
Shakilla berjalan menuruni anak tangga dengan santai. Matanya tak sengaja melihat Shakil yang sedang bermain bersama Fano dan Fisya.
"Bang Shakil. Fano tuh jail!!" Adu Fisya pada Shakil seraya memanyunkan bibir kecilnya.
Shakil terkekeh gemas pada gadis kecil di hadapannya.
"Fano, balikin boneka Barbie nya ke Fisya."
"Fano ganteng pinjem sebentar ya," ucap Fano dengan senyuman buaya nya.
"Gak boleh. Itu kan boneka anak perempuan! Fano kan LAKIK! masa main boneka Barbie," ucap Fisya mengeraskan bagian lakik.
Shakil di buat kaget melihat dua bocah kecil yang sama-sama gesrek.
"Qila tau LAKIK dari mana?" tanya Shakil.
"Kemarin Fisya nonton video LAKIK di tiktok bareng Fano," jelas Qila menunjuk Fano. Fano yang di tatap sangar oleh Shakil pun hanya nyengir tanpa dosa.
"Fisya yang minta nonton bang." jawab Fano.
"Tapi, kan kamu yang maksa aku buat nonton tiktok!" jelas Fisya.
"Udah-udah, kalian bahas apaan sih?" tanya Shakilla seraya meleraikan perdebatan antara kedua bocah cilik itu.
"LAKIK!!" jawab Shakil, Fano dan Fisya dengan tidak santai. Ya mereka ngegas. Shakilla terperanjat kaget.
"Biasa aja dong ngomongnya! Udah ngegas malah kompak lagi!" kesal Shakilla.
Mereka bertiga tertawa renyah.
"Emang harus ngegas kalo ngomong LAKIK!" jawab Fano.
"Tau! Siapa dulu yang tau LAKIK!? Kak Shakilla atau kamu?" tanya Shakilla pada Fano.
"Kak Shakilla! Kakak kan guru aku. Jadi kakak yang tau duluan," jawab Fano membuat Shakilla tersenyum bangga.
"Guru sesat!" sindir Shakil.
Shakilla yang di sindir malah memeletkan lidah nya, mengejek Shakil.
"Iri? Bilang sayang!" ucap Shakilla tanpa sengaja mengucapkan kata laknat itu.
"Hah? Sayang!" tanya Shakil tersenyum singkat.
"CIEEEE!! CIEEE!! KAKAK SHAKILLA BILANG SAYANG SAMA BANG SHAKIL. CIEEE!!" teriak Fano heboh.
"Fano!! Kakak kan salah ngomong!" Shakilla malu setengah mati. Sampai pipinya merah karena malu.
"Heh Bocil! Kaya tau sayang aja!" Shakil sambil menyentil dahi Fano.
"Sakit Abang!!! Tau lah, sayang itu ucapan untuk pacar! Iya kan?" Fano malah berbalik bertanya pada Shakil.
"Bukan," jawab Shakil.
"Iya bener, kemarin pas pulang sekolah. Fano liat di semak-semak ada orang pacaran, terus mereka bilang gini. Iya sayang aku juga cinta sama kamu, sambil berpelukan. Terus yang cewek nya bilang gini. Kamu pacar terbaik aku, sayang, git bang!" jawab Fano membuat Shakil menepuk jidatnya sendiri.
"Kamu ngintip?" tanya Shakil.Fano menggeleng.
"Gak ngintip. Itu cuma gak sengaja denger terus aku liat di belakang semak. Abisnya Fano penasaran." ujar Fano dengan polos.
Shakil dan Shakilla langsung berpandangan.
"Itu sama aja ngintip Fano," Shakilla berbicara lembut pada Fano, seraya berjongkok. Supaya tubuhnya sejajar dengan tubuh kecil Fano.
"Gak boleh di ulangi lagi ya," Fano mengangguk.
"Iya kakak Shakilla Cantik," jawab Fano. Fano memeluk Shakilla dengan manja.
"Mantan Fano udah 28 kak," bisik Fano yang hanya di dengar Shakilla.
"Hebat juga kamu, lanjutkan Fano," bisik Shakilla menjawab yang Fano katakan. Shakil menggotong tubuh Fano tanpa aba-aba, supaya pelukannya terhadap Shakilla terlepas.
Shakil meletakkan Fano cukup jauh dari Shakilla.
"Fano! Abang kan udah bilang, Kakak Shakilla cuma boleh di peluk sama Abang!" jelas Shakil dengan ekspresi kesal.
"Pelit amat! Sama Kakak Shakilla aja boleh, iya kan kak?"
Aliya mengangguk. "Sama Abang gak boleh!!"
"Pelit! Kenapa gak boleh?"
"Kak Shakilla punya nya Bang Shakil. Cuma Abang yah boleh peluk, awas aja kalo kamu peluk-peluk lagi. Abang gak akan kasih kamu uang!" ancam Shakil.
"Iya-iya Bang. Fano mau peluk Fisya aja deh." ucap Fano berusaha memeluk Fisya. Shakilla bergeleng-geleng melihat tingkah kakak beradik itu.
"Fisya gak mau," tolak Fisya membuat Shakil tertawa mengejek. Fano memanyunkan bibirnya.
"Fisya nanti kamu nyesel loh. Gak mau di peluk cowok se ganteng aku."
"Gak mau!!"
"Kasian banget. Mana masih kecil!!"
...****************...
Shakilla dan Shakil sedang duduk bersantai di gazebo yang berada di halaman depan.
Shakil sibuk bermain handphone nya. Sedangkan Shakilla sibuk membaca novel yang baru ia beli Minggu lalu. Saat sedang fokus membaca, suara getaran handphone mengalihkan perhatian Shakilla. Shakilla mengambil benda pipih yang sedari tadi bergetar. Ada lima pesan masuk dari Rissa. Aliya membuka lalu membacanya.
Rissa : Shakilla
Rissa : Jangan lupa jam 11 ajarin gue masak!!!
Rissa : Kill. Lo bakal ke rumah gue kan?
Rissa : Kok gak aktip sih!!
Jangan bilang lo masih molor!!
Udah jam sembilan dodol!
Shakilla : Iya bawel. Gue inget, Gue udah bangun ya!!
Setelah menjawab pesan Rissa. Shakilla menutup kembali layar handphonenya.
"Ka, gue mau ke rumah Rissa jam sebelas." ucap Shakilla.
"Mau ngapain?"
"Ngajarin Rissa masak, boleh ya?"
"Pulang jam berapa?"
"Jam tiga kok, boleh kan? Gue kesana pake motor sendiri aja," ujar Shakilla.
"Oke. Gue juga ada rapat jam sepuluh di markas ******, jadi gak bisa anter lo ke rumah Rissa," jelas Shakil yang masih fokus pada benda pipih di genggaman nya.
"Makasih," jawab Shakilla girang. Shakil mengangguk.
"Hati-hati, jangan ngebut bawa motornya," peringat Shakil.
"Yaelah. Ngebut juga gak papa. Gue kan ratu jalanan," ujar Shakilla.
"Ratu jalanan? Gembel dong?" Shakil meletakkan handphonenya lalu menatap Shakilla yang tengah kesal.
"Enak aja lo ngatain gue gembel!!"
"Jangan sok hebat makanya. Ada gue yang jauh hebat dari lo!" ucap Shakil tersenyum miring.
"Mulai deh." Menatap malas Shakil.
"Inget. Jangan keluyuran. Kabari gue kalau udah sampai. Kabarin kalau mau pulang. Pokonya kabarin gue terus," ujar Shakil.
"Kenapa?"
"Gue takut lo kenapa-napa! Lo itu tanggung jawab gue. Jadi lo harus terus ada di bawah pengawasan gue. Ngerti?"
"Iya ngerti Shakil! Janji ya lo bakal terus jagain gue," ucap Shakilla.
"Ada saat nya lo harus hadapi semuanya sendiri. Cantiknya Shakil mah kuat, ya kan?"
"Apasih! Lo mau selingkuh ya?"
"Ck, susah emang kalo ngomong sama cewek lemot!"
...****************...
"Ayok masak!!!" Rissa dengan girangnya saat melihat Shakilla sudah ada di depan pintu rumah nya.
"Baru juga sampe! Di tawarin masuk dulu kek!" kesal Shakilla pada sahabatnya itu. Rissa nyengir lebar.
"Ayok masuk ratu nya tuan Shakil," ujarnya seraya membungkukkan badan, sudah seperti pelayan yang menyambut tuan ratu nya.
Shakilla berjalan masuk dengan muka angkuhnya, melewati Rissa yang masih setia pada posisinya.
"Gue mau jus mangga dong Bu!!" ucap Shakilla saat dia sudah duduk manis di sofa.
"Bu? Gue masih muda ye!!" Rissa tak terima ucapan Shakilla. Dia berjalan dengan muka kesal mendekati Shakilla.
"Bukan ibu tapi Babu!! Tadi lo bilang ratu ke gue. Berarti lo kan babu gue!!"
"Gue kan bercanda! Lo mah gak ngerti yang namanya canda-canda!" kesal Rissa lalu duduk di sofa depan Shakilla.
"Oh. Ambil minum dong sana. Haus nih," dengan tatapan angkuhnya Shakilla menatap Rissa.
"Untung sahabat gue lo," Rissa berdiri lalu melenggang pergi ke arah dapur dengan mulut yang selalu mengumpat receh sahabatnya itu.
"YANG IKHLAS!!" teriak Shakilla seraya tertawa puas melihat Rissa kesal. Tidak butuh waktu lama, Husna sudah kembali membawa dua jus mangga untuknya dan untuk Shakilla, beserta beberapa cemilan.
"Sini sini!" ucap Shakilla girang saat melihat ada cemilan kesukaannya.
"Iya bawel! Girang amat lo. Kaya gak pernah jajan aja!"
"Cepat sini, gak usah banyak ngomel lo!" Shakilla mengambil paksa nampan berisi jus dan camilan yang masih berada dalam genggaman Rissa.
Rissa menatap sinis Shakilla. tapi Shakilla tak menghiraukan tatapan Rissa, ia memakan cemilan sesekali menyeruput jus mangga dengan senyum yang terus mengembang.
"Enak banget cemilannya!" Shakilla memakan nya tanpa menawari sang pemiliknya.
"Bagi dong!" ujarnya lalu duduk di samping Shakilla.
"Mau?" tanya Shakilla dengan mulut yang penuh dengan mulut yang terus mengunyah.
"Mau lah! Kalau gak mau, ngapain gue minta!" ujarnya sambil menyomot camilan yang berada di tangan Shakilla.
Mereka berdua memakan cemilan sesekali saling mengejek, sampai camilan habis tak tersisa.
"Yah... Habis kan cemilan nya!! Lo sih Riss, makannya cepet amat," Shakilla memfitnah Rissa. Padahal dirinya yang memakan cemilan dengan semangat.
"Nanti gue kasih lagi! Sekarang kuy
m masak-masak," ujar Rissa seraya tersenyum senang. Mereka berdua berjalan meninggalkan ruang tamu menuju dapur untuk memulai masak-masak ala Aliya.
Readers tercinta jangan luka kasih semangat sama Author dengan cara like cerita ini, komennn, dan jangan lupa VOTE ya.
Satu lagi bunga mawar sama kopinya jangan lupa yaππ
Terima kasih semuanya...