SHAKIL&SHAKILLA

SHAKIL&SHAKILLA
Part.44



Karena kehujanan kemarin, sekarang Shakil jadi jatuh sakit. Shakil tipikal cowok kalo terkena air Hujan lama-lama, pasti langsung Demam.


Shakilla izin tidak berangkat sekolah hari ini untuk merawat Shakil.


"Ayok di makan dulu buburnya," ujar Shakilla yang senantiasa duduk di sisi kasur.


Shakil menggeleng.


"Gak mau!!"


Shakilla berdecak sebal.


"Makan Shakil! Nanti gak sembuh-sembuh sakitnya," kesal Shakilla.


Shakil kembali menggeleng.


"Pait Shakilla," rengek Shakil seperti Bayi.


"Gak mau tau. Pokoknya harus makan!" tegas Shakilla seraya mengaduk pelan bubur di mangkuk yang berada di genggaman tangannya.


"Tadi pagi kan udah makan," ucap Shakil.


Shakilla berusaha untuk tidak emosi.


"Itu kan waktu pagi Shakik, sekarang kan udah sore. Jadi harus makan lagi," jelas Shakilla.


"Gue kan gak laper. Kok lo maksa sih, bubur nya gak enak lagi," ucap Shakil memandang Shakilla dengan muka masam.


"Ini itu enak. Gue yang bikin."


"Pokoknya gue gak mau makan." Kekeuh Shakil masih pada pendiriannya yaitu tidak mau makan bubur.


"Makan ya Shakil, Lo mau minta apa? Nanti gue kabulin deh," bujuk Shakilla. Shakil langsung tersenyum senang, lalu seketika duduk menghadap Shakilla.


"Maksimal berapa permintaan?" tanya Shakil antusias.


Shakilla mendadak berfikir seraya mengetukkan jari telunjuknya ke dahi.


"Emmm, dua aja deh." ujar Shakilla yang tidak mikir gimana nasib kedepannya.


"Janji bakal di tepatin?" tanya Shakil memastikan.


"Iya Janji," Shakilla seraya memutar bola matanya malas.


"Tapi lo harus habisin bubur nya dulu. Jangan sampe ada sisa!"


Shakilla mengangguk.


"Siap!" ucap nya semangat.


"Cepet apa! Jangan lama-lama, keburu dingin buburnya," omel Shakilla.


"Iya bawel! Yang pertama, gue mau malam ini lo tidur di sini sama gue," ucap Shakil tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.


Shakilla melotot kearah Shakil.


"Gak mau! Gak mau!!" tolak Shakilla mentah-mentah.


"Udah janji lo gak bakal nolak. Cuma tidur doang kok, serius," ucap Shakil meyakinkan Shakilla.


Shakilla pun mengangguk pasrah.


"Terus apa lagi?! Jangan aneh-aneh mintanya!"


"Yang kedua, gue mau bulan depan nikah. Gak boleh nolak," ujar Shakil dengan senyuman manisnya.


Shakilla memandang Shakil dengan tatapan menyesal.


"Nikah? Bulan depan?"


Shakil mengangguk mantap.


"Iya. Inget, gak boleh nolak."


"Gak mau Shakil! Lo kok maksa sih!" kesal Shakilla.


"Heh, kan lo yang nawarin tadi!" ucap Shakil dengan senyum kemenangan.


"Ganti ya. Kita masih kelas sebelas loh," bujuk Shakilla.


"Dua bulan lagi kan naik kelas dua belas," ucap Shakil.


"Tau. Bagi gue nikah itu bukan permainan Shakil. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Gue itu mau nikah seumur hidup sekali," Shakilla mencoba menjelaskan pada Shakil.


"Lo pikir gue mau nikah sepuluh kali gitu? Gila. Gue juga mau nikah satu kali doang seumur hidup! Dan, gue juga gak pernah menganggap pernikahan itu permainan. Menurut gue, kalo gue sanggup halal in lo sekarang! Kenapa harus nanti. Mau nikah sekarang ataupun tahun depan juga sama aja, Lo tetap akan nikah sama gue!" jelas Shakil sedikit kesal.


"Jadi lo tunggu apa lagi? Tunggu dosa lo sama gue numpuk? Kan kalo pacaran setelah menikah itu lebih enak, gak dosa." lanjut Shakil.


Rasanya Shakilla ingin menghilang saja dari dunia ini. Mau nolak, tapi sudah janji. Mau terima, tapi Shakilla takut. Shakilla takut suatu saat nanti Shakil akan pergi meninggalkannya.


"Setelah lulus aja gimana?" tanya Shakilla.


Shakil menggeleng cepat.


"Gak! Gue mau nya bulan depan. Tidak terima penolakan!" tegas Shakil.


Tidak ada pilihan, akhirnya Shakilla hanya mengangguk pasrah. Toh, Shakilla tau sifat Shakil, dia tidak akan mungkin meninggalkan nya.


"Lo bilang sama Papa dulu, pasti gak di izinin," ucap Shakilla.


"Kita liat aja nanti," ucap Shakil dengan percaya dirinya.


"Cepat di makan. Sampai habis! Awas aja kalo gue liat masih ada sisa! Gue gak akan mau nikah sama lo!" Ancam Shakilla.


Shakil terkekeh.


"Siap dong. Pasti habis ini mah," Shakil mengambil mangkuk yang ada di pangkuan Shakilla. Lalu memakannya dengan sangat lahap sampai mangkuk nya bersih keinclong.


"Udah habis!" ucap Shakil girang seraya menyerahkan mangkuk kosong ke arah Shakilla.


Shakilla menganga, sedetik kemudian raut wajahnya terlihat kesal.


"Itu sih habis nya cepat! Tadi di suruh makan, gak mau!!"


"Cepat dong. Kan bulan depan nikah," ucap Shakil dengan senyum bahagianya.


"Kin bilin dipin nikih. Halah b*cot!" Ejek Shakilla.


Rasa sakitnya mendadak hilang, Shakil terus saja tersenyum-senyum sendiri.


...****************...


"HALLO GAESS!!" teriak Wawan tidak tahu tempat.


Wawan masuk ke dalam kamar Shakil diikuti oleh Andre, Faizan dan Banyu. Mereka datang untuk menjenguk kepala sukunya.


Wawan langsung melompat ke arah kasur Shakil lalu merebahkan tubuhnya tepat di samping Shakil.


"Ngapain lo Wan! Pergi gak?!" Shakil langsung memberi tatapan tajam nya pada Wawan. Wawan yang di tatap hanya bisa tersenyum.


"Yaelah bos. Lagi sakit juga, masih aja galak!" ucap Wawan beranjak turun dari kasur Shakil.


"Berisik!" ketus Shakil.


Wawan langsung diam seketika. Sedangkan Andre menahan tawanya saat melihat raut wajah ngenes Wawan.


"Lagian lu gak ada kalem-kalemnya jadi setan," sindir Andre.


Wawan melototkan matanya.


"Kalo gue setan berarti lo iblis dong!"


"Salah. Lo setan sedangkan gue pangeran," ucap Andre seraya bersedekap dada.


"Pangeran tapi kok di tolak sama Zahra," sindir Wawan seraya tersenyum mengejek.


"Kalo mau ribut mending kalian pulang aja deh!" ucap Faizan tanpa ekspresi.


Andre dan Wawan langsung terdiam tapi mata mereka saling melotot satu sama lain. "Bos, gue kangen banget sama lo," ucap Banyu seraya melebarkan kedua tangannya lalu mendekat ke arah Shakil berniat ingin memeluknya.


"Najis!" ucap Shakil seraya melemparkan bantal ke arah Banyu.


"Jahat banget sama Gue Bos," ujar Banyu dengan tampang sedih.


"Zan, temen Lo gak ada yang bener!" ucap Shakil pada Faizan yang sedari tadi hanya diam.


"Bukan temen gue Bos!" ucap Faizanyang langsung mendapat tatapan tajam dari ketiga teman gilanya.


Shakilla masuk ke kamar seraya tersenyum kecil. "Kalian udah pada makan belum?" tanya Shakilla. Dedemit Semp*k langsung menggeleng.


"Belum!" jawab mereka kompak kecuali Faizan. Cowok itu seperti biasa, hanya diam.


"Mau makan?"


"Tadi gue habis masak. Di makan gih sana, di meja makan." ucap Shakilla menyuruh mereka makan sendiri ke dapur.


"Kita habisin boleh Kill?" tanya Banyu.


"Heh. Di kasih gratis malah ngelunjak. Malu-maluin lu!" sindir Andre seraya menoyor kepala Banyu.


"Mau di makan sama piring-piring nya juga silahkan," ucap Shakilla santai.


Setelah kepergian Andre, Wawan dan Banyu. Di kamar kini hanya tersisa Shakilla, Shakil dan Faizan.


"Zan, Lo gak makan?" tanya Shakilla memandang Faizan yang sedang bermain hp seraya duduk di sofa. Faizan menggeleng.


"Gak laper Kill" jawab Faizan.


"Zan boleh minta tolong gak?" tanya Shakilla.


Faizan mengangguk.


"Boleh, minta tolong apa?"


"Itu, ambilkan motor gue di rumah nya Arvhie." ucapan Shakilla membuat Shakil langsung menatapnya bingung.


"Jelasin!" Perintah Shakil


"Kemarin itu kan gue pulang dari rumahnya Rissa. Nah di jalan motor gue mogok, hari mau hujan terus gue lewat jalan pintas yang sepi banget. Nah pas gue lagi nangis Arvhie culik dan sekap gue, gue pun pingsan. Pas bangun gue udah ada di kamar nya Arv-" ucapan Shakilla terhenti karena di sela oleh dua cowok yang ada di hadapannya.


"Lo gak di apa-apain kan?" tanya Shakil dan Faizan barengan, dengan muka yang terlihat tegang.


"Gak diapa-apain kok. Dia itu culik gue katanya iseng. Sekalian mau ngelamar gue, gue tolak dong," jelas Shakilla.


"Arvhie Sialan!" kesal Shakil.


"Awas aja tuh anak. Berani-beraninya mau ngelamar cewek gue!" Shakil kesal, tentu saja.


"Lo beneran gak di apa-apain kan?" tanya Faizan memastikan.


Shakilla menggeleng.


"Nggak Sal."


"Gue mau hajar Arvhie boleh Bos?" tanya Faizan.


"Gak usah. Biar gue aja besok," ucap Shakil.


"Gue kan gak di apa-apain Ka, kok lo mau hajar Arvhie sih?" tanya Shakilla.


"Mau aja. Udah lama juga gak baku hantam. Lumayan buat rileks in otot-otot tangan gue," jawab Shakilla.


"Terserah lo aja lah, gue mau mandi dulu." Shakilla hanya berjalan mengambil pakaian ganti lalu masuk kedalam WC yang ada di dalam kamar Shakil.


"Gue pergi ya Bos. Cepet sembuh," ujar Faizan seraya bertos lalu melenggang pergi keluar kamar.


...****************...


Shakilla keluar dari WC dengan pakaian tidur berwarna abu-abu.


"Udah pada pulang?" tanya Shakilla seraya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


"Udah."


"Sini," ucap Shakil seraya menepuk pelan bagian kasur yang kosong di sampingnya.


"Ngapain?" tanya Shakilla bingung.


"Tidur, gue udah ngantuk." jawab Shakil.


"Kan masih sore!" Shakilla tidak habis fikir. Masih sore disuruh tidur.


"Kepala gue pusing Kill. Mau tidur," rengek Shakil.


Mau tidak mau Shakilla pun mendekat. Shakilla tidur di sisi Shakil, Shakil menarik tubuh Shakilla dalam pelukannya.


"Badan lo panas! Pakai baju dulu gih sana!" ucap Shakilla dalam dekapan Shakil.


"Gak mau! Gerah," tolak Shakil dengan mata terpejam


"Jidat gue panas Shakil," rengek Shakilla. Shakil terkekeh.


"Lo dingin, badan gue jadi seger," ujar Shakil.


"Gue kan habis mandi ya masih dingin lah! Mendingan lo, belum mandi"


"Gue mah gak mandi satu bulan pun masih tetap wangi," ujar Shakil


"Wangi palamu. Cepat tidur!" ujar Shakilla


Shakilla terus menggeliat, mencari tempat yang nyaman di dada bidang Shakil.


"Gak bisa tidur! Dada lo panas Shakil," ujar Shakilla dengan muka memelas.


"Iya-iya, gue pakai baju dulu," Shakil melepaskan pelukannya dari tubuh Shakilla. Lalu mengambil baju yang berada di atas meja samping kasur nya.


"Sejak kapan tuh baju ada disitu?" tanya Shakilla.


"Sejak siang," jawab Shakil seraya memakai baju itu ke tubuhnya.


"Kok gue gak liat! Kalau naro baju jangan sembarang gitu!" omel Shakilla.


"Iya, gak di ulangi lagi." jawab Shakil. Shakil kembali tidur lalu membawa tubuh mungil Shakilla dalam dekapannya. Shakil memeluk Shakilla erat seraya mengelus lembut rambut panjang Shakilla.


"Gimana? Enak?" goda Shakil.


"Lo yang keenakan, di peluk cewek cantik!" Shakil menggeleng pelan.


"Iya. Lo emang cantik, cantik banget malah,"ujar Shakil.


"Semua orang juga udah tau. Gak usah di omongin Mulu!"


"Kenapa? Suka-suka gue dong!"


Shakilla diam tanpa berniat membalas ucapan Shakil. Dia semakin memeluk erat tubuh Shakil. Berusaha memejamkan kedua matanya. Nyaman, itulah yang Shakilla rasakan saat ini.


"Kill?"


"Apa?"


"Kalo udah nikah gue boleh minta sesuatu gak?"


"Minta apa? Gue tabok lo ye!" ketus Shakilla.


"Gue mau punya anak 10. Mau yak?" rengek Shakil.


"Gila! ,dikira gue kucing apa!" Kesal Shakilla. Dia tidak habis fikir dengan jalan fikiran Shakil


"Kata orang. Banyak anak, banyak rezeki," ujar Shakil.


"Itu kebanyakan dodol! Dahlah tidur, ngomong sama lo bikin gue emosi aja!"


"Pokoknya mau 10 Aliya," rengek Shakil.


"Nikah Sono sama kucing!"


"Mana bisa?"


"Kagak bisa lah! Tidur ya Shakil, katanya tadi pusing," bujuk Shakilla seraya mengusap lembut rambut Shakil.


"Gak mau. Lo harus setuju dulu! ya Shakilla. Cuma 10 doang kok," bujuk Shakil seraya mengunyel pipi Shakilla gemas.


"Cuma? 10 loh! Itu bukan Cuma Shakil itu kelebihan," kesal Shakilla.


"Mana ada itu kurang loh!"


"Kurang palamu!! Kalo lo gak sakit, udah gue tabok nih pala!"


"Pokoknya 10 debay. Titik!"


"Dapetin restu bokap gue dulu! Baru ngomongin debay."


"Kalau udah dapet restu. Lo bakal kasih gue 10 Debay kan?"


"Gak lah!!"


"10 Debay, Harus mau! Wajib! Gak boleh nolak!!"


Readers tercinta jangan luka kasih semangat sama Author dengan cara like cerita ini, komennn, dan jangan lupa VOTE ya.


Satu lagi bunga mawar sama kopinya jangan lupa yaπŸ™πŸ™


Terima kasih semuanya...