
Shakilla terus berlari tanpa melihat ke arah depan. Dia terus melihat ke belakang. Sampai tidak menyadari ada lubang keramat di hadapannya.
Byurr
Shakilla terpeleset sampai badannya masuk kedalam got samping rumah Shakil. Shakilla diam saja sambil melirik
ke bawah seluruh badannya jadi hitam karena air got.
Shakil langsung berlari menemui Shakilla.
Shakil menatap Shakilla dibawah sana sambil mati-matian menahan tawanya.
"Shakil... Bau," rengek Shakilla ingin menangis.
"Bwahahahaha." tawa Shakil pecah sambil memegangi perutnya. Shakil terus saja tertawa sampai tak terasa butiran air mata menetes.
"Bantuin ih..." rengek Shakilla matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya, siniin tangan lo!" ucap Shakil sambil mengulurkan tangannya.
Shakilla menjabat tangan Shakil. Shakil mulai menarik tangan Shakilla supaya naik ke atas.
"Shakil, kaki gue gatel!" rengek Shakilla setelah keluar dari got.
"Huwaa, MAMAH SHAKILLA MASUK GOT." teriak Shakilla seperti toa sambil menangis.
"Kaki Killa juga sakit," ucap Shakilla sambil memegang kakinya yang terasa sakit.
"Shakilla kamu kenapa?" tanya Mawar sambil mendekati Shakilla.
"Bunda, tadi Shakilla nyemplung ke got," ucap Shakilla sambil terus menangis.
Mawar bingung mau sedih atau ngakak.
"Kenapa kamu bisa nyemplung?"
"Gara-gara Shakil. Dia ngejar Shakilla mulu, benci Shakil."
"Eh, Lo duluan ya. Bund, Shakilla nabok pantat Shakil sampe merah. Jadi Shakil kejar," jelas Shakil tidak mau mengalah.
"Shakil duluan. Dia terus ejek Shakilla. Katanya Shakilla tepos, padahal kan nggak ya bund?" tanya Shakilla.
"Udah-udah, dari kecil sampe besar kalian gak ada berubahnya. Shakilla sana masuk kamar Shakil, mandi ya. Biar Shakil yang ambil pakaian kamu."
"Loh, kenapa gak langsung balik aja sih bund?" protes Shakil.
"Kamu gak kasian, rumah Shakilla lebih jauh."
"Jauh gimana? Lima langkah aja sampe!!"
Shakilla hanya diam melihat perdebatan tentang ibu dan anak itu.
"Turutin atau uang sa-"
"Iya bund." ucap Shakil pasrah.
****
"Aww, sakit Shakil!" ucap Shakilla menangis. sambil memukul lengan Shakil dengan kuat.
"Sabar sebentar lagi juga selesai."
"Udahlah gak usah dilanjutin. Sakit...".rengek Shakilla.
"Tahan Shakilla."
"Sakit banget Shakil, hiks."
"Huh, cengeng."
"Emang rasanya sakit. Lo gak pelan sih."
"Gue udah pelan-pelan."
Shakil terus mengurut kaki kanan Shakilla dengan hati-hati.
"Selesai." ucap Shakil sambil menatap kaki Shakilla yang sudah dirinya urut.
"Udah gak usah nangis terus." ujar Shakil.
"Ini udah mau magrib pasti Mpok Tuti udah pulang. Gara-gara lo sih. Gue jadi gak bisa nyolong jambu nya Mpok Tuti!" kesal Shakilla sambil menatap tajam pria dihadapannya ini.
"Kaki lagi sakit. Masih sempat-sempatnya lo mikirin nyolong jambu!!"
"Biarin!"
"Stres!!"
"Apa lo! Kemarin aja ngajak pacaran maksa."
"Kita masih pacaran gak sih?" tanya Shakilla.
"Masih."
Shakilla menghembuskan nafasnya kasar.
"Oh masih...."
"Kenapa?"
"Gak papa. Mau temenan ataupun pacaran. Sifat lo sama aja. Ngeselin."
"Yaiyalah. Orang nya juga masih sama."
"Orang lain pacaran pada senang. Bahagia. Lah gua?"
"Gua apa?" tanya Shakil menatap Shakilla tajam.
"Gua boro-boro bahagia. Yang ada darah tinggi mulu tiap hari!"
"Terus, Lo mau nya apa?"
"Gak mau apa-apa."
"Mau romantis juga? Hm?" tanya Shakil dengan lembut.
Shakilla menggeleng, lalu menatap Shakil sengit.
"Ya maulah. Gak ada cewek yang gak mau di romantisin!" Kesal Shakilla.
Shakil terkekeh. Lalu menekan-nekan pipi Shakilla dengan gemas.
"Kalo gue bersikap romantis kaya bukan gue. Jahilin Shakilla adalah hobi Shakil."
"Jihilin iliyi idilih hibi izki!" Shakilla
berkomat-kamit mengikuti apa yang Shakil ucapkan.
"Gak boleh gitu!"
"Udahlah. Gue mau cari cowok lain yang bisa jagain gue, perhatian ke gue, sayang ke gue. Gak mau pacaran kontak dua tahun sama lo!"
Raut wajah Shakil berubah datar.
"Lo bukannya jagain malah nyemplungin gue ke got!"
"Salah sendiri."
"Salah lo! Kalo lo gak ngejar gue, mungkin sekarang gue lagi bersantai makan jambu nya Mpok Tuti."
"Jambu mulu! Kasian Mpok Tuti yang nanam lo yang makan!"
"Beramal Kil."
"Iya Mpok Tuti beramal. Kalo lo? Berdosa!"
"Issh kurang asem emang!! Lo bohong sama gue!"
"Bohong apa?"
"Kata lo kemarin mau ngembaliin sandal kelinci gue!"
"Oh iya lupa."
"Sekarang udah inget kan? Mana sendalnya?"
"Di bawah kasur," ujar Shakil.
Shakilla langsung turun dari kasur Shakil. Lalu berjongkok untuk mengambil sandal kelinci kesayangannya.
"Sandal gue ngapain lo taro sembarangan!" ujar Shakilla menatap Shakil tajam.
"Jadi bulukan kaya muka lo!"
"Enak aja! Dari dulu juga tuh sandal udah bulukan!"
"Semenjak sandal gue di sekap lo, jadi bulukan!"
"Terserah lo aja!"
"Cepat tanggung jawab!"
"Heh, gue bahkan belum nyentuh lo! Masa disuruh tanggung jawab!"
"Bukan tanggung jawab itu!" Kesal
"Terus?"
"Tanggung jawab karena lo udah bulukin sandal kesayangan gue!"
"Kan gue udah bilang, itu sandal emang udah buluk dari dulu!"
"Gak mau tau! Pokoknya lo harus tanggung jawab!" Shakilla terus memaksa Shakil.
"Iya iya. Gue harus apa?"
"Beliin gue boneka kelinci lagi tapi yang ada sama anak-anak nya."
"Emang ada? Mana bisa boneka punya anak!"
"Yah bisalah "ucap Shakilla.
"Gue, Kira cuma kita nanti yang bisa punya anak"ujar Shakil.
*****
"Kakak Shakilla gak papa?" tanya Fano sambil mengecek kaki Shakilla.
"Kakak udah gak papa Fano," ujar Shakilla lembut sambil mengelus kepala Fano.
"Pasti ini ulah bang Shakil kan?" tanya Noval.
"Iya kok tau."
"Tau lah, tega banget Abang udah nyemplungin kak Shakillake got!"
"Kamu tau gak. Got nya bau banget!"
"Kan disitu banyak taik nya kak."
"Hah! Serius? Taik?"
"Iya."
"SHAKIL!!" teriak Shakilla di rumah Shakil. Mawar sama Farhan lagi keluar jadi di rumah itu cuma ada Shakil, Shakilla dan Fano.
"Berisik! Malem-malem teriak di rumah gue!!"
"Gue mau tanya!!"
"Tanya apa?" ucap Shakil sambil duduk di samping Fano yang sedang nonton Upin Ipin.
"Emang di got ada taik nya?"
"Ya jelas ada lah!"
"Serius?"
"Iya. Kenapa sih?"
"OH TIDAK!! KULIT GUE UDAH TERNODAI SAMA TAIK."
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMEN TEMEN ☺️☺️.