
Sesampai nya di rumah, Shakilla berjalan masuk lebih dulu diikuti dibelakang Fisya yang sedang tertidur nyenyak dalam gedongan Shakil.
"Ka, Fisya tidur di kamar kita ya?" tanya Shakilla.
"Kamar gue Shakilla!" ujar Shakil.
"Kamar lo kamar gue juga!!" ucap Shakilla btak mau kalah.
Shakil menghembuskan nafasnya pelan.
"Iya-iya, semerdeka lo aja," ujar Shakil pasrah.
"Cepet bawa ke kamar, kasian Fisya nya Syakil!" ucap Shakilla sambil mendorong tubuh Shakil pelan.
"Iya, bawel lo!" kesal Shakil lalu pergi menuju kamarnya yang ada di lantai atas,
Shakilla ikut berjalan membuntutinya.
"Ka, Lo yang ngomong sama Bunda ya?" ucap Shakilla saat Shakil sudah selesai menidurkan Fisya.
"Ngomongnya gimana?" tanya Shakil, pria itu bingung kata-kata apa yang harus ia utarakan.
"Ngomong apa aja dah! Supaya Fisya boleh tinggal disini," ujar Shakilla seraya melirik ke arah Fisya.
"Iya nanti gue ngomong sama Bunda," ujar Shakil.
"Okey, makasihh," ucap Shakilla sambil tersenyum lebar.
"Kasian ya Fisya. Masih kecil udah gak punya siapa-siapa," ujar Shakilla menatap prihatin ke arah Fisya.
"Kita nikah aja yuk,? Biar bisa adopsi Fisya," ujar Shakil seraya tersenyum.
"Nikah Mulu dah!!" kesal Shakilla menatap sangar ke arah Shakil.
"Gue kan pengen nikah!" rengek Shakil.
"Nikah nanti kalo udah lulus! Kita aja masih kelas sebelas!!" ucap Shakilla menatap sengit Shakil.
"Nikah sekarang aja yuk, gue bisa kok ngehidupin lo sama sepuluh anak kita nanti!" ucap Shakil sambil mengelus rambut Shakilla.
"Sepuluh? Gak sekalian aja dua puluh? Biar ngalahin keluarga halilintar!!" kesal Shakilla.
"Ide bagus tuh!! Ayok lah gass, " ucap Shakil seraya menaik turunkan alisnya.
"Ogah banget gue! Lo aja sono yang hamil!!"
"Mana bisa Killa?!"
"Udah ya Shakil!! Lebih baik lo turun, temui Bunda! Jangan ngomong ngelantur kesana-kemari!!" ucap Shakilla yang sudah kesal.
"Sholat dulu. Mau gue imam in gak?" Goda Shakil.
"Gak!! Buruan sana, bentar lagi adzan. Gue sholat di rumah!"
"Siap calon istrinya Shakil" ucap Shakil sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Lo itu cocoknya jadi cowok galak Ka. Udah deh. Kesel gue!"
"Emang lo mau gue galakin?"
"Gak mau lah!!"
"Lo mau gue diemin?"
"Gak mau lahhh!!!" jawab Shakil.
"Terus lo mau nya gue apain?" tanya Shakil datar.
Shakilla seketika nyengir lebar.
"Mukanya jangan jutek dong. Gue kan takut!"
Shakil lalu menghembuskan nafasnya kasar. "Dasar lemot!"
"Loh, kok lo malah ngejek gue?!" ujar Shakilla mencak-mencak.
"Udah ya. Ngomong sama lo gak akan ada habisnya," ucap Shakil lalu melenggang pergi keluar kamar.
"Dia yang salah! Dia juga yang marah!"
*****
"Sebelah situ belum bersih," ujar Dewi sambil menunjuk piring yang sedang Rissa cuci.
"Iyaa iya," ujar Rissa malas.
"Itu, gelasnya sekalian di cuci biar bersih semua," ucap Dewi pada putrinya.
"Capek Mami." ucap Rissa dengan muka memelas.
"Baru dua piring kok udah capek. Gimana kalo punya suami?" omel Dewi pada putri nya.
"Gampang tinggal mempekerjakan asisten rumah tangga," ujar Rissa sambil nyengir.
"Jawab mulu. Kamu itu cewek harus rajin Rissa!"
"Iya iya Mami, nanti rajin kok kalo udah besar," ucap Rissa.
"Emang sekarang kamu sekecil apa? Udah punya KTP juga!"
"Lihat tubuh Rissa imut-imut menggemaskan!"
"Imut!! Ireng cerumut ya iya!" ucap Dewi.
"Astagfirullah. Kena mental aku Mi!!.
"Mau jadi bintang film!"
"Ngawur!" ucap Dewi. Rissa langsung pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya.
*****
"Gimana? Udah ngomong?" tanya Shakilla saat melihat Shakil masuk ke kamar.
"Belum. Katanya Bunda mau kesini," ujar Shakil sambil berjalan menuju sofa.
Shakilla mengangguk.
"Shakil," panggil Shakilla.
"Apa?"
"Berarti umur Fisya sama Fano selisih satu tahun?" tanya Shakilla.
"Iya, Noval kan umur sembilan tahun. Fisya umur delapan tahun."
Shakilla kembali mengangguk sebagai jawaban. Semenit kemudian dia teringat belum mencatat tugas yang diberikan Rissa tadi Shakilla berdiri lalu berjalan menuju meja belajar milik Shakil. Shakil mengerutkan dahinya melihat tingkah aneh Shakilla.
"Tumben belajar!" sindir Shakil.
"Diem! Gue lagi nyalin jawaban Rissa!" jawab Shakilla dengan tangan yang sibuk menulis.
"Kenapa lo gak usaha kerjain sendiri. Kalo gitu terus, nanti lo ketergantungan," ujar Shakil menasehati Shakilla.
"Gue males Kil. Otak gue gak sepinter lo!"
"Kita keluar ke dunia ini barengan Killa Sekolah bareng, tumbuh besar juga bareng. Kalo gu pinter lo juga bisa pinter!"
"Gue itu pinter tapi gak diasah aja Shakil!" elak Shakilla.
"Itu sama aja oon Shakilla."
"Taulah!" ujar Shakilla melanjutkan mencatat tugas nya.
Shakil hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah gadisnya.
"Untung sayang," gumam Shakil lalu menyenderkan kepalanya pada senderan sofa.
Setelah sepuluh menit mencatat akhirnya selesai.
"Selesai!!" ucap Shakilla sambil membereskan buku-bukunya.
"Cepet amat!!" ujar Shakil yang sedari tadi terus memperhatikan Shakilla.
"Kan cuma nyatet! Gak mikir, jadi cepet lah!!" ujar Shakilla.
"Bunda kok belum datang!" tanya Shakilla dibalas gelengan kepala oleh Shakil.
"Gak ta--" ucapan Shakil terhenti saat mendengar suara Ibu negara di depan pintu kamarnya.
Shakil berjalan mendekat ke arah pintu lalu membukanya. Mawar pun nyelonong masuk sambil tersenyum ramah ke arah Shakilla.
"Bunda makin cantik," puji Shakilla seraya tersenyum lebar.
"Gak sia-sia setiap hari Bunda masker an," ucap Mawar sambil mengelus mukanya sendiri.
Shakilla hanya terkekeh geli melihat tingkah Mawar.
Mawar menoleh ke belakang berniat memanggil Shakil. Tapi pandangannya tertuju pada gadis kecil yang tertidur dengan damai di kasur putranya.
"Shakil! Anak siapa yang kamu bawa pulang?!" ucap Mawar melototkan mata ke arah Shakil.
"Nemu di taman," jawab Shakil membuat Mawar melototkan matanya lebar-lebar.
"Bunda serius Shakil!" tanya Mawar.
"Shakil juga serius Bunda... Tanya aja sama Killa," ucap Shakil sembari menunjuk Shakilla.
Shakilla mengangguk saat Mawar menatapnya. "Kita nemuin Fisyadi taman Bun. Fisya gak punya siapa-siapa jadi kita bawa ke rumah," jelas Shakilla was-was takut Mawar marah.
"Fisya boleh nggak tinggal disini?" Lanjut Shakilla. Mawar tampak berpikir sesekali melirik ke arah Fisya yang sedang tidur.
"Boleh," jawab Mawar membuat Shakilla dan Shakil seketika tersenyum lebar.
"Cantik banget, cocok nih sama Fano." ucap Mawar seraya mendekat ke arah Fisya.
"Astagfirullah Bund. Cocok apa nih?" tanya Shakilla.
"Cocok jadi teman. Kalo Fisya udah besar kayanya cocok jadi calon mantu," ujar Mawar membuat Shakilla dan Shakil seketika saling berpandangan.
"Terserah Bunda aja," jawab Shakil dan Shakilla bersamaan.
"Emang terserah Bunda. Udah ah! Bunda ngantuk, mau tidur." Mawar sambil membenarkan selimut yang sedikit tersingkap pada tubuh Fisya.
"Oh iya Shakil, besok kamar yang kosong sebelah kamar Fano jadi kamarnya Fisya." ucap Mawar menatap Shakil. Shakil mengangguk patuh.
"Shakilla, tadi sore mama kamu Diana telpon. Katanya dia pulang Minggu depan," ujar Mawar sambil mengelus rambut Shakilla.
"Iya Bund, makasih," ucap Shakilla. Mawar mengangguk lalu berjalan keluar meninggalkan kamar Shakil.
"Sini peluk," ucap Shakil setelah menutup pintu kamar.
"Hah?" tanya Shakilla bingung.
"Pelukkk," ucap Shakil lalu menarik pergelangan lengan Shakilla, sehingga menubruk dada bidangnya.
Shakil langsung memeluk tubuh mungil Shakilla dengan erat.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMAN TEMAN ☺️☺️.