Semenjak istrinya bertemu dengan anak-anaknya,Bahar terlihat enggan mengobrol dengannya walau hanya sebentar. Apalagi setiap Liam baru saja pulang,Bahar terus sudah tidur duluan.Hal itu membuat Liam sangat frustasi dan akan membunuh orang yang meracuni pikiran istrinya.


"apapun itu,lakukan rencana selanjutnya!! kali ini jangan ada yang gagal." titah Liam menatap tajam kearah anak buahnya. Mereka menggangguk dan segera melaksanakan perintah tuannya. Liam berdecak kesal,duduk dikursi smabil memijat kepalanya.


"apa papa butuh bantuan?" tanya Daren sambil bersandar dipintu,suara Daren membuat Liam menoleh kearahnya. "emangnya kau bisa apa? sudah sanalah jangan mengangguku!!!" ketus Liam lalu meneguk Vodka miliknya.


"Papa belum tau kemampuanku,tapi sudah menilainya. Cih,apa aku tidak bisa membuktikan itu padamu Pa?" ujar Daren langsung duduk disamping Papanya. Liam sedikit penasaran dengan rencana anaknya, "apa yang kau rencanakan."


"mudah,kita tinggal mancing mereka ke markas kita." ucap Daren menatap Papanya sambil tersenyum seringai.


Liam mengerti dengan maksud Daren,ia pun tampak menyetujui rencana yang dibuat Daren. Menepuk pelan pundak anaknya merasa bangga memberinya ide brilian disaat ini. Sekilas ia menatap kamarnya yang tertutup,lalu menatap ke depan sambil memikirkan rencana yang bagus agar tidak terjadi kesalahan seperti tadi.


"kau benar nak,ckck kenapa aku tidak memikirkan kesana,padahal kelemahan mereka ada ditanganku. bagus...bagus Papa bangga padamu sekarang." ucap Liam sesekali tertawa,lalu berjalan ke arah kamarnya. Sedangkan Daren menatap kosong duduk dibalkon menatap langit malam.


"cih,aku sudah melakukan apa yang kau suruh Ram,tepati janji kau!!" ucap Daren menelpon adik laknatnya itu.


"okee." ucap Iram langsung mematikan teleponnya sepihak dari sana. Iram tersenyum seringai menatap jendela kamarnya.


"sudah dua Minggu kita disini,aku mencemaskan mereka. Aku tidak menyangka Papamu akan melakukan hal itu pada adikku." lirih Beyza saat mendapat kabar dari mata-matanya. Ia ingin sekali pergi menemui adiknya namun,Iram berkata padanya jika dirinya pergi menemui adiknya maka adiknya lebih dalam bahaya. Sekarang Beyza paham situasinya yang dihadapinya sekarang. Ia pun menuruti rencana suaminya itu.


"maafkan aku,Papaku terlaku obsesi dengan Bundamu,aku tidak bisa berbuat apa-apa mencegahnya,yang harus kita lakukan buat Papaku masuk kedalam penjara." tekad Iran sambil mengelu s kepala istrinya.


"iyaa,itu harus," ucap Beyza menatap bangunan tinggi didepannya.


"tapi Ram,kau ada janji apa dengannya?" tanya Beyza penasaran,Iram menunjukkan layar ponselnya pada Beyza.


"sahabat adik iparmu memegang kasus kakakku,pengacara itu sudah banyak memiliki bukti ditangannya." jelas Iram lagi.


"oh iya ngomong-ngomong aku pernah dengar dari Hazel,tentang paket hitam itu. Apa kau selama ini yang mengirim kado itu padanya?" tanya Bezya menyelidik suaminya.


Iram menggeleng, "bukan,paket itu hanya kode saja. Jika Hazel pintar mungkin saja dia sudah memecahkan kode itu." ucap Iram santai,ia pun tampak menikmati buah anggur hitam yang lezat itu.


"semoga saja dia paham kodenya." ucap Beyza dalam hati.


Tok...tok...


Suara gedoran membuat mereka berdua menoleh kearah pintu tersebut, Iram langsung membuka pintu saat mendapati anak buahnya mengunjunginya.


"info apa yang kalian berikan untukku?" tanya Iram pada anak buahnya. Mereka mengangguk,lalu menunjukkan foto-foto keberadaan Muaz dan Hazel saat ini. Setelah melihat foto itu ia pun langsung menyuruh anak buahnya terus mengawasi kedua adik iparnya,terutama Hazel yang sedang mengandung anak Muaz saat ini.


"kita lihat sejauh mana Papa berani bertindak." ucapnya pelan menatap foto-foto itu.


***


Muaz dan Hazel kini sudah berada di hotel bintang lima,dimana mereka memesan kamar yang paling besar. Hazel sebenarnya tidak mau kamar sebesar itu,tetapi saat melihat sorotan tajam yang ditunjukkan Muaz membuatnya enggan menolak keinginan suaminya itu.


"tidurlah,aku mau mandi bentar." ucap Muaz langsung berjalan ke kamar mandi,sedangkan Hazel merebahkan dirinya dikasur sambil menatap langit kamar hotel yang diukir cantik dan mewah itu. Masih terbayang olehnya wanita yang ditembak mati didepannya langsung,belum pernah ia melihat secara langsung seperti itu. Tetapi,Hazel tidak ingin Muaz mencemaskannya jika dirinya gelisah,Hazel mencoba berusaha tenang seperti yang ia lakukan sebelumnya.


"tarik napas hembuskan..." ucap Hazel berulangkali. Muaz hanya diam menatap istrinya dari kejauhan tengah menetralkan cemasnya, Muaz tahu jika Hazel kini tidak baik-baik saja. Ia sangat yakin,ia begitu syok saat wanita suruhan Liam dibunuh langsung tepat didepan matanya.