
Shakilla baru selesai melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam.
"Adem banget nih hati kalo habis sholat," ujar Shakilla sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Shakilla kembali duduk lalu mencari ponsel di sekitaran kasur.
"Saat nya bersan-" ucapan Aliya terhenti saat mendengar teriakan macan betina.
"SHAKILLA!" teriak Diana dari bawah.
"Iya Ma?" tanya Shakilla sambil menaruh ponsel nya ke dalam saku celana kolornya.
"Ke supermarket sekarang," teriak Diana.
"Baru aja mau bersantai. Udah di suruh lagi. Mau marah takut di depak dari rumah." Gumam Shakilla.
Shakilla bergegas turun kebawah untuk menemui macan betina.
"Mau beli apa sih Ma? Mager banget!"
rengek Shakilla sambil menghentakkan kakinya.
"Cuma sedikit Shakilla."
"Mama bilangnya sedikit tapi aslinya banyak!"
"Beneran. Nih daftar belanjaan nya," Sambil menyodorkan secarik kertas kepada Shakilla. Shakilla menatap kertas itu tanpa.ekspresi.
"Pembalut satu? Kenapa gak langsung
bilang sih ma! Pake dicatet segala!" tanya Shakilla menatap mama nya kesal.
"Sedikit kan? Suka-suka Mama dong."
"Satu apa ini? Satu pack gede, kecil, atau sedang. Atau cuma 1pcs?" tanya Shakilla beruntun.
"Terserah kamu pokonya pembalut tanpa sayap."
"Enakan yang ada sayap nya Ma!"
"Kenapa?"
"Nanti kalo tidur berasa terbang." ujar Shakilla sambil terkikik geli.
"Ngaco! Udah sana keburu malem."
"Ini juga udah malem Ma!"
"Baru juga jam set tujuh."
"Langitnya sekarang petang apa cerah?"
"Petang," jawab Diana
"Kalo petang berarti?"
"Malem."
"Itu Mama tau! Ini itu udah malem bukan keburu malem."
"Terserah kamu aja lah! Udah cepet sana pergi."
"Uang nya mana?"
Diana mulai menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Mau sekalian beli es krim boleh Ma?"
"Boleh. Satu aja! Jangan banyak-banyak."
"Ck, pelit amat!"
"Biarin! Cari uang itu susah Shakilla."
"Ya itu makanya Shakilla minta."
*****
"Duh, gue mau pake motor apa sepeda ya?" gumam Shakilla sambil berpikir.
"Mau pake sepeda males mengayuhnya! Pake motor males nyetir." Gumamnya lagi.
Shakilla melirik keadaan di sekitarnya. Saat matanya mengarah ke arah rumah Shakil. Shakilla melihat Shakil yang sedang duduk santai di gazebo yang ada di halaman rumahnya sambil bermain ponsel.
Shakilla langsung tersenyum senang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke rumah Shakil.
"Shakil," panggil Shakilla sambil duduk di samping Shakil.
"Hm?" ujar Shakil tanpa menoleh ke
arah Shakilla.
"Ck, Lo sibuk gak?"
"Gak! Eh sibuk!" Shakil langsung merubah jawabannya. Firasatnya sudah tidak enak.
"Yang bener mana?"
"Sibuk Killa."
"Yahh..." jawab Shakilla dengan lesu.
"Kenapa lo?"
"Pengen ke supermarket tapi gue males nyetir motor!"
"Terus? Apa hubungannya sama gue?"
"Ada lah! Anterin boleh?" tanya Shakilla penuh harap sambil mengedipkan matanya.
"Males!"
"Boleh yak? Shakil... Boleh dong! Bentar lagi jam 7 Ka."
"Kok lo maksa?"
"Dari pada lo duduk disini sendiri kaya orang sinting. Mending nganterin gue," ujar Shakilla sambil tersenyum manis.
"Lo yang sinting!" Shakil berdiri lalu berjalan masuk ke rumahnya.
Shakilla hanya menatap kepergian Shakil tanpa berniat memaksa lagi.
"Dahlah. Naik sepeda aja, percuma maksa Shakil. Bikin darah tinggi aja!" Gumam Shakilla sambil beranjak ingin
pergi dari pekarangan rumah Shakil.
Saat Shakilla ingin masuk kembali ke dalam halaman rumahnya. Suara klakson motor mengalihkan perhatiannya. Shakillaberbalik dan mendapati Shakil
yang sudah siap memakai helm.
"Ayo naik."
"Katanya lo sibuk, gak papa kok gue mau ngayuh sepeda."
"Gue gak sibuk. Cepat naik."
"Ikhlas gak nih? Nanti dijalan gue diturunin!"
Shakil mendengus kasar.
"Ikhlas Shakilla. Kalo gue turunin lo dijalan. Bisa-bisa gue di hapus dari KK sama Bunda!" jelas Shakil.
"Oke. Alhamdulillah." ujar Shakilla sambil tersenyum lalu menaiki motor Shakil.
"Udah?"
"Udah, Yok berangkat!!" ujar Shakilla semangat. Shakil mulai melajukan motornya
dengan kecepatan sedang. Setelah
beberapa menit akhirnya motor Shakil berhenti di depan supermarket. Shakilla danShakil masuk ke supermarket.
"Lo mau beli apa? Muter-muter terus!"
"Gue lagi cari pembalut tanpa sayap!"
"Hah? Biasanya kan lo beli yang ada sayapnya."
"Ck, ini buat Mama."
Shakil hanya mengangguk kecil. Shakil terus memperhatikan Shakilla yang sedang fokus mencari pembalut tanpa sayap.
"Akhirnya ada!" ujar Shakilla sambil tersenyum senang.
"Apalagi?"
"Udah!"
"Jauh-jauh cuma beli satu pembalut?" tanya Shakil.
Shakilla menganggukkan kepalanya seperti anak kecil.
"Astagfirullah!"
Shakilla terkekeh melihat wajah Shakil yang menurutnya menggemaskan kaya taik ayam.
"Nambah satu sama es krim!" ujar Shakilla berlari untuk mengambil es krim.Shakilla kembali dengan membawa es krim dua cup.
"Udah!" Sambil menunjukan kedua es krim itu ke arah Shakil.
"Minta duit?" ucap Shakilla menyodorkan tangannya sambil tersenyum imut.
"Lo pikir gue suami lo?" geram Shakil.
"Calon!"
"Ngebet ya lo pengen jadi istri gue?!" Goda Shakil.
"Dih!!"
"Udahlah! Ngaku aja!"
"Gak!"
"Yaudah gak gue kasih duit." ancam Shakil.
"Iya iya. Calon suami minta duit. Seratus ribu."
"Gak papa, demi duit."
Shakil mulai merogoh saku baju nya lalu mengambil selembar uang seratus ribu.
"Kebiasaan lo! Udah gue anterin minta di bayarin pula." omel Shakil.
"Gak papa! Uang Shakil berarti uang Shakilla." Shakil menatap Shakilla malas.
"Gue tunggu di depan."Shakilla hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.
Shakilla berjalan ke arah kasir. Lalu dia membayar memakai uang yang yang diberikan melati padanya. Uang dari Shakilla dia simpan buat jajan.
"Rezeki anak Sholehah."
Shakilla berjalan keluar sambil menenteng kresek yang berisi pembalut dan es krim.
Shakil menatap Shakilla.
"Udah?"
"Udah. Ayok pulang!"
*****
"Ma. Shakilla mau ke rumah Shakil." ucap Shakilla pada Mamanya.
"Mau apa? Udah malem. Jangan main."
"Siapa juga yang mau main. Shakilla mau numpang tidur!"
"Loh kamu kan punya kamar sendiri."
"Iya. Gak bisa tidur Ma."
"Yaudah sana."
Shakilla sering numpang tidur di kamar Shakil. Menurut Shakilla.kasur Shakil sangat nyaman. Shakilla berjalan sambil membawa selimut untuk menutupi tubuhnya.
Karena cuaca malam hari sangat dingin.
Shakilla berjalan mengendap-endap ke arah jendela kamar Shakil
"Shakil!" ucap Shakilla dengan pelan.
Shakilla langsung saja membuka jendela itu. Lalu masuk ke dalam kamar Shakil dan mendapati kamar itu kosong.
"Shakil! Lo di WC?"
"Emmm!"
"Shakil woy!" teriak Shakilla dia tau kamar Shakil kedap suara.
"Emmm"
"Emm emm Mulu lo! Lo lagi ngapain?"
"Emm, lagi bab Shakilla. Lo ngapain di.kamar gue!" teriak Shakil dari dalam kamar mandi.
"Numpang tidur!! Boleh ya?" teriak Shakilla lagi.
"Gak!!" ujar Shakil.
Shakilla tak menghiraukan tolakan Shakil. Dia berjalan ke arah kasur king size milik Shakil. Langsung merebahkan tubuhnya.
"Nyamannya! Gue colong aja apa yah kasur ini!!" ujar Shakilla
"Enak aja!!" tukas Shakil yang baru saja keluar.
"Lo Beli kasur kek gini dimana? Gue pengen beli!!"
"Kasur gue itu limited edition! Cuma Shakil Aditya yang punya."
"Heleh. Sombong! Gue colong tau rasa
"Pergi sana! Gue mau tidur!"
"Gak mau! Lo tidur di sofa. Seperti biasa."
"Gak mau! Kamar siapa ini?"
"Lo!"
"Berarti gue penguasa kamar ini. Nah lo yang tidur di sofa."
"Gak mau!" tolak Shakilla.
"Yaudah pergi sana, ke kamar lo!"
"Tukeran kamar yuk. Lo tidur dikamar gue, gue tidur di kamar lo!"
"Gak!! Kamar lo banyak curutnya."
"Enak aja!!"
"Pergi sana. Gue males debat sama lo!"
"Gak mau Shakil."
"Ini itu kamar gue Shakilla."
"Kamar Shakil berarti kamar Shakilla. Semua milik Shakil berarti milik Shakilla."
"Gak!"
"Emang itu perjanjian yang lo buat sama gue. Waktu kita kecil."
"Perjanjian itu gue batalin."
"Ya gak bisa dong!"
"Bisa lah!"
"Semalam aja." Rengek Shakilla.
"Gak! Besok-besok juga lo numpang lagi."
"Gak deh."
"Gak percaya."
"Harus dong, ayok dong Shakil... Shakil baik deh,"
Shakilla terus saja merengek supaya di izinkan tidur di kamar nya Shakil
Shakil memandang Shakilla malas. Dirinya udah sangat mengantuk tapi Shakillaselalu saja
selalu tkannya.
"Terserah". ujar Shakil melangkahkan kakinya ke arah sofa.
"Makasih Shakil."
Shakil langsung merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Lo gak marah kan?"
"Gak!"
"Yakin?"
"Iya."
Shakilla memandang raut wajah Shakil yang tanpa ekspresi membuatnya takut.
"Yaudah deh, gue balik aja! Maaf ya!" ujar Shakilla pelan sambil membawa selimutnya untuk pergi ke kamar nya. Langkah Shakilla terhenti saat mendengar suara bariton milik Shakil.
"Gue gak marah. Cepat tidur. Ini udah jam dua belas. Lo gak tau di pojokan rumah Tante Rati ada hantunya." ucap Shakil.
"Emang ada hantunya?"
"Ada. Dia sering jalan-jalan kalau pas jam dua belas."
Ucapan Shakil seketika membuat tubuh Shakila jadi merinding. Shakilla lantas berbalik dan langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Oke, gue tidur sekarang." Sambil menutup wajahnya menggunakan selimut.
"Dasar penakut."
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMEN TEMEN ☺️☺️.