
Liam duduk sambil menikmati minuman keras yang ada ditangannya saat ini. Kini ia sedang berada dirumah tua yang jauh dari pemukiman warga. Liam menatap lima anak buahnya yang selalu setia bersamanya.
"ada dimana mereka?" tanya Liam menatap kelima anak buahnya. Salah satu dari mereka mengangkat tangan dan menyerahkan sebuah amplop padanya, "kami menemukan mereka sedang berlibur didaerah ini tuan." ucapnya sambil menunjukkan bukti yang ia dapat.
"bagus,awasi mereka terus." ucap Liam sambil merenggangkan ototnya,tubuhnya hampir kaku selama dipenjara. Liam memandang foto keluarga kecilnya yang tampak harmonis menurutnya itu.
"aku kangen kalian sayang,tunggu aku." ucapnya sambil mengecup pelan foto yang ia pegang.
"tuan." panggil anak buahnya lagi,Liam menoleh kearah anak buahnya itu. "hm?"
"tuan saya ingin menginformasikan bahwa nyonya besar ingin bercerai pada tuan. Gugatan cerai sudah diserahkan pada hakim." ucap anak buahnya sedikit gugup menatap tuannya. Tentu saja membuat Liam sangat murka saat mendengar hal itu, "kurang ajar! apa yang kalian lakukan selama ini hah?!" sarkasnya sambil melempar gelas ke dinding hingga pecah berkeping-keping.
"aku sudah menyuruh kalian agar Bahar dan Ara tidak keluar dari rumah itu. Kalian ini tidak becus!!!" hentaknya lagi sambil mengepalkan tangannya.
"ma-maafkan kami tuan,nyonya ternyata diam-diam melakukan hal ini,nyonya memang masih dirumah tuan tapi kami baru tau tadi tuan."
"sekarang,ambil gugatan cerai itu,bunuh siapapun yang menghalangi. Pastikan kalian tidak ketahuan,atau aku sendiri yang memotong leher kalian!" titahnya sekaligus mengancam. Anak buahnya langsung mengangguk pelan,dan berjalan pelan meninggalkan ruang Tuannya.
"apa yang kau lakukan Bahar? apa cintaku masih kurang??" gumamnya pelan sambil mengusap kasar wajahnya.
***
Hazel terbangun dari tidurnya,ia melirik kearah Muaz yang masih tertidur pulas. Hazel melirik jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Hazel langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang kenalannya.
Setelah ia mendengar kabar yang mengejutkan itu,Hazel sedikit khawatir sambil melirik kearah Muaz. Ia mengelus perut besarnya pelan berjalan kearah jendela kamar villa sambil melihat langit malam.
"sudah kuduga,tidak semudah itu melawan Liam. Kalau kayak gini harusnya dihukum mati." gumam Hazel pelan,ia sepertinya harus lebih hati-hati lagi mengingat kemarin sore ia melihat sosok bayangan yang mengintai mereka waktu ditepi danau itu.
"aku yakin itu adalah anak buahnya Liam,cih ternyata kami masih dalam masalah." gerutunya pelan. Hazel tidak ingin memikirkan terlalu jauh tentang masalah ini atau bisa mengganggu anak-anak didalam perutnya.
"kau sedang apa sayang?" tanya Muaz sambil mengucek matanya,ia pun memeluk Hazel dari belakang sambil sesekali menguap.
"Az? kau bangun?" tanya Hazel terkejut dengan kedatangan Muaz dari belakang.
"kau tidak ada disampingku,makanya aku bangun. Ada apa?" tanyanya menatap Hazel dengan lekat.
"aku tadi terbangun sayang,jadi aku melihat-lihat langit." ucap Hazel bohong.
"tidak,ayo kita tidur lagi. Masih ada waktu untuk istirahat Az,tapi peluk aku yaa tidurnya." ucap Hazel manja sambil menarik Muaz masuk lagi ke kamar mereka.
Maaf Az, lagi-lagi aku tidak bisa memberitahumu yang sebenarnya. lirih Hazel sambil tersenyum simpul pada Muaz.
Aku tau kau tidak akan memberitahuku Zel,aku mendengar percakapan ditelepon. Aku tidak ingin membiarkanmu dalam bahaya lagi. gumam Muaz sambil menepuk pelan pundak Hazel,agar istrinya tidur.
Mereka pun akhirnya tertidur,ralat bukan mereka tetapi hanya Hazel sendiri yang tertidur. Muaz menatap Hazel sambil mengelus pipi istrinya itu. Muaz bukanlah bodoh tidak mengetahui apa yang terjadi saat ini,sejak kemarin Muaz sedikit curiga menatap Hazel sempat melirik kearah orang dibalik pohon.
Muaz turun dari kasur perlahan,ia mengambil ponsel istrinya dan mengetik sesuatu pada ponselnya. Setelah itu ia meletakkan kembali seperti semula ponsel Hazel. Muaz kembali menoleh kearah Hazel lalu mengecup pelan kening dan bibir Hazel, "aku akan segera kembali."
Muaz langsung memakai jaketnya dan berjalan pelan menutup pintu,dan membiarkan Hazel tertidur pulas. Ia harus melakukan sesuatu sebelum Liam mengganggunya lagi.
Lain halnya dengan Liam yang sudah mengintai pergerakan mereka. Malam itu secara langsung Liam dan anak buahnya terjun mengintai keberadaan Muaz dan Hazel. Setelah melihat Muaz pergi,seketika itu pula kesempatan emas bagi mereka.
"tangkap wanita itu!!!" seru Liam langsung dilaksanakan kelima anak buahnya. Tidak susah membawa Hazel karena wanita itu langsung ditutup mulutnya hingga pingsan,dengan bergerombolan mereka membawa Hazel masuk kedalam mobil.
"wah ternyata dia sedang hamil,hati-hati jangan sampai terjatuh." ucap Liam langsung dianggukan anak buahnya.
Bagaimanapun Liam jahat,ia masih punya hati untuk menjaga anak yang masih dalam kandungan. Melihat perut Hazel yang besar mengingatnya dengan Bahar yang dengan penuh perhatian dengan kehamilannya. Makanya itu,Liam tidak ingin terjadi apa-apa pada Hazel. Ia hanya ingin memancing suami wanita itu menemuinya.
"kita lihat,apa kau akan berlari-lari menyelamatkan istrimu. Aku ingin melihat reaksimu akan seperti apa." ucap Liam. Mereka langsung pergi dari villa itu.
***
Deg. Tubuh Muaz bergetar hebat saat melihat foto yang baru saja dikirim oleh nomor yang dikenal. Rasa marah mulai memuncak saat tau siapa yang menculik istrinya. Perkiraan Muaz salah dan ia sangat menyesal telah ceroboh meninggalkan Hazel sendirian di Villa.
"brengsek kau Liam!!!" sarkas Muaz mengepalkan tangannya. Ia pun mencari cara untuk menyelamatkan Hazel.
"semoga mereka baik-baik saja." harap Muaz pelan lalu pergi keluar dari rumah kosong yang sempat Liam sebagai tempat persembunyian pria itu. Muaz menebak tempat terdekat dari villa mereka. Jika Liam kabur tentu saja ia bersembunyi jauh dari pemukiman warga. Setelah merasa curiga dengan apa yang dilihatnya kemarin,itu menjadi bukti jika Liam bersembunyi tidak jauh dari mereka nginap. Makanya Muaz langsung mencari rumah kosong yang berada didekat sana,dan ternyata benar ada sisa bekas minuman keras dan berbagai macam makanan berserak ditempat Muaz berdiri sekarang.
Tetapi,Muaz tidak menyangka jika Liam dua kali lebih cepat darinya,kini istrinya malah terlibat diculik oleh pria brengsek itu. Sebenarnya dalam hatinya ia sangat mencemaskan Hazel,apalagi istrinya itu tengah mengandung kedua anaknya sekaligus. Itu tidaklah mudah,mengingat Hazel sedikit susah untuk berjalan dengan perut yang besar itu.
"aku tau kau mengancam ku dengan menyuruhku ke tempatmu kan?! aku akan datang tapi tidak dengan tanpa rencana." gumam Muaz pelan melirik ponselnya yang menunjukkan pesan yang disampaikan oleh si pengirim tidak diketahui itu. Muaz menghela napas pelan,lalu berjalan keluar dari rumah kosong itu.
"bertahan disana sayang,aku yakin kamu bisa."