SHAKIL&SHAKILLA

SHAKIL&SHAKILLA
Part.15



"Loh kalian mau kemana?" tanya Shakil melihat kedua orangtuanya dan orangtua Shakilla sudah berdandan rapih.


"Mau buat adik baru buat kamu," ujar Mawar sambil terkekeh.


"Oh," jawab Shakil. Mawar mendengar jawaban anaknya langsung menggeplak lengan Shakil sedikit keras.


"Sakit Bun,"


Diana mendekat lalu mengelus lengan Shakil yang habis di pukul Mawar.


"Jangan galak dong, kasian anak mama."


"Tau tuh."


"Shakil, Mama titip Shakilla ya. Dia masih di kamar. Belum bangun, kamu bangunin aja," Dibalas anggukan oleh Shakil.


"Bang Shakil dengerin tuh, jangan bertengkar sama ka Shakilla!" ujar Fano. sambil bersedekap dada.


"Iya bocil!" Fano langsung memandang Shakil tidak suka.


"Udah, kita berangkat ya," ujar Raka.


Shakil mulai mencium tangan mereka. Setelah dirasa mereka sudah meninggalkan pekarangan rumahnya,


Shakil bergegas menuju rumah Shakilla.


Shakil berjalan menuju kamar Shakilla.


Shakil masuk kedalam kamar Shakilla tanpa mengetuk pintu. Shakilla masih tidur dengan nyenyak.


"Perawan udah siang belum bangun,"


ucap Shakil sambil menggelengkan kepalanya.


"Woi, bangun!"


"Shakilla Qiandra Bangun." ucap Shakil. Shakil menepuk pelan pipi Shakilla.


"Woi, curut bangun lo!"


"Apa sih! Masih malem juga!" ujar Shakilla dengan mata yang masih terpejam.


"Malem pala lo! Udah jam sembilan curut!" Kesal Shakil.


"Nanti Kil, Lo juga ngapain pagi-pagi udah kesini!!" Sambil mendudukkan dirinya di atas kasur lalu mengucek pelan matanya.


"Lo lupa?" tanya Shakil.


"Sedikit. Tapi udah inget,"


"Cepet mandi, bau lo!"


"Enak aja! Wangi tau!!"


"Bau curut!!"


"Gue bukan curut!"


"Tapi lo kecil kaya curut," ejek Shakil.


"Keluar sana, gue mau mandi!"


"Mandi tinggal mandi,"


"Lo nunggu diluar bego!" Kesal Shakilla.


"Ck, gak mau!"


"Taik lo! Yaudah gue gak mau mandi," ucap Shakilla sambil bersedekap dada.


"Mau gue mandiin?"


"Idih, najis!"


"Pas kecil aja lo suka mandi bareng di rumah gue," ucap Shakil.


"Itu mah pas kecil, sekarang udah gede. Jadi beda!" ujar Shakilla nyolot.


"Sama aja,"


"Beda! Keluar Shakil!" Geram Shakilla sambil mendorong tubuh Shakil.


"Gak mau Shakilla!"


"Gue tendang sampe Afrika tau rasa lo!"


"Coba aja, kalo bisa."


"Terserah lo aja deh! Mau disini sampai lumutan gue gak peduli!" Kesal Shakilla sambil pergi menghentak-hentakan kakinya ke arah lemari mengambil Handuk, sambil mengomel tidak jelas.


"Yakin gak?"


"Ya gak lah! Dasar Shakil rese!"


Shakil hanya terkekeh melihat Shakila sangat kesal. Saat suara gemericik air terdengar, Shakil keluar dari kamar Shakilla. Dia menunggu di ruang keluarga sambil menonton tv.


mengintip di balik pintu, memastikan Shakil masih ada disana atau tidak.


Dirasa tidak ada, Shakilla segera bergegas mengambil baju lalu memakainya. setelah siap Shakilla turun kebawah untuk menemui teman musuhnya.


"Woi, itu makaroni gue kenapa Lo


makan?" omel Shakila sambil duduk di samping Shakil.


"Minta, pelit amat lo!"


"Gue belum makan,


"Tinggal beli lagi,"


"Gini amat punya tetangga." Shakilla mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mama Diana.


"Mamah mana Kil?"


"Pergi jalan-jalan sama orang tua gue,"


"Loh! Kok gue gak diajak," ujar Shakilla mengsedih.


"Katanya mau buat Adik buat lo!"


Shakilla menganga. "Papa atau mama yang bilang?"


"Mereka berdua."


"Harusnya Lo bangunin gue, terus gue gak akan biarin papa deketin mama!" Omel Shakilla.


"Yaudah biarin aja sih,"


"Gue gak mau punya adik,"


"Kata Ayah gue, banyak anak banyak


rezeki!"


"Bohong itu!"


"Ck, gak percaya yaudah,"


"Percaya tapi sedikit."


"Kalo kita udah nikah, nanti buat anak


yang banyak ya?" Sambil tersenyum jail.


"Kita? Lo aja kali!"


*****


"Mau ngapain sih, Lo ngajak gue


kesini." "Gak tau."


"Gila! Lo suruh gue mandi pagi-pagi, maksa buat kesini terus seenaknya lo bilang gak tau!" Kesal Shakilla.


"Besok dan seterusnya lo berangkat sama gue. Lo kan pacar sekaligus babu gue. Jadi gak boleh nolak!"


"Jadi alasan lo marah kemarin, gara-gara gue memutuskan untuk berangkat naik motor sendiri?"


"Hm,"


"Disini itu yang cewek siapa sih. Kok yang salah gue terus, yang marah harusnya gue, malah lo!"


"Bos mah bebas."


"Bos mah bebas," Shakilla menye-menye mengikuti apa yang Shakil katakan.


"Mulai besok lo harus jadi pacar yang baik."


"Dih, baik gimana? Awas aja kalo minta aneh-aneh, gue tampol Lo!" Ancam Shakilla.


"Lo harus bersikap selayaknya pacar pada umumnya."


"Baiklah, ada syaratnya tapi," ujar Shakilla.


"Apa?"


"Balikin sandal kelinci gue!"


"Oke permintaan akan di kabulkan," ucap Shakil. Shakilla langsung tersenyum senang.


"Gak boong kan?" tanya Shakilla sambil memicingkan matanya.


Shakil menonyor dahi Shakilla.


"Gak,"


"Biasa aja dong, kalo gue bego gimana?"


"Emang udah bego!" Ledek Shakil.


"Sialan,"


"Mau jalan-jalan gak?"


Shakilla menatap Shakil dengan mata yang berbinar,


"MAU!!"


Shakil memutar bola matanya malas.


"Kalo di ajak jalan aja langsung semangat!"


"Iyalah, apalagi diajak jalannya sama bos duit!"


"Bayar sendiri!"


"Masa bayar sendiri! Traktir dong,"


"Percuma uang banyak kalo pelit," lanjut Shakilla menyindir Shakil.


Shakil tak menghiraukan ucapan Shakilla, membuat Shakilla berdecak.


"Traktir dong, ya? Iya lah massa nggak. Iya kan?"


"Iya Shakilla."


"Asik gue mau keliling mall terus beli baju, sepatu, jajan, novel pokok nya masih banyak lagi."


Shakil menatap Shakilla malas. Sudah biasa uangnya di habiskan oleh Shakilla. Shakilla senang uang melayang.


"Sekalian aja sama mall nya," ujar Shakil.


Shakilla hanya terkekeh. "Kebanyakan itu."


"Syukur deh."


"Dih, emang pelit!"


"Kurang baik apa gue ha?" Kesal Shakil.


"Ampun bos," ucap Shakilla sambil menyatukan kedua tangannya.


Shakil berdecak sebal. ​


"Gak usah gitu mukanya. Imut gak amit iya."


"Hina terus! Semua cowok itu tergila-gila sama gue. Secara kan gue imut, cantik, mempesona. Kurang apa lagi sih gue?"


"Kurang waras!!"


*****


"SHAKIL MAU YANG ITU!" teriak Shakilla sambil menunjuk boneka kelinci yang paling besar.


"Kemarin kan udah beli Killa."


"Beda Shakil, yang kemarin lebih kecil," ujar Shakilla. Shakil menatap Shakilla malas.


"Hmm,"


"Boleh yak? Satuu aja," rayu Shakilla dengan muka yang di imut-imut.


"Hm."


"Boleh kan? Jangan hm hm mulu, boleh ya Shakil..." Rengek Shakilla seperti anak kecil yang minta di beliin lollipop.


"Iya Shakilla. Ambil aja, sesuka lo."


"Asik. Makasih Shakil ganteng." Sambil berlari mengambil boneka kelinci.


Shakil pergi untuk membayarnya.


Shakil dan Shakilla sudah berkeliling sejak


dua jam yang lalu untuk belanja. Lebih tepatnya Shakilla yang belanja, Shakil yang bawa barang-barang belanjaan Shakilla.


"Gue yang jemput, gue yang bawain dan gue juga yang bayarin." Shakil terus saja mendumel sepanjang jalan.


"Yang ikhlas dong Kil, biar gantengnya nambah," ujar Shakilla menghampiri Shakil sambil terkekeh.


"Disini yang jadi bos siapa?"


"Lo."


"Harusnya yang berhak ngatur siapa?"


"Lo juga," jawab Shakilla.


"Tuh tau!" Shakil meletakkan belanjaan Shakilla ke lantai. Shakil mulai merenggangkan kedua tangannya yang terasa pegal.


"Bawa sendiri belanjaan lo. Gue tunggu di mobil," ujar Shakil berniat ingin meninggalkan Shakilla supaya membawa belanjaannya sendiri.


"Lo tega? Gue gak kuat." lirih Shakilla, Shakillasengaja memelankan suaranya supaya Shakil mengasihani dirinya.


"Bawa motor gede aja lo kuat. Masa bawa barang ginian aja gak kuat." Sindir Shakil.


"Beda Shakil."


"Janji deh gak beli lagi. Tapi bawain..." Lanjut Shakilla.


"Gak."


"Badan gue kecil, gak kuat," rengek Shakilla sambil mengayunkan lengan Shakil.


"Ck, nyusahin lo!" ucap Shakil mengambil kembali belanjaan tadi. Lalu dia melenggang pergi duluan. Shakilla berlari mengejar Shakil.


"Tungguin," teriak Shakilla.


Gadis itu benar-benar menyusahkan. Shakil menghentikan langkahnya menunggu Shakilla.


"Lo jalannya cepet amat!"


"Lo yang lelet! Cepat jalan duluan."


"Iya iya," Shakilla ngacir jalan duluan.


"Emang bocil!"


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMEN TEMEN ☺️☺️.