
Shakilla memasuki kelas yang terlihat sudah tampak ramai. Dia berjalan menuju tempat duduknya yang terlihat sudah ada gadis yang sedang duduk sambil mendengarkan musik lewat earphone. Shakilla duduk seraya membuka tas sekolahnya lalu mengambil satu buah buku milik Rissa.
"Nih. Buku lo," ucap Shakilla menyodorkan buku Rissa yang ia pinjam kemarin.
"Tumben cepet." ucap Rissa seraya melepas earphone nya.
"Gue kan anak rajin," ucap Shakilla seraya terkekeh. Rissa menatap Shakilla kesal.
"Kadang itu!!"
"Pulang sekolah, mau ikut makan-makan gak,?" tanya Shakilla.
"Gratis gak nih?" tanya Rissa. Shakilla menatap malas gadis di hadapannya.
"Gratis mulu! Iya gratis. Shakil yang bayar."
"Ngokey jelas ikut lah, kalo gratis mah," ucap Rissa sambil cengengesan.
"Besok jadi kan?" Lanjut Rissa.
"Jadi apa?" tanya Shakilla bingung.
"Nah kan, lo malah lupa!!" Kesal Rissa.
"Iya apa?" tanya Shakilla.
"Ajarin gue masak! Capek tiap hari di marahin mami mulu!" ujar Rissa.
"Iya jadi, ngajarin nya di rumah lo kan? Soalnya rumah gue di kunci.
Kalo ngajarin lo masak di rumah Bunda. Gue nya gak enak," jelas Shakilla.
"Iya di rumah gue. Besok Mami juga gak ada di rumah," ucap Rissa.
"Oke, jam berapa?" tanya Shakilla.
"Jam sembilan, gimana?" tanya Rissa.
"Kepagian dodol. Jam sebelas aja ya," ujar Shakilla.
"Oke deh." Sambil mengacungkan jempol tangannya.
"Shakilla!" panggil Zahra di sebrang bangkunya. Shakilla menoleh ke arah sumber suara itu.
"Iya?" jawab Shakilla.
"Itu di depan ada cowok yang cari kamu," ujar Zahra lembut. Shakilla menunjuk dirinya sendiri.
"Gue? Shakil?" tanya Shakilla.
"Bukan Shakil. Kayanya cowok kelas dua belas deh." ucap Zahra.
"Oke. Thanks ya," ucap Shakilla dibalas anggukan kepala oleh Zahra.
"Cowok siapa sih!! Ganggu deh, bentar lagi bel masuk juga!" kesal Shakilla.
"Mau gue antar?" tanya Rissa.
"Gak usah Na, cuma di luar kelas doang," ucap Shakilla. Rissa hanya mengangguk.
Shakilla berjalan keluar kelas. Dia celingukan mencari cowok itu.
"Pasti cowok rese nih. Gak guna banget!" kesal Shakilla lalu berbalik badan ingin masuk kembali ke dalam kelas.
Belum sempat masuk langkah Shakilla terhenti saat tangannya di cekal seseorang. Shakilla menoleh ke samping, melihat siapa yang berani memegang pergelangan tangannya.
"Siapa lo?!" songong Shakilla seraya menghempaskan pegangan cowok itu.
"Kenalin. Gue Arvhi, lo bisa panggil gue Avi." ujar Avi.
"Mau apa lo temuin gue?" ucap Shakilla nyolot.
"Ketemu jodoh, emang salah?" tanya Arvhi sambil tersenyum kecil.
"Jodoh matamu!! Lo tau Shakil?" tanya Shakilla menatap sinis ke arah Arvhi.
"Anak kelas sebelas IPA 1 kan?" Arvhi bertanya balik.
"Iya. Dia jodoh gue!" ujar Shakilla.
"Belum tentu kan. Gue masih ada kesempatan untuk dapetin lo," ujar Arvhi dengan percaya dirinya.
"Gue aduin ke Shakil. Mampus lo!" Kesal Shakilla.
"Aduin aja. Gue gak takut," ucap Arvhi menantang.
"Pergi sana! Mau apa sih! Gue aja baru tau ada cowok modelan kaya lo sekolah disini!!" kesal Shakilla.
Walaupun tak dipungkiri Arvhi memiliki muka tampan, berbadan tinggi. Tapi kalau di sandingkan dengan Shakil. Jelas Arvhi tak ada apa-apanya.
"Gue mau lo jadi milik gue," ucap Arvhi.
"Lo kira gue barang? Mainan? Pake milik-milikin segala!!" ucap Shakilla nyolot.
"Gue bakal berjuang untuk dapetin lo," ucap Arvhi seraya mengelus kepala Shakila. Shakilla yang tak terima langsung menghempaskan tangan Arvhi kasar.
"Denger ya. Selama gue hidup. Cuma Shakil yang boleh nyentuh gue!" Peringat Shakilla seraya menunjuk muka Arvhi dengan jari telunjuknya.
"Gemes banget sih. Gue makin suka liatnya," ucap Arvhi.
"T*i lo! Ngomong sama lo, bikin darah tinggi aja!" ujar Shakilla.
Bel masuk terdengar jelas di Indra pendengaran siapa pun yang memiliki telinga.
"Udah bel. Belajar yang rajin. Biar cepet lulus. Terus nikah sama gue," ujar Arvhi kembali mengelus pucuk kepala Shakila.
Sebelum kena amukan Shakilla. Arvhi udah pergi ngacir meninggalkan Shakilla yang terlihat kesal.
"AVI T*I!! MUKA MACAM T*I AJA BELAGU! GUE BANTAI LO!!" teriak Shakilla menggema tanpa memperhatikan sekelilingnya.
"Shakilla. Gak boleh ngomong kasar!" Shakilla lantas berbalik badan dan mendapati sosok wanita paruh baya dengan jilbab panjang.
"Maaf Bu, tadi ada cowok mukanya mirip tai. Jadi aku bilangin deh, kalau muka dia mirip tai," ucap Shakilla sambil cengengesan.
"Gak boleh ngomong gitu lagi ya, yaudah ayok masuk. Pelajaran akan ibu mulai," ujar Ibu Ririn.
"Baik Bu," ujar Shakilla lalu masuk ke dalam kelas.
****************
Sekarang Shakil, Shakilla , Rissa dan dedemit ****** sedang berada di sebuah Restoran terkenal milik Orang tua Banyu. Shakil menepati janji yang ia buat beberapa hari yang lalu, untuk mentraktir semua dedemit ******
Shakil sengaja menyewa khusus restoran itu untuk semua anggota ******. Mereka duduk satu meja terdiri dari lima orang. Shakil , Shakilla , Faizan , Wawan dan Rissa berada di meja yang sama. Sedangkan Banyu, Andre, dan tiga lainnya anggota ****** berada di meja sebelah kanan meja Shakil.
"Beruntung banget punya Bos kaya raya," ujar Wawan dengan senyum yang terus mengembang. karena banyaknya makanan di hadapannya.
"Kapan lagi ya kan makan sepuasnya. Gratis pula," ucap Andre tidak kalah senangnya sama Wawan.
"Gue juga seneng lah, Restoran bokap gue jadi laris manis tanjung kimpul. Jualan laris duit ngumpul," ucap Banyu seraya tersenyum sumringah.
"Bilangin dong sama Om Reno, harganya jangan mahal-mahal. Nanti gue beli deh tiap hari disini," ujar Wawan pada Banyu.
"Lo gak beli di restoran bokap gue juga gak papa kok Wan," ujar Banyu membuat semua yang ada di situ tertawa renyah.
"Gak usah kaya orang susah gitu napa Wan! Biasanya juga gue yang bayar jajan lo!" ucap Shakil seraya menyeruput jus alpukat dihadapannya.
Wawan yang merasa tersindir langsung nyengir seketika.
"Makasih banyak ya bos. Lo emang yabg terbaik dari yang terbaik," ujar Wawan penuh haru.
"LEBAY!!" ucap Banyu dan Andre bersamaan. Wawan menatap tajam kearah Banyu dan Andre seraya memakan Ayam dengan kesal.
"Zan. Lo kok diem aja, belain gue dong," ucap Wawan pada Faizan yang sedari tadi hanya diam.
"Ogah," ucap Faizan tanpa ekspresi.
Shakilla dan Rissa hanya diam melihat tingkah cowok gesrek yang berada di sekelilingnya.
"Lo masih mau suka sama Wawan?" bisik Shakilla pada Rissa. Husna mengangguk mantap.
"Iya, kenapa?" tanya Rissa.
"Liat deh tingkahnya absurd gitu." bisik Shakilla.
Shakilla ingin sahabatnya mendapatkan cowok yang kalem supaya ketularan kalemnya. Kalo dapat yang sama-sama gesrek, bisa-bisa mereka jadi keluarga gesrek tingkat atas.
"Gue tetep suka kok," bisik Rissa lagi.
Banyu yang melihat Shakila dan Rissa saling bisik-bisik an pun mulai berdehem singkat.
"Eh perawan! Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Banyu yang mempunyai jiwa kemal (kepo maksimal).
"Eh Bujang! Kepo banget dah!!" jawab Shakilla dan Rissa bersamaan.
"Dek. Si Banyu gak cocok di panggil bujang! Soalnya dia udah jadi duda," ujar Andre sambil menahan tawanya.
"B*ngs*t emang!" kesal Banyu menggeplak keras bahu Andre.
"Sakit Reno!!" ucap Andre seraya mengelus pelan bahunya yang terasa perih.
"Gak sopan lo! Gue aduin sama Papa Reno lo!" ancam Banyu seperti anak SD yang sedang di buli teman-temannya.
"Kaya anak SD lo! Mainnya adu-aduan!" ucap Andre.
"Berisik!" ketus Shakil. Ia bosan mendengar perdebatan kedua. manusia yang tidak berguna.
Mendengar kata yang keluar dari bibir Shakil membuat Andre dan Banyu kicep seketika.
"Huh, mending makan dari pada ribut. Kapan lagi coba makan enak sepuasnya. Gratis lagi," ucap Wawan dengan mulut yang penuh makanan.
"Telen dulu. Baru ngomong, "ucap Faizan
"Huh, enak banget jadi Shakilla," ujar Rissa membuat Shakilla dan Inti ****** menatap Rissa dengan bingung.
"Enak apanya?" tanya Shakilla.
"Enak setiap hari kalo makan gratis, minta ini itu pasti Shakilla beliin," jawab Rissa.
"Lo taunya yang enak-enak nya aja. Yang susah-susah nya gak di lihat!" kesal Shakilla.
"Emang susah nya apa?" tanya Rissa.
Sedangkan Shakil menatap tajam Shakilla. Dia berpikir keras, kesusahan apa yang di hadapi Shakilla saat bersamanya.
"Hanya gue yang tau, kalian gak usah tau," ucap Shakilla. Jika ia jujur kalo Shakil mesum tingkat dewa, bisa-bisa Shakil ngamuk terus maksa minta nikah.
"Ya itu. Tadi gue bilang yang enak-enak nya aja lo ngelak!" ujar Rissa.
"Kalo mau makan ya makan. Jangan sambil ngobrol!" ketus Faizan, membuat yang lain langsung memakan makannya dengan diam.
Dedemit ****** makan dalam keadaan hening. Mereka makan dengan sangat semangat, sudah tiga puluh menit berlalu tapi makanan tak juga habis. Saking banyaknya makanan yang Shakil
"Kenyang nya!" ujar Wawan seraya bersendawa cukup keras. Membuatnya menjadi sorotan,
"Jorok lo!" ucap Banyu.
"Gue kan cuma bersendawa, bukan kentut sembarangan," ujar Wawan.
"Sendawa nya biasa aja. Gak usah keras-keras dodol!" kesal Banyu.
"Iya-iya," pasrah Wawan. Dirinya sedang tidak ingin berdebat. Perutnya terasa begitu sesak, karena kebanyakan makan.
"Udah makannya Killa?" tanya
Shakil menatap Shakilla kemudian dia mengangguk.
"Udah."
"Pulang yuk, gue lupa belum izin sama Bunda. Takut Bunda nyariin," ujar Shakil. Shakilla kembali mengangguk.
"Iya ayok." Shakil bangkit dari duduknya lalu mengeluarkan uang cash sepulu juta dari dalam tas sekolahnya.
"Ini uang untuk bayar semua makanan yang gue pesan. Lebihan nya lo ambil aja Wan," ucap Shakil memberikan segepok uang sepuluh juta pada Wawan.
"Serius bos?" ucap Wawan dengan mata berbinar menatap uang gepokan di hadapannya.
Shakil mengangguk. "KALO ADA MAKANAN LEBIH. BUNGKUS TERUS BAWA PULANG. KALO GAK YA BISA BAGI-BAGI KE ORANG YANG MEMBUTUHKAN." teriak Shakil pada seluruh anggota ****** yang berada di restoran itu
"SIAP BOSS!" jawab mereka kompak.
Shakil bilang begitu sebab dia melihat banyak makanan yang tersisa di meja. Dirinya terlalu kebanyakan memesan makanan.
Bukan yang bekas ya, tapi makanan yang masih ada di piring saji.
"Makasih banyak nih bos, gue jadi terharu," ujar Wawan menatap Shakil tulus.
"Iya, GUE SAMA SHAKILLA PULANG DULUAN!!" teriak Shakil lagi lalu menggandeng lengan Shakilla.
"HATI-HATI BOS!" ujar dedemit ****** lagi secara bersamaan. Shakil mengangguk lalu mengacungkan jempolnya.
"Gue balik sama siapa Kill?" tanya Rissa pada Shakilla.
"Wawan," panggil Shakilla. Wawan menoleh.
"Apa Kill?"
"Anterin Rissa pulang mau?" tanya Shakilla.
Wawan mengangguk.
"Kan kesini nya sama gue Kill. Jadi gue juga yang bakal anterin dia balik," ucap Wawan.
"Makasih ya," ucap Shakilla dibalas anggukan kepala oleh Wawan.
Shakil menarik lengan Shakilla lembut keluar dari restoran itu.
"Mau langsung pulang? Atau mampir beli makanan buat orang rumah?" tanya Shakil pada Shakilla yang sibuk memasang jaket nya.
Shakilla mendongak.
"Beli martabak manis sama martabak telor buat orang rumah. Gimana?" tanya Balik.
"Boleh, yuk." Shakil memakai helm full face nya setelah terpasang. Shakil mulai memasangkan helm satunya pada Shakilla