
"Rissa," panggil Wawan pada Rissa yang sedang duduk sendiri di depan kelas.
Rissa lantas menoleh lalu tersenyum kikuk. "Iya?"
"Nungguin Shakilla?" tanya Wawan sambil
mendudukkan pantatnya di samping Rissa.
"Shakilla kan nggak berangkat. Shakil juga. Katanya gak enak badan terus tadi pagi nitip surat ke gue. Oh iya, surat nya
Shakil udah gue titip ke Echa." jelas Rissa panjang lebar pada Wawan.
"Oh, masuk angin kali." ucap Wawan sambil terkekeh.
"Bisa jadi."
"Lo ngapain ke sini?" tanya Rissa mencoba menghilangkan kegugupannya.
"Gue baru berangkat, terus gak sengaja liat lo duduk sendiri. Jadi gue samperin deh," jelas Wawan.
"Oh, yaudah gue masuk ke kelas ya. Bentar lagi bel," ujar Rissa pada Wawan.
Wawan mengangguk. "Iya, belajar yang rajin biar pinter. Suatu saat nanti lo akan jadi guru pertama bagi anak-anak
kita. Aamiin," gombal Wawan menatap Rissa dalam.
"Apaan sih! Gue gak mempan di gombali." ucap Rissa sambil terkekeh menertawakan kekonyolan Wawan padahal hatinya begitu bahagia.
"Gak papa, kali-kali gombalin calon ibu dari anak-anakku kelak," ucap Wawan sambil terkekeh.
"Udahlah, gue masuk ya." ucap Rissa berdiri dari duduknya lalu berlari kecil memasuki kelas.
"GOMBAL LO KURANG PRO WAN!!" teriak Banyu tidak jauh dari Wawan.
Wawan menoleh dan langsung berdiri lalu berjalan mendekati Banyu.
"Lo suka sama Rissa?" tanya Banyu saat Wawan sudah berada di hadapannya.
"Gak tau sih, gue suka aja liat dia." ucap Wawan.
"Gimana sih Wan. Kaya nya lo suka otw cinta sama Rissa." ucap Banyu dengan tampang yakin.
"Masa iya, bisa jadi sih. Cuma kalo dekat Husna jiwa gombal gue keluar!"
"Nah kan lo suka. Buruan tembak deh, sebelum di Embat cowok lain."
"Masa langsung nembak, aneh lo!" ucap Wawan.
"Percaya sama omongan gue. Gue aja kalo liat cewek sekilas, langsung gue tembak." ucap Banyu sambil tersenyum
sambil menggerakkan sebelah alisnya ke atas.
"Itu mah lo! Buaya kakap. Tobat Banyu, kasian cewek-cewek yang jadi korban lo!" ucap Wawan menasehati Banyu.
"Gue akan tobat kalo gue udah ketemu sama cewek yang tepat." ucap Banyu.
"Kapan nemunya?! Keburu kena karma lo. Mampus!!"
"Sialan lo." ucap Banyu sambil menepuk bahu Wawan.
"Walaupun lo gak bener tapi gue sayang sama lo bro!" ucap Wawan samb merangkul bahu Banyu.
"Gue juga sayang sama lo Wan. Walaupun lo gila," Ujar Banyu. Mereka berdua berjalan menuju kelas mereka.
"Ternyata di sekolah gue ada gay. Semoga Allah segera membukakan pintu kesadaran untuk mereka berdua." ujar seorang gadis yang tak sengaja melihat Banyu bilang sayang ke Wawan.
*****
"SHAKIL. KILLA. TURUN, MAKAN DULU SINI," teriak Mawar dari bawah.
"IYA BUNDAA!" teriak Shakil dan Shakilla bersamaan.
Shakil dan Shakilla turun ke bawah sambil bergandengan tangan membuat Mawar menatap mereka dengan senyum bahagia.
"Pagi-pagi udah mesra-mesraan! Jiwa jomblo Bunda meronta-ronta" ucap Mawar dengan muka sedih.
Shakilla langsung melepas pegangan Shakil di tangannya lalu berlari menghampiri
Mawar.
"Gak ada yang mesra-mesraan Bun," ucap Shakilla berdiri di samping Mawar.
"Shakil aduin Ayah nih. Udah punya suami tapi ngakunya jomblo! Dasar
Bunda nya Fano." ucap Shakil sambil berjalan mendekati meja makan.
"Oh iya, Berarti kamu bukan anak Bunda!!" ucap Mawar.
"Awas aja kalo kamu minta uang sama Bunda! Gak akan Bunda kasih." ancam Mawar sambil menatap tajam ke arah
Shakil.
"Kan ada Ayah," ujar Shakil santai.
"Ayah gak akan kasih kamu uang kalo Bunda gak Izinin."
"Wah Ayah, Suami takut Istri." Shakil sambil minum satu gelas air putih.
Shakilla hanya diam berdiri menyaksikan perdebatan Mak dan Anak di hadapannya.
"Diem kamu! Nanti kalo kamu udah nikah juga sama." ucap Mawar sambil melirik Shakilla.
Shakilla hanya terbengong sambil tersenyum kikuk. Dia bingung harus apa.
"Gak lah! Masa iya Shakiltakut sama Shakilla." ucap Shakil sambil tersenyum ke arah Shakilla.
"Masa? Shakilla." panggil Mawar dibalas anggukan mantap oleh Shakil.
"Iya Bun?"
"Nanti kalo kalian udah nikah. Terus Shakil bandel, kamu jangan kasih jatah ya sayang. Suruh Shakil tidur di luar,"ujar Mawar menasehati calon mantunya.
Shakilla mengangguk. "Siap Bund," balas Shakilla.
"Pinter banget mantu Bunda," ucap Mawar mengelus lembut kepala Shakilla.
Mawar lalu menggandeng lengan Shakilla untuk duduk di meja makan tepat di samping Shakilla.
"Jangan dengerin kata Bunda!" Bisik Shakilla di samping telinga Shakilla.
"Kenapa?" tanya Shakilla bingung.
"Jangan dengerin Shakil, dengerin kata-kata Bunda aja ya sayang," ujar Mawar melototkan matanya ke arah Shakil
Shakilla mengangguk. "Iya, Bunda."
"Curang ih Bunda!! Gak boleh ngajarin gitu sama istri Shakil," ujar Shakil dengan bibir di manyunkan.
"CALON!!" ujar Mawar dan Shakilla secara bersamaan. Membuat Shakil terperanjat kaget.
"Astagfirullah, kompak banget!" ucap Shakil sambil geleng-geleng.
"Iya dong, harus!" ucap Mawar diikuti Shakilla yang menganggukkan kepalanya.
"Bunda harus pergi ada urusan mendadak. Shakilla gak papa kan Bunda tinggal," ucap Mawar menatap Shakilla.
"Gak papa kok Bund," ucap Aliya.
"Bunda gak izin sama Shakil?" tanya Shakil
"Siapa kamu? Kita kenal?" tanya Mawar menatap sinis ke arah putranya.
"Astagfirullah, gue sebagai anak punguthanya bisa diam."
*****
Kegiatan Shakilla dan Shakil hanya duduk di sofa sambil menonton Spongebob sesekali makan cemilan.
"Shakil," ucap Shakilla sambil menoleh ke arah Shakil.
"Hm?" jawab Shakil tanpa menoleh ke arah Shakilla. Dia fokus menonton Spongebob.
"Gue gak suka sama Ryan!!" ujar Shakilla geram saat mengingat wajah Ryan yang mirip kera.
"Udah tau!" jawab Shakil sambil menegak minuman dingin yang ambil dari kulkas.
"Ck, gue mau cerita. Hadap sini dong!" ujar Shakilla berusaha mencari perhatian Shakil
"Film apa sih itu! Gak bagus! Cuci piring aja lo tonton!!" kesal Shakillasambil bersedekap dada.
Shakil terkekeh lalu memutarkan tubuhnya menghadap Shakilla.
"Spongebob namanya Shakilla. Bukan cuci piring," jelas Shakil.
"Sama aja! Alat cuci piring. Cuma itu di taroin mata sama mulut!"
"Serah deh. Yang waras ngalah," ucap Shakil berusaha mengalah dengan gadis di hadapannya ini.
"Apa! Lo bilang gue gak waras!" ucap Shakilla mencak-mencak.
Shakil menghembuskan nafasnya kasar.
"Siapa yang bilang sih?!"
"Taulah! Males," ujar Shakilla mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Gak usah ngambek gitu, makin jelek nanti muka lo." ucap Shakil.
"Cowok lain kalo liat ceweknya marah biasanya itu di rayu, di manja-manja. Lah lo?! Malah bully pacarnya! Pacar biadap!!" ujar Shakilla sambil bersedekap dada.
"Mau di rayu nih ceritanya," ucap Shakil sambil mencolek dagu Shakilla.
"Apaan sih!" kesal Shakilla sambil menepis tangan Shakil.
"Hadap sini coba," ucap Shakil sambil memegang bahu Shakilla lalu menghadapkan ke arahnya.
"Apa?" ketus Shakilla.
"Mau bilang apa tadi?" tanya Shakil menatap Shakilla serius.
"Yang apa?" jawab Shakilla membuat Shakil memutar bola matanya malas.
"Ryan. Kenapa lo benci Ryan?" tanya Shakil.
"Masa Ryan bilang kalo gue dibayar berapa sama lo. Kesel banget!" ucap Shakilla kesal.
"Terus dia bilang mau gantian nyicip tubuh gue. Dikira makanan apa nyicip-nyicip!!" ucapan Shakilla sontak membuat Shakil emosi.
"Kapan dia ngomong gitu?"
"Semalem, sebelum balapan dimulai." ujar Shakilla.
"Harusnya lo bilang itu semalem sama gue!" ujar Shakil yang ikut emosi.
"Loh kok lo marahnya sama gue!" sambil mencak-mencak tak terima.
"Gue marah ke Ryan, bukan ke lo!"
"Ngomong dong!" ujar sambil cengengesan.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMAN TEMAN ☺️☺️.