SHAKIL&SHAKILLA

SHAKIL&SHAKILLA
Part.45



Saat bel istirahat berbunyi, Shakil langsung meninggalkan ruang kelasnya diikuti dedemit ****** yang sedari tadi saling bercanda ria sesekali menggoda siswi yang berlalu lalang.


Shakil melangkahkan kakinya menuju ke kelas dua belas IPA. Meskipun dedemit terlihat bingung, tapi mereka enggan menanyakan kepada Shakil dia akan bertemu. siapa.


Tanpa aba-aba, Shakil menarik kerah baju Arvhie yang sedang duduk tertawa bersama teman-teman nya. Membuat kerah baju putih Arvhie sobek. Arvhie yang belum siap hampir saja terjatuh kalau saja Faizan tidak memegang bahunya.


Shakil menarik Arvhie keluar kelas menuju lapangan sekolah. Siswa-siswi merpati indah yang melihat seorang Shakil Aditya menyeret kakak kelas dua belas dengan keras sehingga muka Arvhie terlihat memerah. Mungkin karena sakit atau marah.


"Apa-apaan ini?!" Arvhie marah. Dia tidak tau salah nya apa, tiba-tiba saja pria ini menarik nya.


Shakil terus menarik Arvhie tanpa menjawab semua ocehan Arvhie. Nyatanya, Arvhie tidak kuat hanya untuk melepas genggaman tangan Shakil di kerah seragamnya. Shakil tersenyum kecil sangat kecil.


"Lemah. Cowok banci, berani-beraninya mau ngerebut milik gue." Monolog SHAKIL dalam hati.


Sesampainya di lapangan sekolah yang sudah ramai oleh siswa siswi kurang kerjaan itu. Shakil menghempaskan tubuh Arvhie dengan kuat sehingga Arvhie tersungkur tepat di bawah kakinya.


"LO SIAPA HAH?!" teriak Arvhie seraya berusaha berdiri.


Shakil meneliti Arvhie dari atas sampai bawah dengan tajam. "Shakil Aditya." jawab Shakil tanpa ekspresi.


"Ketua geng Semp*k?" tanya Arvhie dengan muka cengo.


"YOI! BOS GUE NIH!!" teriak Wawan tidak jauh dari Shakil. Anggota inti Semp*k hanya diam melihat, tanpa mau ikut campur sedikit pun. Bisa-bisa mereka yang bakal di geprek sama Shakil.


Arvhie terkejut, tentu. Dia belum pernah melihat seorang Shakil. Arvhie cuma mendengar nama nya yang sering di sebut oleh temannya.


"O-oh, kenapa lo tiba-tiba bawa gue kesini!" tanya Arvhie.


"Gue mau kasih pelajaran sama cowok yang sudah dengan lancang nya ingin merebut milik gue!" ucap Shakil penuh penekanan.


Arvhie langsung berkeringat dingin sambil menelan ludahnya berkali-kali.


"Cewek lo cantik. Gue suka."


Ucapan yang keluar dari mulut kotor Arvhie, membuat Shakil tersulut emosi. Tanpa ba-bi-bu Shakil melayangkan satu pukulan tepat pada bibir yang sempat memuji miliknya itu sampai berdarah.


"MONYONG GAK TUH!!" teriak Wawan heboh sendiri melihat bibir Arvhie Jontor.


Semua siswi yang berada di sekeliling lapangan seketika meringis, ada juga yang berteriak supaya Shakil melanjutkan aksi pukulannya itu.


Arvhie berdiri dan langsung menonjok pipi kanan Shakil, membuat amarah Shakil kembali memuncak. Shakil mengusap darah yang mengalir di ujung bibirnya lalu tersenyum sinis. Shakil kemudian langsung menonjok pipi kiri Arvhie dengan keras, membuat cowok itu meringis kesakitan.


"SHAKILLA ITU PACAR GUE! DIA MILIK GUE! SIAPAPUN YANG BERANI MEMUJI MILIK GUE APALAGI SAMPAI MENYENTUH MILIK GUE. KALIAN BAKAL HABIS DI TANGAN GUE!" teriak Shakil.


Semua yang berada disitu seketika mengangguk. Kecuali Arvhie, cowok itu malah menantang Shakil.


"SHAKILLA BAKAL JADI PUNYA GUE. GUE AKAN REBUT DIA DARI LO!"


Amarah Shakil bertambah berkali-kali lipat setelah Arvhie mengatakan hal yang akan membahayakan diri nya sendiri.


Shakil kembali memukuli Arvhie membabi buta. Tanpa menghiraukan teriakan guru dan siswa siswi. Shakil terus memukul Arvhie, menendang, sekalian meludahi Arvhie tanpa henti. Shakil muak, manusia bego seperti Arvhie pantas mendapatkan ini.


...****************...


Shakilla dan Rissa sedang duduk bersantai di taman sekolah sambil memakan camilan yang mereka beli di kantin sekolah..


Kegiatan mereka terhenti saat melihat siswi berlarian ke arah lapangan sekolah. Shakilla melirik Rissa, bertanya lewat kedipan mata. Rissa mengedikan bahunya tanda tidak tahu.


"MIRNA!!" teriak Rissa memanggil salah satu teman kelasnya yang ikut berlarian.


Mirna menoleh lalu mendekat ke arah Rissa dan Shakilla.


"Iya? Ada apa?" tanya Mirna bingung saat sudah berada di hadapan Rissa.


"Lo mau kemana? Terus, kenapa lari-larian gitu, kek di kejar setan aja!" ucap Rissa.


"Itu, Shakil lagi Mukuli Arvhie di lapangan sekolah," ucap Mirna.


Shakilla yang mendengar perkataan Mirna langsung berlari meninggalkan camilan dan sahabatnya di taman.


"WOI KILL! TUNGGUIN NAPA!" ucap Rissa ikut berlari mengejar Shakilla.


"Riss! Camilan lo sama Shakilla ketinggalan!" ucap Mirna sedikit berteriak.


Rissa menoleh kebelakang.


"BUAT LO AJA! OKE!" teriak Rissa lalu berlari terbirit-birit mengejar Shakilla.


Mirna tersenyum senang.


"Alhamdulillah, rezeki. Tau aja, gue lagi laper," ucap Mirna mengambil roti lalu duduk di bangku taman, dia melupakan tujuan awalnya yaitu menonton acara baku hantam Shakil dan Arvhie.


"Kapan gue kaya. Terus, bisa beli makanan sepuasnya." Monolog Mirna dengan mulut yang penuh dengan roti.


...****************...


Shakilla berusaha menerobos kerumunan siswa. Kalau Shakil marah, guru disini pun tidak ada yang sanggup untuk melerai nya.


Shakilla memiliki badan yang kecil, sehingga memudahkannya untuk masuk menerobos siswa siswi yang berteriak alay, tanpa mau melerai pertengkaran itu. Shakilla kaget saat melihat wajah Arvhie yang sudah bonyok seperti wajan gosong itu.


"SHAKIL! BERHENTI!" teriakan Shakilla tidak di pedulikan oleh Shakil. Pria itu masih terus memukul Arvhie.


"BOS! UDAH BOS, ARVHIE MAU MATI ITU!" teriak Andre berusaha mengamankan Arvhie yang sudah terkulai tak berdaya.


"UDAH BOS! TENANGIN DIRI LO!" teriak Faizan.


Wawan, pria itu malah asik memvideokan baku hantam Shakil dan Arvhie.


"Lumayan, buat di post di YouTube dapet uang deh!" ucap Wawan seraya tersenyum bahagia.


"A-ampun!" mohon Arvhie seraya menyatukan kedua tangannya.


Shakilla yang melihat Arvhie sengsara seperti itu jadi tidak tega. Shakilla berlari ke arah Shakil dan langsung memeluk tubuh tegap Shakil dari belakang sambil terisak pelan. Memeluk Shakil adalah jalan satu-satunya untuk meredamkan kemarahannya.


Shakil terdiam saat Shakilla tiba-tiba memeluknya dari belakang. Melihat Shakil diam, membuat pihak sekolah buru-buru menggotong tubuh Arvhie untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.


"Udah, Lo mau bunuh orang hah?" ucap Shakilla.


"Gue gak mau nikah sama seorang pembunuh! Atau lo sengaja mau bunuh Arvhie, supaya gue gak mau nikah sama lo?!" ucap Shakilla yang masih terus menangis, membuat seragam belakang Shakil basah. Shakil menggeleng, lalu berbalik.


"Maaf," lirih Shakil seraya mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Shakilla.


Shakilla menggeleng. "Gak! Lo kenapa gini? Lo hampir aja bunuh anak orang Shakil!" teriak Shakilla.


Shakil terdiam seraya menundukkan kepalanya. Ia tidak tega melihat gadisnya menangis seperti ini. Shakilla mengusap air matanya kasar. Lalu menarik lengan Shakil untuk ikut dengannya meninggalkan kerumunan.


Faizan menelpon bawahannya untuk memenuhi kebutuhan Arvhie di rumah sakit. Banyu dan Andre berserta anggota Semp*k lainnya sedang sibuk mengusir siswa supaya kembali ke kelas masing-masing.


Sedangkan Wawan. Cowok itu duduk di bawah pohon mangga yang berada di sisi lapangan, Wawan sibuk memposting acara tonjok-tonjokan Shakil di akun sosmed nya.


"Gila. Bos Shakil keren banget!! Cowok kaya Arvhie emang pantes di giniin!" ujar Wawan sambil menonton ulang acara baku hantam Shakil.


...****************...


Shakilla membawa Shakil pulang ke rumah, menggunakan mobil milik Faizan. Tukeran, sama motor Shakil, karena Shakilla tidak mungkin menyuruh Shakil mengendari motor dalam keadaan begini.


Sekarang mereka sedang berada di kamar Shakil.


"Maaf Shakilla," ucap Shakil sambil menundukkan kepalanya seperti anak kecil.


Mengingat kejadian satu jam yang lalu membuat Shakilla kembali menangis.


"Terus kenapa? Kemarin gue kan udah jelasin, Arvhie gak nyentuh gue Shakil! Kenapa lo mau habisin dia hah?! Lo mau buat dia mati, terus lo di penjara?" ucap Shakilla seraya terisak pelan. Shakil kembali menggeleng


"Gue gak suka liat lo kaya tadi! Gue gak suka SHAKIL!!" teriak Shakilla seraya memukul dada Shakil dengan keras.


Shakil langsung menarik tubuh Shakilla dan memeluknya erat, Shakilla meronta minta di lepaskan tapi Shakil malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepasin gue! Gue gak mau di peluk cowok yang hampir membunuh orang lain!" ucap Shakilla terus memukuli SHAKIL denga tangisan yang semakin keras.


"Shakilla dengerin gue, hey," ucap Shakil lembut seraya mengelus pelan rambut panjang Shakilla.


"Dengerin Shakil dulu, mau kan?" bujuk Shakil membuat Shakilla menghentikan pukulannya itu. Shakil meleraikan pelukannya, lalu beralih menatap wajah cantik Shakilla yang tampak memerah seperti tomat karena terus menangis sejak tadi.


"Hei, salah ya? Kalo gue marah sama cowok brengsek yang mau ambil lo dari gue?" tanya Shakil dengan suara pelan.


Shakilla hanya diam mendengarkan kata yang keluar dari bibir Shakil.


"Gue gak suka ada cowok lain yang puji lo depan gue. Apalagi bilang suka, Arvhie terang-terangan mau ambil lo dari gue Killa," jelas Shakil.


Shakilla terdiam, Shakilla paham. Shakil akan marah sama seseorang jika orang itu membawa-bawa dirinya, Apalagi menyukainya.


"Lo, Shakilla. Cuma milik gue. Milik Shakil. Jika ada yang berani mau rebut lo dari gue. Gue gak akan segan-segan untuk habisi dia!" ucap Shakil penuh penekanan.


Shakilla mengangguk dan kembali menangis. "Gue. Milik lo Shakil, Sekarang dan selamanya." Shakil kembali memeluk Shakilla sangat erat


"Gue kan udah pernah bilang. Lo, kekuatan dan kelemahan gue Shakilla." bisik Shakil seraya mencium ceruk leher Shakilla Menghirup dalam-dalam aroma yang begitu memenangkannya.


"Jangan ulangi lagi ya. Ini bisa membahayakan diri lo sendiri!" ucap Shakilla.


"Gak janji." ucap Shakil sambil terkekeh kecil.


Shakilla melepaskan pelukannya lalu memanyunkan bibirnya.


"Harus janji!" Shakil yang gemas sendiri akhirnya mengecup singkat bibir Shakilla.


"Iya janji," seraya tersenyum manis.


Shakilla merasa suhu tubuhnya memanas. Ciuman keduanya, Shakil telah mencium nya lagi. Perut Shakilla terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiknya.


"SHAKILL!! CIUMAN KEDUA GUE!" teriak Shakilla mengejar Shakil yang berlari mengelilingi kamar menghindari amukan Shakilla.


"Bibir lo manis! Gue suka." ucap Shakil seraya duduk tepi kasur karena lelah berlari.


"Shakil!!! Mesum banget sih!" kesal Shakilla yang terus memukul Shakil menggunakan bantalnya.


"Aduh! Iya-iya ampun!" ujar Shakil dengan terus tertawa renyah.


"Lo mesum! Lo udah ambil keperawanan bibir gue! Balikin lagi gak keperawanan bibir gue! Biar suci lagi," kesal Shakilla tanpa menghentikan pukulannya.


"Mau di bikin suci lagi?" tanya Shakil. Shakilla menghentikan pukulannya lalu mengangguk.


"Sini, duduk dulu," ucap Shakil sambil menepuk pelan kasur samping kirinya.


Shakilla langsung duduk, tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun pada cowok yang berada di sampingnya.


"Gimana caranya?" tanya Shakilla antusias. Shakil seketika tersenyum licik. Gadisnya ini begitu lugu.


"Pejamkan mata nya dulu!"


"Loh kenapa?" tanya Shakilla bingung.


"Katanya tadi mau ngembaliin kesucian bibir lo lagi," ujar Shakil.


Shakilla menutup matanya sambil menunggu hal apa yang bisa membuat bibirnya kembali suci seperti sedia kala.


Shakil memposisikan bibirnya tepat di depan bibir Shakilla.


"Buka matanya,"


Shakilla mulai membuka matanya. Shakilla kaget, saat ia mau berteriak Shakil segera menempelkan bibirnya pada bibir Shakilla untuk ke tiga kalinya, membuat Shakilla terdiam.


Mata mereka saling menatap satu sama lain dengan bibir yang masih setia menempel. Cuma menempel, gak lebih. Melihat Shakilla diam tidak berkutik membuat Shakil menyunggingkan senyumnya. Shakil menjauhkan wajahnya dari Shakilla.


"Gimana? Udah kan?" tanya Shakil dengan senyuman manisnya.


Aliya mulai tersadar. "SHAKILLL!! GILAAA!!! STRESSSS!!!" teriak Shakilladengan muka yang sudah memerah.


Shakil terkekeh geli, langsung berlari ke luar kamar menghindari amukan Shakilla.


"NANTI LAGI YA SHAKILLA!!" teriak Shakil di depan pintu kamar.


"LAGI LAGI!! GUE SLEDING LU!!" teriak Shakilla yang masih kesal dengan kejadian beberapa menit yang lalu.


Sedangkan Shakil, cowok itu malah tertawa puas. Senang sekali membuat Shakilla kesal.


...****************...


"Bibir Abang kenapa? Kok merah-merah?" tanya Fano yang sedari tadi menatap wajah Shakil.


"Biasa. Urusan LAKIK!" ucap Shakil.


Mereka sedang duduk bersama sambil menonton acara TV. Shakil sibuk menonton sedangkan Fano sibuk bercerita tentang cewek-cewek di sekolahnya.


"Ada cewek baru namanya Laura. Dia cantik banget bang." Shakil hanya manggut-manggut.


"Sama Fisya cantik mana?" tanya Shakil.


"Cantik Fisya dong. Tapi Fano gak di bolehin pacaran sama Fisya," ucap Fano dengan muka lesuh.


"Gak di bolehin sama siapa?" tanya Shakil.


"Kak Shakilla. Katanya Fisya itu spesial, jadi harus Fano jagain bukan di ajak pacaran," jelas Fano.


"Lagian masih bayi, udah mikirin pacaran!" sindir Shakil seraya meringis, luka diujung bibirnya terasa perih.


"Udah gede gini. Fano kan LAKIK! Jadi harus punya banyak mantan." ucap Fano dengan senyum bangganya.


Shakilla berjalan dari arah tangga, sambil membawa obat untuk menyembuhkan luka bibir Shakil.


"Pada ngomongin apa?" tanya Shakilla seraya ikut duduk di tengah-tengah Shakil dan Fano.


"Kakak udah gede kok duduk nya ditengah! Harusnya kan Fano." ucap Fano karena dirinya merasa tersingkirkan.


"Kakak kan mau obatin luka Abangmu itu yang sok jago!" ucap Shakilla menyindir Shakil.


"Gue emang jago!" ketus Shakil.


Shakilla menarik wajah Shakil supaya menghadap nya. Lalu mulai mengobati luka diujung bibir Shakilla dengan telaten.


Shakil hanya diam saja. Padahal menurutnya luka kecil besok juga sembuh sendiri. tapi mau menolak, Shakil takut Shakilla marah.


"Romantis nya, ekhem ekhem. Ciee" ledek Fano langsung mendapatkan tatapan tajam dari Shakil dan Shakilla.


Readers tercinta jangan luka kasih semangat sama Author dengan cara like cerita ini, komennn, dan jangan lupa VOTE ya.


Satu lagi bunga mawar sama kopinya jangan lupa yaπŸ™πŸ™


Terima kasih semuanya...