
"Gimana kalo kita pacaran?" ucap Shakil sambil tersenyum menggoda.
"Gak mau gue! Mending jomblo!"
"Bukan pacaran selamanya dodol!" gemas Shakil sambil mengunyel pipi Shakilla.
Shakilla menatap Shakil kesal, "Terus?"
"Pacaran tapi cuma lima menit terus putus,"
"Pacaran apaan tuh lima menit, gak mau gue!"
"Terus lo mau nya apa? Pacaran sampai menikah?" Goda Shakil.
"Itu juga gak mau!"
"Terus mau nya langsung nikah?"
"Dih, Lo ngomong nikah Mulu dari kemaren dah!" ujar Shakilla memicingkan matanya.
"Wah jangan-jangan lo suka sama gue ya? Ngaku aja deh!"
"Kalo iya kenapa? Kalo nggak kenapa?"
"Secara pesona gue kan gak ada lawan. Fiks lo suka gue!" ujar Shakil dengan percaya diri.
"Gue suka sama lo? Jangan ngarep deh!" Kata Shakilla.
"Siapa yang ngarep! Ogah!"
"Dasar kecil!"
"Dari pada lo gede!"
"Ayok lah pacaran lima menit, gue gabut!"
"Manfaatnya buat gue apaan?!"
"Jadi lo gak di ejek sama Rissa."
"Kok jadi Rissa sih!"
"Rissa kan sering ngledek lo jomblo akut!"
"Iya juga yah, kalo kita pacaran lima menit terus putus, gue bisa jawab ke Husna kalo gue bukan jomblo akut, tapi udah punya mantan." Crocos Shakilla.
"Pinter!" Sambil mengacungkan jempolnya.
"Cuma lima menit kan?" tanya Aliya memastikan.
"Iya, selama lima menit kita gak boleh bertengkar," Shakilla mengangguk setuju.
"Mulai, killa mau gak jadi pacar lima menit gue," ujar Shakil sambil memegang tangan Shakilla.
"Mau,"
"Udah pacaran nih kita," ucap Shakil.Dibalas anggukan oleh Shakilla.
"Pacar, punggung gue sakit nih," ucap Shakil sambil menunjuk punggungnya.
"Mana? Sini biar gue pijatin," ucap Shakilla seraya memijat punggung Shakil.
Mereka berdua saling pijat memijat sampai tak terasa waktu lima menit telah berlalu.
"Putus!" ucap Shakilla sambil mendorong bahu Shakil.
"Udah jadi mantan dong?"
"Iyalah, dasar mantan jelek!"
"Cepat pijatin lagi," ucap Shakil sambil menunjuk punggungnya. Shakilla yang melihat itu langsung menabok punggung Shakil dengan keras.
"Aww, sakit Killa!" ucap Shakil sambil meringis.
"Rasain, siapa gue lo, cuma mantan!" ucap Aliya.
"Lo lupa gue Bos Lo?" ujar Shakil sambil tersenyum meremehkan.
"Sebagai babu tiga Minggu. Lo harus nurutin semua yang gue perintahkan. Mengerti?"l
"Iya," jawab Shakilla malas.
"Gak boleh bantah! Paham?"
"Iya Shakil!" Kesal Shakilla.
"Gue pengen lo jadi pacar gue selama dua tahun!"
Shakilla menganga lebar, menit kemudian dia langsung menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.
"APA! DUA TAHUN?!" teriak Shakilla.
"Iya, gak boleh nolak!"
"Kok maksa!"
"Bos mah bebas!"
"Nyesel tadi gue nerima pacaran lima menit. Malah ngelunjak minta dua tahun," sambil memegangi kepalanya.
Shakil hanya tersenyum senang karena Shakilla nampak tersiksa. "Gue pulang dulu ya pacar!" Shakil menepuk lembut kepala Shakila sambil terkekeh geli.
"TERPAKSA GUE!! INGAT! TERPAKSA!!"
*****
"Pah... Hukuman Shakilla udah selesai kan?" tanya Shakilla sambil duduk disamping Raka yang sedang meminum kopi.
"Emang udah satu Minggu?"
Mendengar penuturan Papa nya membuat Shakilla mengerucutkan bibirnya.
"Iyaa pah, udah satu Minggu pas," ucap Shakilla dengan nada kesal.
"Terus?" tanya Raka membuat Shakilla sangat kesal.
"Kunci motor sama ATM aku belum Papah kasih," kesal Aliya. Kalo bukan Papah kandung pasti sudah Aliya buang ke kandang Harimau. Canda Harimau.
"Jangan di ulangi lagi ya," ucap Raka sambil menyerahkannya pada Shakilla.
Shakilla tersenyum senang, langsung memeluk sang Papah. "Makasih Pah.
Tapi gak janji ya," ucap Shakilla sambil terkekeh.
"Ada-ada aja kamu," Sambil mengelus puncak kepala Shakila dengan sayang.
"Sayang Papah,"
"Sama Mamah gak sayang nih," ujar Diana dari belakang dengan muka cemberut.
"Sayang dong," ucap Shakilla menghampiri Diana lalu mencium kedua pipi Mama nya itu.
"Shakilla mau tidur yah, udah malem."
Dibalas anggukan oleh Raka dan Diana.
*****
"JOROK BANGET RISSA!!" teriak Shakilla. "Ini itu upil Shakilla," Sambil menempelkan upil nya ke tembok toilet.
"Gue tau!! Ngapain Lo tempelin di tembok!" kesal Shakilla.
"Pengen aja, biar jadi kenangan," ujar Rissa sambil tersenyum puas. Lalu Dia mengambil bolpoin dari saku rok nya.
Shakilla mendelik. "Kenangan pala lo! Lo bawa pulpen buat apa?" tanya Shakilla bingung.
"Buat namain upil ini," Rissa mulai melingkari upil nya tadi lalu memberi nama bahwa itu upil nya.
"Upil milik Rissa," Shakilla membaca nya dengan tampang kesal.
"Jorok Riss, cepat bersihin" ujar Shakilla.
"Gak mau, besok kesini lagi. Mau gue tambahin."
"Stres lo!" Shakilla hanya menatap Rissa dengan geram.
"Lo gak mau nyoba?" tanya Rissa.
"Gak!"
"Ayolah tambahin upil lo," rengek Husna.
"Gak mau!"
"Kasian upil gue gak ada temen," rengek Husna lagi.
"Gak Riss! Cuci tangan lo itu," ucap Shakilla menjauhkan tangan Rissa supaya tidak menyentuh seragamnya.
"Tangan gue bersih kok," sambil memandangi telapak tangannya.
"Tadi lo habis ngupil bego! Kotor lah!"
Rissa hanya berdecak, sahabatnya ini sangat lebay.
****
"Shakil ke kantin yuk," ajak Tasya sambil tersenyum manis. Tanpa di hiraukan Shakil.
"Shakil, nanti aku yang traktir," sambil duduk di samping bangku Shakil.
Shakil menatap tajam ke arah putri. "Lo pikir gue gak punya uang?"
"Bukan gitu..." ucap Tasya.
"Gimana kalo lo aja yang nraktir gue," ujar Tasya sambil tersenyum genit.
"Heh. Gambreng! Sono ke kantin sendiri," ujar Andre songong.
"Nama gue Tasya! Bukan gambreng!" kesal putri.
"Iya. Tasya gambreng," ejek Andre.
"Sialan, cantik gini di bilang gambreng!"
"Belang gitu. Muka putih leher item," ejek Andre sambil tertawa meremehkan.
Wawan, Banyu pun ikut tertawa mengejek.
"Awas lo!" Kesal Tasya sambil melangkahkan kakinya keluar dari kelas Shakil.
"Kantin kuy guys," ajak Wawan dengan semangat.
"Gas lah, bos yang bayarin," ujar Andre sambil cengengesan.
Shakil menatap Andre datar. Yang di tatap hanya menunjukan deretan giginya.
"Bos kan kaya raya, iya gak?" tanya Andre pada yang lain.
"Iya lah masa gak!" jawab Banyu.
"Aku mah apa atuh, cuma orang biasa yang tak berdaya," ucap Wawan mendramatisir.
"Kemarin lo bilang kalo bapak lo, Bos Rongsok," ujar Andre.
"Wah sekate-kate lo! Bapak gue itu pembisnis terkenal!" ucap Wawan menyunggingkan senyumnya.
"Bapak nya terkenal kok anak nya kaya gembel!" ujar Banyu tertawa puas melihat ekspresi memelas Wawan.
"Bos, masa Adek dikatain kaya gembel,"
Wawan mengadu sama Shakil seperti anak kecil yang sedang mengadu ke Ayahnya.
"Najis gue punya Adek modelan kaya lo!" Ketus Shakil, membuat semua nya tertawa kecuali Wawan. Dia hanya cemberut.
"Udah, kasian Wawan selalu ternistakan," ujar Faizan.
"Emang lo Sal, temen terbaik gue. Love
you Abang Faizan," ujar Wawan sambil tersenyum genit ke arah Faizan.
"Gue gak jadi kasian, mari kita hujat Iwan lagi!"