
"Cowok jelek yang waktu itu ganggu bayi gue namanya siapa?" tanya Shakil pada dedemit ******
Dedemit ****** saling tatap menatap Mereka sekarang sedang berada di markas ******. Duduk lesehan di atas karpet yang bergambar beruang telanjang. Sekaligus menonton acara televisi yang berjudul dua botak kembar alias Upin Ipin. Lebih tepatnya Wawan yang tengah menonton.
"Siapa Bos?" tanya Banyu bingung, di angguki inti geng ****** Karena mereka bingung, siapa cowok jelek yang Bos nya tanyakan.
"Malah nanya balik lo!! Yang kemarin lo bilang!" ketus Shakil.
"Santai dong Bos. Kena mental gue lama - lama."ucap Banyu yg ikut kesal.
Bayu mulai mengingat kemarin, detik kemudian ia tersenyum senang.
"Oh cowok yang suka sama Shakilla. Namanya Arvhi kelas dua belas," Banyu mengatakan apa yang ia dengar dari salah satu anggota ******.
"Jelek kan pasti orangnya?" tanya Shakil seraya mengambil Coca cola di depannya. Lalu meneguknya hingga tinggal setengah.
"Jelek lah! Mirip monyet malah. Eh monyet aja lebih ganteng dari pada si api (Avi) itu!" ucap Andre ikut menimbrung. karena kemarin dia tak sengaja berpapasan dengan Arvhi di parkiran sekolah.
"Bagus deh kalo jelek. Gue gak jadi hajar tuh orang," ujar Shakil santai. Wawan yang sedang asik menonton tv dua kembar botak langsung menoleh seketika.
"Loh! Gak seru dong Bos!!" Wawan heboh sendiri. Padahal dirinya sudah menyiapkan kamera untuk merekam acara baku hantam antara Shakil dan Avi. Tapi semua harapannya hanya lah angan-angan semata.
"Kenapa lo?!" Shakil menatap aneh Wawan.
"Bos yang kenapa!! Kenapa gak jadi hajar si api apian itu! Gue kan udah beli kamera khusus buat rekam adegan baku hantam kalian, kecewa adek Bang," Wawan menatap Shakil dengan tatapan kecewa.
"Sumpah!! Temen siapa sih lo?!" Faizan yang muak melihat drama baru Wawan pun mengacungkan kedua jari nya membentuk seraya menghisap batang rokok nya.
"Bukan temen gue. Asli! Suer!!" Andre
"Gue juga gak pernah punya temen yang modelan begitu!" Banyu mengucapkannya seraya menghisap rokok.
"Mending lo lanjut nonton si botak Wan!" Wawan menatap Shakil dengan tatapan kecewa. Shakil menyuruh Wawan kembali menonton acara Botak kembar dengan nada ketus membuat Wawan langsung memanyunkan bibirnya.
"Kalian jahat sama Dedek!" ucapnya lalu memalingkan wajahnya menatap ke arah televisi lagi.
"Maksud Bos gini. Kan si Arvhi jelek, si Shakilla juga gak bakal mau sama cowok jelek macam t*i. Selera cowok dia yang ganteng nya kelewatan," jelas Andre, Dia tau selera Shakilla tak tanggung tanggung.
Andre selalu maju pertama kalau soal hina menghina. Mentang-mentang cakep.
"Astagfirullah, neng Shakilla Mandang fisik," ujar Banyu.
"Shakilla bukan Mandang fisik. Dia itu cuma gak terbiasa liat cowok jelek. Setiap hari nya kan Shakilla di kelilingi kita-kita para cowok ganteng," Andre dengan bangga nya.
"Iya juga ya, sudah terbiasa melihat cowok ganteng." Banyu sambil
"Lo itu ya Ndre, gak boleh hina Arvhi gitu banget. Walaupun muka Arvhi emang bener mirip t*i, tapi menurut gue sih masih mending tau". ujar Wawan.
...****************...
"Masukin sayurannya terus aduk-aduk," Shakilla terus mengoceh, sedangkan Rissa mendengarkan sambil melakukan.
Shakilla duduk manis sambil memakan buah Apel. Mengatur ini itu tanpa membantu Rissa yang terlihat tertekan.
"Lo enak-enakan duduk. Gue capek nih, masa ngajarin gini sih!!" Omel Rissa.
Percuma dirinya di ajarin masak kalau caranya begini, tau gini Rissa liat aja di YouTube. Mana jajan di rumah nya habis karena sudah Shakilla makan. Shakilla menulikan pendengarannya.
"Tinggal masukin penyedap rasa. Terus jadi Yeay!" ujar Shakilla tertawa kecil.
Sup ayam yang Rissa buat akhirnya jadi. Rissa menuangkan Sup ayam ke mangkuk yang ada gambar ayam jago merah di sisi mangkuknya.
"Yeay jadi, akhirnya gue bisa masak Sup Ayam," ujar Rissa seraya berjingkrak girang.
"Berkat gue itu. Ayok sungkem!" Shakilla dengan tampang songong nya.
"Sok iye lo! Lo mah ngatur-ngatur mulu. Rugi berat gue," omel Rissa, cemilan yang ia beli untuk satu Minggu, habis dalam satu hari di makan Shakilla.
"Namanya juga ngajarin ya ngatur lah. Gak tau Terimakasih lo, gue rela panas-panas kesini." kesal Shakilla.
"Iya-iya. Makasih banyak Shakilla sayang. Makasih udah ajarin gue masak sup ayam dan makasih juga udah habisin cemilan gue bersama anak-anaknya," ujar Rissa dengan senyum terpaksa nya.
Shakilla nyengir lalu garuk-garuk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Gue gak sadar waktu makan cemilan lo. Eh tau-tau nya abis. Jadi pindah deh makan buah-buahan."
"Udah lah lupain cemilan. Ayok kita cicipi sup Ayam nya," inilah yang Shakilla suka dari Rissa. Gadis itu sangat baik, dia mudah memaafkan sifat jail Shakilla.
Shakilla mencicipi Sup Ayam buatan Rissa dengan pelan, karena masih Sup nya masih panas. Sedangkan Rissa menatap Shakilla dengan muka penuh harapan.
"Gimana? Enak gak?" tanya Rissa antusias.
Shakilla tampak berpikir sambil kembali mencicipi Sup Ayam.
"Lumayan lah. Untuk pemula," jawab Shakilla sedikit berbohong.
"Lumayan aja nih? Gak enak ya?" Rissa menatap Shakilla dengan raut wajah sedih.
"Baper an lo, ini Sup nya enak banget. Sumpah! Tapi masih enakan buatan gue," ujar Shakilla.
Rissa tersenyum bahagia. Walaupun diakhir kalimat Shakilla tak pernah mau mengalah. Tapi gak papa, itu sudah membuat Rissa senang.
"Nanti sore gue mau masakin mami Sup Ayam!"
...****************...
"Di sekolahan aku. Nanti kamu kelas 3 aku kelas 4," ucap Fano. Qila mengangguk-angguk.
"Kamu kok aneh sih!"
"Aneh gimana? Aku ganteng gini loh. Gak aneh!" ujar Fano beralih menatap Fisya. Dirinya tidak terima di bilang aneh.
"Ya aneh. Kadang bilang gue lo kaya orang gede. Sekarang bilang aku kamu. Gimana sih? Bingung aku," ujar Fisya.
"Aku kalo bilang lo gue itu ikut-ikutan Bang Shakil sama Kak Shakilla. Biar keren," ujar Fano dengan senyum sok gantengnya.
"Aku juga mau ikutan ah," ucap Fisya.
"Gak boleh. Fisya cocoknya bilang aku kamu, soalnya gemesin," ujar Fano seraya menoel-noel pipi Fisya.
"Tengil banget sih kamu!"
"Cowok ganteng mah bebas, namanya juga LAKIK!"
Fano kembali bermain robot-robot an nya. Sedangkan Fisya bermain boneka Barbie nya.
"Fisya, kita jodohin aja boneka Barbie kamu sama robot punya aku. Gimana?" ucap Fano antusias.
"Kita nikahin? Biar apa?" tanya Fisya.
"Biar punya anak Fisya, Bunda sama Ayah kan nikah terus punya anak Bang Shakil sama Aku," ujar Fano.
"Hah apa hubungannya Fano?" Fisya menatap bingung Fano.
"Biar mainan kita punya anak. Kan nanti jadi banyak Fisya," ucap Fano dengan senyuman.
Fisya pun ikut tersenyum.
"Wah iya ide bagus. Ayok kita nikahin," ucap Fisya antusias.
"Ayok," Fano mengambil boneka Barbie milik Fisya. Lalu menaruh boneka Barbie itu tepat di samping mainan robot miliknya.
Fano pun mulai berkata.
"Robot terima nikahnya boneka Barbie cantik dibayar uang mainan sebesar seribu rupiah. Dibayar sekarang juga. Sah," ucap Fano berbicara sebagai robot.
"SAHH!!" teriak Fiyabahagia.
"Yeay udah nikah!" Fano pun tidak kalah senangnya seperti Fisya.
"Iya Fano. Kira-kira mainan kita punya anaknya kapan ya?" tanya Fisya.
"Nanti atuh Sya. Kan baru nikah tadi. Kata Bang Shakil, kalau mau punya anak harus ada prosesnya dulu," ucap Fano mengingat kata-kata Azka.
"Prosesnya apa Fano?"
"Aku juga gak tau. Nanti kita tanya ya sama Bang Shakil," ucap Fano.
"Fisya, kalau kita besar. Kamu nikahnya sama aku ya," ucap Fano menatap Fisya.
"Iya Fisya mau. Nanti kita bakal punya anak. Yeay!!" ucap Fisya.
"Iya Fisya. Aku mau cepet-cepet gede, biar bisa nikah sama Fisya," Fano tersenyum manis.
"Aku juga Fano!"
Setelah mengatakan tentang ajakan nikah. Mereka kembali melanjutkan kegiatan main robot dan boneka barbie yang sudah mereka nikahkan lima menit yang lalu.
...****************...
Shakil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang terlihat mewah. Shakil berjalan menuju kamarnya, ingin menemui gadisnya.
Shakil masuk ke kamarnya ternyata kosong. Ia pun kemudian turun kebawah. Mencari Shakilla ke dapur, ruang keluarga, taman tapi Shakilla tidak ada juga.
"Fano!!" panggil Shakil.
"Iya bang," jawab Fano yang sedang main robot-robot an nya.
"Kak Shakilla mana?"
"Kakak Shakilla belum pulang bang," jawab Fano.
Setelah mendengar jawaban dari Fano. Membuat Shakil berpikir keras, harusnya Shakilla sudah sampai sebelum dirinya sampai. Shakil berlari keluar rumah. Ia berkali-kali sudah menghubungi Shakilla tapi tidak di ada jawaban. Biasanya Shakilla akan langsung menerima panggilan telpon dari nya.
"Lo dimana sih Kill?!" Shakil mengacak-acak rambutnya sendiri. Shakil khawatir, tentu saja.
Shakil kembali melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah. Langit gelap tanda sebentar lagi akan turun hujan, mau hujan air, hujan api, hujan batu,
Readers tercinta jangan luka kasih semangat sama Author dengan cara like cerita ini, komennn, dan jangan lupa VOTE ya.
Satu lagi bunga mawar sama kopinya jangan lupa yaππ
Terima kasih semuanya...