
Cahaya mentari pagi masuk dalam
celah jendela kamar Shakil. Mengusik
seorang gadis yang sedang tertidur
pulas.
"Eunggh" lenguh Shakilla sambil mengucek matanya pelan.
Shakilla melirik pada jam yang tertempel manis di dinding. Shakilla lantas
melototkan kedua matanya saat melihat
ternyata sudah pukul 06.40 menit.
"HAH!! TELAT!!" teriak Shakilla sambil
berlari terbirit-birit menuju ke arah
lemari mengambil seragam sekolahnya.
Setelah dua menit Shakilla keluar dari
kamar mandi. Shakilla tidak mandi dia hanya cuci muka sama gosok gigi.
"Orang cantik mah gak mandi juga
tetep cantik," ujar Shakilla sambil
memakai sepatu sekolahnya.
Shakilla berlari mengambil tas lalu turun
kebawah. Mendapati Mawar sedang membereskan meja makan.
"Bunda, Shakil mana?" Mawar lantas menoleh menatap Shakilla.
"Loh, Shakil udah berangkat dua puluh menit yang lalu. Kata Shakil kamu gak enak badan sayang."
"Shakilla baik-baik aja kok Bund. Ya udah Shakilla berangkat yah.
Assalamualaikum," Shakilla berpamitan
dengan Mawar dan langsung ngacir
menuju ke bagasi. Shakilla mengendari motor sport nya dengan sangat kencang membelah jalanan. Untung jalanan tidak macet. Shakilla sesekali melirik arloji di
pergelangan tangan nya. Waktu kurang dua menit, Shakilla ngebut dengan
kecepatan penuh, akhirnya Shakilla bisa
masuk kedalam halaman sekolah.
Hampir aja gerbang tertutup rapat.
Shakilla memarkirkan motornya lalu
melepas helm serta jaket kulit warna
hitamnya. Setelah itu ia bergegas menuju kelasnya.
"Tega banget Shakil ninggalin gue," gumam Shakilla sambil menyusuri koridor sekolah.
Saat sudah sampai di dalam kelas Shakilla
langsung duduk.
"Killa?" panggil Rissa yang sedari tadi sudah duduk sambil bermain ponsel.
"Hm."
"Lo kenapa? Nanti malam kan balapan, harusnya lo seneng dong, kok ini malah sedih."
"Papa Mama gue pergi jenguk Oma, gue di titipin di rumah Shakil. Terus semalem gue debat sama Shakil. Shakil ngelarang gue ikut. Tapi gue bersikeras untuk ikut balapan. Eh Shakil marah. Gue di tinggal dong." jelas Shakilla panjang lebar.
Rissa manggut-manggut mendengar penjelasan Shakilla.
"Terus lo mau ikut
balapan gak?"
"Gak tau Na, gue bingung."
"Lo harus pikirin matang-matang," ujar Rissa.
"Saran dong," ucap Shakilla.
"Gak ngerti gue."
"Ck." Shakilla berdecak sebal.
*****
"Guys nanti malam mau lihat balapan gak?" tanya Andre.
"Gas lah!" ujar Banyu penuh semangat.
"Gue mah ikut aja!" ujar Faizan santai.
"Lo mau liat bos? Pasti Shakilla bakal ikut balapan," ujar Andre.
"Iya, tapi seperti biasa jangan sampai Shakilla tau," ujar Shakil. Shakil mau lihat apakah Shakilla menuruti kata-katanya atau tidak.
"Siap Bos!!" ujar mereka kompak.
Duttt
Suara singkat namun meninggalkan bekas yang mendalam bagi siapapun yang menghirupnya. Suara apakah itu? Ya jelas kentut lah.
Seisi kelas menatap Wawan geram. Sebab bom nuklir yang keluar dari pantat tepos nya itu sangat menyengat.
"WAWAN!! ANJIR KENTUT LO BAU
BANGKAI!!" teriak Andre sambil menutup lubang hidungnya.
"ANJIR BAU TAIK KENTUT LO!!" maki Banyu.
Wawan yang di tatap seluruh penjuru kelas hanya bisa menunjukan deratan giginya.
Shakil menatap Iwan tanda peperangan.
"Maap bos. Kentut keluar tak di undang. Masuk ke lubang hidung kalian pun dengan tiba-tiba."
"BAU JENGKOL KENTUT LO!! SIALAN! MAU MUNTAH GUE!!" teriak Serra mencak-mencak sebab dirinya sedang makan batagor dengan nikmat, setelah menghirup kentut laknat Wawan membuatnya ingin muntah.
"SORRY GUYS." teriak Wawan lalu ngacir pergi meninggalkan kelas.
"JANGAN KABUR LO WAWAN!! SIALAN!!"
*****
Shakilla keluar dari kelas dan langsung bergegas menuju kelas Shakil. Tapi Shakil beserta dedemitnya sudah tidak ada didalam kelas.
Shakil langsung pergi ke parkiran lalu mengendari motor nya meninggalkan
halaman sekolah. Tujuan Shakil
sekarang ke markas anak-anak ****** yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Hanya memerlukan dua puluh menit
Shakilla telah sampai di halaman luas markas ******. Shakilla berjalan memasuki markas dengan sedikit berlari. Tanpa mengetuk
pintu Shakilla langsung nyelonong masuk, sudah biasa dirinya seperti itu.
Shakilla mendekat ke arah Andre yang sedang memakan sesuatu.
"Shakil mana?" tanya Shakilla pada Andre
yang sedang makan ketoprak.
Andre menatap Shakilla lalu menggeleng.
"Udah pulang Dek." ujar Andre sambil meminum es teh manis.
Shakilla langsung tersenyum lesuh.
"killa kira Shakil ada di sini."
Andre yang melihat Dedek gemesnya sedih jadi gak tega.
"Emang lo udah cek di rumah?" tanya Banyu yang sedang bermain game di ponselnya.
Shakilla menggeleng. "Belum," ucap Shakilla
sambil terkekeh pelan.
"Yee, di kira udah." ujar Banyu.
Shakilla kemudian duduk di samping Faizan, di depan Andre dan Banyu, di sampingnya Faizan ada Wawan. Shakilla
menyenderkan kepalanya pada
sofa, beberapa kali menghembuskan
nafasnya kasar.
"Lo ada masalah?" tanya Faizan tanpa melirik ke Shakilla.
Shakilla mengangguk. "Shakil marah." Ucapan Shakilla membuat keempat cowok itu saling berpandangan.
"Marah? Kenapa La?" tanya Wawan heboh.
"Semalem Shakil nyuruh gue gak ikut balapan, tapi gue bersikeras untuk ikut. Terus gue gak sengaja bentak Shakil. Dia marah, semalem gue juga udah minta.maaf," jelas Shakilla dengan raut wajah sedih.
"Gue salah yah?" tanya Shakilla pada para cecunguk
Mereka kompak mengangguk. Shakilla
menatap mereka secara bergantian lalu menghembuskan nafasnya pelan. Shakilla
juga merasa ini salahnya.
"Terus gue harus apa?" tanya Shakilla lagi.
"Menurut gue, Lo harus ngikutin kemauan Shakil. Shakil itu khawatir sama
lo Killa. Dia gak mau lo kenapa-napa." ucap Faizan sambil melirik ke arah Shakilla sekilas.
"Gue gak bisa Zan. Kalian tau kan kalo gue suka banget balapan. Itu hobi gue," ucap Shakilla.
"Terus lo mau Shakil makin marah sama
lo?" tanya Banyu.
"Gue tetep akan ikut balapan, habis
balapan gue tinggal bujuk Shakil," ujar Shakilla sambil berdiri.
"Gue pulang yah, oh iya. Jangan lupa nonton nanti malem. Gue tunggu." ucap Shakilla sambil bertos dengan para cecunguk satu persatu.
"Hati-hati," ucap para cecunguk secara
bersamaan. Dibalas acungan jempol oleh Shakilla
Saat Shakilla sudah melenggang pergi. Wawan menatap ketiga temannya dengan serius.
"Kayanya nanti malem bakal ada acara
cakar-cakaran gaes!" ucap Wawan.
"Sini gue cakar muka lo!!" Ketus Andre.
"Hanya Dewa yang tahu akhirnya." ujar Wawan menirukan gaya bicara nenek Tafasya di film Uttaran.
"Ini nih, manusia kebanyakan nonton drama India!" ucap Banyu sambil menjitak kepala Wawan dengan keras.
"Sakit sat!!.Gapapa dong pada lo.kebanyakan nonton film dewasa!!" ujar Wawan sambil mengelus kepalanya yang habis di jitak Banyu.
"Enak aja! Gue ini masih polos, asal lo tau!" ucap Banyu tak terima.
"Muka mesum gitu, Lo bilang masih polos?" ujar Wawan sambil tertawa meledek.
"Sialan lo! Muka gue gak mesum!" ketus Banyu sambil menatap Wawan tajam.
"Ampun cucunya kakek Sugiono," ucap Wawan sambil menyatukan kedua tangannya.
"Stres lo!!!"
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMEN TEMEN ☺️☺️.