
"Kenapa lo cantik banget sih Kill?" ucap Pria dengan pakaian serba hitam itu. Pria itu mengelus lembut seluruh wajah Shakilla,
Shakilla masih pingsan diatas kasur dengan tangan yang terikat.
"Lo itu cocok nya sama gue. Gak cocok sama si Shakil," ujar nya lagi.
Pria itu senantiasa memandangi Shakilla dalam-dalam.
Shakilla membuka matanya secara perlahan. Shakilla meringis, memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Shakil," gumam Shakilla yang masih mampu di dengar jelas oleh pria yang berada di sampingnya.
Pandangannya tertuju pada kamar yang terlihat sangat asing. Saat Shakilla menoleh kesamping betapa terkejutnya ia melihat ada pria berpakaian serba hitam.
"SIAPA LO?!" teriak Shakilla dengan muka yang memerah karena marah.
"Bajingan! Ngapain lo iket tangan gue segala! Di kira gak sakit apa!" Omel Shakilla berusaha melepaskan ikatan tali pada pergelangan tangannya. Pria itu masih diam memandangi Shakilla.
"Lo tuli? Pake di tutup segala tuh muka? Buriq ya?" Ejek Shakilla.
"Lo itu lagi gue culik. Masih aja galak!" Ujar pria itu lalu membuka penutup wajahnya. Sehingga wajah nya terlihat jelas oleh Indra penglihatan Shakilla.
"Loh! Lo kan cowok kemarin yang mirip t*i kan?" tanya Shakilla dengan muka cengo.
Arvhi menatap Shakilla tajam. "Gue Arvhi. Muka ganteng gini masa lo samain sama t*i sih!"
"Pokoknya mirip t*i." ketus Shakilla.
Shakilla berusaha menunjukan tampang galaknya. Walaupun dalam hati ia sangat ketakutan. Dia takut Arvhi melakukan hal yang tidak di inginkan.
"Lo gak takut sama gue?" tanya Arvhi.
Shakilla menjauhkan wajahnya saat wajah Arvhi mendekat.
"Jauh-jauh. Mulut lu bau jengkol anjir!! Eneg perut gue!" ujarnya seraya ARvhi menjauhkan wajahnya. Dia langsung menghirup aroma dari mulutnya.
"Bohong kan lo?" Selidik Arvhi sambil memicingkan sebelah matanya.
Shakilla tertawa puas karena telah mengerjai Arvhi. Kemudian ia berdehem singkat.
"Tujuan lo culik gue apa?" tanya Shakilla serius.
"Milikin lo!" Jawab Arvhi enteng. Seketika Shakilla melototkan matanya ke arah Arvhi.
"HAH!!" teriak Shakilla membuat Arvhi terperanjat kaget.
"Santai dong!" kesal Arvhi seraya mengusap dadanya.
"Maksud lo apa t*l*l?"
"Gue mau milikin lo! Maksudnya gue mau ngelamar lo jadi calon istri," ujar Arvhi seraya tersenyum.
"Tujuan lo cuma itu?" tanya Shakilla memastikan. Arvhi langsung mengangguk.
"Sialan! Lo dengan teganya bius gue, waktu gue lagi nangisin motor yang mogok. Dengan tampang tidak tau dirinya, Lo juga mau ngelamar gue?!" kesal Shakilla. Arvhi kembali mengangguk.
"Beg*! T*l*l! bi*dapppp!!!!" kesal Shakilla mencak-mencak. Arvhi nyengir tanpa dosa.
"Gue itu awalnya gak ada niatan nyulik lo! Iseng aja gue liat lo nangis pinggir jalan, jadi gue culik aja deh. Biar keren," jelas Arvhi.
"Keren kagak! G*blok iya!!" kesal Shakilla.
"Motor gue lo kemanain? Jangan bilang kalo lo tinggal!!" lanjutnya. Shakilla tak habis pikir dengan cowok di sampingnya ini. Terlalu goblok untuk ukuran cowok SMA.
"Gue bawa bengkel lah! Motor butut lo" Ujar Arvhi
"Kirain lo tinggal. Eh enak aja butut. Tuh motor baru gue beli dua bulan yang lalu." Elak Shakilla. Enak aja motor kesayangannya di bilang butut.
"Iya dah serah!"
"Lepasin dong talinya. Lengan gue sakit!" Shakilla seraya menyerahkan lengannya ke Arvhi.
Arvhi mulai membuka tali itu dengan perlahan. Setelah terlepas, Arvhi berkata.
"Lo mau kan nikah kan sama gue?"
Shakilla menatap Arvhi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Cukuplah saja berteman denganku..." Shakilla bernyanyi secara tiba-tiba
"Janganlah kau meminta lebih. Ku tak mungkin mencintaimu, kita berteman saja." Shakilla bernyanyi dengan suara lumayan merdu.
Arvhi hanya diam saja, menunggu Shakilla selesai bernyanyi.
"Berteman dengan baik, sekian terimakasih." ucap Shakilla.
"Lanjutannya itu kan teman tapi mesra!" ucap Arvhi.
"Lo mau jadi teman mesra nya gue?" Arvhi mengangguk.
"Mau mati lo?! Udah bosen hidup? Mau di tempeleng dari dunia sama Shakil? Mau jadi miskin sekarang juga? Mau di grebek nih rumah sama anggota ******? Mending sadar diri yuk!" jelas Shakilla.
Shakilla menolak lamaran Arvhi lewat nyanyian nya.
Seketika Arvhi menggelengkan kepalanya. Dirinya juga sadar tidak sekaya Shakil, setampan Shakil, sekuat Shakil.
"Lo tolak gue?" tanya Arvhi. Shakilla mengangguk.
"Gue udah janji mau nikah sama Shakil," alibi Shakilla.
"Gak bisa lo cabut tuh janji?"
"Ya kagak bisa lah. Gue sama Shakilla tuh udah sama-sama dari bayi, jadi gak bakal bisa di pisahkan!"
"Lo gak ada niatan tinggalin dia gitu?" tanya Arvhi penuh harap.
Shakilla menggeleng yakin.
"Yakali gue tinggalin Shakil demi lo!" ketus Shakilla.
Arvhi menghela nafasnya berat.
"Gue mau pulang!!" ucap Shakilla.
"Sia-sia dong gue culik lo," ujar Arvhi.
"Lagian. Orang lagi nangis lo malah culik. Pusing nih pala gue!" Shakilla nyolot.
"Kalo kata Fano bukan LAKIK!" ucap Shakilla.
"Noval siapa?"
"Calon adik ipar gue." ucap Shakilla
Arvhi memutar bola matanya malas.
"Yuk pulang! Gue takut khilaf, berdua-duaan sama cewek perawan," ajak Arvhi.
"Lo khilaf nyawa melayang! Shakil aja gak berani nyentuh gue,"
"Shakil mulu perasaan!" Tanpa di jawab Shakilla. Shakilla turun dari ranjang.
"Kalo lo mau. Lo bisa tinggal disini bareng gue," ujar Arvhi dengan senyum menggoda.
"Najis!!! Bagusan juga kamar nya Shakil!"
Arvhi membawa Shakilla keluar kamar menuju ke ruang tamu. Shakilla menatap ke kanan dan ke kiri, Rumah Arvhi terlihat sangat sepi.
"Rumah lo kok sepi?" tanya Shakilla sembari celingukan mencari orang.
"Nyokap gue udah meninggal. Bokap gue sibuk sama pekerjaannya. Jadi gue tinggal sendiri di rumah," jelas Arvhi.
"Maaf. Gue gak tau kalau nyokap lo udah gak ada," ucap Shakilla tidak enak.
Arvhu tersenyum. "Gak papa, santai."
...****************...
Shakil mengendari motornya dengan kecepatan tinggi. Shakil akan pergi ke rumah Rissa, barangkali Shakilla masih di sana.
Saat di perjalan, Hujan turun dengan sangat deras mengguyur seluruh tubuh Shakil.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar dua puluh menit akhirnya Shakil telah sampai di depan rumah minimalis Rissa.
Shakil menekan bel rumah Rissa berkali-kali.
"Siapa?" Rissa terbengong melihat kedatangan Shakil.
"Shakil! Ngapain lo kesini hujan-hujanan lagi?" lanjutnya.
"Shakilla mana?" tanya Shakil sambil menengok ke dalam rumah Rissa yang terlihat sepi sebab Mami nya Rissa belum pulang.
Rissa mengerutkan dahinya bingung.
"Loh, bukannya Shakilla udah pulang dari jam setengah tiga," ujar Rissa.
"Tapi belum sampai ke rumah Riss. Gue telpon juga nomer nya gak bisa di hubungin," ucap Shakil seraya menggosok kedua tangannya karena kedinginan.
"Terus kemana? Ya Allah, kalo Shakilla di culik gimana ya?" ujar Rissa dengan panik.
"Kalo lo tau kabar Shakilla langsung hubungi gue. Gue pergi," ujar Shakil lalu meninggalkan Rissa. Rissa mengangguk sebagai jawaban.
Shakil menerobos derasnya Hujan. Tidak peduli dengan tubuhnya sendiri.
"Lo di mana Kill. Gue khawatir," gumam Shakil di balik helm full face nya.
Shakil sudah berkeliling sejak satu jam yang lalu. Shakil menghentikan motornya di pinggir jalan, lalu duduk di samping motornya. Dengan keadaan yang terlihat sangat acak-acakan.
...****************...
"HP gue mana?" ujar Shakilla pada Arvhi. Shakilla dan Arvhi sedang duduk di sofa ruang tamu. Shakillaakan pulang saat hujannya reda.
"Hp lo ada di laci kamar gue," ucap Arvhi. Arvhi berdiri ingin mengambil Hp Shakilla yang ada di kamar.
Arvhi kembali membawa HP Shakilla. Arvhi menyodorkan nya pada Shakilla yang langsung di terima oleh Shakilla.
"Makasih," ujar Shakilla. Arvhi mengangguk lalu mendudukkan kembali pantatnya pada sofa di depan Shakilla.
Shakilla akan menghubungi Shakil terlebih dahulu. Saat melihat log panggilan, ada delapan puluh sembilan panggilan tak terjawab dari Shakil.
"Kenapa lo gak angkat sih telepon dari Shakil!!" kesal Shakilla menatap tajam Arvhi.
"Yakali, gue kan lagi culik lo. Masa angkat telpon nya si Shakil. Nanti ketahuan dong!" Shakilla tak menggubris ucapan Arvhi, Saat Shakilla akan menelpon Shakil. Ada telpo masuk dari Rissa, Shakilla buru-buru mengangkatnya.
Husna: Kill?
Aliya: Iya, ada apa Rissa?
Husna : Lo dari mana aja hah! Tadi Shakil cariin lo sampai badannya basah kuyup. Kenapa lo gak kabarin Shakil dulu sih, kasian cowok lo!
Shakilla kaget mendengar Omelan Rissa. Shakilla tau kalau Shakil mudah sekali demam.
Shakilla langsung memutuskan telpon nya sepihak. Ia berlari keluar rumah. menerjang Hujan deras tanpa memperdulikan teriakan Arvhi yang menyuruhnya untuk kembali.
Shakilla berlari seperti tidak ada halangan sama sekali. Dia ingin segera bertemu dengan Shakil nya. Karena perumahan Arvhi tidak jauh jaraknya dari perumahannya. Hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menitan untuk sampai.
Shakilla berlari di jalan yang tampak sepi, kendaraan pun jarang ada yang lewat. Mungkin karena hari mulai sore dan juga hujan yang sangat deras. Saat sedang berlari pandangan Shakilla tertuju pada seorang cowok yang tidak asing sedang duduk di pinggir jalan dengan motor yang letaknya tak jauh dari situ. Shakilla tau motor siapa itu, motor yang sama dengan motornya cuma beda warna sedikit.
"SHAKIL!" teriak Shakilla yang mampu di dengar jelas oleh siapapun.
Mendengar suara Shakilla, Shakil menoleh dengan cepat. Buru-buru dia berdiri, Shakil langsung berlari ke arah Shakilla yang sedang berdiri tidak jauh dari dirinya.
Shakil langsung mendekap erat tubuh mungil Shakilla, dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Lo dari mana? Gue khawatir," gumam Shakil. Shakilla membalas pelukan SHAKIL tak kalah eratnya.
"Kalau terjadi sesuatu sama lo, gue gak akan pernah maafin diri gue sendiri Killa!" jelas Shakil. Ia mengeratkan pelukannya, ia menangis dalam diam.
Belum ada empat jam hilangnya kabar dari Shakilla sudah membuat Shakil khawatir setengah mati. Shakil sudah uring-uringan takut Shakilla pergi darinya.
"Beberapa jam lalu gue takut lo pergi tinggalin gue. Jika gue berpisah dari lo, maka gue juga akan berpisah dari diri gue sendiri," Shakil mengatakan nya dengan lemah.
"Karena hanya Shakilla, Sekarang dan selamanya cuma Shakilla kehidupan Shakil. Shakilla kekuatan dan kelemahan Shakil. Shakilla juga ketenangan Shakil dan rasa sakit Shakil," ucap Shakil dengan suara bergetar.
"S-hakil," ucap Shakilla tidak dapat membendung air matanya. Shakilla meleraikan pelukannya lalu menangkupkan kedua tangannya pada pipi Shakil. Menatap nya dalam.
"Badan lo panas. Kenapa lo cari gue sampe segitunya hah! Liat lo sakit, kalo lo sakit gue juga ngerasain sakitnya," ucap Shakilla dengan air mata yang terus mengalir.
"Lo juga kehidupan gue Shakil. Lo pikir gue bisa hidup tanpa lo? Gak! Gue gak akan bisa," Shakilla menangis tersedu-sedu menatap prihatin cowok yang menjabat sebagai sahabat sekaligus kekasihnya.
"Hei kok lo malah nangis, cantik nya Shakil kok cengeng," ucap Shakil lalu kembali memeluk Shakilla.
"Gimana gak nangis, liat keadaan lo kaya gini." Shakilla meleraikan pelukannya beralih menatap Shakil yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Jangan liat gue kalo itu bikin lo sedih," ucap Shakil
"Gak liat lo yang bikin gue makin sedih,"
"sampai kapan pun akan selalu jadi milik Shakil"
"Kita itu di takdirkan untuk bersama. Sekuat apapun dunia ini akan memisahkan kita. Kita tidak akan pernah berpisah." Shakil megecup berkali-kali dahi Shakilla.
"Shakil tidak akan pernah lengkap tanpa Shakilla. Begitu juga Shakilla yang tidak akan pernah lengkap tanpa Shakil." Shakilla dengan senyuman manisnya.
Cup.
Shakil mengecup singkat bibir mungil Shakilla. Membuat Shakilla terdiam seketika. Jantungnya terasa ingin melompat keluar hanya karena kecupan satu detik itu.
Shakil terkekeh melihat tingkah lucu Shakilla. Di bawanya kembali tubuh mungil itu dalam pelukannya.
"Maaf dan terimakasih. Maaf karena gue udah lancang cium bibir lo tanpa izin. Terimakasih untuk first kiss lo itu," Shakilmengelus lembut punggung Shakilla yang basah.
Kedua remaja yang sedang di mabuk cinta itu masih setia berpelukan di bawah derasnya hujan, dan langit yang terlihat gelap.
Readers tercinta jangan luka kasih semangat sama Author dengan cara like cerita ini, komennn, dan jangan lupa VOTE ya.
Satu lagi bunga mawar sama kopinya jangan lupa yaππ
Terima kasih semuanya...