
"Nih jambu nya!" ujar Shakil sambil meletakkan satu kantong yang berisi jambu di depan Shakilla.
Shakilla menatap jambu itu dengan mata
berbinar.
"Aaa, makasih Shakil. Lo baik deh."
"Dari dulu."
"Iya in aja lah!" ujar Shakilla sambil memakan jambu yang Shakil berikan.
"Manis banget jambu nya." ujar Shakilla dengan girang.
"Lo juga."
"Ha? Lo juga apa?" tanya Shakilla cengo.
"Gak!"
"Mau gak?" tanya Shakilla menawari
jambu pada Shakil.
"Mau lah. Kan gue yang beli."
"Dih. Biasa aja dong."
"Suapi gue."
"Eh?"
"Cepet suapi gue jambu nya!" ucap Shakil
"Lo kan punya tangan sendiri!"
"Males."
"Gue juga males nyuapi lo!"
"Jangan bantah Shakilla." ujar Shakil penuh penekan.
"Iya." ucap Shakilla pasrah. Shakilla mulai memotong jambu itu menjadi enam potongan. Lalu mengarahkan nya ke dalam mulut Shakil. Dengan telaten Shakilla memasukan sepotong demi sepotong jambu biji itu.
"Muka lo kenapa pucet gitu?" tanya Shakilla setelah menyadari kalo muka Shakil pucat.
"Pusing."
"Lo sakit?" tanya Shakilla.
Shakil hanya menggeleng lalu Ia merebahkan kepalanya pada paha Shakila
Shakilla tersentak kaget. "Eh. Lo ngapain?"
"Sebentar aja. Gue gak akan ngapa-ngapain lo kok," ucap Shakil seakan tau jalan pikir Shakilla kemana.
"Kok lo bisa sakit?"
"Gue gak sakit Killa. Gue cuma pusing sedikit."
"Itu sama aja sakit peang!" Kesal Shakilla.
Shakil hanya terkekeh. "Pejetin Killa"
"Disini," tunjuk Shakil pada bagian kepala yang terasa sakit.
Shakilla mulai memijat pelan kepala Shakil sambil sesekali memakan jambu.Shakil menikmati setiap sentuhan. tangan mungil Shakilla di kepalanya. Shakil memandangi wajah Shakilla sambil sesekali tersenyum kecil.
"Killa?"
"Apa?" jawab Shakilla sambil menatap wajah Shakil yang ada pada pangkuannya.
"Jangan pernah tinggalin gue ya?" ucap Shakil serius.
"Eh? Lo Shakil kan?" tanya Shakilla sambil menepuk pelan pipi Shakil.
"Gue Shakil Killa."
"Tumben banget tanya begituan. Kaya gue berarti aja dalam hidup lo." ujar Shakilla sambil terkekeh kecil.
"Lo berarti buat gue Shakilla." ucap Shakil sambil mengelus pelan pipi Shakilla.
Shakilla di buat bingung sama sifat Shakil. Jantungnya selalu berpacu dua kali
lipat bila Shakil menyentuh dirinya.
"Ya Allah balikan Shakil yang dulu, Shakilla takut kalo sifat Shakil tiba-tiba berubah kaya gini." ujar Shakilla seraya menyatukan kedua tangannya.
Shakil yang tidak kuat melihat tingkah lucu Shakilla hanya bisa terkekeh.
"Lo itu berharga buat gue. Lo sahabat gue, Lo musuh gue, dan Lo juga pacar gue. Shakilla milik Shakil." ucap Shakil pelan tapi masih bisa di dengar jelas oleh Shakilla
Lo juga cinta pertama gue Shakilla.' ucap Shakil dalam hati..
Lagi-lagi Shakil membuat jantung Shakilla
berdisko ria.
"Ngerti kan?" tanya Shakil. Shakilla hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Gadis pintar," ujar Shakil
"Lo belum jawab pertanyaan gue."
"Yang mana?"
"Lo gak akan pernah tinggalin gue kan?"
"Gak tau," ujar Shakilladengan jujur.
Shakil berdecak gemas dengan jawaban Shakilla.
"Gue gak akan pernah tinggalin lo. Walaupun lo nyebelin, tapi cuma lo cowok yang gue percaya setelah papa," ucap Shakilla yakin sambil mengelus rambut Shakil.
"Janji?"
"Iya janji Shakil."
"Shakil tidak akan lengkap tanpa Shakilla," ucap Shakil.
"Shakilla juga tidak akan lengkap tanpa Shakil," sambung Shakilla sambil tersenyum.
"Boleh cium?"
Shakilla tercekat mendengar penuturan Shakil. Saat tatapan matanya bertemu
dengan tatapan dalam Shakil membuat
jantung Shakilla berdebar kencang.
Shakil yang melihat Shakilla berkeringat padahal dingin karena hari sudah malam lantas menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa? Gak mau ya?" tebak Shakil
tersirat nada kecewa. Shakil mulai bangun dari paha Aliya.
Lalu duduk bersila sambil memandang
wajah Shakilla
Shakil memajukan wajahnya. Mendekatkan bibirnya ke telinga Shakilla.
"Gimana?"
Shakilla merasakan hembusan nafas Shakil
menerpa kulit wajahnya. Shakilla hanya
memejamkan kedua matanya sambil
menggigit kuat bibir bawahnya.
"Jangan di gigit." ujar Shakil sambil mengelus bibir mungil Shakilla.
Shakilla hanya diam saja. Bibir Shakilla terasa keluh.
"Boleh?" tanya Shakil sekali lagi.
Entah sadar atau tidak Shakilla malah
menganggukkan kepalanya. Seperti nya
ada setan di tengah-tengah mereka.
Setelah mendapat persetujuan dari
Shakilla. Shakil mulai memiringkan
kepalanya lalu mendekatkan bibirnya
ke bibir Shakilla.
Dua centi lagi bibir keduanya menyatu.
Bukannya mencium Shakil malah memeluk tubuh mungil Shakilla dengan erat.
Shakilla mulai membuka mata lalu mengerjapkan nya beberapa kali.
"Gak jadi?" tanya Shakilla. Dirinya masih sangat kebingungan. Bukankah tadi Shakil minta cium bukan peluk.
Shakil terkekeh geli lalu melepaskan
pelukannya. Shakil menatap wajah Shakilla.yang masih kebingungan.
"Kenapa?" tanya Shakil sambil menahan senyumnya.
Shakilla hanya menggeleng.
"Gak papa," ujar Shakilla berusaha menetralkan debaran jantungnya.
"Lo pengen banget ya di cium sama gue?" goda Shakil sambil menaikan sebelah alisnya.
"Ngaco lo!"
"Dengar baik-baik Shakilla." Shakilla hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tugas gue jagain lo bukan ngerusak lo." ucap Shakil dengan tatapan teduhnya.
"Lo tanggung jawab gue. Untuk sekarang dan selamanya."
Shakilla menatap Shakil dengan mata yang
sudah berkaca-kaca lalu Shakilla langsung
berhamburan ke dalam pelukan Shakil.
"Udah jangan sedih. Nanti gue cium lo sampe pingsan kalo kita udah nikah."
Ditengah teriknya sinar matahari ke lima siswa yang terkenal nakal sedang di hukum. Siapa lagi kalau bukan Geng ******.
"WAWAN KAMU INI MAU JADI APA HAH?"
teriak Pak Bambang sambil memegang penggaris panjang keramat.
"Waktu kecil, saya pengen banget jadi duyung pak." ucap Wawan membuat pak Bambang menepuk dahinya pelan.
"Orang gila kok bapak ajak bicara sih!" ujar Andre.
"Enak aja lo! Emang bener kalo pas kecil gue pengen jadi duyung!" ujar Wawan dengan nada kesal.
"CUKUP!!" teriak Pak Bambang
membuat kedua cowok itu saling diam.
"Shakil kamu ini siswa berprestasi kenapa harus berteman sama mereka!" tunjuk Pak Bambang pada Andre, Wawan, Faizan dan Banyu.
"Saya kan ketua mereka pak. Masa ketua sama anggota gak berteman." ucap Shakil
"Yasudah terserah kamu aja! Kalian berlima bapak hukum lari lapangan sebanyak 20 putaran."
"Gak bisa di nego pak?" tanya Wawan.
"Kamu pikir Bukalapak ha?! Pake nego-nego an segala!" tukas Pak Bambang.
"Bukalapak emang cincay harga santai kagak lebay, dinego aje sa-"
"Berisik Wawan! Mau bapak tambah hukumannya?"
"Gak pak. Hhe."
Mereka berlima mulai berlari mengelilingi lapangan. Lapangan sepi karena siswa siswi sedang ***.
"BOS BELIIN GUE ROK DUYUNG DONG!" teriak Wawan dibelakang Shakil sambil terus berlari.
"OGAH!" jawab Shakil.
"Satu aja bos, gue pengen banget pake rok duyung."
"GAK USAH DI DENGERIN BOS!" teriak Banyu yang berlari di samping Wawan.
"KAMPRET! HARUSNYA LO BANTUIN GUE." kesal wawan pada Banyu.
"Kita kenal?"
"BABI EMANG LO!!"
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMEN TEMEN ☺️☺️.